Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
takut doamu terkabul


__ADS_3

Sinar mentari nampak masih sangat malu-malu. Dalam keadaan jalanan yang masih gelap dan sepi, Aletaa dan Eric bergegas pergi ke rumah sakit.


Sengaja mereka pergi saat pagi-pagi buta, ya mau bagaimana lagi?, kalau menunggu sampai Dito bangun, Aletaa dan Eric tak akan bisa kemana-mana walaupun hanya sejengkal saja.


Rasa menjadi orang tua dua anak, begutu jelas Aletaa dan Eric rasakan. Baru saja Dito datang tadi malam, namun pagi ini Eric dan Aletaa sudah sangat sayang pada bocah itu. Mereka jatuh hati pada netra coklat bening Dito serta suaranya yang begitu lembu dan manis.


"Artinya siang ini kita akan menjaga Monica?." tanya Eric memulai pembicaraan.


Aletaa mengangguk sambil menggumam kecil. "Ya, siang ini David ada kegiatan, sedangkan kakek, dia butuh istirahat. Jadi kita yang harus menjaga Monica, biar nanti malam David dan seorang pelayan yang menggantikan kita, kakek biar istirahat saja." sahut Aletaa panjang lebar.


"Oh..." Eric hanya ber-oh sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Artinya jadwal goyang malam gak keganggu." gumam pria itu senang.


Aletaa yang sayup mendengar ucapan sang suami segera menatap Eric lekat. "Goyang?, maksudnya?." tanya gadis itu tak paham.

__ADS_1


Eric segera menggeleng cepat, "kataku kalau beli dekorasi mobil yang bisa bergoyang yang lagi viral itu, pasti bagus dipasang didepan." ucap Eric mengalihkan pembicaraan.


Aletaa hanya mengangguk kemudian kembali diam.


Sedetik kemudian keadaan kembali hening. Aletaa masih merasa sangat ngantuk. Tidurnya tadi malam sangat terganggu dengan kehadiran Dion. Setiap jam Dion akan menangis memanggil Aletaa.


Bocah manja itu tak mau dengan orang lain selain Aletaa.


tak butuh waktu lama, merekapun akhirnya sampai dihalaman rumah sakit. Aletaa bergegas turun dari dalam mobil lalu membawa beberapa perlengkapan yang di simpan di jok belakang.


Setelah memastikan semua barangnya diambil, Eric dan Aletaa beriringan masuk kedalam gedung rumah sakit sambil membawa beberapa bungkusan kecil berisi makanan yang diteng-teng dikedua tangan mereka.


Koridor yang biasanya ramai masih tampak sangat sepi, menciptakan sebuah kesan horor dan angker saat langkah Eric dan Aletaa menapaki beberapa lorong rumah sakit yang gelap dan dingin.


"Kalau tiba-tiba suster ngesot keluar dari sana, kamu bakalan gimana?." canda Aletaa sambil menunjuk semak gelap yang berada tak jauh dari jalan yang mereka lalui sekarang.

__ADS_1


"Kalau susternya cantik, dibawa kerumah biar dia jadi istri kedua." sanggah Eric sambil tertawa.


Aletaa yang mendengar ucapan Eric segera megerucutkan bibir merahnya. "Oh jadi gitu?, yasudah aku doakan biar beneran ada suster ngesot cantik." ucap Aletaa sambil mendahului langkah sang suami.


Eric hanya bisa tertawa pasrah. "Ngambek nih?" ucap pria itu.


Aletaa tak tak bergeming, gadis itu semakin cepat melangkahkan kakinya menjauhi Eric.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah semak yang tadi ditunjuk Aletaa. Bulu kuduk pria itu berdiri. Bagaimana juka itu benar suster ngesot?.


Eric segera berlari menyusul sang istri, takut kalau doa istri tersakiti dikabul. Eric takut kalau dia harus menikahi suster ngesot itu. Aletaa saja sudah cukup, Eric tak butuh yang lain.


***


Hallo semua,maafnih kalau authornya telat up. Dan untuk novel author yang judulnya Rembulan, kayanya gak bisa lanjut, soalnya gak bisa di preview gak tau kenapa padahal author udah up beberapa bab.

__ADS_1


Kalau untuk novel author yang berjudul Jenayah orang ketiga, alasan author jarang up itu karna nunggu up dari narasumbernya. Jadi mohon maaf semua.


__ADS_2