Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
hukuman untuk 'dia'


__ADS_3

Naiki gunung turuni lembah, tanjakan dan tikungan sudah Aletaa rasakan sedari tadi. Kakinya keram, punggungnya terasa patah.


Kemana Eric akan membawanya?.


Sudah hampir satu jam mobil itu melaju tanpa arah tujuan yang pasti. Aletaa benar-benar bingung, apa vitamin itu ditujukan untuk penghuni gunung pedalaman yang sulit dijangkau manusia biasa sepertinya?.


Setelah melewati jalan aspal dihiasi pepohonan pinus yang rimbun, terlihat hamparan kebun teh yang sangat hijau. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan tadi, Eric menghentikan laju mobilnya didepan sebuah fila yang berada tepat ditengah-tengah hamparan kebun teh.


"Apa sudah sampai?." tanya gadis itu sambil melihat-lihat sekitarnya.


"Tentu, ayo turun." sahut Eric sembari membuka pintu mobil. Pria itu kembali berjalan memutari mobil untuk membuka pintu di sebelah Aletaa.


Bos besar mendadak jadi supir jika dekat dengan istrinya.


Setelah pintu dibuka, Aletaa tak bisa bergerak, tubuhnya kaku karna perjalanan yang begitu melelahkan tadi.


Melihat itu, Eric segera membopong tubuh istrinya lalu membawanya kedalam fila.


Didalam fila nampak beberapa perlayan yang menyambut kedatangan mereka. "Apa dia ada?." tanya Eric pada pelayan-nya.

__ADS_1


"Ada tuan, dia tadi sendang berada di kamarnya." sahut salah seorang pelayan.


Eric mengangguk paham lalu segera membawa Aletaa yang masih ada dipangkuan-nya ke dekat kamar milik 'dia' si orang misterius.


Aletaa hanya memperhatikan karna tak paham. Gadis itu benar-benar tak tahu siapa 'dia' yang dimaksud.


Eric segera menurunkan Aletaa didepan sebuah pintu kamar. "Ini kamar siapa sayang?." tanya gadis itu.


Eric hanya tersenyum, "Cari tahu saja sendiri." sahut Eric singkat.


Karna penasaran, Aletaa segera membuka pintu itu, matanya terbelalak saat melihat sebuah sosok yang tak asing lagi bagi indra penglihatan-nya. "Mbak Monica?."


Saat melihat Monica, bukan perasaan benci yang Aletaa rasakan, justru gadis itu merasa kasihan melihat penampilan orang yang biasanya terlihat sangat cantik dengan balutan kain sutra berhiaskan permata itu.


Monica terlihat begitu lusuh, rambutnya saja tak terurus.


Eric hanya tersenyum. Sebenarnya satu bulanan yang lalu saat Monica meninggalkan rumah, penerbangan yang akan membawanya ke tempat asalnya diundur karna ada badai besar. Monica memutuskan untuk menunggu di bandara dan memberitahukan bahwa penerbangan-nya diundur pada Eric sambil berpamitan pada pria itu lewat chat.


Saat itu Eric melihat kejanggalan dari prilaku Monica, kenapa Monica tiba-tiba pergi sambil menangis saat Aletaa kembali ke rumah dengan keadaan sehat dan sedang mengandung. Saat itulah Eric curiga lalu memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menculik Monica di bandara dan membawanya ke fila yang jauh dari hirup pikuk perkotaan.

__ADS_1


Semenjak itulah Monica terisolasi dari dunia luar, terkungkung dalam genggaman Eric sebagai tuan-nya.


"Tuan, sepertinya keadaan-nya semakin memburuk."


Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang, datang dari seorang pelayan yang setiap hari mengurusi Monica yang ster dan sakit-sakitan.


"Aku membawakan dia vitamin, ambil saja dari dalam mobilku." sahut pria itu.


Aletaa masih terus memperhatikan Monica dari kejauhan. "Tuan, apa sebaiknya kau hukum dia lewat jalur kepolisian saja, dari pada kau menghukumnya seperti ini, menjauhkan-nya dari dunia luar, aku kasihan melihat mbak Monica seperti itu."


Terdengar helaan nafas berat dari pria itu. "Tadinya aku juga mau melakukan itu, tapi..." ucapan Eric menggantung, sepertinya pria itu punya ketakutan tersendiri untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.


"Tapi apa tuan?." gadis itu mulai mendesak.


"Dia hamil." sahut Eric.


"Hamil?."


Shock tentu dirasakan Aletaa, kenapa Monica bisa hamil?.''

__ADS_1


__ADS_2