Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
drama pagi hari


__ADS_3

Pagi yang cerah, suasana rumah masih sangat sepi, belum banyak orang yang keluar dari kamar mereka, hanya ada beberapa pelayan yang sedang sibuk membereskan rumah.


Nampak seorang wanita yang sedang menikmati segarnya angin pagi yang berhembus dan cahaya mentari yang perlahan mulai naik. Monica nampak sedang berdiri dibalkon papiliun, wanita itu tak tinggal dirumah utama, dia tinggal disebuah papiliun kecil yang ada disamping rumah utama.


Matanya terus menatap kearah depan dimana balkon itu bersebrangan langsung dengan kamar Eric. Jaraknya tak lebih dari 100 meter, hanya dipisahkan oleh kolam renang dan sebuah taman bunga kecil.


Wanita itu tersenyum. "Eric sekarang pasti sudah bangun, apa aku harus melihatnya?." Gumam Monica, tatapan-nya menerawang mengingat saat beberapa belas tahun lalu saat dimana dirinya belum menjadi saudari tiri Eric dan masih menjadi sahabat yang paling dekat dengan pria itu.


Setiap pagi Monica lah orang pertama yang akan menemui Eric sebelum pria itu bangun dari tidurnya. Selalu ada kejahilan yang akan ia buat, masa itu masa yang paling indah. Tapi kini semuanya berbeda, mereka sekarang sama-sama sudah dewasa, rasa yang dulu hanya dianggap sebatas sayang dari pertemanan, kini berubah menjadi rasa yang aneh. Rasa yang terus berlarut dalam hati Monica.


Walaupun Monica tahu mereka berdua tak mungkin bisa bersama.


Tapi wanita itu terus berharap ada sebuah keajaiban.


Setelah sekian lama Monica pergi, inilah saatnya gadis itu mengungkapkan perasaan yang telah bertahun-tahun ia sembunyikan. Walaupun rasanya aneh karna mereka kini bersaudara, tapi mereka hanya saudara tiri kan, jadi tak ada salahnya untuk memulai sebuah hubungan yang lebih baik.


Sejenak Monica berpikir, Eric tak mungkin jadi miliknya, tapi setidaknya walaupun raga tak mungkin bersama tapi hati disa bersatu.


"Apa aku membuat sarapan untuknya saja?, pasti dia sangat merindukan secangkir kopi dan roti bakar buatanku." Tutur gadis itu dengan semangat.


Monica mulai melangkah untuk pergi kerumah utama dan menjalankan niatnya.


"Malang nasibmu Monica, kau tidak tahu kalau Eric sudah menjadi milik wanita lain." Batin Author meratapi nasib pahit yang menimpa Monica.


Meninggalkan masalah Monica, beralih pada dua insan yang masih tertidur dengan damai dikamar mereka.


Eric dan Aletaa masih setia memejamkan mata dengan tubuh yang saling menyatu, keduanya saling memeluk satu sama lain, memberikan kehangatan yang jarang-jarang mereka rasakan.

__ADS_1


Rasanya ini kali pertama mereka tidur berdua dengan posisi paling akrab, biasanya kalau tak Eric yang bangun duluan dan mengganggu tidur Aletaa, Aletaa lah yang akan mengganggu tidur Eric dengan kebiasaan tidurnya yang buruk.


Tapi kali ini berbeda, Sebuah pemandangan yang akan membuat mata siapapun iri saat melihatnya, sebuah pemandangan indah terpangpang begitu nyata berada diatas sebuah ranjang bersprai putih itu.


Namun suasana hening itu tak berlangsung lama saat seseorang memutar daun pintu dan melihat pemandangan itu. Monica nampak membelalakan matanya, tubuhnya bergetar sampai nampan ditangan-nya jatuh.


Prak... seketika Eric dan Aletaa terbangun dari tidur nyaman-nya saat mendengar suara barang pecah yang begitu kencang.


"E Eric apa ini?" Tutur Monica dengan nada sedikit tinggi.


Eric dan Aletaa tak berkutip, kesadaran keduanya masih belum sepenuhnya terkumpul, Aletaa tanpa malu sibuk membenarkan helaian kain yang menutupi tubuh polosnya, tak menyadari kalau ada orang ketiga yang tengah berdiri memperhatikan-nya. Begitu juga dengan Eric, pria itu juga masih megerjap-ngerjapkan matanya dengan dada bidang yang terekspos sempurna.


Tentu pemandangan itu membuat Monica sangat terkejut, pria yang dari dulu ia kenal sebagai seseorang yang tak bisa bersentuhan dengan wanita kini berada tepat didepan matanya sedang tidur dengan seorang gadis.


Tentu hal itu membuat Monica sedikit sakit hati. "Apa selama ini Eric hanya berpura-pura mempunyai alergi aneh agar jauh dariku?." Sebuah kesimpulan Monica cerna dalam pikiran-nya.


Tapi dilihat dari jauh atau dekat sama saja, Eric dan Aletaa memang tidur bersama.


Monica terpukul, Monica terpuruk dengan keadaan ini. "Eric kau pembohong." Tutur Monica lagi.


Eric yang juga kaget melihat Monica segera memeluk tubuh Aletaa untuk menutupi tubuh yang hanya tertutupi helaian kain tipis yang biasa dipakai sebagai pelapis sprai.


"Monica kau lancang." Seru Eric.


"Aku yang lancang?, bukan aku tapi gadis ini dan kau yang lancang Eric." Sahut Monica dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.


"Dasar wanita j***ng, kurang ajar." Lanjut Monica sambil tangan-nya terangkat untuk menampar Aletaa yang masih duduk dengan linglung dalam pelukan Eric. Namun sebelum tangan itu sampai mengenai tubuh Aletaa, tangan kakek terlebih dahulu mencekal tangan nakal Monica yang hampir saja melukai tubuh cucuk kesayangan-nya.

__ADS_1


Kakek datang bagaikan pahlawan. Monica yang tak terima dihentikan membalikan badan-nya. "Apa yang kau..." Ucapan-nya terpotong saat melihat siapa yang mencekal tangan-nya.


Monica terhenti saat melihat kakek.


"Siapa kau beraninya masuk kedalam kamar cucuku tanpa izin?." Sungut kakek sambil menghempaskan tangan wanita itu.


"Kek, Eric berbohong, sebelumnya dia berkata kalau dia alergi pada wanita, tapi lihat dia sekarang, dia tidur bahkan melakukan hal menjijikan ini dengan pelayan j***ng murahan seperti dia." Monica mengadu sambil menunjuk Aletaa yang terlihat masih mencari-cari kesadaran-nya.


"Lalu apa salahnya?,mereka suami istri."


"Apa?" Ucapan kakek seakan memukul Monica begitu keras, kenapa bukan dia?, kenapa harus Aletaa yang menjadi istri Eric?.


"Sudah sekarang kau pergi, biarkan cucu-cucuku melanjutkan aktivitasnya." Tutur kakek sambil tertawa tak jelas, tangan-nya segera menarik tangan Monica untuk membawanya pergi dari hadapan pasutri itu.


"Kalian tenang saja, lanjutkan pembuatan cucuk buyut untukku, wanita ini biar kakek yang urus." Lanjut kakek sambil menutup pintu.


Eric masih melamun kosong, apa yang sebenarnya terjadi?. Pria itu belum sepenuhnya bisa mencerna tontonan pagi hari yang penuh intrik dan konflik itu. Sebuah drama yang tak bisa dicerna dengan akal pikiran-nya.


"Tuan, ada apa?." Tanya Aletaa yang sudah mulai sadar dari kelinglungan-nya.


"Tidak ada apa-apa." Sahut Eric sambil melepaskan pelukan-nya pada tubuh Aletaa.


Kini gadis itu yang dibuat bingung, apa artinya kata 'tidak ada apa-apa' yang Eric ucapkan?. Dan apa artinya sebuah nampan, cangkir kopi, dan roti yang berceceran dilantai.


Hal itu membuat Aletaa bingung.


***

__ADS_1


Ini part terpanjang yang pernah author buat, jadi maaf baru author up karna penulisan naskahnya lebih lama.


__ADS_2