Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
godaan


__ADS_3

Nampak Monica menggusur kopernya kedalam rumah. Mata gadis itu terlihat sembab setelah lama menangisi kemalangan hidupnya. Kakek yang melihatnya berkerut kening, kenapa dengan Monica?.


"Mon kamu mau kemana bawa-bawa koper kaya gitu?." tanya kakek sambil mendekat kearah Monica.


Monica terkesiap, gadis itu nampak berpikir sejenak, apa yang harus ia katakan pada kakek?, haruskah Monica berkata jujur kalau dirinya sakit hati dan marah karna kehamilan Aletaa yang membuat semua orang bahagia kecuali dirinya?. Namun Monica tak punya cukup banyak keberanian untuk membicarakan hal itu. "Emmm aku harus secepatnya kembali, perusahaan tak ada yang hendel jika aku terlalu lama disini." gadis itu beralasan.


"Kenapa begitu?, padahal ayah dan ibumu satu bulanan lagi akan kemari untuk merayakan kehamilan Aletaa. Tinggal-lah lebih lama, setidaknya sampai ayah dan ibumu datang." tutur kakek, bagaimanapun juga Monica adalah cucunya, walaupun bukan cucu kandung, tapi kakek juga sangat menyayanginya selayaknya sayang pada cucu sendiri.


Monica yang tumbuh bebarengan dengan Eric seakan sudah menjadi saudara kembar sejak keduanya lahir. Bayi wanita yang sedari kecil sudah ada dalam pangkuan kakek itu tentu punya tempat tersendiri dihati kakek.


"Aku tidak bisa tinggal lebih lama disini, tujuanku kesini hanya untuk menghadiri acara kemarin. Jadi sebaiknya aku segera pergi. Kalau nanti aku punya waktu senggang, aku pasti akan sempatkan berkunjung kesini untuk menemui kakek dan ponakanku."


Kakek hanya bisa pasrah. "Yasudah kalau itu memang maumu. Setelah bertahun-tahun tak bertemu kau hanya kesini selama dua hari saja."


"Monica janji, Monica pasti akan sempatkan waktu untuk menemui kakek." tutur gadis itu lalu berhambur kedalam pelukan pria yang sudah ia anggap sebagai kakeknya sendiri.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan kakek, Monica segera pergi dari rumah itu.


Eric yang baru saja masuk nampak berkerut kening melihat kepergian Monica. Pria itu hanya sekedar berpapasan dengan Monica dan Monica hanya tersenyum kecil padanya. seperti tak ada lagi gairah hidup dari gadis itu.


"Kek Monica mau kemana?." tanya Eric.


"Katanya dia mau pulang hari ini.Padahal kakek udah minta dia buat tinggal lebih lama disini, tapi dianya gak mau jadi yaudah kakek gak mau tahan-tahan dia, takut Monnicanya gak nyaman." jelas kakek.


Eric hanya ber-oh sambil mengangguk paham. "aku masuk kamar dulu ya kek, kasian bumil kelaperan itu pasti nungguin makanan-nya." tutur pria itu lalu melangkah kearah kamar.


Suasana dalam kamar menjadi sangat angker. "Nih ayah bawain makanan." tutur Eric berusaha tetap tenang dan santai.


Namun Aletaa tak menggubris ucapan suaminya itu, gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Persis seperti anak kecil yang sedang marah karna tak dibelikan mainan kesukaan-nya.


"Bukan ayah yang bawain, pak satpam yang bawain-nya." ketus gadis itu.

__ADS_1


Eric menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, bagaimana Aletaa bisa tahu kalau satpam yang membelinya?.


"Ini ayah kok yang belinya, bunda jangan marah-marah gitu. Nanti bunda cepet tua gimana?."


"Ayah pembohong ya kan dek?, jelas-jelas tadi kita liat dari kaca kalau ayah main catur di pos satpam. Terus yang pergi huat beli makanan itu pak satpam ya dek?, emangnya kita buta apa." tutur Aletaa. Gadis itu terlihat sangat marah. Beraninya Eric berbohong.


Eric melirik ke arah jendela, mata pria itu terbelalak. Pantas saja Aletaa marah, ternyata pos satpam terlihat sangat jelas dari sana. Gerak-gerik Eric juga sudah pasti terlihat oleh Aletaa.


"Sayang maafin ayah ya, janji gak bakalan bohong lagi." Eric merangkak naik keatas ranjang lalu mendekat kearah Aletaa yang sedang meringkuk diujung ranjang sebelahnya. Eric mengusap kepala Aletaa lembut, tapi gadis itu selalu saja menepisnya setiap kali tangan Eric menyentuh kepalanya.


"Jangan panggil sayang, kalo emang sayang pasti ayah pergi sendiri, gak suru-suruh kaki tanggan-nya buat beliin makanan yang diminta anak sendiri." ketus gadis itu.


Dalam keadaan itu, Eric tiba-tiba teringat sesuatu. "Wah banyak banget makanan-nya, ada martabak, pisang goreng, wah jsuke kesukaan bunda juga ada. Gak papa kalau bundanya gak mau, biar ayah aja yang makan semuanya." tutur pria itu, Aletaa dan perutnya tak akan mungkin bisa menolak nikmatnya sekotak martabak dan menu yang sudah dibeli tadi.


Walaupun sedang marah, Aletaa segera meraih makanan yang hampir membuatnya meneteskan air liur itu. Godaan ini tak bisa ia hindari.

__ADS_1


Eric hanya tersenyum kecil melihat betapa lahapnya Aletaa makan. "Makan yang banyak bunda, biar dedeknya juga sehat."


__ADS_2