Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
sehina itukah orang miskin?


__ADS_3

Pertama kalinya Aletaa menginjakan kakinya dirumah itu, gadis kecil yang biasa hidup dalam kesengsaraan dan selalu kekurangan uang terperangah. Rumah mewah yang membuat siapapun terpesona.


Hati kecil Aletaa ingin menangis melihatnya. Jiwa kemiskinan didalam dirinya memberontak dan mengaduh-aduh. Sungguh kekayaan yang dimiliki Eric sangat melimpah. Membuat Aletaa merasa jadi orang paling rendah jika berhadapan dengan Eric.


Gadis itu melamun sejenak. Kalau dia berhasil menyelesaikan misi ini, Aletaa akan menjadi janda kaya. Dan sekurangnya dia juga berhak atas anak yang telah ia lahirkan nanti.


Aletaa tak sabar menanti hal itu terjadi.


Gadis itu dituntun ke salah satu kamar. "Kita mau kemana?" Tanya Aletaa pada David yang berjalan bersamanya.


"Kamar kakek" Sahut David singkat.


Keduanya terus berjalan, Aletaa terus saja melirik sana sini. Banyak barang antik yang harganya mungkin miliaran. Kalau Aletaa pencuri, mungkin semua barang itu akan rapi dalam waktu semalam.


Tapi Aletaa disini karna sebuah misi, misinya memberi keturunan pada Eric yang alergi terhadap wanita.


"Oh iya, kakakmu punya penyakit aneh itu dari mana?, rasanya aku baru pertama kali mendengar ada parian penyakit seperti itu, apa dia lemah diatas ranjang sehingga mengada-ngada penyakit seperti itu?, jujur saja, aku cukup berpengalaman hi..hi...hi..." Tanya Aletaa sambil berbisik, gadis itu sampai tak kuasa menahan tawanya.


"Aku juga tidak tahu pasti, tapi menurut cerita yang pernah sampai ke telingaku, Kak Eric sudah begitu dari semenjak lahir. Dulu pengasuhnya pernah hampir dipolisikan karna diduga menganianya kak Eric. Tapi setelah diselidiki, memarnya bukan karna pukulan, tapi karna penyakit anehnya" Sahut David menjelaskan sejelas-jelasnya.


Aletaa mengangguk paham.


Keduanyapun melanjutkan langkah untuk mencapai kamar kakek.


Berjalan dirumah itu seperti sedang berada di stadion sepak bola. Setiap lorongnya terasa sangat panjang. Enah itu karna rumahnya terlalu luas, atau karna Aletaa yang terlalu miskin dan tak pernah menginjakan kaki dirumah luas itu.


Sampailah mereka didepan sebuah pintu, nampaknya pintu itu dibuat dari kayu cendana asli, terdapat beberapa ukiran minimalis yang membuatnya nampak elegan dan berkelas. Juga gagang pintu berlapis emas dan berhiaskan permata.


Membuat Aletaa ingin menangis saat melihatnya. Jiwa kemiskinan-nya meronta-ronta.

__ADS_1


Sedetik kemudian, dua orang yang berjaga dipintu membukakan pintu itu lebar. Aletaa kembali terpana, kamar itu sangat luas, dilengkapi alat medis yang super kumplit.


"A... apa ini benar sebuah kamar?" Tanya Aletaa tak percaya, sampai-sampai setiap kala yang ia lontarkan selalu terdengar gemetar dan terbata-bata.


"Ya, ini kamar kakek" Sahut David.


Keduanya mulai melangkah masuk, Nampak Eric dengan pria paruh baya duduk di kursi balkon sambil menikmati mentari terbenam sore itu.


"Kak, kakak ipar sudah disini" Tutur David.


Dengan lambayan tangan-nya, Eric meminta Aletaa mendekat. "Pergilah temui kakek" ujar David menguatkan. Aletaa ragu, gadis itu tak kunjung mau melangkah. "Aku takut" Ujarnya gemetaran.


"Tidak apa-apa, kakek orang yang baik kok" David menyuntikan semangat pada Aletaa, gadis itu mulai yakin dan perlahan mendekat kearah Eric.


Jantungnya meloncat-loncat sampai hampir akan keluar.


Aletaa berdiri disamping Eric, mata kakek nampak menatapnya lekat.


Tampa berpikir panjang, gadis itu mendekat kearah kakek lalu berjongkok didepan-nya, setelah itu tangan-nya menyalami tangan kakek seperti orang yang sedang melakukan sungkem.


Eric yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil memijat pelipisnya. Perlakuan Aletaa nampak sangat kolot dan norak. Eric merasa malu melihat tingkah konyol orang yang kini telah menjadi istrinya itu.


Tiba-tiba tangan kakek yang disalami oleh Aletaa ditarik sekencang mungkin. Gadis itu melongo sambil menatap wajah kakek yang tampa epresi.


"David kemari" Titah kakek sambil mengasongkan tangan-nya yang tadi disalami Aletaa.


"Apa dia marah karna aku memegang tangan-nya?, ya, dia pasti marah karna bersentuhan kulit dengan orang miskin sepertiku" Jerit Aletaa dalam hati.


Rasanya dia ingin sekali menangis, sehina itukah orang miskin dihadapan orang kaya?.

__ADS_1


Aletaa mundur beberapa langkah sambil masih berjongkok. Sampai punggungnya menyentuh pas bunga yang ada dibalkon.


Aletaa menunduk dengan cemas. Seperti Anak kecil yang takut dimarahi karna menghilangkan uang jajan-nya.


Kakek yang melihatnya tersenyum cerah, "Cucuk menantu," Panggilnya. Aletaa mendongakan kepala menatap wajah senang kakek.


"Kemarilah" Lanjut kakek sambil melambaikan tangan-nya meminta Aletaa mendekat.


Dengan ragu gadis itu mendekat masih dalam posisi jongkoknya. "Apa kau tersinggung?" tanya kakek sambil mengelus pucuk kepala Aletaa.


Aletaa menggeleng, Aletaa tak tersinggung sedikitpun. Dia memang orang miskin, tak heran jika orang lain memandangnya rendah.


"Kalau begitu maafkan aku, tanganku sering sekali kesemutan, jadi bila ada yang tiba-tiba menggerakan-nya dia akan respon tiba-tiba" Jelas kakek.


Aletaa kembali tersenyum, berarti kakek tida marah padanya.


"Apa anda tidak marah pada perlakuan saya yang lancang tuan?" Tanya Aletaa.


Kakek menggeleng, "Justru aku senang, cucuku Eric memilih wanita yang tepat, kau sopan dan ramah. Tapi aku belum terlalu tua untuk perkenalan seperti itu, jadi beri aku perkenalan anak muda" Tutur Kakek sambil merentangkan tangan-nya.


Dengan antusias, Aletaa membalas pelukan kakek. "Jangan panggil aku tuan atau kakek aku belum terlalu tua untuk dipanggil itu. namaku Willy. Panggil saja aku Bro" Ujar kakek, sontak David tertawa geli mendengarnya.


"Kek gigimu saja sudah hampir ompong, tapi kau masih saja ingin dipanggil Bro?" Sungut David dengan tawaan ngakaknya.


"Diam anak nakal, kau tak tau kakemu ini mantan pleyboy sejati?. Kakak iparmu ini masih muda dan sangat cantik. Jadi tak pantas pria tampan seperti kakekmu ini dipanggil kakek olehnya" Sahut kakek sambil memukul lengan David dengan tangan yang tadi kesemutan.


Aletaa sontak ikut tertawa. "Jika kakek ini buaya darat, cucumu yang muda dan cantik pawangnya" Aletaa itu nimbrung. Sontak kakek dan David tertawa mendengarnya.


"Kalu begitu, cepat tangkap kakek cucuku" Tukas kakek kembali memeluk Aletaa.

__ADS_1


Ketiga orang itu tertawa senang. Gadis bar-bar seperti Aletaa menjadi populer dirumah itu. Dia sudah punya banyak pengikut disana. Terutama kakek yang juga sebar-bar Aletaa.


Setiap hari Eric akan geleng-geleng kepala melihat prilaku Aletaa dan para pengikutnya yang sesat.


__ADS_2