
Lama Eric dan Aletaa ada dalam posisi itu, hingga sebuah suara terdengar begitu jelas diindra pendengaran mereka, Sebuah kelakson mobil yang tak asing lagi bagi Eric dan Aletaa.
Aletaa terkesiap, "Itu pasti ayah." gumam Aletaa sambil melepaskan pelukan suaminya, dengan wajah yang berseri-seri, gadis itu segera keluar dari dalam kamar.
Aletaa seketia terdiam tatkala kedua bola matanya menangkap sesosok pria yang sangat ia rindukan. Bibir gadis itu sedikit menyungging, buliran bening air mata perlahan mengalir di kedua sudut matanya.
"Ayah!." seru Aletaa senang, gadis itu berlari sekencang mungkin untuk sampai pada sang ayah.
Begitupun dengan ayah, Ayah nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria paruh baya yang tengah duduk dikursi roda itu segera merentangkan kedua tangan-nya, menyambut gadis kecil yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadiran-nya.
"Aletaa."
Air mata tak dapat dibendung lagi, 6 bulan ini terlalu berat untuk anak dan ayah itu.
"Ayah." tutur Aletaa saat sudah sampai di pelukan sang ayah, gadis itu menangis bahagia diatas pangkuan sang ayah.
__ADS_1
Rasanya rindu ini sangat menuntut, rindu kehangatan dan kasih sayang dari sang ayah membuat Aletaa buta. Aletaa hanyalah gadis lemah yang tak bisa hidup tanpa pria yang sangat ia sayangi.
Ayah bagaikan matahari yang selalu ada untuknya, pengganti sosok seorang ibu yang selalu ada bersamanya. Ayah, Aletaa rindu.
Begitupun dengan ayah, pria tua itu segera mengelus pucuk kepala putrinya, sambil sesekali mengecup pucuk kepala Aletaa lembut.
"Aletaa, apa kau bahagia bersama suamimu?." pertanyaan pertama yang ayah lontarkan untuk putri kecilnya. Ayah tahu betul pernikahan Aletaa dan Eric berlandaskan selembar kontrak. Ayah takut hidup putrinya hancur karna hal itu.
Aletaa mengangkat wajahnya menghadap sanga ayah, tatapsn keduanya bertemu, gadis itu tersenyum sambil menganggukan kepalanya pelan. Aletaa tahu ayahnya pasti sangat khawatir, sudah 6 bulan tak ada kabar, dan juga sudah 6 bulan menjalani pernikahan kontrak dengan seorang ceo yang dikenal dingin dan kejam, bagaimana seorang ayah tak hawatir dengan keadaan putinya?.
Akhirnya ayah bisa bernafas lega, kekhawatiran yang terus membelenggunya selama ini kini berangsur hilang.
Ayah tahu betul alasan kenapa Aletaa menerima kontrak itu, Aletaa terpaksa menerimanya karna sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan-nya yang dulu sedang sakit parah. Jadi ayah merasa kalau dirinya adalah orang yang paling bersalah kalau hidup putinya tak bahagia.
"Lagi pula apa yang tidak membuat Aletaa bahagia?, Aletaa punya ayah, Aletaa punya suami yang sayang pada Aletaa. Dan sebentar lagi, Aletaa akan menjadi seorang ibu, bagaimana mungkin Aletaa tak bahagia dengan semua ini?." tutur gadis itu.
__ADS_1
Ayah nampak mengerutkan keningnya, "Maksudmu?, menjadi seorang ibu?." tanya ayah tak paham.
Aletaa mengangguk cepat. "Iya ayah, Aletaa hamil!." seru gadis itu senang.
Ayah nampak sangat kaget sekaligus bahagia. Pria itu kembali memeluk sang putri, kebahagiaan yang terus berlipat.
Hanya mengetahui kalau Aletaa dan Eric bahagia sudah samgat membuat ayah senang, apalagi sekarang, Aletaa sedang hamil, kebahagiaan apa yang kurang untuk pria yang sudah tua itu?.
***
Maaf semuanya author telat up soalnya author lagi ada ditempat hajatan.
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dalam penulisan bab ini, soalnya yang author pikirin sekarang itu cuman harus up malam ini.
Gk sempet author baca-baca lagi soalnya author lagi sibuk banget, nanti kalau author udah gk sibuk, author coba perbaiki bab ini ya.
__ADS_1