
"Apa yang ingin kau bicarakan?." Tanya Eric.
Kini kedua orang itu sudah berada didalam kamar, Eric nampak duduk di sofa sedangkan Aletaa masih berdiri disampingnya.
"Begini tuan, aku ingin bertanya wanita yang tadi itu siapa?." Tanya Aletaa dengan ragu.
Gadis itu terus saja *******-***** tangan-nya karna gugup, "Apa dia marah?." Aletaa membatin. Lama tak menerima sahutan dari sang suami, Aletaa memberanikan diri mendongakan wajahnya menatap Eric.
Pria itu nampak diam dengan ekspresi yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Aletaa makin meremas tangan-nya kuat, suaminya itu pasti benar-benar marah. "Kalau anda tidak tahu atau tidak mau memberi tahu, tidak apa-apa tuan." Tutur Aletaa.
"Hmmm" Eric hanya menggumam kecil sebagai jawaban.
Suasana hening, Eric maupun Aletaa tak ada yang berani memperpanjang pembicaraan. Merasakan suasana yang semakin mencekam, Aletaa berniat ingin pergi dari kamar itu. "Tuan saya pamit kembali ke kamar." Tutur Aletaa.
Namun sebelum gadis itu mencapai pintu keluar, Eric berdiri sambil berdehem.
__ADS_1
"Memangnya wanita itu penting untukmu?, sepenting apa dia untukmu?." Tanya Eric. Pria itu terus berjalan kearah ranjang.
Aletaa yang merasa ditanyai segera membalikan tubuhnya. "Dia tidak penting bagiku, aku hanya penasaran siapa dia." Aletaa menyahut dari kejauhan.
"Kemarilah, biar aku ceritakan siapa dia." Ajak Eric yang sudah duduk diatas ranjang.
Aletaa berpikir sejenak. Apa ini tidak apa-apa?. Perlahan gadis itu berjalan kearah sang suami yang sudah terlebih dahulu duduk ditepi ranjang.
Aletaa duduk disamping Eric, cukup lama hanya saling diam. Hingga tiba-tiba Eric menjatuhkan kepalanya kepangkuan Aletaa. Sontak gadis itu kaget, matanya membulat sempurna, Aletaa juga memundurkan sedikit punggunya menjauhi kepala sang suami yang berada tepat dipangkuan-nya.
"Tu tuan, apa ini tidak berlebihan?." Tanya Aletaa malu-malu. Ada semburat merah dikedua pipi gadis itu. Malu, setiap apapun yang Eric lakukan selalu berhasil membuat Aletaa salah tingkah dan merasa sangat malu.
Aletaa sejenak berpikir, memang tak ada yang salah, tapi jika terlalu tiba-tiba seperti ini, rasanya membuat jantung berdegup berkali-kali lipat lebih kencang.
"Kau selalu benar tuan."
Eric hanya menggumam, pria itu menukar posisinya menjadi menghadap kearah perut ramping Aletaa. Lagi-lagi gadis itu menahan nafasnya, membuat perut rampingnya tertahan.
__ADS_1
"Apa ini?, dia tak memberiku ruang sedikitpun untuk bernafas." Batin gadis itu masih terus saja merutuk.
Jika terus begini Aletaa bisa mati. Dengan keberanian yang tidak banyak, gadis itu perlahan menghembuskan nafasnya, sangat pelan agar Eric tak merasakan pergerakan-nya.
"Aku akan menceritakan-nya, tapi aku punya satu syarat." Tutur Eric. Pria itu mendongakan kepalanya menatap Aletaa.
"Apa itu tuan?."
"Malam ini temani aku ya." Pinta pria itu.
Lagi-lagi Aletaa dibuat kaget. Entah sudah berapa kali malam ini Eric selalu saja membuatnya hampir terkena serangan jantung.
Pria yang biasanya cool dan kuat seperti harimau, tiba-tiba manja seperti seekor kelinci.
"Te temani apa tuan?." Tanya Aletaa pura-pura tak tahu maksud pria itu. Gadis itu memutar pandangan-nya mencoba tak bertatapan langsung dengan mata elang milik sang suami.
"Ya pokoknya temani saja, terserah nanti mau ditemani apa."
__ADS_1
"Hmmm, terserah anda saja tuan."