Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
kecewa


__ADS_3

Hari nampak semakin gelap, terlihat Aletaa masih betah berbaring diatas ranjang empuknya. Sedangkan Eric, pria itu nampak sedang fokus pada layar laptop yang ditaruh dipangkuan-nya. Beberapa hari ini Eric tinggal dirumah ayah Aletaa, jadi pekerjaan kantornya sedikit tertinggal.


"Aku akan temui mbak Monica dulu." ucap Aletaa membuka pembicaraan, gadis itu perlahan bangkit dari atas ranjang, bersiap untuk menemui Monica yang sekarang ada di papiliun rumah besar.


Eric yang mendengar itu segera menatap istrinya. "Mau aku temani?." tanya pria itu.


"Tak usah, lanjutkan saja pekerjaanmu." sahut Aletaa sambil keluar dari kamar.


Sedetik kemudian Aletaa sudah hilang dari pandangan. Gadis itu terus melangkah kearah halaman belakang. Nampak beberapa orang berjaga didepan pintu papiliun. Aletaa segera mendekat.


"Apa mbak Monica gak sibuk?." tanya gadis itu.


Pelayan yang ada disana hanya menggeleng sebagai sahutan. "Saat saya memeriksanya tadi, beliau sedang duduk didekat balkon atas." sahut salah seorang pelayan.


Aletaa mengangguk paham, gadis itu segera masuk kedalam rumah, langkahnya menapaki beberapa anak tangga untuk sampai dilantai atas.


Sesampainya dilantai 2, netra Aletaa mulai menyisir sekeliling, mencari dimana keberadaan Monica. Aletaa berjalan beberapa langkah kearah balkon. Nampak Monica tengah duduk tak jauh dari sana, wanita itu melamun dengan tatapan-nya yang kosong.


"Mbak Monica?." ucap Aletaa sambil gadis itu berjalan kearah Monica.


Monica tak merespon, wanita itu hanya diam seperti tak menyadari keberadaan Aletaa disana.


"Mbak sehat?." tanya Aletaa lagi, sekali lagi tak ada respon dari Monica, wanita itu seperti tuli tak bisa mendengar suara apapun.


Aletaa terus mendekat, sampai gadis itu berada tepat didepan Monica yang sedang duduk disebuah kursi kayu, dengan susah payah Aletaa berjongkok didepan wanita yang hampir saja membunuhnya dulu.

__ADS_1


Wajah Monica nampak begitu pucat, rambutnya berantakan dan tak terurus, tatapan Monica nampak sangat menghawatirkan, kedua bola matanya menatap Aletaa dengan tatapan kosong, ada sedikit rasa iba dihati Aletaa, gadis itu paham apa yang kini sedang dirasakan Monica.


Rasa bersalah yang membuatnya gila, rasa penyesalan yang membuat hatinya luka.


Aletaa kembali bangkit dari posisi duduknya, gadis itu beralih kebelakang Monica, mengelus rambut wanita itu lembut sambil sesekali ia sisir dengan jari jemari lentiknya.


Saat ini mental Monica sedang terganggu, tak baik jika menanyainya secara langsung.


Awalnya Monica memberontak saat tangan hangat Aletaa menyentuh helayan rambutnya, namun perlahan, Monica mulai nyaman ada didekat Aletaa.


Dirasa Monica sudah lebih tenang, Aletaa mulai mengajukan beberapa pertanyaan, awalnya hanya pertanyaan sepele sebagai basa basi.


"Mbak Monica sudah makan?." sudah keberapa kalinya Aletaa mengajukan pertanyaan itu, namun tetap saja, Monica tak merespon.


Padahal menurut penuturan beberapa pelayan yang beberapa hari ini menjaga Monica, Monica tak pernah merespon saat di berikan pertanyaan, tak pernah bergerak kalau tak ada yang menggerakan-nya, sama halnya seperti boneka maneqin tapi bisa bernafas.


"Kalau begitu, aku suapi mbak Monica makan ya." tutur Aletaa sambil meraih piring berisi makanan yang berada tak jauh dari tempatnya berada.


Perlahan Aletaa mulai menyuapi Monica, walaupun sedikit sulit, tapi Aletaa sudah senang saat beberapa biji nasi masuk kedalam mulut Monica.


Setelah beberapa suap, Monica menggeleng, nampaknya dia sudah tidak mau makan. "Kenapa begini?, mbak Monica harus makan, ini demi kesehatan bayi mbak." tutur gadis itu.


"Apa!." tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang.


Aletaa segera melirik kearah asal suara. Mata gadis itu seketika terbuka. "Kakek?." gumamnya kaget saat melihat sosok yang tak asing lagi baginya.

__ADS_1


Kakek perlahan mendekat dengan tatapan nanarnya. Pria tua itu sepertinya sangat marah.


"Kek ini tidak seperti yang kau dengar tadi." tutur Aletaa mencoba menenangkan kakek.


Namun pria tua itu tak mendengarkan. Dia merasa sudah dibohongi.


"Kek!." seru Eric yang datang tiba-tiba. Dari awal pria itu sudah curiga kalau kakek membuntuti Aletaa, dan benar saja, Kakek sekarang mengetahui rahasia yang selama ini mereka sembunyikan.


Eric segera menghentikan kakeknya sebelum sampai pada Monica. "Jangan menghentikanku Eric, aku ingin memberikan pelajaran pada wanita bi*al itu!." seru kakek saat Eric mencoba menghadangnya.


"Kek aku mohon jangan bertindak gegabah!." sahut Eric.


Aletaa yang melihat hal itu hanya bisa memeluk erat Monica, Monica memang stres, tapi dia masih punya perasaan.


Aletaa menutup kedua telinga Monica sambil menghalangi wajah wanita itu. "Mbak aku mohon jangan dengarkan mereka, jangan lihat mereka." ucap Aletaa. Gadis itu terus saja menangis sambil memeluk wanita yang sudah ia anggap selayaknya kakak sendiri.


Dalam tatapan kosong Monica, perlahan matanya mengeluarkan butiran-butiran bening air mata.


Aletaa yang melihat itu segera menghapus air mata yang keluar dari kedua mata Monica. "Aku mohon jangan menangis, lihat saja aku dan hanya dengarkan ucapanku saja." tutur Aletaa mencoba menenangkan Monica.


Disisi lain Eric masih beradu mulut dengan kakeknya. "Kek aku tahu kalau kakek marah, tapi aku mohon jangan biarkan kemarahanmu ini membuat hatimu itu beku, ingat, Monica itu cucumu." Eric kembali mencoba menenangkan kakeknya.


"Diam kau, jangan pernah berkata apapun tentang wanita bi*al itu, dia bukan cucuku!, dia bukan cucuku!." sahut kakek, perlahan air matanya jatuh. semuanya hancur, cucu yang sangat ia sayangi malah membuat goresan luka dihatinya.


Kecewa, kakek kecewa Monica!!!.

__ADS_1


__ADS_2