
Akhir pekan yang indah, cuaca cerah dengan mentari yang tak terlalu terik. Hari ini Aletaa dan para asisten rumah tangganya sedang berjemur dihalaman, ditemani secangkir kopi dan makanan ringan untuk menambah keseruan.
Perbincangan kali ini agak berbeda, asisten rumah tangga yang rata-rata masih muda dan belum menikah sedang asik bertukar pengalaman mereka tentang pria.
"Kalau tuan Eric mau punya istri dua, aku siap kok jadi yang keduanya." Celetuk seorang pelayan.
Orang-orang yang mendengarnya hanya bisa tertawa canggung. "Berani betul, istri pertamanya ada disini, bisa-bisanya dia ngomong kayak gitu." Pelayan lain membatin.
Aletaa tak merasa tersinggung, malahan gadis itu tertawa paling keras menyahuti celetukan pelayan yang sudah ia anggap seperti saudaranya. "Ya kalo tuan Erik mau, semua cewek juga bisa jadi istri dia." Aletaa menyahut.
"Bercanda nona, tuan Eric cuman milik nona seorang." Pelayan itu kembali bicara, mendengar jawaban dari Aletaa membuatnya sedikit malu dan tersinggung, rasanya kurang pantas jika seorang pelayan terlalu berharap pada tuan-nya apalagi tuan-nya itu sudah punya istri yang sempurna seperti Aletaa.
Mendengar itu pipi Aletaa memerah.
__ADS_1
"Wah nonanya malu!." Seru seorang pelayan yang melihat wajah Aletaa berubah merah cerah.
"Jadi kapan nih, ada tuan atau nona muda nya, pengen ikut gendong." Goda pelayan lain.
Kehadiran malaikat kecil sangat dinanti-nanti dirumah itu, mungkin karna tak ada lagi orang yang bisa memberikan penerus selain Eric dan David, membuat rumah itu selalu berharap akan hadirnya sosok wanita seperti Aletaa yang bisa melahirkan keturunan-nya.
"Sabar aja ya." Aletaa menyahut dengan senyuman.
Eric yang tengah memperhatikan tingkah istri dan para asisten rumah tangganya hanya bisa tersenyum dari kejauhan. "Emangnya mesin bisa dipercepat diperlambat." Eric ikut menyahut sambil mendekat kearah Aletaa.
Semua yang ada disana seketika terkaget lalu menunduk malu karna telah membicarakan tuan-nya. Mereka tak sadar jika tuan-nya sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Maaf tuan, kami tidak bermaksud." Tutur seorang pelayan.
__ADS_1
"Tak apa, tapi jika kalian ingin cepat punya tuan atau nona muda, protesnya jangan ke saya, perotes sama nona tersayang kalian itu. Gimana bisa bikin dedek bayi kalau pabriknya gak mau buka." Sahut Eric sambil tertawa.
Pertama kalinya pria itu bersikap hangat didepan pelayan-nya. Para pelayan yang melihat sikap Eric sampai kaget hampir kena serangan jantung melihat sikap yang baru pertama kali mereka lihat dari tuan-nya, pria yang biasanya dingin dan acuh mendadak lebih hangat dan welcome.
"Ih jangan ngomong kaya gitu lagi." Protes Aletaa yang merasa dipermalukan. Ini masalah ranjangnya, tak semestinya Eric membuat sindiran halus didepan banyak orang tentang hal yang berkaitan dengan jatah di ranjang.
Orang-orang disana menahan tawa mereka, pasangan yang sagat cocok. Eric dan Aletaa seakan diciptakan untuk saling melengkapi.
"Kak, aku butuh berkas kemarin, penting harus sekarang juga." Tiba-tiba David datang lalu menarik tangan kakaknya, membawanya masuk kedalam rumah.
Para pelayan akhirnya bisa tertawa terbahak-bahak. "Kalian kenapa?." Tanya Aletaa yang bingung.
"Emmm tidak ada apa-apa."
__ADS_1