
Hari nampak mulai gelap, Seperti biasa Aletaa sudah mengurung diri dikamarnya sehabis makan malam. Biasanya gadis itu akan lagsung tidur, namun kali ini berbeda.
Aletaa nampak masih berguling-guling diatas ranjang, matanya terasa tak bisa menutup dengan sempurna setiap kali ia mencoba untuk tidur. Ada sebuah pertanyaan dibenak Aletaa yang terus saja menghantuinya. Siapa wanita tadi?.
"Kalau kerabat, mungkin saat makan malam tadi wanita itu juga turun untuk makan kan?." Gumamnya masih mencari jawaban dari kegundahan yang telah membebani pikiran-nya.
"Sudahlah Aletaa, wanita itu tak penting bagimu. Kenapa kau terus saja memikirkan sesuatu yang tak penting." Ujar Aletaa pada dirinya sendiri.
"Tapi aku penasaran." Sekuat apapun Aletaa mencoba menganggap orang lain tak penting, Aletaa akan tetap menjadi Aletaa, gadis yang selalu ingin tahu suatu hal sekecil apapun.
Gadis itu menyerah, pertahanan-nya runtuh karna rasa ingin tahu yang tinggi. Ini bukan waktunya mementingkan ego.
Dengan tekad bulat gadis itu berjalan kearah pintu, membuka pintu itu pelan lalu mengintip sebentar.
Dirasa sepi, Aletaa memberanikan diri keluar dari kamar, gadis itu melangkah beberapa langkah hingga tubuhnya tepat berada didepan pintu.
"Tuan apa aku boleh masuk?." Tanyanya dengan berbisik, gadis itu nampak mengetuk pintu beberapa kali lalu kembali mengulangi ucapan-nya dengan suara pelan.
__ADS_1
Gadis itu celingak celinguk melihat sekitar, jika ada orang yang melihatnya, Aletaa bisa mati karna malu.
Memang Eric itu suaminya, tapi jika begini, rasanya Aletaa tak jauh berbeda dari orang yang hanya datang saat butuh.
"Tuan, apa aku bisa masuk?." Gadis itu meninggikan suaranya sambil mendaratkan ketukan pintu yang semakin keras.
Namun kamar itu seakan tak berpehuni, tak ada sahutan apapun dari pria si pemilik kamar itu.
"Apa dia tuli atau sedang mandi?." Aletaa meracau karna kesal.
"Pria tak punya telinga, apa dia tak bisa mendengar semua teriakanku yang mungkin bisa terdengar sampai rumah tetangga. Dasar tuli." Aletaa tak hentinya memaki, kalau sedang marah kata-kata yang keluar dari bibirnya terasa begitu panas dan menyakitkan.
Gadis itu masih tak henti memukul-mukul pintu.
"Apa?." Sebuah suara berhasil membuat jantung Aletaa berdegup sangat kencang. Pria yang sedari tadi ia cari ternyata berdiri dibelakangnya. Kalau Eric ada diluar, berarti tak ada orang didalam kamar , pantas saja sedari tadi ia panggil-panggil tak juga ada sahutan.
Aletaa memutar tubuhnya, matanya tak berani menatap mata elang milik Eric yang menakutkan. "Apa dia mendengar ucapanku tadi?." Batin Aletaa.
__ADS_1
"Ada apa?." Tanya Eric sekali lagi.
"Emh itu tuan, aku ingin berbicara sedikit denganmu."
"Yasudah, apa yang ingin kau bicarakan?." Tanya pria itu.
"Ini cuman antara kau dan aku tuan, jadi bisakah kita pergi ke tempat yang lebih privasi, yang hanya ada kita berdua saja tuan."
Eric nampak mengernyitkan dahinya, entah apa lagi yang gadis nakalnya rencanakan. "Kamar maksudnya?." Tanya Eric memastikan.
Aletaa menggaruk-garuk kepalanya canggung, "I iya." Sahut Aletaa.
"Kau ini kesambet apa?, tiba-tiba pengen sekamar, biasanya juga gak mau kalau diajak baik-baik, ini tiba-tiba aja nawarin." Tutur Eric yang masih bingung dengan perubahan gadis nakalnya yang begitu derastis.
"Tidak apa-apa, tapi apa salah kalau aku pengen tidur sekamar." Sahut Aletaa, gadis itu menutup mulutnya karna salah bicara.
"Sekamar?, owh, itu bisa diatur." Sahut Eric sambil tertawa.
__ADS_1