
Siang ini, Mobil yang membawa Eric dan Aletaa berhenti dihalaman rumah ayah, dengan wajah yang sumeringah, Aletaa segera keluar dari dalam mobil lalu mendekat kearah pintu rumah, di ikuti Eric yang nampak membawa sebuah koper besar ditangan sebelah kanan-nya, tempat dimana barangnya dan barang milik Aletaa disimpan.
Aletaa mengetuk pintu rumah itu cukup keras, rumah berlantai dua dengan gaya yang sederhana. Beberapa minggu yang lalu Eric meminta beberapa tukang untuk memperluas rumah itu,membuatnya semakin indah karna bukan hal yang mustahil setelah Aletaa melahirkan nanti, gadis itu pasti sesekali datang berkunjung kerumah ayahnya nembawa anak Eric. Jadi Eric membuatnya semakin luas agar nyaman ditempati anaknya nanti, maka dari itu keadaan rumah nampak berbeda sejak terakhir kali Aletaa meninggalkan-nya.
Tak lama pintu itu dibuka, nampak seorang pelayan berada tepat didepan pintu. "Tuan, nyonya silahkan masuk." tutur pelayan itu sambil memberi jalan pada Aletaa dan Eric.
Eric dan Aletaa segera masuk. "Ayah dimana?." tanya Aletaa.
"Bapak sedang pergi chek up ke rumah sakit nyonya." sahut pelayan itu.
Aletaa mengangguk paham. Netra gadis itu menatap keadaan rumahnya dengan seksama. Walaupun baru selesai di renovasi, rumahnya tak jauh berbeda dari keadaan-nya yang dulu.
Rumah yang menyimpan masa kecil Aletaa yang pahit, rumah yang menjadi saksi bisu tumbuhnya sosok gadis tegar nan kuat melewati garis kehidupan yang telah ditentukan takdir.
__ADS_1
Aletaa segera masuk kedalam kamarnya, gadis itu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang kecil yang selalu ada untuknya dikala lelah melanda.
Eric nampak mengikuti langkah istrinya, ini kali pertama pria itu berkunjung kerumah sang mertua. Walaupun keadaan rumahnya tak semewah rumah besar, tapi Eric merasakan kehangatan disetiap sudutnya. Merasakan cinta, merasakan kasih sayang antar keluarga.
Terbukti dari beberapa foto yang dipajang di dingding kamar. Foto yang menampilkan sebuah kehangatan antara anak dan ayahnya.
Kening Eric berkerut saat melihat seragam yang tergantung dan dipajang disudut kamar. "Apa dulu kau pernah berperan sebagai pramugari?." tanya pria itu, Eric mengira kalau seragam itu adalah properti drama sewaktu jaman Aletaa sekolah.
Aletaa mengalihkan pandangan-nya pada seragam yang dimaksud Eric, "Itu seragam kerjaku dulu." sahut gadis itu santai.
"Bukankah kau ini tunkang bersih-bersih?." tanya Eric.
Aletaa yang mendengarnya seketika tertawa. "Sebelum aku bekerja jadi tukang bersih-bersih, dulunya pekerjaanku adalah pramugari." jelas gadis itu.
__ADS_1
Masih teringat nasib nahas yang menimpanya dulu, tadinya pramugari yang sering lintas benua lintas perbatasan negara pindah propesi jadi tukang bersih-bersih, di club malam pula.
Aletas ingin sekali menertawai keadaan-nya yang menyedihkan.
Eric segera mendekat kearah Aletaa. "Benarkah?." tanya pria itu belum percaya dengan apa yang barusan istrinya katakan, tak disangka, dibalik Aletaa yang barbar, ternyata ada sebuah kemampuan luar biasa dari gadis itu.
Aletaa hanya mengangguk.
"Lalu kenapa kau tak pernah cerita hal luar biasa ini kepadaku?, David juga tak memberitahuku kalau kau mantan pramugari."
"karna kau tak pernah menanyakan-nya." sahut Aletaa.
Nampak sebuah kekecewaan diwajah pria itu, sungguh suami yang tak berguna, sudah hidup bersama hampir setengah tahun lamanya, tapi Eric tak tahu hal yang luar biasa dari istrinya.
__ADS_1
Setelah cukup lama menunduk dan hanya diam, Eric segera mengangkat kepalan-nya menatap wajah sang istri.
"Lalu kenapa kau keluar dari dunia penerbangan?, padahal pekerjaan itu sangat di idamkan banyak wanita, dan kenapa kau memilih menjadi tukang bersih-bersih?, yang gajihnya saja tak seberapa?." banyak sekali pertanyaan dalam benak Eric.