Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
beruntung


__ADS_3

Selang 30 menit, Dua mobil berhenti tepat didepan caffe yang ada disebrang bandara, Aletaa yang mengenali mobil suaminya segera mendekat.


Nampak Eric juga keluar dari dalam mobilnya kemudian mendekat kearah Aletaa. "Bagaimana keadaanmu?." tanya Eric saat ia dan sang istri sudah saling berhadapan.


"Aku baik-baik saja." sahut Aletaa kemudian memeluk tubuh Eric. Jantungnya berdebaran tak karuan, tak bisa dibayangkan jika tadi ia tak peka dengan kondisi, mungkin sekarang dua orang paruh baya itu sudah menyekapnya.


Eric beralih pada sang adik, kemudian segera menggendongnya. Dion yang tak tahu apa-apa hanya tersenyum pada Eric, menampilkan gigi yang berwarna coklat karna baru saja selesai memakan coklat.


"Kau bilang ayah dan ibu tak jadi pulang?, bukankah sudah jelas mereka benar-benar naik pesawat?." tanya Aletaa heran. Tadi siang ayah dan ibunya Eric sempat mengirimkan foto sewaktu mereka ada dalam pesawat, jadi mana mungkin mereka membatalkan penerbangan sewaktu ada diatas langit.


"Mereka salah naik pesawat, aku bersyukur karna ayah dan ibu tak terlibat kecelakaan maut itu."


Saat suasana sedang ada dalam keadaan hening, terdengar suara kaca yang pecah, semua mata langsung tertuju pada mobil Aletaa yang kaca depan-nya sudah bertebaran dijalanan. Tak berapa lama pria paruh baya yang ada didalam mobil menodongkan senjata api kearah Aletaa kemudian menembak gadis itu.


Eric dan orang-orang yang ada disana seketika panik saat melihat Aletaa pingsan dengan darah dari bagian pahanya. "Aletaa, kamu tak apa?." ucap Eric sambil menggoyangkan tubuh sang istri.


"Sial!." rutuk Eric kemudian berjalan menghampiri pria paruh baya yang sudah dikepung penjaganya.


Pria itu mengepalkan tangan-nya kemudian mendaratkan sebuah tinjuan maut sampai hidung pria paruh baya itu mengeluarkan darah. "Terima itu sebagai kenang-kenangan." ucap Eric kemudian kembali pada istrinya yang nampak sudah duduk dibantu beberapa orang yang ada disana.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?." tanya Eric kemudian memeluk tubuh sang istri.

__ADS_1


"Aku tak apa-apa, aku hanya kaget melihat darah yang begitu banyak." sahut Aletaa dengan suara parau.


Melihat kondisi Aletaa yang semakin memburuk, Eric segera menggendong sang istri masuk kedalam mobil.


"David kau jaga Dion, atau bawa saja dia pulang, aku harus ke rumah sakit dulu." ucap Eric saat ia sudah berada dalam mobil.


"Ok." sahut David kemudian menggendong sang adik yang sedang menangis.


***


Jarak dari bandara ke rumah sakit tak begitu jauh, kurang lebih 15 menit, mobil yang membawa Eric dan Aletaa sudah sampai diarea rumah sakit.


Beberapa perawat sudah menunggu kedatangan Eric dan Aletaa dipelataran. Tadi saat diperjalanan, Eric sempat menghubungi rumah sakit itu untuk memintanya menyiapkan semua pasilitas sebelum mereka sampai.


Selang beberapa saat, sang dokter keluar dari dalam ruang pemeriksaaan. "Bagaimana keadaan istriku?." tanya Eric sedikit panik.


Dokter wanita itu hanya tersenyum. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan pak, kondisi bu Aletaa benar-benar stabil. Beruntung senapan itu mengarah kebagian paha, kalau naik sejengkal saja keatas, saya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi." ucap dokter itu.


Eric akhirnya bisa bernafas lega.


"Hanya saja kami harus segera melakukan tindakan oprasi untuk mengangkat senapan yang bersarang di pahanya." ucap dokter itu lagi.

__ADS_1


"Lakukan, lakukan apapun asalkan nyawa istri dan anaku selamat." sahut Eric.


Hari ini benar-benar membuat Eric lelah, setelah insiden jatuhnya pesawat yang menbuat jantungnya berdebar, ditambah sebuah tembakan yang membuatnya hampir kena serangan jantung.


Eric beruntung, dia masih diberikan keberuntungan. Kalau saja tadi ayah dan ibu Eric tak salah naik pesawat, mungkin kini Eric sedang berduka, ditambah insiden tembakan, pasti sekarang pria itu ada dalam titik terburuk nya.


Namun semua terjadi karna sekenario takdir, tak ada yang bisa mengubah dan mampu untuk mengubahnya.


***


Hallo semua, Maaf kalau up author gak nentu, author sebenernya mau banget bisa up tiap hari.


Tapi waktu dan keadaan sekarang gak mendukung author buat berkarya setiap saat. Sebentar lagi ponakan author mau nikah. Namanya juga orang kampung, punya adat sebelum hari H, kalau disini namanya nyamungan, jadi kaya tetangga atau saudara silaturahmi ke rumah calon manten sambil bawa amplop atau kado.


Otomatis author dari pihak pengantin harus nyiapin banyak hal untuk menjamu para tamu itu. Sudah lebih dua minggu author sibuk, alhamdulillah author punya sedikit ilmu dapur, jadi selama ini author bantu-bantu masak dirumah kakak author


Kalo gak dibantuin, rasanya gak enak hati, apalagi kakak author itu udah banyak berjasa sama author. Dia udah kaya ibu kedua buat author, jadi mana mungkin author gak ikut bantuin kakak yang lagi butuh banget bantuan.


Author seneng kalau kemampuan author yang sedikit bisa membantu orang lain.


Mohon malum semuanya.

__ADS_1


Mampir juga ke judul baru author, judulnya aku bukan boneka, udah up sampai 8 eps.


Untuk novel pewaris nomor satu. Author akan lanjut saat novel ini selesai.


__ADS_2