
Aletaa menatap Eric dengan berbinar. "Apa aku akan diberi proyek lagu oleh batu prasasti ini?, aku sangat deg-degan" Batin Aletaa.
"Tak mungkin, bisa-bisa karirku lenyap kalau membiayai artis keresek sepertimu" Seakan punya ilmu telepati, Eric menyahuti suara batin Aletaa dengan suara batin-nya.
Keduanya saling menatap, "Aku kesini hanya untuk pembuktian, bukan untuk membiayaimu bernyanyi" Tutur Eric. Aletaa yang terlalu banyak berharap kembali pada mode dunia nyatanya.
"Bilang saja kau tidak mau kalau aku lebih sukses darimu nanti saat aku jadi artis terkenal" Cibir Aletaa dalam hati.
"Pembuktian seperri apa?, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?" Tanya Aletaa.
Tampa mengulur waktu, Eric membuka jasnya dan membuangnya asal. Lalu pria itu juga membuka kemeja putih yang menutupi tubuh atletisnya.
Melihat itu Aletaa gemetaran. "Apa dia akan mengambilnya hari ini?, aku belum siap tuhan" Tuturnya dalam hati. Aletaa takut kalau mahkotanya akan diambil malam ini. "Tu tuan, apa yang anda lakukan?" Tanya Aletaa dengan terbata.
"Diamlah, jangan banyak bertanya. Sebelumnya aku tak pernah meminta ini darimu. Tapi sekarang aku merasa sangat penasaran dengan rasanya" Sahut Eric yang masih sibuk dengan kancing kemejanya.
"Rasa keperawanku kah itu?" Batin Aletaa bertanya.
Tak lama Eric menyelesaikan kancing kemejanya. Nampak roti sobek berjejer indah. Perut kotak-kotak yang membuat para wanita hampir meneteskan air liurnya.
__ADS_1
Pria itu melempar asal kemejanya. Lalu merebahkan tubuhnya keatas ranjang. "Raba tubuhku!!!" Suruhnya. Aletaa membelalakan matanya "a... apa?" ujarnya kaget. "Cepat raba tubuhku!!!" Titahnya lagi.
"Ba... baiklah" Sahut Aletaa, dengan ragu gadis itu bangkit dari atas kursi lalu mulai merangkak naik keatas ranjang. Sebelah tangan-nya mulai ia gerakan di perut sispac Eric.
"Apa ini tidak apa-apa tuan?" Tanya Aletaa.
Eric tak menyahut, pria itu nampak memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan yang diberikan Aletaa. "Buka jubah mandimu lalu peluk aku" Titahnya.
Aletaa makin terbelalak. Namun gadis itu tak mampu melakukan apa-apa, hanya bisa mengikuti perintah yang Eric berikan. Gadis itu membuka jubah mandinya, lalu memeluk Eric dari samping.
Kulit keduanya saling menempel. Jantung Aletaa berdegup sangat kencang. "Kali ini dia menyuruh ku membuka jubahku. Setelah ini dia pasti menyuruhku pembuka handuknya juga" Batin Aletaa.
Aletaa segera melepaskan-nya.
Eric bangun dari posisinya terlentang. "Tidak ada yang terjadikan pada tubuhku?" Tanyanya pada Aletaa.
"Iya tuan, semuanya nampak baik tak kurang satu pun" Sahut Aletaa yang gemetaran.
"Rasa wanita enak juga ya, tubuhmu kurus tapi dadamu gempal. menempel tepat diketiaku" Tutur Eric lagi.
__ADS_1
Aletaa bersemu, gadis itu menutup wajahnya yang merah karna malu. "Terima kasih tuan" Ujarnya.
"Kenapa kau yang berterima kasih?, harusnya aku yang berterima kasih karna kau sudah bersedia membantuku" Sahut Eric. "Membantu anda?" Aletaa berpikir keras, dia membantu apa?, menuntaskan ***** pria itu?. Padahal tadi dia hanya menempelkan kulitnya dikulit Eric. Tak lebih.
"Membantuku untuk merasakan sentuhan wanita" Sahut Eric dengan nada nakal.
Aletaa kembali bersemu. malu... hanya itu yang ia rasakan.
"Sudahlah jangan pikirkan itu lagi, segeralah berpakaian lalu turun untuk makan malam. Aku juga akan pergi mandi dulu" Lanjut Eric.
Aletaa seketika terkesiap. "Bukan-nya anda ingin m...." Ujarnya terpotong. Aletaa benar-benar malu kalau harus mengatakan-nya.
"Apa?" Eric berbalik menatap Aletaa sambil menunggu lanjutan kata dari wanita itu.
"Dia tidak akan mengambil keperawananku?" Batin-nya.
"Tidak tuan, tidak apa-apa" Ujar Aleta sambil menyengir.
Belum waktunya untuk main colok, main colek saja baru pertama kali. Perjalanan main colok mungkin masih panjang.
__ADS_1
Tapi itu cuman mungkin🤣🤣🤣