Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
siap-siap ke pesta


__ADS_3

Siang hari dikamar Aletaa.


Terlepas dari masalah Monica tadi pagi, siang ini nampaknya akan diadakan sebuah pesta disuatu tempat.


"Aletaa cepat, kakek memanggil kita untuk segera turun!." Seru Eric, pria itu nampak sudah siap dengan baju dinasnya, sebuah kemeja putih berdasi hitam, disandingkan dengan jas hitam yang membuat penampilan pria itu gagah mempesona.


"Iya tunggu sebentar." Sahut Aletaa yang baru keluar dari kamar mandi.


"Maaf tuan, tadi perutku mules," Lanjut gadis itu.


"Apa peduliku, terserah kau saja mau mules atau apa, muntah darah juga aku tak akan peduli." Sungut Eric, pria itu membalikan badan-nya menghadap kearah Aletaa, Matanya seketika terbelalak, "Apa yang kau pakai ini?." Eric kembali mengomel, melihat pakaian Aletaa yang begitu mini membuatnya sedikit marah.


Dress hitam ketat yang panjangnya sebatas lutut menempel indah ditubuh sintal Aletaa, nampak dress itu hanya terikat seutas tali sebesar tali bra saja untuk menahan-nya agar tidak melorot.


"Bukankah kakek berpesan untuk memakai gaun pesta tuan, kenapa dengan pakaian ini?, apa pakaian ini salah, tapi jika ini salah aku paham, aku lihat foto di majalah, para wanita pergi kepesta dengan menggunakan baju yang lebih mini, tapi sayangnya aku tak punya baju yang lebih terbuka dari ini, aku hanya punya lingeri pemberianmu saja tuan, apa aku harus memakainya?." Tutur Aletaa terus terang.

__ADS_1


Eric menepuk kepalanya pening, istrinya itu benar-benar norak, walaupun Aletaa pintar hampir dalam segala hal, tapi perihal pakaian gadis itu tak tahu apa-apa, dia hanya bisa menyontonya dari majalah saja.


Padahal kalau dipikir-pikir, perkerjaan-nya sebagai pramugari dulu cukup terikat dengan norma dan sopan santun. Apalagi masalah pakaian, biasanya seorang pramugari akan lebih memahami soal berhias dan menjadi cantik.


Tapi lihat mantan pramugari yang ada didepan-nya ini, dia seakan sudah lupa dengan apa yang dulu pernah ia terapkan saat masih bekerja didunia penerbangan, apakah sopan memakai pakaian yang lebih cocok disebut lingeri untuk dipakai pergi ke sebuah pesta?.


Eric menggeleng-gelengkan kepalanya pusing, pria itu akhirnya turun tangan, dia membuka lemari kecil yang ada disamping lemari Aletaa.


Pria itu mengeluarkan sebuah dress warna merah darah yang tak terlalu ketat. "Ini pakaian milik almarhumah ibuku, kau boleh memakainya untuk hari ini saja." Tutur Eric sambil menyerahkan dress yang masih ada digantungan itu.


"Jangan banyak bicara, segera pakai."


Aletaa membuka dress hitam yang menutupi tubuhnya tepat didepan Eric, sontak pria itu kaget sambil menutupi kedua matanya dengan telapak tangan. "Apa kau gila?, kenapa kau menggantinya disini?, kenapa tidak pergi kekamar mandi?."


"Tuan, ini semua aku lakukan agar menghemat waktu." Sahut Aletaa santai seperti orang tanpa dosa.

__ADS_1


Singkat cerita dress hitam telah jatuh kelantai, berganti dengan dress merah yang telah melekat sempurna ditubuh indah Aletaa.


"Mari tuan, aku sudah selesai."


Eric akhinya berani membuka telapak tangan yang menutupi kedua bola matanya. Pria itu menatap Aletaa sekilas, penampilan gadis itu lebih baik dari sebelumnya. Namun rasanya ada sesuatu yang kurang.


Eric sejenak berpikir, lalu pria itu membuka kembali lemari, Eric mengambil sebuah kotak perhiasan lalu mengasongkan-nya pada Aletaa.


"Apa ini tuan?" Aletaa bertanya-tanya, benda apa yang ia pegang.


"Pakai saja." Sahut Eric.


Aletaa akhirnya membuka kotak perhiasan itu, didalamnya ada sebuah kalung berlian yang sangat indah, bandonya bertahtakan sebuah batu sapir yang berkilau.


"Apa anda yakin?." Tanya Aletaa lagi, gadis itu memastikan apa perhiasan itu pantas untuk -ia kenakan.

__ADS_1


Eric hanya berdehem sebagai jawaban.


__ADS_2