
Tak sampai 30 menit, mobil yang membawa Aletaa sampai juga di area parkir hotel V yang telah ditetapkan sebagai tempat acara.
Monica lebih dulu keluar dari dalam mobil di ikuti Aletaa dan Eric yang juga turun setelahnya. Mereka bertiga masuk kedalam bangunan hotel itu.
Ketiganya berjalan beriringan kearah aula tempat dimana jamuan itu akan digelar. Nampak David sudah menunggu kedatangan mereka didekat pintu aula.
"Kak, untung saja kau cepat datang. Para tamu sudah mulai berdatangan, lebih baik kau segera menemui mereka." David segera menarik lengan kakaknya untuk masuk kedalam ruangan.
Setelah kedua pria itu pergi, Monica segera merangkul lengan Aletaa untuk membawanya masuk. "Kak aku takut." ungkap Aletaa, jantung gadis itu berdegup sangat kencang, rasa gugup sangat ia rasakan.
Ini adalah kali pertamanya menghadiri acara formal para pembisnis besar dunia. Bagaimana mungkin Aletaa tak gugup.
"Tenang saja." sahut monica singkat.
Keduanyapun segera masuk kedalam ruangan, nampak banyak pengusaha terkenal didalam ruangan itu. Monica segera membawa Aletaa ke depan seorang pembisnis besar yang sedang duduk diatas kursi bersama istrinya.
__ADS_1
Mereka berbincang-bincang sejenak. "Aku harus bertemu seseorang, permisi." pamit Monica. Wanita itu melangkah pergi meninggalkan Aletaa didepan dua orang asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Selamat menikmati penghinaan dari para pengusaha Aletaa." batin Monica sesaat setelah dia pergi meninggalkan gadis itu. Monica tahu betul kalau orang yang sekarang bersama dengan Aletaa adalah klien penting perusahaan Eric. Kalau Aletaa melakukan sedikit saja kesalahan, hal itu bisa mempengaruhi kerja sama miliaran dolar antara Eric dan pengusaha itu.
Namun nampaknya Aletaa tak gentar sedikitpun walaupun Monica meninggalkan-nya sendirian ditengah-tengah orang asing itu. Pembisnis juga manusia, apa yang perlu ia takuti?. "Maaf sepertinya teman saya ada keperluan lain." tutur Aletaa dengan soapan-nya.
Aletaa dengan mudahnya bersosualisasi dengan lingkungan baru. Ini tak terlalu sulit baginya, lebih sulit bekerja menjadi pramugari dari pada situasi yang sedang ia alami saat ini.
"Iya kami tak keberatan." sahut si wanita.
Banyak pula pengusaha yang mengenali Aletaa si pramugari cantik nan mempesona.
Aletaa mendadak jadi sorotan, "Rasanya sudah lama saya tidak melihat anda di pesawat nona, apa sekarang anda terjun ke dunia bisnis?." tanya seorang pria yang dulu sering melihat Aletaa di pesawat saat sedang bepergian.
"Tidak, saya bukan pembisnis hebat seperti kalian. Alasan saya keluar dari dunia penerbangan karna saya rasa saya sudah cukup dewasa dan sudah waktunya untuk menata hidup."
__ADS_1
"Maksudnya berkeluarga?." timpal seorang wanita.
"Hmmm itu sebabnya saya ikut ke pesta ini barang kali ada orang yang mau membangun rumah tangga dengan saya." sahut Aletaa sambil sedikit tertawa.
Orang-orang yang ada disana nampak ikut tertawa mendengar gurawan gadis itu.
Eric yang sedari tadi memperhatikan Aletaa dari kejauhan nampak sangat senang saat melihat gadis itu dengan mudahnya menyesuaikan diri dengan orang-orang asing yang ada didekatnya.
Namun Eric juga merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Rasanya ia ingin menangis saat mendengar Aletaa mengatakan kalau ia ingin memiliki sebuah keluarga yang utuh.
Apa dirinya tak pantas disebut keluarga?.
***
Maaf nih chapter ini agak kurang nyambung, soalnya ini cuman chapter pengisi aja dari pada chapter selanjutnya gak nyambung sama alur.
__ADS_1