Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
centong sakti dan Sangkuriang zaman-now


__ADS_3

Pagi-pagi suasana didapur sudah mencekam seperti sedang terjadi peperangan. Aletaa yang tak pernah sekalipun melihat dapur di rumah itu tiba-tiba ingin masak bersama kakek.


Tergiur indahnya dapur dan lengkapnya perabotan didalamnya membuat jiwa ibu-ibu Aletaa memberontak. Rasanya kurang apdol kalau tidak mencoba memasak dengan peralatan super lengkap itu.


Seperti pahlawan yang sedang mengusir para penjajah, Kakek bersiap didepan pintu sambil memegang centong ditangan-nya. Berjaga-jaga kalau siapa-siapa yang ingin menerobos masuk ke dalam benteng mereka, akan ia pukul dengan centong saktinya.


Rasanya yang menjadi penjajah itu adalah Aletaa dan kakek yang berani membajak dapur milik para pelayan.


"Kek, kita mau masak apa?" tanya Aletaa. Gadis itu mulai memilah dan memilih bahan makanan yang akan ia gunakan. Matanya berbinar-binar, daging sapi wagyu yang selama ini ia inginkan ada didalam dapur lenkap itu. Makanan para orang kaya berjejer rapih dalam lemari pendingin-nya.


"Masak sayuran aja, Kakek pengen sop kambing sama tumis kangkung kalau bisa," kakek yang masih berjaga didepan pintu memberi saran.


Setelah mendapatkan mandat dari komandan, Aletaa memulai kegiatan masak memasaknya dengan memotong beberapa wortel dan kembang kol untuk membuat sop kambing riqwest-an kakek.


Gadis itu cukup cekatan kalau masalah masak. Selain tadinya adalah anak kost-an yang setiap hari harus masak sendiri, Aletaa dari kecil juga sudah mempunyai minat dibidang itu.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, sop kambing buatan Aletaa sudah hampir matang. Tinggal menunggu sayuran-nya agak lembek sedikit, sop nya sudah bisa dihidangkan.


Aletaa lanjut memotong 3 ikat kangkung, mengingat rumah itu punya banyak pelayan, Aletaa berinisiatif untuk membuat jamuan kecil-kecilan. Jadi kali ini ia masak sangat banyak.


Diluar dapur, nampak amukan masa mulai mendemo di depan pintu. Kakek yang berjaga disana segera melerainya.


"Diam semuanya!!!, kalau kalian berisik sekali lagi, aku akan pecat kalian semua" ancam kakek. Para pendemo perlahan mundur karna takut sang komandan menyemprotkan gas ari mata yang bisa membuat mereka menangis kencang karna kehilangan pekerjaan.


Eric yang baru saja turun segera mendekat kearah kerumunan. "Ada apa ini?" tanya Eric melerai keributan dipagi hari itu. Para pelayan segera mundur, Eric dikenal sebagai raja yang kejam. Pasti dia bisa mengalahkan pemimpin aliran sesat dan komandan klan-nya.


"Sudah aku bilang dari tadi, biarkan Aletaa yang masak untuk hari ini," sungut kakek menyahuti pelayan yang tadi mengadu pada Eric.


Eric menggelengkan kepalanya pusing. Aletaa lagi Aletaa lagi yang berulah. Pemimpin aliran sesat dan pengikutnya itu selalu saja membuat onar setiap hari.


Kemarin ulahnya membuat kakek menangis seharian karna mengingat cinta pertama dan masa lalunya. Dan hari ini gadis nakal itu kembali berulah memporak porandakan dapur milik para pelayan.

__ADS_1


Eric menepuk dahinya prustasi. Kakek dan cucuk sama saja, mereka berdua sama-sama nakalnya.


"Kek, cobalah jangan percarai wanita sesat itu lagi, dia itu selalu berbuat onar setiap hari. Tapi kakek tetap saja mempercayai semua yang ia lakukan, padahal kemarin saja kakek sampai menangis karna ulahnya" Eric mencoba memberi perhatian.


"Jangan coba-coba berkata seperti itu lagi, jangan menjelek-jelekan cucuku tepat didepan wajahku!!!, dasar anak durhaka" ujar Kakek sambil mengetuk kepala Eric dengan centong sakti miliknya.


Centong nasi yang terbuat dari kayu itu menghantam kepala Eric cukup keras. Hingga pria itu mengaduh-aduh karna kepalanya terasa berdenyut-denyut, yang Eric alami saat ini sama persis dengan kisah Sangkuriang, namun ini kisah Sangkuriang persi zaman sekarangnya.


Dan bukan Dayang Sumbi yang melakukan penganiayaan itu, tapi Kakek yang kejam dan durjana yang tega menganiaya cucunya sendiri.


"Kek, kenapa kakek melakukan itu?, ini terasa sangat sakit," pria itu memprotes perbuatan kakeknya. "Aku bukan Sangkuriang yang telah membunuh ayahnya sendiri, aku hanya mengingatkan kakek kalau Aletaa itu sudah gila!!!, aku takut kakek juga ikut tercemar." Lanjutnya dengan nada marah.


"Kalian sama saja. Kau dan Sangkuriang tak jauh berbeda. Intinya kalian sama-sama durhaka!!!." Sahut kakek. Dengan kesal pria tua itu masuk kedalam dapur lalu mengunci pintunya dari dalam.


Eric yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Kesabaran-nya punya batasan.

__ADS_1


"Awas saja kau Aletaa," ancam pria itu dalam hati.


__ADS_2