Istri Bayaran Sang Ceo

Istri Bayaran Sang Ceo
pertahankan?


__ADS_3

10 menit berlalu, ketiga orang itu masih dalam posisi hukuman mereka. Beruntung ruang IGD ada di sebelah pojok rumah sakit, sehingga tak banyak orang yang melihat hukuman apa yang diberikan kakek pada cucu-cucunya.


"Kek, ini sudah hampir 10 menit, bolehkah kami menghentikan hukuman ini?." tanya Aletaa. ketiaknya sudah hampir kesemutan karna kedua tangan-nya terangkat untuk menjewer telinga dua pria yang tingginya seperti jerapah, beruntung ketiaknya mulus dan putih, kalau tidak, Aletaa pasti akan sangat malu.


Kakek menggeleng. "Belum waktunya." sahut pria itu.


Dalam keadaan seperti ini, saat hati sedang hancur dan tersakiti, setidaknya ada penghibur dikala sedih.


Memori puluhan tahun lalu terasa kembali, momen yang sangat kakek rindukan. Cucu-cucunya tumbuh begitu cepat, sampai tak terasa kini ia akan menjadi kakek buyut dari 2 cucu yang sangat ia sayangi.


Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari dalam ruangan. "Keluarga ibu Monica?." tutur sang dokter.


Ketiga orang yang sedang mendapatkan hukuman segera kembali berdiri tegap seperti biasa sebelum dokter itu melihat kearah mereka.


"Kami." sahut Aletaa.


Dengan wajah yang suram, dokter itu mendekat kearah Aletaa dan yang lain-nya. "Apa diantara kalian ada suami dari ibu Monica." tanya dokter itu pada Eric dan David.


David dan Eric saling menatap kemudian menggeleng cepat. "Kami bukan suaminya." ucap dua pria itu dengan kompak.


"Bisa panggilkan suaminya?." ucap dokter itu lagi.


"Memangnya Monica kenapa?." sela kakek. Pria tua itu segera bangkit dari posisi duduknya lalu mendekat kearah dokter wanita itu.


Bu dokter mengalihkan pandangan-nya pada kakek. "Begini pak, bu Monica tadi sempat keritis, tapi alhamdulillah sekarang keadaan-nya sudah setabil kembali. Hanya saja..." ucapan dokter itu tertahan, rasanya sangat berat memberitahukan berita duka yang dialami Monica.

__ADS_1


"Mbak Monica kenapa?." tanya Aletaa.


Dokter itu menarik nafas panjang. "Bayi yang ada dalam kandungan ibu Monica bermasalah, mungkin karna stres dan tekanan dari sang ibu membuat bayinya tak berkembang dengan baik." jelas dokter itu.


"Maka dari itu kami membutuhkan persetujuan suami dari ibu Monica untuk melakukan pengangkatan janin. Karna kalau terus dibiarkan, bisa saja janin itu akan lahir tak sempuran, bahkan bisa membahayakan keselamatan ibunya juga." lanjut sang dokter.


Suasana menjadi hening, bagaimana sekarang?, apa mereka harus membunuh janin tak berdosa itu?, atau justru membiarkan Monica ada dalam bahaya karna janin-nya?.


Aletaa nampak berpikir keras, dia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Kalau dia ada dalam posisi Monica sekarang, jalan mana yang akan ia pilih?, apa ia akan membahayakan dirinya sendiri demi melahirkan bayi yang cacat?, atau justru membunuh bayi itu demi keselamatan dirinya?.


Ini memang pilihan yang besar.


Perlahan naluri keibuan Aletaa bangkit. "Lakukan yang terbaik untuk ibu dan bayinya." tegas gadis itu.


Semua orang yang ada disana seketika menatap Aletaa dengan tatapan heran. "Kau gila?, bukankah kau sudah dengar kalau Monica ada dalam bahaya jika mempertahankan bayi itu?." tutur Eric.


Monica memang jahat, tapi apa orang jahat tak pantas hidup?.


"Begini bu, jika kita mempertahankan bayi itu, resikonya akan sangat besar." timpal sang dokter.


Aletaa tak mendengarkan. "Ya, Aletaa benar, sebaiknya kita pertahankan bayi itu." tutur kakek mendukung ide cucunya. Kakek dan Aletaa memang sepemikiran.


Aletaa menatap kakeknya sambil menangis haru. Kakek yang melihat itu hanya mengangguk. Walaupun seluruh dunia menentang mereka, tapi Kakek dan Aletaa yakin, pilihan mereka adalah hal yang paling bijaksana.


"Pertahankan bayi itu." tutur Aletaa dengan yakin.

__ADS_1


"Coba pikirkan lagi bu, saya takut anda akan menyesal jika ibu Monica melahirkan bayi yang cacat." ucap dokter itu kembali mengingatkan.


"Dokter itu benar kak, kak Monica mana mau menerima bayi yang cacat walaupun itu bayinya." sela David.


"Jika memang mbak Monica gak mau menerima kehadiran bayinya, biar aku saja yang merawat bayinya nanti. Kalian bisa lihat perutku sekarang, aku ini sedang hamil, aku akan menjadi seorang ibu. Tak bisa dibayangkan jika aku harus kehilangan bayiku. Kalian para lelaki mungkin tidak mengerti, tapi kau pasti paham bu dokter." tutur Aletaa.


Semuanya terdiam mendengar penuturan Aletaa, Dokter yang tadi ngotot untuk mengankat janin Monicapun hanya bisa diam.


"Bu dokter, bukankah kau juga perempuan?, bukankah kau juga ingin punya keturunan?. Harusnya kau lebih mengerti sesama wanita. Bayangkan jika kau ada di posisi mbak Monica sekarang, apa kau akan membunuh bayimu sendiri agar kau tak melahirkan bayi yang cacat?." lanjut gadis itu.


Dokter hanya bisa diam, Eric dan David yang tadi mendukung dokter itupun hanya bisa pasrah. "Anda benar bu, kalau itu memang sudah menjadi keputusan kalian, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan bayinya." sahut dokter itu.


Aletaa tersenyum senang, Mungkin saja dengan hadirnya bayi itu bisa membuat Monica lebih sadar dan sabar.


"Kalau begitu, saya akan melihat kondisi ibu Monica lagi, mungkin dalam waktu beberapa hari ini ibu Monica harus dirawat secara intensif disini." lanjut dokter itu sambil kembali masuk kedalam ruangan.


"Biar aku yang menjaga mbak Monica, kalian pulang saja." tutur Aletaa selepas dokter wanita itu pergi.


"Tidak, kau sedang hamil, biar aku dan David yang menjaga Monica disini." sahut kakek.


"Ric, bawa istrimu pulang." lanjut pria itu.


Eric hanya mengangguk. "Baiklah." sahut pria itu bersemangat. Pria itu nampak mengejek adiknya. "Silahkan kau tidur disini, jika ingin tidur ditempat yang nyaman, kau tidur saja dikamar mayat." ucap Eric sambil menarik istrinya pergi dari sana.


"Amit-amit, aku sumpahin kalau kau yang akan duluan masuk kamar mayat." sahut David kesal.

__ADS_1


__ADS_2