
Suasana hati wanita sama hal nya seperti naik-naik puncak gunung. Terkadang tanjakan terlihat begitu curam dan menakutkan. Tapi jika kita sabar saat menghadapi wanita, sesuatu yang indah sudah menunggu kita dipuncak sana.
Sekilas Aletaa memang sama seperti wanita biasa, mau dilihat dari segi manapun gadis itu tak lebih baik dari pada wanita lain. Hanya saja, dia adalah orang sepesial yang harus disepesialkan.
Sekarang Aletaa masih duduk-duduk santai didepan cermin. Gadis itu melihat jam yang ada dihandpone nya. Baru menunjukan pukul 8 malam. Gadis itu kembali melirik kearah Eric, suaminya masih dalam kesibukan yang sama.
Eric sekarang sedang memeriksa beberapa berkas yang dikirimkan David lewat email. Mau bagaimana lagi, besok Eric tak akan pergi ke kantor. Jadi mau tidak mau pria itu tetap harus mengerjakan kewajiban-nya.
Aletaa segera mendekat kearah Eric, gadis itu membaringkan kepalanya tepat dipaha sang suami. Eric yang merasakan mood bumil itu memburuk segera mengelus kepala Aletaa lembut walaupun matanya masih fokus pada handpone yang ada ditangan sebelahnya.
"Kenapa?." tanya Eric.
Aletaa hanya menghembuskan nafas berat.
Tak mendapatkan jawaban, Eric kembali fokus pada layar. Biasanya pria itu akan terus membujuk sampai Aletaa menjawab. Tapi kali ini beda, Eric terlihat tak peduli pada mood buruk istrinya.
Aletaa yang terlanjur kesal segera meraih handpone dari tangan Eric lalu menyimpan-nya dibawah bantal. Kalau sudah begini, artinya mood gadis itu sudah benar-benar buruk.
Eric hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. "Kenapa?." tanya pria itu lagi.
__ADS_1
"Aku mau sesuatu." sahut gadis itu malu-malu.
Eric membolakan matanya. "Jangan bilang kamu mau yang aneh-aneh kaya kemarin-kemarin, kita ini sekarang lagi dipuncak, jauh dari permukiman." tutur Eric nge-gas.
Aletaa mengerucutkan bibirnya kesal. "Owh, jadi selama ini kamu gak iklas nurutin semua permintaan aku, padahal yang mau ini itu tuh anak kamu bukan aku." sahut Aletaa tak kalah nge-gas.
Gadis itu merubah posisinya menjadi duduk diatas kaki selonjoran Eric. Matanya dan mata pria itu bertemu dan saling bertatapan.
"Gak gitu sayang, aku ikhlas nurutin semua permintaan kamu kok."
"Terus?." tanya gadis itu sinis.
Lama bibir mereka saling bertaut. Eric perlahan mulai menikmati alur permainan yang dibuat istrinya. Aletaa pun nampak begitu, mata gadis itu terpejam, selama ini belum pernah gadis itu merasakan rasanya berciuman dengan penuh perasaan.
Eric semakin mempererat pelukan-nya pada gadis itu, salah satu tangan-nya menekan tengkuk Aletaa agar ciuman mereka semakin dalam.
Lidah keduanya mulai mengapsen gigi dan rahang satu sama lain. Semakin menuntut dan mulai menjerat.
Pada akhirnya, hanya dengan tempelan bibir tadi, birahi keduanya mulai memuncak. Rasa ingin dipuaskan dan memuaskan mulai bergelora dalam diri mereka.
__ADS_1
stop!!!
maaf author gantung dulu.
***
Hallo semuanya, buat yang udah mampir ke novel Rembulan author ucapkan terima hasih yang sebanya-banyaknya. Mohon maaf author tidak bisa up, bukan karna author lagi males nulis, dua hari yang lalu author udah up, cuman gak bisa rivew sampai sekarang. Boleh kasih saran baiknya kaya gimana.
Satu lagi, author punya novel baru, mungkin beberapa dari kalian ada yang berpikiran authornnya serakah banget. Novel Rembulan ada masalah malah bikin judul baru lagi.
Pasti kalian ada yang begitu, author bikin judul baru punya alasan tersendiri, kalau mau tau alasan-nya langsung cus aja ke novel terbaru author.
Judul: jenayah orang ketiga
Genre: romantis, poligami (Menurut author gak poligami soalnya udah cerai.)
Sedikit sinopsisnya: Diceraikan dan diusir dari rumah, lalu kenapa saat ia kembali ke kota, dia membawa seorang anak?.
Cus langsung aja merapat ke novel jenayah orang ketiga.
__ADS_1