
1 bulan kemudian.
Semenjak Aletaa dinyatakan positif hamil, hubungan gadis itu dan Eric menjadi semakin dekat. Dua hati yang dipersatukan oleh selembar surat kontrak, lalu tak terpisahkan oleh hadirnya sang buah hati. Apa hubungan ini akan berakhir karna surat kontrak yang isinya menyangkut masalah buah hati?.
Seakan tak ada penghalang diantara keduanya. Selembar surat kontrak yang sangat sakral menjadi tak berharga dimata dua insan yang telah dibutakan karna cinta.
Pagi itu pagi yang sama seperti pagi biasanya, namun nampaknya ada sedikit perbedaan pada Aleetaa. Setiap pagi Eric harus ekstra siaga menjaga istrinya itu.
Aletaa yang baru saja mengikuti kelas ibu hamil disarankan untuk minum vitamin dan suplemen yang katanya bisa mengurangi mual dan pusing saat usia kandungan masih di trismester pertama. Namun setelah Aletaa mengkonsumsi beberapa suplemen yang disarankan, morning sickness yang biasanya hanya berlangsung sampai hari mendekati siang kini terjadi lebih parah lagi.
Sekarang Aletaa nampak sedang duduk dikursi pijatnya. Pagi itu Aletaa sengaja tak minum suplemen yang membuat mualnya semakin parah. Namun nampaknya mau diminum atau tidak, mualnya memang benar-benar parah. Buktinya gadis itu sekarang masih memegangi kantong kresrk yang sudah menjadi teman-nya setiap pagi.
Nampak juga Eric sedang memijat kepala gadis itu. "Apa sudah lebih enakan?." tanyanya.
Aletaa hanya mengangguk pelan. Setelah muntah-muntah parah, akhirnya gadis itu bisa bernafas lega saat merasakan gejolak dalam perutnya sedikit mereda.
__ADS_1
"Hari ini aku tak bisa menemanimu sampai makan siang, dikantor sekarang sedang ada banyak pekerjaan. Jadi kalau kau sudah merasa lebih baik, aku akan tinggalkan kau dirumah dengan pelayan ya." tutur pria itu.
Namun nampaknya Aletaa masih belum ingin berpisah dengan sang suami. "Aku tiba-tiba mual lagi, uek... uek..." gadis itu membuat beberapa alasan agar bisa mengulur waktu sebelum Eric pergi.
Eric hanya bisa tersenyum kecil melihat tinggah istri manjanya itu. "Apa kau mau ikut ke kantor?." tanya pria itu.
Mendengar itu Aletaa terlonjak. "Tentu aku mau ikut!." serunya senang.
"Tadi katanya mual." sindir Eric.
Aletaa memang gadis istimewa. Dalam dirinya banyak sekali kejutan yang selalu membuat orang jengkel ataupun senang.
"Yasudah cepat mandi dan gosok gigi, kita kan berangkat setengah jam lagi." tutur Eric.
"Siap bos." sahut Aletaa semangat, gadis itu mulai melangkah kearah kamar mandi, akhirnya, setelah satu bulan lamanya di isolasi, Aletaa akan pergi kelihat dunia luar lagi. Gadis itu sangat senang.
__ADS_1
Setelah Aletaa pergi, tiba-tiba ponsel Eric berdering. Nampak sebuah nama dilayar. "David?." tak biasanya pria itu menelpon, Eric segera mengangkatnya, barang kali ada hal yang penting.
"Hallo." sapa Eric.
"Hallo kak, masalah racun itu akhirnya bisa terpecahkan." sahut David dari sambungan telpon.
"Maksudmu racun yang Aletaa makan itu?." Tanya Eric, pria itu bahkan sudah tak ingat dengan masalah racun. Setelah melihat rekaman CCTV dan tidak menemukan satupun barang bukti, Eric menutup kasus itu rapat-rapat. Seakan melupakan kasus yang pernah hampir merenggut nyawa Aletaa.
"Iya kak, kemarin pengurus hotel menemukan botol kecil di kolong lemari. Mereka segera menghubungiku lalu memberikan-nya padaku. Aku coba cek ke laboratorium, dan ternyata benar, itu racun yang sama seperti racun yang ada dimakanan kak Aletaa dulu, sekarang aku sedang memeriksa botolnya, barang kali sidik jari pelaku masih ada disana." jelas David.
"Tentu, siang nanti temui aku di kantor, aku juga ingin tahu siapa orang yang hampir membunuh istri dan anakku."
Setelah cukup lama berbincang, panggilan telpon itu berakhir.
Eric juga semakin penasaran. Sebuah titik terang sudah ada didepan mata.
__ADS_1