
Setelah bicara dengan dokter, Dania dan Mama Randy kembali ke ruang rawat Randy.
Dania menatap Randy yang tengah terlelap. Wajahnya begitu tenang, dia begitu polos seperti bayi.
Tanpa terasa air matanya mulai menetes dengan perlahan, dan perlahan air mata itu pun semakin deras mengalir membasahi pipinya.
Mama Randy yang melihat Dania menangis pun mencoba memberinya kekuatan.
Tangis Dania pun semakin lirih dan suaranya semakin terdengar sesenggukan, membuat Randy sampai terbangun dari tidurnya.
"Kenapa lo nangis?" tanya Randy.
Randy menatap Dania dengan penuh rasa bingung. Pasalnya, saat ini dia tak mengenal Dania sama sekali.
Dania pun segera mengusap air matanya.
"Ga apa-apa, kok." ucap Dania.
Randy bergerak dan akan bangun dari tidurnya.
"Kamu mau apa?" tanya Dania.
"Air, gue mau minum." ucap Randy.
Dania mengambil gelas yang berisi air putih dan membantu memberikannya pada Randy.
Setelah selesai minum, Randy pun minta untuk duduk dan Dania langsung mengatur brankar Randy hingga kini posisi Randy terduduk sambil menyender.
"Thanks." ucap Randy.
Dania mengangguk dan duduk kembali di samping brankar Randy.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo masih di sini? Keluarga lo ga nyariin emang?" tanya Randy.
Dania dan Mama Randy saling tatap.
Mama Randy pun mendekati Randy dan tersenyum.
"Kamu ga ingat siapa dia, Rand?" tanya Mama Randy.
Randy mengerutkan dahi sambil menatap Dania, dia mencoba mengingat siapa Dania.
"Auww .. Kepala aku sakit banget, Ma." ucap Randy.
Randy memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
Baru beberapa jam yang lalu dia menjalani operasi pendarahan di kepalanya, tentu saja dia belum boleh berpikir terlalu keras.
Air mata Dania pun akan kembali keluar namun sebisa mungkin dia mencoba menahannya agar tak sampai keluar lagi, sungguh dia tak tega melihat Randy kesakitan.
"Kamu jangan berpikir terlalu keras, sebaiknya istirahat aja." ucap Dania.
Mama Randy mengusap punggung Dania dan menatap Dania dengan tatapan prihatin. Dania pun tersenyum menatap sang mertua dan mengangguk. Dia memberikan isyarat pada mertuanya itu, bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Tidak benar jika harus memaksa Randy mengingat semuanya, itu tentu akan semakin menyakiti Randy dan Dania tak mau itu terjadi.
Setelah Randy cukup tenang dan tak lagi meringis kesakitan, Mama Randy pun menggenggam tangan Randy.
"Ada yang mau Mama katakan, tapi kamu jangan memaksa mengingat apapun. Mama cukup memberitahu kamu dan kamu cukup mendengarkan, Oke." ucap Mama.
Randy pun mengangguk.
Mama Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Sebetulnya, kamu sudah lulus sekolah SMA sejak tiga setengah tahun yang lalu." ucap Mama.
Randy terkejut mendengar ucapan sang Mama.
"Apa iya, Ma?" tanya Randy.
Mama pun mengangguk.
"Apa kamu ingat, kejadian saat kamu ke klub malam dan bertemu dengan gadis cupu yang kamu bilang sebelumnya?" tanya Mama.
Randy mengangguk.
"Iya, Ma, aku ingat. Aku keluar dari klub bersama gadis itu, Ma. Tapi Ma, malam saat di klub itu, gadis itu ga kenapa-kenapa kan?" ucap Randy.
Randy takut dia sudah melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis bertompel itu. Pasalnya dia mengingat saat memasukkan obat perangsang pada minuman gadis bertompel itu pada malam saat di klub. Saat itu dia memang berniat untuk mengerjai gadis itu karena telah memperegokinya tengah melakukan ** ** bersama Sasha. Dia
juga mengingat saat gadis itu begitu agresif* padanya dan dia pun membalas keagresifan gadis bertompel itu.
Dania menelan air liurnya, sebetulnya dia sedih karena Randy tak mengingat dirinya yang sekarang, namun setidaknya Randy masih mengingatnya meski hanya mengingat dirinya saat menyamar dulu. Sepertinya masih ada harapan untuk Dania agar bisa membantu mengembalikan ingatan Randy.
"Apa kamu mau ketemu sama gadis itu?" tanya Mama.
Randy pun berpikir sejenak dan menggelengkan kepala.
"Enggak, Ma. Buat apa ketemu dia? Lagian kan mama bilang aku udah lulus sekolah sejak beberapa tahun lalu, itu artinya kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu." ucap Randy.
Mama Randy pun tersenyum dan mengangguk.
"Oh ya, Ma, apa Mama bisa tinggalkan kami berdua?" tanya Randy sambil melihat ke arah Dania.
Mama pun mengangguk dan meninggalkan Randy dan Dania.
"Jadi lo, yang udah bawa gue ke rumah sakit?" tanya Randy sambil menatap Dania.
"Bukan, Sasha yang bawa kamu ke rumah sakit." ucap Dania.
"Sasha? Apa maksud lo Sasha adik kelas gue waktu SMA? " tanya Randy.
Dania pun mengangguk.
"Kenapa lo bisa kenal sama Sasha? Siapa lo sebenernya?" tanya Randy.
"Apa kamu ga ingat apapun tentang aku? Tentang kita." ucap Dania.
__ADS_1
"Enggak, gue ga ingat apapun. Emang lo siapa? Apa kita ada hubungan spesial?" ucap Randy.
Dania menelan air liurnya dengan susah payah, dia ingin sekali memberitahu Randy bahwa dia adalah istrinya, tetapi entah mengapa bibirnya terasa kaku dan tak bisa mengatakan semua itu.
"Apa kamu akan percaya, kalau aku bilang kita ada hubungan spesial?" tanya Dania.
"Entah lah, toh gue kehilangan sebagian memori ingatan gue, apa kita pacaran?" tanya Randy.
Dania terdiam, dia tak tahu mau menjawab apa. bibirnya benar-benar terasa kaku.
Dengan susah payah dia berusaha mencoba mengatakan kenyataannya pada Randy meski bibirnya benar-benar terasa berat mengucapkannya.
"Kita sudah menikah." ucap Dania dengan pelan sambil menundukkan kepala.
Meski ucapan Dania pelan, tapi Randy masih bisa mendengarnya.
Randy bahkan membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan Dania.
Randy pun berusaha keras mengingat memorinya yang hilang dan sesaat kemudian dia kembali merasakan sakit di kepalanya.
Rasa sakit itu bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Dania pun menjadi panik dan segera memencet tombol panggilan untuk dokter. Dia sungguh cemas melihat Randy yang terlihat begitu kesakitan, hingga tak terasa dia pun menangis. Dia sungguh menyesal telah memberitahukan kebenarannya di waktu yang tidak tepat.
Tak lama dokter pun masuk ke ruangan Randy dan bergegas memeriksa keadaan Randy.
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter.
"Sepertinya, dia mencoba mengingat memori ingatannya yang hilang. Karena, tiba-tiba saja dia merasakan kesakitan, dok. Tolong dia, dok." ucap Dania cemas.
Dokter pun mengangguk dan memberikan sebuah suntikan, entah itu suntikan apa, tetapi sesaat kemudian Randy pun tak lagi merasa kesakitan dan langsung terlelap.
Mama Randy pun segera masuk ke dalam kamar rawat Randy.
Dia melihat Dania yang terduduk lemas di sofa, dia pun bergegas menghampiri Dania.
"Ada apa Dania? Apa yang terjadi dengan Randy?" tanya Mama.
Tangis Dania semakin lirih, dia pun memeluk Mama mertuanya itu dan menangis di pelukan sang Mama mertua.
"Ini semua salah aku, Ma. Tadi aku kasih tahu dia kalau aku sama dia sudah menikah, tapi tiba-tiba dia langsung kesakitan, Ma. Aku salah, Ma, aku udah nyakitin dia. Seharusnya aku bersabar dan gak kasih tau dia secepat ini." ucap Dania.
Mama Randy pun mengusap punggung Dania dan melepaskan pelukannya.
"Ikut Mama." ucap Mama Randy sambil menuntun Dania keluar dari ruang rawat Randy.
"Dania dengar ini, Mama tahu kamu ingin Randy mengingatmu yang sekarang, tetapi kamu juga harus lihat kondisi Randy saat ini. Mama sudah bilang, Mama akan mendukung kamu, tetapi Mama ga akan mendukung kamu pakai cara seperti tadi. Nyawa Randy bisa terancam, Dania. Mama ga mau kehilangan Randy, dia anak Mama satu-satunya." ucap Mama Randy.
Dania menundukkan kepalanya.
Pikirannya benar-benar buntu, dia tak tahu harus berbuat apa.
"Dengerin Mama, cobalah mendekati Randy perlahan, jangan terburu-buru." ucap Mama Randy.
"Terus, apa kamu mau memaksa Randy agar mengingat semuanya dan Randy akan celaka, begitu? Kenapa kamu ga mau mengerti Dania? Kenapa kamu ga mencoba berjuang dan berkorban sedikit untuk Randy? Apa kamu ga ingat perjuangan Randy dulu saat berusaha meyakinkan Papa kamu? Dia berjuang demi kamu. Lalu kenapa sekarang kamu malah kaya gini?" ucap Mama Randy dengan nada agak marah.
Dania pun semakin terisak.
"Bukan gitu, Ma. Aku-"
"Kalau kamu memang cinta sama Randy, berjuang lah mengembalikan ingatannya. Tapi kalau sampai kamu memakai cara seperti tadi, lebih baik kamu tinggalkan Randy dari pada kamu membunuh Randy. Mama ga akan pernah rela kalau sampai Randy kenapa-kenapa." ucap Mama Randy dan berlalu meninggalkan Dania.
Dania pun terduduk lemas di kursi sambil terus menatap kepergian Mama mertuanya itu. Sungguh dia tak tahu harus berbuat apa.
Apa dia akan bisa melewati semuanya sendiri? Apa dia bisa berjuang demi mengembalikan ingatan Randy sekaligus membesarkan kedua buah hatinya seorang diri? Memikirkannya saja kepalanya sudah terasa berat. Selama ini dia terlalu bergantung pada Randy, Randy lah sandaran hidupnya
setelah dia resmi berstatus sebagai istri Randy.
******
Tiga hari kemudian.
Dania memasuki kamar Randy. Terlihat Randy tengah menyantap sarapannya dengan di bantu oleh sang Mama.
Dania pun mendekati brankar dan berdiri di samping Randy.
Randy pun melihat ke arah Dania dan menatap sang Mama.
"Udah cukup, Ma. Aku mau istirahat aja, Ma." ucap Randy.
Mama Randy pun berhenti menyuapi Randy dan merapikan peralatan makannya.
"Kamu istirahat , lah. Kami akan keluar." ucap Mama.
Mama Randy berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
"Kecuali lo." ucap Randy saat Dania akan pergi menuju pintu.
Dania pun menatap Randy.
"Ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Randy.
Dania mengangguk dan kembali mendekati Randy.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Gue ga ngerti, sih, apa sebenernya hubungan lo sama gue, sampai-sampai lo setiap hari ada disini. Gue tanya lo yang bawa gue ke rumah sakit atau bukan, lo bilang bukan lo yang bawa gue ke rumah sakit." ucap Randy.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy.
Itu artinya Randy tak ingat ucapannya dua hari lalu, saat dia mengatakan bahwa mereka sudah menikah.
"Sini, duduk di samping gue." ucap Randy sambil menepuk brankar nya dan meminta Dania duduk di sampingnya.
Dania pun duduk di samping Randy.
__ADS_1
Jantung Dania berdegup kencang saat Randy mendekatkan bibirnya tepat di telinganya.
"Siapa lo sebenernya?" bisik Randy.
Dania membulatkan matanya dan menengok ke arah Randy hingga tak sengaja bibir nya dan bibir Randy menjadi bersentuhan.
Randy pun terkejut dan menjauhkan wajahnya.
"Ehheumm .. Sebaiknya lo keluar sekarang." ucap Randy.
Dania terkejut dan menatap Randy dengan tatapan tak percaya.
Bisa-bisanya Randy mengusirnya. Pikir Dania.
"Apa kamu ngusir aku?" tanya Dania.
"Kenapa? Sikap lo ini seolah kita berdua punya hubungan yang spesial." ucap Randy.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia mengepalkan tangannya. Sungguh dia tak suka berada di posisi saat ini.
"Jelas aja kita ada hubungan spesial, karena kita-"
Ucapan Dania terhenti saat tiba-tiba dia teringat kembali ucapan Mama mertuanya, bahwa Randy tak boleh terlalu banyak berpikir.
"Karena kita apa? Apa kita teman, pacar, atau teman yang saling menguntungkan?" tanya Randy.
Dania mengerutkan dahi dan menatap Randy.
"Apa maksudnya teman yang saling menguntungkan?" tanya Dania.
"Yah, teman untuk saling memuaskan hasrat masing-masing." ucap Randy santai.
Dania membulatkan matanya dan menatap tak percaya pada Randy.
Meski saat ini Randy dalam keadaan kehilangan sebagian memori ingatannya, tetapi Dania tak menyangka Randy akan mengatakan hal itu. Dania mencoba mengatur napasnya yang sudah memburu. Ingin sekali rasanya dia mengeluarkan jurus tonjok nya dan menonjok suaminya itu. Bisa-bisanya suaminya itu menganggapnya sebagai wanita murahan.
Dania pun mengepalkan tangannya dan berdiri sambil menatap Randy dengan tatapan tajam.
"Kenapa?" tanya Randy bingung.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Ga apa-apa, sebaiknya kamu istirahat." ucap Dania.
Dania pun melangkah menuju pintu.
"Tunggu ..!" ucap Randy setengah barteriak.
Dania menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Randy.
"Apa lo kenal sama Sasha?" tanya Randy.
Dania mengerutkan dahi dan mengangguk.
"Apa lo sekolah di sekolah yang sama dengan Sasha?" tanya Randy.
Lagi-lagi Dania mengangguk.
Randy mengerutkan dahi dan berpikir sejenak.
"Kenapa gue ga pernah lihat, nih, cewek?" batin Randy.
"Emang kenapa?" tanya Dania.
"Kalau lo sekolah di sekolah yang sama, berarti lo juga dulu satu sekolahan sama gue. Apa lo kenal sama cewek yang rambutnya suka diikat dua terus dia suka pake kacamata tebal dan di pipi kanannya ada tompel nya ? Kira-kira dimana dia sekarang?" tanya Randy.
Lagi-lagi Dania dibuat terkejut. Dia tak habis pikir kenapa suaminya itu justru menanyakan tentang dirinya yang masih melakukan peenyamaran dulu.
"Emangnya kenapa?" tanya Dania bingung.
"Ada yang mau gue omongin sama dia, kalau lo ketemu dia, tolong sampaikan pesan gue." ucap Randy.
Dania tak mengerti apa maksud ucapan Randy. Lagi pula, apa yang akan suaminya itu katakan.
"Aku ga yakin bisa ketemu dia atau enggak." ucap Dania.
"Ya kalau lo ketemu dia, tolong lo kabarin gue. Dan ya, gue minta nomor ponsel lo." ucap Randy sambil mengambil ponselnya yang ada di lemari kecil samping brankar nya namun dia terlihat kesulitan mengambilnya.
Dania pun mengambil ponsel itu dan memberikannya pada Randy.
"Thanks." ucap Randy sambil tersenyum.
Selama dia sakit, dia tak pernah memegang ponsel. Dan ini lah pertama kalinya dia memegang ponsel lagi meski dia sendiri tak mengenal ponsel itu.
Pertama kali Randy melihat layar ponselnya yang berwallpaper kan foto keluarga kecilnya.
Dia pun membulatkan matanya melihat dirinya yang juga ada didalamnya.
Randy pun menatap Dania.
"Siapa lo sebenernya?" tanya Randy dengan nada penuh penekanan.
"Apa maksudnya?" tanya Dania.
"Apa maksudnya ini? Ini ponsel gue atau bukan, ha?" ucap Randy sambil memperlihatkan layar ponselnya.
Dania membulatkan matanya, dia lupa bahwa wallpaper ponsel Randy adalah foto dirinya dan Randy serta kedua buah hati mereka.
"Kamu tenang dulu, oke." ucap Dania.
"Jelasin ..! Apa maksudnya ini? Siapa lo sebenernya?" tanya Randy.
Randy memegang kepalanya dan menjerit kencang karena kepalanya terasa sangat sakit dan sesaat kemudian dia pun tak sadarkan diri.
__ADS_1