Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 117


__ADS_3

Dania terbangun dari tidurnya, dia melihat ke samping dan tak ada Randy di sana. Dia melihat ke arah jam, dan ternyata baru pukul enam pagi.


Dia pun turun dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai, dia pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.


Di lihatnya kedua bayi menggemaskan itu ternyata sudah bangun dan tengah menyusu.


"Pagi, Mbak." sapa Dania.


Ajeng dan Dita tersenyum dan membalas sapaan Dania.


Dania pun menggendong baby Rayna, bayi gadisnya begitu sangat cantik dan menggemaskan. Sedangkan baby Raydan tengah menyusu dan hanya memperhatikan sang Mommy yang tengah menggendong sang adik.


Dia sungguh bahagia melihat kedua bayinya itu tumbuh dengan sehat dan tak kekurangan apapun. Dia pun sudah tak sabar ingin segera memberikan MPASI pada baby Raydan dan baby Rayna. Karena tinggal beberapa hari lagi kedua bayi nya itu akan memasuki usai 6 bulan.


Dania mendudukkan baby Rayna di stroller nya dan membawanya menuju dapur.


Sedangkan baby Raydan masih anteng menyusu dengan di temani oleh Ajeng dan Dita.


"Ayo, baby girl. Kita buatkan sarapan buat Papa. Tapi, ngomong-ngomong Papa kemana, ya, Dek?" ucap Dania.


Dia tak mengerti suaminya itu pergi kemana saat masih pagi-pagi begini.


Dia pun mulai membuat sarapan roti bun dengan mentega dan segelas cokelat hangat untuknya.


Setelah selesai, dia menatanya di piring dan memakan sarapannya. Setelah itu dia pun kembali bermain dengan baby Rayna dan menyusul ke kamar baby Raydan.


Di tempat lain.


Randy tengah melakukan lari pagi di area taman yang berada tak jauh dari apartemennya. Dia sengaja tak memberitahu Dania karena tak ingin tidur Dania terganggu.


Sambil berlari santai, dia pun mendengarkan musik menggunakan headset di telinganya.


Tak lama masuklah sebuah panggilan telpon dan dia pun langsung menjawab telpon tersebut.


"Halo ." ucap Randy.


"Lihat ke belakang." ucap seseorang dari dalam telpon tersebut.


Randy pun berbalik dan melihat ke belakang.


Dari kejauhan terlihat seorang gadis cantik dengan menggunakan jaket Hoodie nya dan celana pendek di atas lutut tengah tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Duh, kelewatan." ucap Randy.


Wanita itu pun terkekeh.


"Ya udah, balik lagi sini. Gue ga mau jalan kesitu, masa cewek nyamperin cowok." ucap wanita itu.


"Iya, iya." Randy pun menutup telpon dan menghampiri wanita itu.


"Gimana? Udah baikan?" tanya wanita itu.


Randy mengangguk dan mengajak wanita itu duduk di kursi taman.


"Sorry, ya, gue jadi ngerepotin lo." ucap Randy.


"Emang selalu bikin repot dari dulu juga." ucap wanita itu dengan tersenyum tipis.


"Iya, iya. Sorry, deh." ucap Randy dengan menunjukkan wajah bersalahnya.


Wanita itu terkekeh dan menyenggol lengan Randy.


"Biasa aja kali, kayak sama siapa aja." ucap wanita itu.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Ini." wanita itu memberikan sebuah benda mungil pada Randy. Randy pun segera mengambil benda tersebut setelah dia melihat dan memastikan ke sekeliling taman.


"Thanks, ya, Sha. Lo mau ngelakuin semua ini demi gue." ucap Randy sambil tersenyum.


Ya, Wanita itu adalah Sasha, teman dekat Randy saat SMA.


"Jih, kepedean. Siapa juga yang lakuin ini demi lo?" ucap Sasha.


"Masa? Jadi, kenapa lo mau ngelakuin semua ini? Sedangkan gue udah banyak berbuat salah sama lo." tanya Randy dengan menatap Sasha.


Sasha pun tersenyum.


"Karena lo pernah hadir di hidup gue dan mengisi kekosongan di hati gue." ucap Sasha dengan menatap dalam ke arah mata Randy.


Randy terdiam sejenak, terlihat sebuah kesedihan di mata Sasha, dan dia dapat melihatnya dengan jelas. Bagaimana pun juga, meski dulu tak pernah memiliki status hubungan yang jelas dengan Sasha, tapi dia pernah sangat dekat dengan Sasha.


Randy masih menatap mata itu, mata yang terlihat mulai basah dan memerah.

__ADS_1


"Lo baik-baik aja?" tanya Randy.


Sasha mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Entah apa yang dia rasakan saat ini, tapi rasanya ada ribuan jarum yang menusuk tepat di jantungnya saat melihat Randy kini ada di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat sehingga membuat dadanya terasa sakit.


Ada banyak penyesalan yang Sasha rasakan. Karena kelakuannya dulu saat SMA yang bahkan tak sepantasnya di lakukan oleh seorang pelajar, kini dia jadi menganggap semua itu hal yang biasa dan dia pun bahkan sampai rela menjadi simpanan dari Christ, Pria yang sudah memiliki seorang Istri.


Terkadang dia ingin keluar dari dunia hitamnya, karena menjadi duri didalam rumah tangga seseorang tentulah tidak menyenangkan. Meskipun dia mendapatkan segalanya dari Christ, namun hidupnya tetap lah tak bahagia. Meski begitu, dia tetap sulit meninggalkan Christ karena dia membutuhkan banyak biaya untuk Ibu nya yang sedang sakit keras.


Dulu sekali, tepatnya saat dirinya masih pelajar SMA, kehidupannya begitu sempurna.


Cantik, kaya raya, memiliki segalanya sehingga bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Namun setelah perusahaan Papanya bangkrut, sang Papa pun meninggal karena serangan jantung dan sang Mama menjadi sakit-sakitan hingga saat ini. Keluarganya bahkan sampai tak memiliki apapun lagi dan terpaksa dia pun harus pindah ke Bandung untuk tinggal bersama sang Oma karena rumah keluarganya yang berada di Jakarta harus dia jual untuk biaya pengobatan sang Mama. Dan Christ lah, pria beristri itu yang kini menjamin biaya kehidupan Sasha dan Mamanya.


"Maafin gue, ya, Sha, atas kelakuan gue ke lo dulu." ucap Randy.


Tak hanya Sasha, Randy pun tak kalah menyesal karena perbuatannya dulu terhadap Sasha. Dia tak pernah mencintai Sasha namun memanfaatkan Sasha demi sebuah kenikmatan sesaat. Meski pun sebetulnya Randy masih membatasi diri dan tak pernah mengambil mahkota Sasha. Namun tetap saja, dia merasa bersalah pada Sasha.


Sasha hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Randy.


"Udah, lah, lupain aja. Jadi, setelah ini apa yang bakal lo lakuin?" tanya Sasha.


"Gue bakal jalanin mengalir aja. Tapi, Sha, apa lo ga keberatan?" tanya Randy.


Sasha pun menggelengkan kepalanya.


"Nggak, kok. Lo santai aja." ucap Sasha.


Randy mengangguk dan memegang bahu Shasha.


"Thanks buat segalanya, Sha. Gue janji, setelah masalah ini selesai, gue akan bantu lo, gue akan jamin pengobatan Tante Dina." ucap Randy.


Dina adalah nama dari Ibu Sasha.


"Oh, ya? Biaya pengobatan Mama besar, loh. Nanti bisa bikin kartu kredit lo jebol." ucap Sasha sambil terkekeh.


Randy pun tersenyum tipis.


"Gue ga pakai kredit card. Bunganya laknat, bikin orang sengsara aja." ucap Randy.


Sasha pun terkekeh mendengar ucapan Randy.


"Gue sih, di kasih sama si Christ, jadi ya gue pake aja. Toh rejeki ga boleh di tolak, kan? Lagi pula, ini pantas gue dapetin setelah apa yang udah gue kasih buat dia." ucap Sasha sambil tersenyum getir.


Randy pun merasa prihatin pada Sasha.


Dia sungguh tak menyangka kehidupan Sasha akan menjadi seperti saat ini.


Dan setelah semua urusan Randy selesai, Sasha mungkin akan kehilangan pendapatannya.


Randy pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jaketnya.


"Ini." ucap Randy sambil memberikan selembar kertas pada Sasha.


Sasha mengerutkan dahinya dan mengambil kertas tersebut.


"Apa ini?" tanya Sasha.


"Itu buat lo." ucap Randy.


"Apa? Sebanyak ini?" tanya Sasha dengan terkejut.


Dia terkejut melihat nominal yang tertulis dari selembar cek yang Randy berikan.


"Iya, anggap aja itu buat bantu pengobatan Tante Dina." ucap Randy.


"Tapi, Rand. Apa Dania ga akan marah? Gimana kalau dia sampai tahu masalah ini?" tanya Sasha.


Randy tersenyum dan menepuk bahu Sasha.


"Dania ga akan tahu. Walaupun tahu, dia ga akan marah. Karena dia wanita yang baik." ucap Randy sambil tersenyum.


Sasha pun mengangguk dan menyimpan cek tersebut.


"Thanks, ya, Rand." ucap Sasha.


Randy mengangguk dan mereka pun berpisah.


Randy pun kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen.


Randy melihat sekeliling ruang tamu namun tak ada Dania di sana.

__ADS_1


Pandangan Randy melihat ke arah pintu balkon yang terbuka.


Dia pun melangkah menuju balkon ada Dania di sana bersama baby Raydan dan baby Rayna.


"Ehheumm .."


Dania melihat kearah datangnya suara tersebut dan di lihatnya Randy tengah berdiri di pintu balkon.


"Oh, kamu udah pulang? Dari mana aja?" tanya Dania.


"Habis lari pagi." ucap Randy.


"Oh, gitu. Sarapan dulu, gih. Aku udah siapin di meja." ucap Dania.


Randy mengangguk dan pergi menuju meja makan.


Sambil menikmati sarapannya, pandangan Randy tak lepas dari Dania.


Dia tersenyum melihat Dania yang tampak keibuan saat mengajak bermain kedua buah hatinya itu.


Sungguh wanita itu begitu penuh kehangatan, dan begitu manis memperlakukan kedua buah hatinya.


Setelah selesai sarapan, Randy membersihkan tubuhnya dan bersiap.


Tak lama Dania pun masuk ke dalam kamar, Dania mengerutkan dahinya saat melihat Randy sudah memakai jaket hitamnya dan celana jeans nya.


Dania merasa bingung, akan pergi kemana suaminya itu? padahal hari ini mereka tak ada kelas dan tak pergi ke Kampus.


"Gue mau ke rumah Mama, udah lama ga ke sana. Lo di rumah aja, jagain anak-anak. Dan, ya, gue pinjem mobil lo." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada Randy.


Setelah selesai bersiap, Randy mencium pipi chubby kedua bayinya itu secara bergantian dan bayi itu pun tersenyum riang mendapatkan ciuman dari sang Papa.


"Papa pergi dulu, kalian baik-baik sama Mommy." ucap Randy sambil mengusap lembut pipi kedua bayi itu.


Setelah itu Randy pun pergi dari apartemen.


Di perjalanan.


Randy tak melajukan mobilnya menuju kediaman sang Mama, melainkan dia justru membelokkan mobilnya ke arah lain dan setelah beberapa menit mobil pun sampai di sebuah gedung perkantoran.


Dia berhenti sejenak sambil menatap gedung perkantoran itu dan tersenyum tipis.


Dia kembali melajukan mobilnya menuju basemant dan memarkirkan mobilnya.


Dia pun keluar dari mobilnya dan dengan santai berjalan menuju lift dan memasuki lift.


Begitu sampai di unit gedung yang dia tuju, ada beberapa orang staf kantor tersebut yang menyapanya, hingga dia pun menghentikan langkahnya tepat di salah satu ruangan dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Pertama kali dia melihat sekeliling ruangan tersebut, ruangan itu masih tetap terawat rapi.


Tok, tok, tok.


Randy berbalik dan melihat ke arah pintu, ada seorang wanita di sana yang tengah tersenyum dan menyapanya.


Randy pun mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Ambil ini, berikan pada Polisi." ucap Randy.


Wanita itu mengambil benda mungil itu dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.


******


Hai, hai, readers manisnya AuthorπŸ€—


Akhir-akhir ini banyak yang bertanya pada Author.


"Apakah Novel Istri Jelekku ini ada bukunya?"


Begini, ya, readers manisnya Author, mungkin di antara kalian yang membaca catatan Author ini ada yang pernah bertanya soal "Buku Novel Istri Jelekku" yang tak bisa author balas satu per satu.


Novel Istri Jelekku ini, tak ada bukunya dan tentu saja sebetulnya Author ingin sekali mencetak Novel ini sebagai buku, melihat begitu antusiasnya kalian terhadap Karya Author ini. Tetapi, Author tidak bisa mencetak Novel Istri Jelekku ini menjadi sebuah buku dikarenakan novel ini sudah terikat kontrak dengan pihak MangaToon/NovelToon, karena itu Author tidak punya hak untuk mencetak sendiri novel ini karena pihak MangaToon/NovelToon lah yang mempunya hak penuh atas novel ini. Kecuali, dari pihak MangaToon/NovelToon merekomendasikan karya Author ini kepada penerbit mungkin akan bisa menjadi sebuah buku.


Selain novel Istri Jelekku, sebetulnya Author juga menulis karya lainnya, namun tak di sini. Dan rencanannya akan author terbitkan menjadi sebuah buku.


Oh, ya, author membuat grup pembaca khusus untuk pembaca karya Author ini. Silahkan untuk yang mau bergabung klik link di bawah ini.


https://chat.whatsapp.com/CsD1hdwVoYLBtMLIHutH6D atau tulis no kalian di kolom komentar, ya.


Atau kirim nomor kalian ke IG Author @dania_zulkarnaen.


Love you all πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


Jangan lupa, berikan vote nya, ya. πŸ˜ŠπŸ€—


__ADS_2