Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 94


__ADS_3

Semua orang tengah menikmati pesta ulang tahun Dania.


Sementara Dania sendiri tengah sibuk dengan dua bayi menggemaskan yang tiba-tiba saja menjadi rewel.


Randy pun ikut sibuk menenangkan kedua buah hatinya itu, tak biasanya mereka rewel bersamaan.


"Kami ke kamar dulu, ya. Kayanya abang sama ade capek."ucap Randy.


"Ya sudah, kalian ke kamar aja, kasihan juga si kembar." ucap Mama Rania.


Randy dan Dania pun mengngguk.


Mereka memilih pergi ke kamar yang sudah Randy pesankan sebelumnya.


Begitu sampai di kamar, Randy langsung sibuk membuatkan susu untuk baby Raydan dan baby Rayna.


Sementara Dania coba mengajak bercanda kedua bayi menggemaskan itu.


"Ini, yank." ucap Randy sambil memberikan botol susu pada Dania.


Dania pun mengambil botol susu itu dan memberikannya pada baby Rayna sementara Randy membantu baby Raydan meminum susu.


Tak lama kedua bayi itu pun langsung tenang sambil meminum susunya.


"Bahagianya lihat mereka tumbuh sehat ya, yank." ucap Randy.


"Iya, aku juga bahagia, yank. Abang sama ade anak-anak baik, ga pernah ngerepotin." ucap Dania.


"Iya, mereka anak baik, benar-benar menggemaskan kaya Papanya." ucap Randy sambil tersenyum.


"Iya, Papanya bener-bener gemesin. Saking gemesinnya pengen banget aku makan kamu, ngeselin." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


Cup.


Dania menatap Randy dengan tatapan tajam saat tiba-tiba Randy mengecup bibirnya.


Randy pun terkekeh melihat tingkah Dania.


"Tapi kamu suka kan, yank."ucap Randy.


Dania menatap Randy dengan malas.


"Kamu udah bikin aku jantungan tadi, huh." ucap Dania.


Randy pun tersenyum dan terus menatap Dania.


"Kenapa, sih, lihatinnya begitu banget, ada yang aneh sama aku, ya?" ucap Dania.


Randy menggelengkan kepala dan tersenyum.


"Terus, kenapa?" tanya Dania.


"Kamu cantik kalau lagi marah-marah." ucap Randy.


Dania pun tersenyum mendengar ucapan Randy.


"Mereka udah pulas, yank." ucap Randy sambil melihat baby Raydan dan baby Rayna yang sudah tertidur.


"Iya, tolong simpan botol susunya, yank." ucap Dania.


Randy mengangguk dan mengambil botol susu itu.


Sedangkan Dania langsung memperbaiki posisi tidur kedua bayi menggemaskan itu.


"Kita turun ke bawah lagi, yank. Ga enak sama yang lain." ucap Randy.


"Terus, abang sama ade sama siapa?" ucap Dania.


"Aku panggil Bibi buat jagain mereka." ucap Randy.


Dania mengangguk dan Randy pun menghubungi Bibi untuk datang ke kamarnya.


Setelah beberapa menit Bibi datang.


"Tolong jagain mereka ya, Bi." ucap Dania.


"Iya, Non. Sekali lagi selamat ulang tahun buat Non." ucap Bibi.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Makasih Bi, kalau ada apa-apa hubungin kami ya, Bi." ucap Dania.


Bibi pun mengangguk.


Randy dan Dania pergi meninggalkan kamar dan kembali ke restauran.


Sesampainya di Restauran.


"Udah tidur si kembar?" tanya Mama Rania.


"Udah, Ma." ucap Dania.


"Ya udah, Ayo yank kamu makan dulu. Kamu belum sempat makan tadi karena abang sama ade keburu rewel." ucap Randy.


Dania mengangguk dan mulai menyantap makanannya.


"Ehheumm .. Papa besok harus terbang ke Bangkok, jadi Papa harus pulang lebih awal." ucap Papa Hamish.


"Iya,Mama akan pulang duluan sama Papa. Kalian bersenang-senang lah." ucap Mama Rania.


Randy dan Dania pun mengangguk.


"Ini, hadiah ulang tahun dari Papa dan Mama." ucap Papa Hamish sambil memberikan sebuah kotak kado kecil.


"Makasih, Pa." ucap Dania sambil tersenyum.


"Selamat ulang tahun sayang, semoga apa yang kamu inginkan bisa selalu kamu dapatkan, semoga kamu selalu bahagia." ucap Papa Hamish.


Dania tersenyum dan memeluk Papa Hamish dan Mama Rania.


" Makasih, Pa, Ma. Papa dan Mama juga semoga sehat terus." ucap Dania.


Papa dan Mama mengangguk dan membalas pelukan Dania.


"Ya sudah, Pa. Kita harus pulang." ucap Mama Rania.


Papa Hamish mengangguk dan mereka pun meninggalkan restauran.


Tak lama di susul dengan Papa dan Mama Randy yang juga meninggalkan restauran.


Tinggal lah saat ini Randy, Dania juga teman-teman lainnya.


"Ehheumm .. Ada yang ingin kita berdua sampaikan."ucap Gio sambil menggenggam tangan Sheila.


"Apa, tuh?" tanya Randy.


"Satu bulan lagi kami akan bertunangan." ucap Gio.


Randy dan Dania terkejut mendengar ucapan Gio.


"Apa kalian serius, Secepat ini?" ucap Randy.

__ADS_1


Gio dan Sheila tersenyum kemudian mengangguk.


"Yah, sebetulnya inginnya langsung menikah, hanya saja kami masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai." ucap Sheila.


Randy tersenyum dan melihat ke arah Gio.


"Sukses juga, Bro." ucap Randy.


Gio tersenyum dan mengecup punggung tangan Sheila.


"Yah, Semuanya berkat lo. Kalau lo ga ngasih tahu tentang Sheila, mungkin gue ga akan sadar." ucap Gio.


Randy tersenyum dan mengangguk.


"Ehheumm.. Jadi, dari awal kamu tuh ga ada hubungan apa-apa sama Randy." ucap Dania.


Sheila tersenyum dan mendekati Dania.


"Mana mungkin ada apa-apa, Randy aja sampai cinta mati sama kamu. Jadi, ga mungkin dia bisa kepincut cewek lain." ucap Sheila.


Dania tersenyum tipis dan melihat ke arah Randy yang juga tengah melihatnya dan tersenyum manis.


"Maaf ya, untuk sebelumnya." ucap Sheila.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Gue juga minta maaf ya Dan, gue ikut terlibat ngerjain lo." ucap Mia.


"Aku juga minta maaf Dania. Yah, demi sahabat tercinta aku sampai harus ngerjain kamu." ucap Dio sambil mengerlingkan mata menatap Randy.


Randy pun tersenyum lebar.


"Lebay." ucap Randy.


Dania pun terkekeh melihat Randy dan Dio. Mereka selalu lucu jika sudah bersama.


"Cuma gue yang ga ikut terlibat disini." ucap Ina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gue juga karena kebetulan aja, kalau ga ada gue di Bandung, mungkin gue juga ga akan tahu ada surprise buat Dania." ucap Mia.


"Ga apa-apa Na, gue senang kalian semua ada di saat hari bahagia gue." ucap Dania sambil tersenyum.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wib. Restauran pun sudah akan tutup.


"Kalian hati-hati, ya." ucap Mia pada teman-temanya yang akan meninggalkan restauran.


Mereka semua meninggalkan hotel.


Sedangkan Randy menuntun Dania menuju resepsionis.


"Mau ngapain, sih?" tanya Dania.


"Chek in." ucap Randy..


"Buat siapa?" tanya Dania.


"Buat kita, kamar yang tadi buat Bibi." ucap Randy.


Dania pun mengangguk.


Setelah selesai memesan kamar, Randy menuntun Dania menuju lift.


Begitu masuk ke dalam lift, Randy tersenyum saat melihat lift dalam keadaan kosong. Randy langsung mendorong Dania hingga membuat Dania terkejut.


"Kamu apa-apaan, sih? Sakit, tahu." ucap Dania sambil meringis kesakitan.


Randy tersenyum dan menghimpit tubuh Dania.


Randy mengecup bibir Dania dan memberikan lumatan lembut. Dania pun membalas ciuman Randy.


Jujur saja, dia pun merindukan Randy.


Bagaimana tak rindu? Terbiasa bersama, namun tiba-tiba beberapa hari kemarin justru terasa jauh.


Setelah beberapa saat pintu lift pun terbuka, namun Randy dan Dania masih belum menyadarinya.


Mereka berdua masih sibuk menyalurkan kerinduan mereka melalui ciuman itu.


Sampai saat keduanya merasa kekurangan oksigen dan baru lah saling melepaskan diri.


Randy tersenyum dan menatap Dania dengan penuh cinta.


"I love you." ucap Randy.


"I love you too."ucap Dania.


Ting.


Randy berbalik ke arah pintu lift yang mulai terbuka lagi.


"Arrgghhh .. Hantu ..!" teriak Randy.


Randy terkejut sekaligus terlonjak saat akan keluar dari lift.


Dania pun tak kalah terkejut dan segera memeluk Randy.


Tak kalah dengan Randy dan Dania, Wanita itu pun terkejut melihat Randy dan Dania.


Sementara Randy dan Dania mencoba mengatur nafas mereka yang sempat di buat jantungan saat melihat penampilan wanita itu.


"Saya manusia, bukan hantu." ucap wanita itu datar.


Randy dan Dania saling tatap dan tersenyum.


"Maaf, kami kaget barusan." ucap Randy sambil menuntun Dania keluar dari dalam lift.


Bagaimana tidak kaget jika melihat penampilan wanita itu yang mirip sekali dengan hantu kuntilanak?


Wanita itu memakai jubah panjang berwarna putih, rambutnya di gerai, dan yang lebih menyeramkan lagi karena wajahnya yang di buat seputih mungkin seperti sedang memakai masker wajah.


"Maaf, saya salah orang." ucap wanita itu.


Randy dan Dania saling tatap, mereka tak mengerti apa yang wanita itu katakan.


"Tadinya saya mau ngagetin suami saya yang lagi selingkuh sama cewek lain, biar mereka jantungan sekalian. Eh, ternyata saya salah orang. Mereka bukan di lantai ini kayanya." ucap Wanita itu dengan nada kesal.


Randy melihat ke arah lift dan terlihat di sana lantai 10.


"Astaga, kita kelewatan, yank."ucap Randy.


Dania megikuti arah pandang Randy dan menpuk jidatnya.


"Kamu, sih." ucap Dania.


"Terlalu fokus soalnya." ucap Randy sambil tersenyum.


"Sekali lagi maaf, saya mau cari di tempat lain aja." ucap wanita itu.


Randy dan Dania pun mengangguk.


Randy langsung menelpon Bibi dan bilang bahwa dia akan tinggal di kamar lain berdua dengan Dania, sementara Randy meminta Bibi untuk menjaga baby Raydan dan baby Rayna.

__ADS_1


"Yuk, kita langsung ke kamar kita." ucap Randy.


Sebetulnya kamar yang baru saja Randy pesan berada di lantai 10, hanya saja tadi Randy menekan tombol 7 karena akan ke kamar Bibi untuk melihat baby Raydan dan Baby Rayna terlebih dahulu. Sayangnya mereka terlalu fokus hingga tak menyadari lift sudah berada di lantai 7 sebelumnya.


"Arrghh .. Kamu ngapain sih, yank?" Dania terkejut saat Randy menggendong depan tubuhnya.


"Malam ini, sebagai hadiah ulang tahun buat kamu, aku akan layanin kamu sampai kamu benar-benar puas." bisik Randy.


Randy menatap Dania sambil tersenyum penuh arti.


Dania terkejut mendengar ucapan Randy.


"Apaan, sih? Dasar, genit." ucap Dania.


Randy terkekeh dan mulai melangkah menuju kamar dengan masih menggendong Dania.


Sesampainya di pintu kamar, Randy meminta Dania membuka pintu kamar.


Setelah pintu terbuka Randy bergegas masuk.


Brugh.


"Auww ... Pelan-pelan dong, yank." ucap Dania sambil meringis saat Randy menghempaskan tubuhnya dan tubuh Dania ke atas tempat tidur.


"Aku udah nahan ini dari beberapa hari yang lalu, sekarang aku ga akan menahannya lagi." ucap Randy.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


Randy langsung memulainya dengan tergesa-gesa. Sungguh hasratnya sudah tertumpuk.


Sudah sejak beberapa hari yang lalu, dia menahan hasratnya untuk tak menyentuh dan bercinta dengan istrinya itu demi berjalannya dengan sempurna surprise untuk ulang tahun sang istri, dan malam ini dia akan menyalurkan seluruh hasratnya yang tertunda.


******


Satu bulan kemudian, tepatnya hari pertunangan Gio dan Sheila.


Pukul 09.00 wib Dania tengah bersiap di kamarnya yang berada di kediaman Hamish.


sementara Randy tengah mengajak bermain baby Raydan dan baby Rayna.


Hari ini mereka akan ke Bandung untuk mengahadiri acara pertunangan Gio dan Sheila yang di selenggarakan di salah satu hotel di Bandung pada pukul 19.00 wib nanti malam.


Gio dan Sheila memilih mengadakan pertunangan di Bandung karena Gio dan keluarganya kini sudah menetap di Bandung.


Randy dan Dania sengaja memilih menitipkan baby Raydan dan baby Rayna di kediaman Hamish. Mereka tak ingin membawa kedua bayi nya itu bepergian jauh karena takut mereka akan kelelahan.


Di tengah candaannya, Randy terkekeh melihat bayi gadisnya yang tiba-tiba saja memeluk bonekanya dan tertidur sambil mengemut ibu jarinya.



Bayi gadisnya itu begitu menggemaskan, di usianya yang akan menginjak empat bulan baby Rayna semakin cantik dan menggemaskan. Dia mirip sekali dengan sang Mommy.


Randy pun mencoba mengabadikan tidur bayi gadisnya yang montok dan sangat menggemaskan itu dengan kamera ponselnnya.


"Kenapa sih, yank?" tanya Dania.


"Ade lucu, belum lama masih main-main, sekarang udah pulas." ucap Randy sambil tersenyum.


Ingin rasanya dia menggigit pipi gembil bayi gadisnya itu.


Dania pun tersenyum.


Setelah selesai bersiap, Dania menggendong baby Raydan yang masih bermain-main, sementara baby Rayna justru sedang tertidur pulas.


Dania seolah tak ingin melepaskan baby Raydan.


Untuk pertama kalinya dia akan meninggalkan bayi kembarnya.


"Udah kalian ga usah khawatir, si kembar aman sama Mama." ucap Mama Rania.


"Mama hubungin kami ya kalau ada apa-apa sama si kembar." ucap Dania.


"Iya, iya. Kalian santai aja berdua, anggap aja sekalian pacaran." ucap Mama.


Randy dan Dania pun pamit pada sang Mama dan langsung melajukan mobilnya.


******


Pukul 18.45 wib Randy dan Dania sudah berada di tempat acara pertunangan Gio dan Sheila.


"Aku ke toilet dulu, yank."ucap Dania.


Randy mengangguk dan Dania pun bergegas menuju toilet.


Saat akan menuju toilet, Dania seperti melihat seseorang yang tak asing baginya.


Meski hanya melihat punggungnya, tetapi Dania hafal betul siapa pemilik punggung tersebut.


Dania melangkah dengan cepat dan mendekati orang tersebut.


"Riko ..!" panggil Dania.


Orang itu melihat ke arah Dania dan benar saja ternyata dia adalah Riko.


Dia tak sendiri, melainkan membawa serta buah hatinya.


"Dania." ucap Riko.


"Kamu ngapain disini, Ko?" tanya Dania.


"Aku ada kerjaan di Bandung, dan aku chek in di hotel ini, kamu sendiri ngapain?" ucap Riko.


"Aku ada undangan pertunangan teman aku." ucap Dania.


Riko pun mengangguk.


Tak lama bayi Riko pun menangis dan terlihat Riko yang kerepotan menenangkan bayinya.


"Dia haus kali, Ko." ucap Dania.


"Dia popoknya udah penuh, ini mau aku ganti di kamar." ucap Riko.


Dania mengangguk dan melihat ke sekeliling.


"Baby sitternya dimana?" tanya Dania.


"Baby sitternya udah berhenti kerja, dan aku belum dapat baby sitter yang cocok lagi buat bayi aku." ucap Riko.


Dania mengerutkan dahi sekaligus menatap tak percaya pada Riko. Bisa terbayang Riko pasti kerepotan mengurus bayinya.


"Terus tante Dara kemana? Dan mertua kamu kemana?" tanya Dania.


"Mama kan nemenin Papa lagi ada perjalanan bisnis. Aku ga mau repotin mertua aku, aku juga ga mau jauh-jauh dari Raka." ucap Riko


Raka adalah nama putra Riko.


Dania tak habis pikir dengan cara berpikir Riko, sebegitu egoisnya dia sampai tak ingin anaknya bersama orang lain meski itu Neneknya sendiri. Padahal bayi sekecil itu bahkan belum boleh sering-sering berada di luar, karena bayi rentan merasa lelah dan rentan sakit.


"Ya udah, ayo aku bantu gantiin popoknya Raka." ucap Dania.


Riko pun mengangguk.

__ADS_1


Riko dan Dania pun pergi menuju kamar hotel Riko.


__ADS_2