
Randy terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ponsel Dania.
Randy pun mengambil ponsel tersebut dan ada satu pesan masuk dari Papa Hamish.
Randy melihat ke samping dan di lihatnya Dania masih tertidur pulas.
Randy pun membuka pesan itu dan ternyata, Papa mertuanya itu meminta Dania mengirim laporan proyek di Bangkok kemarin. Dia juga menyuruh Dania untuk istirahat selama dua hari.
Randy melihat jam dan di lihatnya sudah pukul 08.30 wib. Randy beralih menatap wajah pulas sang istri dan tersenyum.
Cup.
Randy mengecup pipi Dania dan turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa menit membersihkan tubuhnya, Randy pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari pakaian dan memakainya.
Di lihatnya dania masih tertidur pulas.
Dia pun keluar dari kamar dan turun menuju dapur.
"Pagi, den." sapa Bibi.
"Pagi, Bi." ucap Randy.
"Aden mau sarapan apa?" tanya Bibi.
"Aku aja, Bi, yang bikin sarapan. Bibi kerjain yang lain aja." ucap Randy.
Bibi mengangguk dan pamit meninggalkan Randy.
Randy sengaja ingin membuat sarapan sendiri untuknya dan untuk Dania. Sudah lama sekali, semenjak dia sibuk dengan bisnis F&B nya, dia tak pernah lagi terjun ke dapur. Meski begitu, Randy tetap tak lupa caranya memasak. Karena dulu, saat sekolah dia sudah tinggal sendiri dan mengerjakan semuanya sendiri, termasuk juga memasak.
Randy membuat sarapan dua porsi sandwich dengan segelas cokelat hangat untuk Dania dan segelas coffee latte untuknya. Semenjak Randy berbisnis F&B , dia memang menjadi penyuka kopi karena di restauran nya pun memang menjual beberapa jenis kopi. Seperti black coffee pastinya, cappuchino, coffee latte dan macchiato.
Tak lama Randy sudah selesai membuat sarapan dan langsung membawanya ke kamar.
Randy melihat istrinya itu masih juga belum bangun, sepertinya Dania memang kelelahan setelah semalam Randy tak memberinya waktu beristirahat.
Randy meletakan sarapan itu di meja dekat sofa. Dia mengambil cokelat hangat untuk Dania dan mendekatkan cokelat itu ke hidung Dania.
"Emmmhhh ..." Dania mengendus aroma cokelat hangat kesukaannya itu, Randy pun tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
Tuk.
Tuk.
Randy menusuk-nusuk hidung Dania dan membuatnya membuka mata.
"Pagi." ucap Randy sambil tersenyum manis.
Cup.
Randy mengecup pipi Dania dan menyimpan cokelat hangat di meja.
"Ayo bangun, yank. Mandi dulu, sana, biar seger." ucap Randy.
Dania pun duduk sebentar, dan memasuki kamar mandi.
Setelah beberapa menit, Dania keluar dari kamar mandi.
Randy tersenyum nakal melihat tubuh istrinya itu yang hanya memakai handuk saja.
Dania pun tersenyum tipis. Dia mengambil pakaiannya dan memakainya.
"Ayo sarapan dulu. Ini buatan aku, spesial buat istri aku yang paling cantik." ucap Randy sambil tersenyum.
Dania pun melotot menatap Randy.
"Jahat banget, sih, aku di samain sama sepotong sandwich. Apa aku semurah, itu?" tanya Dania dengan nada kesal.
Randy pun terkejut mendengar ucapan Dania. Bukan maksudnya menyamakan Dania dengan sepotong sandwich, tetapi dia hanya ingin membuat senang istrinya itu dengan membuatkannya sarapan. Namun siapa sangka istrinya justru menanggapi lain?
Randy mendekati Dania dan memegang bahu Dania.
"Kamu tahu, bagi aku kamu lebih berharga dari apapun di dunia ini, sepotong sandwich ini, cuma sekedar ungkapan sayang aku karena pengen nyenengin kamu, begitu kamu membuka mata di pagi hari. Jangan berpikir aku menyamakan kamu dengan sepotong sandwich ini, karena kamu lebih berharga dari apapun, yank, suer." ucap Randy sambil menatap Dania.
Dania yang tadinya merasa kesal pun malah menjadi terkikik mendengar ucapan suaminya itu. Apalagi saat dia mendengar kata suer yang Randy ucapkan, Dania pun menjadi geli sendiri. Meski begitu, Randy memang selalu bisa membuatnya tak mampu mengatakan apapun lagi jika sudah mengeluarkan kata-kata manisnya.
Randy ikut tersenyum melihat Dania tersenyum dan mereka menyantap sarapan mereka dengan tenang.
setelah selesai sarapan dania langsung berkutat dengan laptopnya untuk mengirimkan laporan yang Papa nya minta setelah pagi tadi Randy memberitahunya, bahwa Papanya meminta laporan proyek di Bangkok.
******
Sore ini Dania tengah bersiap di kamar, rencananya sore ini dia dan Randy akan kencan di luar.
Sementara Dania masih bersiap, Randy justru sudah siap lebih dulu.
Dania melihat Randy yang tengah tersenyum dari pantulan cermin,
Dania pun membalas senyuman Randy dan seketika dia menjadi teringat sesuatu.
Dania membuka koper nya dan mengambil jam tangan yang dia beli saat di Bangkok. Sekilas dia melihat kado yang Erick berikan padanya, dia pun mengambil kado itu dan menyimpannya di laci samping tempat tidur, dia akan melihatnya nanti saja.
"Ini buat kamu." Dania memberikan kotak kado itu pada Randy.
"Buat aku, kayanya, aku ga lagi ulang tahun, yank." ucap Randy bingung menatap kado kecil itu.
Dania tersenyum dan membuka kotak itu.
"Ini kado pernikahan dari aku buat kamu, kemarin aku ga sempet siapin kado buat kamu. Makanya, aku beli ini pas ke Bangkok kemarin." ucap Dania sambil memakaikan jam tangan itu pada Randy.
Randy tersenyum melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Cup.
Randy mengecup kening Dania.
"Makasih yank, padahal aku ga butuh kado barang dari kamu, kamu ada di sisi aku aja, itu udah kado terindah buat aku."ucap Randy sambil tersenyum manis.
Dania pun tersenyum.
Cup.
Dania mengecup Pipi Randy.
"Aku akan selalu ada di sisi kamu, sampapi kapan, pun." ucap Dania.
Randy tersenyum lebar dan menarik Dania ke pelukannya.
__ADS_1
Tuk.
Dania menahan kening Randy dengan jari telunjuknya saat Randy akan mencium bibirnya.
"Ga kelar-kelar kalau kamunya kaya gini" ucap Dania.
Randy pun tersenyum.
Cup.
Randy mengecup bibir Dania sekilas dan melepaskan pelukannya.
Dania memakai jaketnya.
Sore ini Dania meminta Randy berkencan dengan menggunakan motornya. Motor yang selama ini menjadi saksi perjuangan Randy sampai mencapai titik seperti saat ini. Motor itu masih Randy simpan dan di rawat dengan baik, meski saat ini Randy jarang memakainya karena kemana-mana sudah menggunakan mobilnya.
Entah mengapa? siang tadi Dania teringat saat dia naik motor bersama Erick di Bangkok. Dia pun ingin pergi naik motor bersama Randy sambil mengenang masalalu nya saat mereka hidup serba pas-pasan dulu.
"Yuk" ucap dania begitu ia selesai memakai jaketnya.
Randy tersenyum dan menuntun Dania keluar kamar dan turun menuju garasi.
Rencananya mereka akan menonton Bioskop, karena sebelumnya Randy sudah memesan tiket Bisokop lewat online, jadi Randy pun mengajak Dania untuk makan malam terlebih dulu.
Di perjalanan, Dania terus memeluk erat perut Randy. Dania memiringkan dan menempelkan wajahnya di punggung Randy. sementara tangan kiri Randy terus menggenggam tangan dania dan tangan kanannya memegang stang motornya.
Kring.. Kring..
Randy menghentikan motornya di pinggir jalan saat mendengar ponselnya berdering.
Randy mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan ternyata Mamanya yang menelpon.
Randy pun menjawab telpon itu.
"Hallo, Ma."
"Hallo, Rand, kamu kesini dong, makan malam di rumah Mama , ajak Dania juga, udah lama kita ga makan malam bareng." ucap Mama Randy.
Randy menengok kearah Dania dan menatapnya.
"Kenapa?" tanya Dania.
"Mama ngajak makan malem di rumahnya, yank. Katanya, udah lama kita ga makan bareng." ucap Randy.
Dania mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, kita kerumah Mama aja."ucap Dania.
"Terus, nontonnya gimana?" tanya Randy.
"Nonton kan bisa kapan aja."ucap Dania.
Randy pun mengangguk.
"Ya udah, Ma, aku kesana, sekarang." ucap Randy.
"Ya udah, Mama tunggu, ya" ucap sang Mama.
Telpon itu pun berakhir.
Randy melajukan motornya menuju rumah Mamanya.
Mama Randy langsung menarik Dania menuju dapur.
Sedangkan Randy hanya menggelengkan kepala melihat dua wanita itu, yang tak lain adalah Mama dan istrinya.
"Ini , di minum." ucap Mama Randy sambil memberikan gelas berisi minuman hangat.
Dania langsung menutup hidungnya saat mencium aroma tak enak yang keluar dari minuman yang mertuanya itu berikan.
"Ini apaan, Ma? baunya ga enak, Ma." ucap Dania.
"Ini jamu, udah ayo minum." ucap mama Dania sambil menyodorkan paksa gelas itu ke tangan Dania dan Dania pun mengambil gelas tersebut.
"Tapi ini buat apa, Ma? Aku ga suka minum jamu." ucap Dania.
Mama mertuanya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Suka ga suka, mau ga mau, mulai sekarang, kamu harus rutin minum jamu, setiap hari" ucap Mama.
Dania pun merasa bingung.
"Ya, tapi buat apa, Ma? Aku beneran ga suka minum jamu. Jadi, aku ga mau minum." ucap Dania.
"Kamu tuh, jangan egois kenapa, sih? Ini jamu untuk penyubur kandungan, biar kamu cepet hamil. Masa, udah berapa bulan dari kamu keguguran, kamu belum hamil, juga." ucap Mama.
Dania pun terkejut mendengar ucapan Mama mertuanya itu.
"Tapi, Ma."
"Udah, deh, nurut sama Mama. Apa kamu ga kasihan, sama Randy? Kamu tahu, kan, waktu kamu keguguran dia benar-benar terpukul banget, kalau bukan karena Mama yang nasehatin dia, sampe sekarang mungkin, dia ga akan mau ngomong lagi sama kamu karena dia begitu kecewa saat kehilangan calon anaknya. Dan setelah ini, sebaiknya kamu berhenti bekerja, faktor kecapekan bisa bikin kamu jadi susah hamil, kamu itu bukan wanita singel lagi, Dania, harusnya suami dan rumah tangga kamu, yang kamu pikirin, bukannya mikirin ego kamu sendiri." ucap Mama dengan nada agak kesal.
Seketika ekspresi wajah Dania menjadi muram, dia teringat kembali saat harus kehilangan bayinya karena keguguran waktu itu dan dia juga ingat betul saat itu Randy memang marah besar padanya.
Matanya memerah, sebisa mungkin dia menahan tangisnya dan langsung menenggak jamu di tangannya sampai habis tak tersisa.
Hoek.
Dania langsung mual setelah meminum jamu yang mertuanya itu berikan. Dania benar-benar tak menyukai jamu, apalagi aroma nya.
Dengan cepat dia berlari menuju toilet, sedangkan Mama mertuanya itu hanya menggelengkan kepalanya melihat Dania.
"Dania di mana, Ma?" tanya Randy yang baru saja sampai di dapur.
"Di toilet." ucap Mama.
Randy mengangguk dan berjalan menuju toilet.
Hoek.
Randy terkejut dan bergegas masuk ke dalam toilet.
Di lihatnya istrinya itu yang tengah muntah air dan matanya pun ikut berair.
"Kamu kenapa, yank?" tanya Randy bingung.
Randy memegang bahu Dania dan menatap Dania dengan terkejut.
"kamu, nangis." ucap Randy cemas.
__ADS_1
"Kenapa, ha? Siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Randy cemas.
Dania menggelengkan kepalanya dan memeluk randy.
"Maaf." ucap Dania lirih.
Randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania.
"Kenapa sebenernya? Bilang sama aku, yank." ucap Randy.
Dania semakin terisak, membuat Randy semakin cemas.
Randy menggendong depan tubuh Dania dan Dania melingkarkan kakinya kemudian memeluk leher Randy.
Randy membawanya ke lantai dua menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamar, Randy mendudukan dirinya dengan Dania yang kini duduk di pangkuannya. Randy menatap Dania dan mengusap pipi basah dania.
"Tolong jangan nyimpen apapun sendiri , apa gunanya ada aku di samping kamu? Kalau kamu malah menanggung semuanya sendiri. Cerita kalau ada masalah, biar kita cari solusinya sama-sama." ucap Randy.
Dania diam dan masih terisak.
"Kamu masih ga mau cerita? Apa kamu ga percaya sama aku?" tanya Randy.
Dania menggelengkan kepalanya dan memeluk Randy.
"Aku minta maaf, karena sampai sekarang aku belum juga bisa hamil lagi." ucap Dania di tengah isakannya.
Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania. randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania.
"kenapa kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu?" tanya Randy bingung.
Dania mengusap pipi basahnya dan menatap Randy.
"Aku tahu, kamu pengen banget aku hamil lagi. Tapi, aku belum hamil juga." ucap Dania sendu.
Entah mengapa mendengar ucapan Dania seketika Randy menjadi teringat Mamanya. Menurutnya, Dania menjadi aneh setelah Mamanya menarik Dania ikut dengannya.
"Mama ngomong apa sama kamu?" tanya Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Yank please, cerita sama aku. Kamu tahu, aku ga suka kamu diem aja kaya gini. Aku tuh, berasa ga di hargain tahu, ga, sih, kalau kamu kaya gini." ucap Randy dengan nada kesal.
Dania masih tetap diam, dia bingung mau menjawab apa?
Randy menghembuskan nafas kasar dan mendudukkan Dania di tempat tidur.
"Kamu mau kemana?" tanya Dania saat Randy melangkah menuju pintu keluar kamar.
"nyamperin Mama." ucap Randy dingin.
Dania pun terkejut dan dengan cepat berlari ke arah Randy.
"Mau ngapain? Mama ga bilang apa-apa, kok. Mama cuma ngasih aku jamu penyubur kandungan aja, terus aku nangis karena aku ga tahan sama baunya dan aku mual."ucap Dania.
Randy terkejut mendengar ucapan Dania.
Dengan cepat dia melangkah keluar dari kamar dan menghampiri Mamanya yang tengah menyiapkan makan malam.
"Ma ..!" Teriak Randy.
Mama Randy terkejut saat mendengar teriakan Randy dengan agak membentak.
"Kamu apaan sih, Rand? Kenapa pake teriak-teriak segala, Mau bikin Mama jantungan?" ucap Mama Randy.
"Mama yang apa-apaan? Udah aku bilang, jangan bahas masalah ini kenapa, sih, Ma?" ucap Randy kesal.
Mama Randy mengerutkan dahinya.
"Masalah apa, maksud kamu?" tanya mama Randy bingung.
"Anak, Ma, jangan bahas anak lagi di depan Dania, Ma, Dania jadi sedih." ucap Randy.
"Mama baru tahu kalau istri kamu itu tukang ngadu. Lagi pula, apa salah kalau Mama ingin yang terbaik buat dia?" ucap sang Mama.
"Masih ada cara lain kan, Ma. Kenapa harus pake cara yang malah bikin Dania ke siksa? Mama tahu, Dania sampe muntah, Ma, gara-gara minum jamu yang Mama kasih." ucap Randy.
"Ya ampun, Randy. Yang namanya berusaha itu jangan setengah-setengah, baru muntah karena minum jamu aja udah ngadu kaya gitu sama kamu. Mama ngerti sekarang, istri kamu itu bukan menantu yang baik Randy." ucap Mama Randy dengan mada kesal.
"Apa maksud Mama? Kenapa Mama jadi kaya gini, sih?" tanya Randy bingung.
"Mama ga tahu, apa aja yang istri kamu itu bilang tentang Mama, ke kamu, tapi menantu yang baik, tidak akan membicarakan mertuanya dari belakang." ucap Mama dengan nada kesal.
Randy mengepalkan tangannya. Dia sungguh tak terima ada yang mengatakan istrinya itu bukan wanita baik-baik, meski itu Mamanya sendiri.
"Dia istri aku, Ma, jadi wajar aja kalau dia cerita sama aku, emangnya mau cerita sama siapa lagi, selain sama aku, suaminya sendiri?" ucap Randy.
"Apa kamu sadar, Randy? Gara-gara istri kamu itu, kamu sudah durhaka sama Mama, karena berani membentak Mama.
Mama yang melahirkan kamu, Mama yang merawat kamu selama ini, Mama yang membesarkan kamu dan ini balasan kamu? Kamu melukai hati Mama, Randy. Mama nyesel, punya menantu kaya istri kamu, itu" ucap Mama denga nada kesal dan pergi meninggalkan Randy.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi di tempat yang berbeda Dania dan Papa
Randy melihat pertengkaran antara Ibu dan anak itu.
Papa Randy pun menghampiri r
Randy.
"Minta maaf sama mama kamu, jangan sampai kamu menjadi anak durhaka, Randy. Selama ini, kami membesarkan kamu, bukan agar kamu durhaka pada orang tua." ucap Papa.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia membuang muka dan tak sengaja melihat Dania yang tengah menatapnya dengan terisak.
Randy menghampiri Dania dan menuntun Dania keluar dari rumah itu.
"Maaf." ucap Dania dengan lirih.
Randy memeluk Dania dan mengusap lembut punggung Dania.
"Aku yang minta maaf, omongan Mama, jangan di masukin ke hati." ucap Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Tapi Mama jadi marah sama kamu." ucap Dania.
"Aku akan minta maaf sama Mama, Jujur sih , aku emang keterlaluan tadi sama Mama, aku jadi merasa bersalah." ucap Randy.
Dania mengangguk dan mereka pun pergi dari rumah itu.
__ADS_1