Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 63


__ADS_3

Pagi ini Dania tengah menyiapkan sarapan di meja makan.


Sementara Randy baru saja keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga menuju dapur.


"Pagi, yank." sapa Dania begitu melihat Randy mendekatinya.


"Pagi juga, yank." ucap Randy.


Cup.


Randy mengecup pipi Dania dan mendudukkan dirinya di kursi makan.


"Kamu mau ke kentor, yank." ucap Randy.


"Iya, hari ini ada meeting di kantor membahas soal proyek hotel di Bangkok. Aku di minta ikut meeting sama Papa " ucap Dania sambil menyiapkan sarapan untuk Randy.


Randy mengangguk dan mulai menyantap sarapannya.


"Kamu mau ke Office, apa, ke kampus?" tanya Dania.


"Mau ke Office." ucap randy.


"Ya udah, aku berangkat sekarang, ya." ucap Dania.


"Ini masih pagi, loh, yank." ucap Randy sambil menatap ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 06.30 wib.


"Papa minta aku koreksi sekali lagi, bahan buat meeting hari ini, jadi aku harus datang lebih awal." ucap Dania.


Cup.


Dania mengecup pipi Randy sekilas.


"Bye,sayang." ucap Dania sambil berlalu meninggalkan Randy.


Randy hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun melanjutkan sarapannya.


******


Sesampainya di kantor, Dania langsung berkutat dengan beberapa berkas.


Sekedar informasi, di kantor posisi Dania adalah asisten pribadi dari Tuan Hamish, yang tak lain adalah Papanya. Semenjak dia mulai terjun langsung di perusahaan, Papanya mengangkatnya sebagai asisten pribadinya, dengan begitu Dania akan lebih mudah untuk belajar di perusahaan. Meski sebetulnya kebanyakan pekerjaannya di limpahkan kepada sekretaris sang Papa.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 wib dan kini Dania sudah berada di ruang meeting.


Dania tersenyum saat melihat Om Bayu, yang tak lain adalah Papa dari Riko. Om Bayu pun membalas senyuman Dania.


Tak lama masuklah Papa Dania dan meeting pun di mulai.


Kurang lebih sekitar satu jam meeting itu berlangsung, dan kini meeting sudah selesai. Satu persatu orang yang hadir di ruang meeting mulai meninggalkan ruangan.


Sementara Papa Dania dan Dania kembali keruangannya, karena ruangan Dania berada disatu ruangan dengan Papanya.


"Kamu siap-siap, besok kamu ikut papa ke Bangkok." ucap Papa.


"Loh, kok, aku, Pa? Kan Papa ada sekretaris Papa." ucap Dania.


"Kamu kan asisten pribadi Papa." ucap Papa.


Dania tersenyum kikuk menatap sang Papa.


"Maaf, Pa, aku masih belum terbiasa." ucap Dania.


Papa Dania tersenyum dan mengelus lembut kepala Dania.


"Pesawat kita jam 8 pagi." ucap Papa.


Dania mengangguk dan kembali duduk di kursinya.


Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11.30 wib, sudah waktunya jam makan siang.


Ting ting.


Satu pesan masuk ke ponsel Dania dan pesan itu ternyata dari Randy. Dia mengajak Dania makan siang bersama di restauran miliknya sendiri yang masih berada di Daerah Jakarta Pusat.


Dania pun membalas pesan Randy.


Dania; Pesenin buat aku, ya, yank.


Aku jalan sekarang.


Dania pun pergi menemui Randy setelah pamit pada Papanya.


******


"Hai, sayang." sapa Dania yang baru saja sampai di restauran.


Randy tersenyum dan bangun dari duduknya.


Cup.


Randy mengecup pipi Dania dan menarik kursi untuk Dania.


Dania pun langsung menyantap makanan yang sudah dia pesan sebelumnya.


"Yank ..!" panggil Dania di sela kegiatan makannya.


"Hhmm .."


"Besok pagi aku mau ke Bangkok, yank, sama Papa " ucap Dania.


Randy menatap Dania sekilas dan kembali melanjutkan makannya.


"Berapa hari?" tanya Randy.


"Tiga hari, kamu ga apa-apa, kan, aku tinggal?" tanya Dania.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Kalau aku kangen, gimana?" tanya Randy.


"Kita bisa Video call, yank." ucap Dania.

__ADS_1


Randy mengangguk dengan masih melahap makanannya.


"Terus, kalau aku mau, gimana?" tanya Randy sendu.


Dania tersenyum melihat ekspresi Randy.


"Kamu puasa dulu, ya, abis pulang dari Bangkok, aku yang akan service kamu." ucap Dania sambil mengerlingkan mata kanannya.


Randy tersenyum lebar mendengar ucapan istrinya itu.


"Dasar, genit." ucap Randy dengan masih tersenyum lebar.


Dia menjadi merinding sendiri mendengar ucapan istrinya itu, ucapan istrinya itu benar-benar menjadi liar.


"Genit sama suami sendiri malah bisa dapet pahala, kan, yank." ucap Dania sambil tersenyum.


Randy mengangguk dan tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan siang Randy dan Dania kembali ke kantor masing-masing.


******


Pukul 17.30 wib Dania sudah sampai di rumah lebih dulu dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai Dania keluar dari kamar mandi dan melihat randy yang tengah duduk disofa kamarnya dengan kepala menyender disofa dan sambil memejamkan matanya.


"Kamu kapan pulan yank?" tanya dania.


"baru aja" ucap randy.


"mau mandi air hangat?" tanya dania.


"boleh yank"


dania masuk kekamar mandi dan menyiapkan air hangat dan disusul dengan randy yang juga masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.


sedangkan setelah selesai menyiapkan air mandi untuk randy, dania langsung turun menyiapkan makan malam setelah sebelumnya menyiapkan baju untuk randy.


******


Dania tengah menyiapkan beberapa barang yang akan dia bawa besok ke Bangkok. Sedangkan Randy tengah berada di ruang kerjanya.


Setelah selesai memasukkan semua barang bawaannya ke koper, Dania pun merasakan kantuk dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 wib, Randy menghentikan pekerjaannya dan kembali ke kamar. di lihatnya Dania yang sudah tertidur pulas.


Randy teringat ucapan Dania tadi siang, saat Dania mengatakan akan pergi ke Bangkok.


"Harus puasa tiga hari ke depan, makanya sekarang meski di tuntasin." batin Randy.


Dia pun menyunggingkan seringai mesumnya.


Dengan cepat randy mendekati Dania dan membaringkan tubuhnya di samping Dania. Randy memeluk Dania dari belakang, mengecup tengkuknya dengan gemas hingga meninggalkan tanda merah di tengkuk putih mulus istrinya itu.


"Eummhh ...Yank." Dania pun terbangun dan membalikan tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Randy.


"Kamu ngapain, yank?" tanya Dania.


"Mau, yank." ucap Randy.


"Jangan nolak suami, dosa." ucap Randy.


Randy pun melanjutkan kegiatannya dan betapa terkejutnya dia saat melihat bercak darah yang ada di dress tidur Dania.


"Aku mau bilang,tadi, kalau aku lagi datang bulan." ucap Dania.


Randy meringis merasakan sakit di area sensitifnya.


Dia mengacak rambut frustasi dan bergegas ke kamara mandi.


Brak.


Randy menutup pintu dengan keras.


Dania hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


******


Keesokan harinya.


Setelah melakukan perjalanan cukup panjang, Dania dan Papanya sudah berada di Bangkok, Thailand.


"Papa mau istirahat sebentar."ucap sang Papa begitu memasuki kamar hotel.


"Oya, Pa, besok, sebelum jam makan siang kita ada meeting dengan Pak Hermawan, klien dari PT. X di restauran yang ada di hotel ini juga."ucap Dania.


Papa dmDania mengangguk dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Dania pun pamit dan keluar menuju kamarnya yang berada di samping kamar Papanya.


begitu memasuki kamar, Dania langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan menghubungi Randy lewat video call.


Randy pun menjawab video call Dania.


Dania tersenyum begitu melihat wajah suaminya itu di layar ponselnya.


"Udah nyampe hotel, yank." ucap Randy.


"Udah nih, kamu lagi ngapain, yank?" tanya Dania.


"Ga, ada, lagi tiduran aja sambil nonton tv" ucap Randy.


"Kamu ga pergi keluar, gitu, yank?" tanya Dania.


"Enggak ah, lagi males, kalau ada kamu enak, nih, yank, minta kelonin." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania pun ikut tersenyum melihat suaminya itu tersenyum.


"Kangen, yank." ucap Dania.


"Lagian suruh siapa ninggalin aku? Jadi kangen, kan, huh." ucap Randy.

__ADS_1


"Isshh ... Aku juga ga mau kesini kalau bukan karena kerjaan." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku juga kangen kamu, yank, tapi please, deh, yank, itu bibir jangan di monyongin gitu, bikin aku gemes aja pengen cium kamu, uuhhhhh ... Jadi sesak, kan, dia." ucap Randy kesal sendiri saat membayangkan mengecup bibir istrinya itu dan membuat sesuatu di bawah sana menjadi terasa sesak.


Hahahaha.


Dania tertawa kerasa mendengar ucapan suaminya itu.


"Salah sendiri, pake di bayangin." ucap Dania dengan masih tertawa geli.


"Jahat kamu, yank, seneng amat suami ke siksa begini, cepetan balik, dong, yank, kangen, nih" ucap Randy dengan nada kesal.


"Huh, belum juga sehari, udah nyuruh balik aja, masih ada dua hari ke depan, sih. Palingan kamu ngomong kangen karena ada maunya." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya elah, yank, wajar aja suami ketemu istri ada maunya, aarrghhh ... Kangen, yank, sumpah, ihhh" ucap Randy sambil mengusap wajah kasar.


"Iya, iya, sabar, ya, sayang ku, cinta ku, suami ku yang ganteng, manis, baik hati uuhhh ... Pokoknya yang paling-paling segalanya, deh." ucap Dania sambil terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.


"Emmhh ... Yank." ucap Randy dengan suara berat dan wajahnya bahkan terlihat memerah dari layar ponsel Dania.


"Kamu kenapa, yank?" tanya Dania bingung.


"Uhhh .. Di bawah sini ga enak banget, yank."ucap Randy.


"Kamu ngapain, sih? jangan bilang kamu lagi-" belum sempat Dania melanjutkan ucapannya, Randy langsung mengarahkan ponselnya ke area bawah perutnya yang ternyata sudah tegak menantang.


Dania pun membulatkan matanya, dia sungguh terkejut.


"Ya ampun, Randy Sebastian..! Dasar mesum." teriak Dania.


Dania langsung mematikan video call nya.


Sedangkan di tempat lain, Randy justru tertawa terbahak-bahak. Dia geli sendiri melihat ekspresi istrinya barusan.


******


Keesokan harinya..


Sesuai jadwal yang sudah di tentukan, siang ini Dania dan Papanya sudah berada di restauran yang masih berada di area hotel tempat mereka chek in. Restauran dengan ruang vip yang memang sengaja di reserved sebelumnya.


Tak lama datang lah seseorang yang kira-kira seumuran dengan Papa Dania, orang itu tak lain adalah Pak Hermawan, klien dari PT. X. Dia datang tak sendiri, melainkan ada lagi satu orang pria yang berjalan bersamanya. Dari kejauhan, Pak Hermawan bahkan sudah menorehkan senyuman ke arah Papa Dania. Papa Dania berdiri dan menyambut Pak Hermawan dengan menjabat tangannya.


"Apa kabar, Bro?" tanya Hermawan.


Dania terkejut mendengar Pak Hermawan memanggil Bro pada Papanya.


Dania menatap sang Papa dan Papanya hanya tersenyum.


"Kamu pasti Dania, kan? Kamu benar-benar tumbuh menjadi cantik, Dania." ucap Hermawan sambil tersenyum menatap Dania.


Dania merasa bingung dengan ucapan Hermawan.


"Kamu lupa sama, Om." ucap Hermawan.


Dania hanya diam, dia bingung harus menjawab apa?


"Sayang masa kamu lupa? Dia Hermawan, teman kampus Papa sama Om Bayu. Dulu kami bertiga pria-pria populer, loh, di kampus." ucap Papa Dania sambil tersenyum.


"Yang waktu kamu masih SMP, Hermawan ini sering main ke rumah kita, loh, sayang. Dulu dia suka dateng sama anak cowok yang kamu bilang si rambut klimis itu, loh." ucap Papa Dania.


"Aku lupa, Pa." ucap Dania.


"Apa kamu beneran ga inget sama pria di samping, Om, Dania?" tanya Hermawan.


"Maaf sebelumnya, tapi aku beneran ga inget apapun." ucap Dania.


"Kamu ingat, anak pria cupu yang memakai kaca mata tebal, rambutnya yang klimis, anak itu pendiam dan malu-malu." ucap pria itu.


Dania pun berpikir sejenak dan mencoba mengingat sesuatu.


"Ahh, aku inget, sekarang. Apa kamu Erick? Kamu Erick anaknya Om Wawan, bukan, sih? Yang waktu kecil rambut kamu, tuh, klimis banget, itu?" ucap Dania sambil menatap tak percaya pada pria itu.


"Iya, aku Erick, aku ga nyangka ternyata kamu masih ingat sama aku." ucap Erick sambil tersenyum dan menatap Dania.


"Gimana aku bisa lupa? Aku selalu ingat rambut klimis kamu yang mengkilat itu, tapi sumpah, loh, tadi aku ga, ngenalin kamu, soalnya kamu beda banget sekarang, jadi keren, gitu, ihh, ga cupu kaya dulu." ucap Dania sambil tersenyum.


Erick pun tersenyum mendengar ucapan Dania.


"Tapi kenapa, kamu dulu ga pernah datang lagi kerumah aku?" tanya Dania.


"Iya, karena dulu aku ikut Papa ke Bangkok, dan sampai sekarang kami se keluarga tinggal di sini." ucap Erick.


(Visual Erick Hermawan, putra satu-satunya dari Wawan Hermawan)



Dania mengangguk dan tersenyum.


"Maaf ya, Om, aku ga engeh, soalnya Papa panggil Om, Hermawan, sih. Setahu aku, dulu Om, di panggil Wawan." ucap Dania.


"Ga apa-apa, sayang, Om, ngerti" ucap Hermawan.


Mereka pun larut dalam acara makan siang mereka dan di lanjutkan dengan meeting membahas proyek pembangunan sebuah hotel yang sedang berlangsung di kota Bangkok.


"Maaf aku permisi ke toilet." ucap Dania begitu meeting telah selesai.


Dania bergegas menuju toilet dan Erick ternyata mengikuti Dania sampai ke toilet.


"Dania ..!" panggil Erick.


"Iya." ucap Dania sambil berbalik melihat ke arah Erick.


"Itu, emmm ... Aku boleh minta nomor kamu, ga, ya? takutnya, ada masalah penting soal kerjaan, kita berdua, kan, akan ikut andil dalam proyek kali ini, aku pikir kalau ada apa-apa jadi susah, kan, buat ngehubungin kalau kita ga punya kontak masing-masing." ucap Erick.


Dania tersenyum dan mengangguk.


Dia pun mengambil kartu namanya dari dalam tasnya.


"Ini, kartu nama aku."ucap Dania sambil memberikan kartu namanya pada Erick.


"Makasih, ya." ucap Erick sambil tersenyum.

__ADS_1


Dania pun mengangguk dan pamit masuk ke dalam toilet.


Sedangkan Erick masih terus memperhatikan punggung Dania sampai Dania masuk ke dalam toilet. Erick pun pergi dari toilet dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.


__ADS_2