Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 46


__ADS_3

Saat ini semua keluarga tengah berkumpul di kamar Dania, tak ada yang bicara satu pun, mereka benar-benar tak habis pikir dengan anak dan menantunya itu karena beraninya berbohong tentang kehamilan palsu Dania. Padahal keluarga sudah bahagia dan menyambutnya dengan suka cita, apalagi Papa Dania benar-benar merasa kecewa kepada anak dan menantunya itu.


Dania terus diam dan menundukkan kepalanya, dia tak mampu mengatakan apapun, mulutnya terasa kaku dan di tambah perutnya yang masih terasa sakit membuatnya tak tahu harus mengatakan apa?


Sementara Randy melihat satu per satu orang tua dan mertuanya, pandangannya terhenti saat Papa mertuanya ternyata juga sedang menatapnya. Berbeda dengan tatapan biasanya yang tajam, kali ini justru tatapan itu terlihat datar.


Randy menelan saliva dengan susah payah, dia menggenggam tangan Dania dan menghembuskan nafas perlahan.


"Karena semuanya sudah tahu tentang kebohongan kami, maka aku akan jujur pada kalian, khususnya pada Papa mertua." Randy berucap mantap di depan semua keluarga dan menatap Papa mertuanya. Sejujurnya dia takut pada mertuanya itu, tetapi karena kepalang basah, dia harus mempertahankan harga dirinya dan akan memperlihatkan ketegasannya menjadi Kepala keluarga.


Papa Hamish masih menatap Randy dengan tatapan datar, tak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan saat ini


Lagi-lagi Randy menelan saliva dengan susah payah.


"Ini semua salah aku, karena masalalu aku Papa mertua meragukan aku, apa yang Papa mertua lihat kemarin malam itu memang benar adanya, tetapi aku bersumpah, itu terjadi sebelum aku menikah dengan Dania. Aku akui, aku bukan pria baik-baik, tetapi setelah mengenal Dania, (sambil menatap dania) Aku benar-benar jatuh cinta pada Dania. Walaupun pernikahan kami berawal dari sebuah kesalahan, tapi aku memang benar-benar jatuh cinta pada Dania, aku bisa gila kalau sampai kehilangan Dania, bahkan aku tak bisa sebentar saja jauh darinya.


Maka dari itu, aku mohon sama Papa mertua (Menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan) Tolong, restui pernikahan kami, kami saling mencintai. Untuk masalah kebohongan yang kami katakan, kami menyadari semua itu salah, tapi tak ada yang bisa kami lakukan saat Papa mertua meminta kami berpisah selain mengatakan Dania sedang hamil, karena dengan begitu pernikahan kami akan terselamatkan." ucap Randy.


Papa Hamish memijit keningnya, dia mengepalkan tangannya, sepertinya dia benar-benar harus merelakan putrinya menjadi milik pria lain.


Dia pun berdiri dan menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya agak kasar.


"Kemari lah." pinta Papa Hamish pada Randy.


Randy pun berjalan mendekati Papa mertuanya itu.


Bugh.


"Aaarrgghhh ... Apa-apa sih, Pa?" Dania berteriak saat melihat Papanya memukul wajah Randy dan membuat Randy tersungkur ke lantai.


Semua orang pun terkejut, bahkan kedua orang tua Randy pun tak kalah terkejut melihat anaknya terkena bogem sang besan.


Dania bergegas mendekati Randy dan memeluknya.


Papa Hamish menunduk dan menarik Randy memaksanya untuk bangun.


"No, pa, please." ucap Dania sambil menahan tangan Papanya agar tak melakukan apapun lagi pada suaminya itu.


Papa Hamish menghempaskan tangan Dania hingga terlepas, dia menarik paksa Randy untuk bangun.


Dia menepuk agak kasar pipi Randy.


Semua orang membulatkan matanya, mereka terkejut melihat Papa Hamish memeluk Randy.


Setelah tak lama berpelukan, Papa Hamish pun menatap Randy dengan tatapan tajam.


"Jangan sakiti anak saya, bahkan seujung kukunya sekali pun, jika itu sampai terjadi, maka saya tidak akan segan mengambil Dania dari kamu." ucap Papa Hamish.


Randy pun terkejut mendengar ucapan Papa mertuanya itu.


"Apa Papa-" ucapan Randy terhenti saat Papa Hamish memotong ucapannya.


"Ya, Papa merestui pernikahan kalian." ucap Papa Hamish.


Randy dan Dania terkejut, tanpa sadar mereka langsung tersenyum lebar dan tak lama kemudian Randy memeluk dan menggendong depan tubuh Dania hingga otomatis Dania melingkarkan kakinya di pinggang Randy.


"Kamu denger apa yang Papa bilang, yank? Papa merestui pernikahan kita." ucap Randy sambil tersenyum senang.


Dia terus mengecup pipi Dania, bahkan sesekali mengecup bibir Dania. Mereka lupa bahwa saat ini ada banyak orang yang sedang memperhatikan mereka, para orang tua itu pun tersenyum bahagia melihat sepasang suami istri muda itu terlihat bahagia, Papa Dania bahkan menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Mereka ini benar-benar mengingatkan aku saat aku dan Rania baru menikah dulu." ucap Papa Hamish dalam hati.


"Ehheumm ... Sayang, di lanjut lagi nanti dong sayang-sayangannya, bikin kami iri aja." ucap Mama Rania sambil mengerucutkan bibirnya.


Dania pun terkekeh dan turun dari gendongan Randy.


"Makasih, Ma." ucap Dania sambil memeluk Mamanya.


Mama Rania menggelengkan kepalanya.


"Bukan Mama, tapi Papa." bisik Mama.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


Dania menatap sang Papa dengan penuh cinta, tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Dengan cepat Dania memeluk Papanya dan di balas pelukan erat oleh sang Papa.


"Maaf kalau selama ini aku sering buat Papa kesal, sering buat Papa marah, aku sayang Papa." ucap Dania di tengah isak tangisnya.


Papa Hamish pun tak kuasa menahan tangisnya, akhirnya lolos sudah air matanya. Dia tak peduli dengan image nya yang tegas dan dingin, saat ini dia benar-benar akan meluapkan segala isi hatinya.


"Papa juga sayang banget sama kamu. kamu tahu sayang, hal tersulit bagi seorang ayah adalah ketika harus melihat putrinya mencintai pria lain, selain dirinya." Papa Hamish melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Dania.


"Ingat baik-baik sayang, tak peduli apa statusmu sekarang, aku adalah Papamu, dan sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi gadis kecil ku yang paling aku sayangi, berbahagia lah dengan kehidupan baru mu." ucap Papa Hamish.


Dania pun semakin terisak, dia benar-benar bahagia. Akhirnya sang Papa mau merestui pernikahannya dengan Randy.


Dania pun memeluk erat tubuh Papanya.


"Sampai kapan pun Papa akan tetap menjadi cinta pertama aku." ucap Dania.


"baik lah, karena kita semua sudah kumpul di sini dan berhubung tinggal beberapa bulan lagi Dania juga sudah lulus Sekolah, maka dari itu sekalian saja kita bahas acara resepsi pernikahan anak-anak kita." ucap Mama Dania.

__ADS_1


"Iya, betul, mereka adalah anak kita satu-satunya, akan sangat aneh jika kita tidak mengadakan resepsi pernikahan mereka." ucap Mama Randy.


Papa Hamish dan Papa Randy pun mengangguk dan mengikuti saja apa yang di katakan Mama Rania dan Mama Randy.


Para orang tua itu pun keluar dari kamar Dania dan pergi menuju ruang keluarga untuk membahas acara resepsi pernikahan Randy dan Dania.


******


Beberapa Bulan kemudian.


Ujian Sekolah Dania telah selesai di laksanakan, hari perpisahan Sekolah pun sudah di laksanakan.


Sesuai yang sudah di rencanakan keluarga, setelah Dania lulus Sekolah akan di laksanakan resepsi pernikahan. Dan hari ini acara resepsi pernikahan Randy dan Dania akan di laksanakan di Hotel berbintang milik orang tua Dania.


Saat ini Dania sedang di rias oleh MUA terkenal tentunya, wajahnya yang cantik, kulit wajahnya yang memang putih mulus membuatnya lebih cocok memakai make up yang tak terlalu mencolok. MUA nya memilih make up yang ringan, karena pada dasarnya Dania ini memang sudah cantik jadi akan terlihat aneh jika terlalu berlebihan.


Dania begitu gugup dan tak hentinya bertanya jam pada sahabatnya yang tak lain adalah Mia dan Ina, mereka begitu setia menemani Dania.


"Mia, jam berapa sekarang?" tanya Dania sambil memejamkam matanya karena sedang di rias.


"Masih jam 16.00 wib cantik, ini sebentar lagi make up kamu selesai, iya kan, Kak?" ucap Mia sambil melihat ke arah MUA.


"Iya, Kak." ucap MUA.


Masih ada waktu tiga jam sebelum mulainya acara resepsi, karena tepatnya pukul 19.00 wib nanti adalah acara resepsi pernikahannya di mulai.


Tak jauh berbeda dengan Dania, di ruangan lain, Randy pun saat ini tak kalah gugupnya.


"Tarik nafas dalam-dalam terus keluarin perlahan, Bro." ucap sang sahabat, yang tak lain adalah Dio. Dio setia mendampingi Randy dan sejak tadi mengajak Randy terus bercanda agar Randy tak terlalu tegang.


"kamu seriusan belum malam pertama sama Dania, Rand?" tanya Dio sambil menatap tak percaya


Saat Randy mengatakan istrinya itu sampai sekarang masih lah seorang gadis.


Randy pun mengangguk.


"Gila, apa iya, kamu bisa tahan selama itu? Aahh, jangan-jangan-" ucapan Dio pun terhenti.


"Jangan-jangan, apa?" tanya Randy.


Dio pun tersenyum dan mendekatkan bibirnya di telinga Randy.


"Jangan-jangan kamu impoten." bisik Dio.


Randy pun membulatkan matanya.


Plak.


"Aku normal, sialan. Kalau ga normal mana mungkin junior aku bereaksi melihat Dania polos." ucap Randy dengan nada kesal sambil menatap Dio.


Dio pun terkikik mendengar ucapan Randy.


Tak terasa waktu pun berlalu dan acara resepsi akan segera di mulai.


Randy begitu gugup, berkali-kali dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, Randy menunggu Dania yang masih berada di kamar hotelnya.


Tok tok tok.


Randy pun membuka pintu kamar Hotelnya dan terlihat sang Mama di sana.


"Ayo, acaranya sudah mau di mulai. Tuh, Dania juga sudah selesai." ucap Mama.


Randy mengangguk dan mengikuti sang Mama menuju kamar Dania.


Perlahan Randy memasuki kamar Dania, pertama kali dilihatnya punggung Dania.


"Nah, tuh, pengantin prianya udah dateng." ucap Ina sambil tersenyum.


Dania pun tersenyum dan berbalik ke arah Randy.


Jantung Randy dan Dania seketika berdegup kencang melihat penampilan satu sama lain.


Randy pun mendekati Dania dengan cepat dan memutari tubuh Dania.


"Kamu kenapa sih, yank? Apa aku aneh?" tanya Dania bingung.


Randy masih diam tak bersuara, dia terus menatap Dania dari ujung kaki hingga ujung kepalanya.


"Kenapa sih, yank?" tanya Dania agak kesal melihat Randy.


"Sumpah kamu cantik banget, yank." ucap Randy sambil menatap Dania yang terbalut gaun indah, rambutnya di cepol tak terlalu atas dan terdapat mahkota yang berhiaskan berlian di sana.


Dania pun tersenyum.


Bugh.


"Aauuw ... Kok aku di pukul sih, yank?" ucap Randy.


"Lagian, gombal aja." ucap Dania sambil tersenyum.


"Aku ga gombal, emang cantik banget kamu yank, kalau kaya gini mendingan kita ga usah turun deh yank, kita langsung ke kamar aja, gimana, yank?" ucap Randy sambil menyunggingkan senyum nakalnya.

__ADS_1


"Ih, sabar kenapa yank? Lagian cuma beberapa jam aja." ucap Dania.


Randy pun mengerucutkan bibirnya.


"Ehheumm ... Ayo, acara udah mau di mulai, para tamu undangan juga udah pada datang." ucap Mama Dania.


Dania dan Randy pergi menuju Ballroom dengan di dampingi kedua orang tua masing-masing.


Begitu sampai di pintu Ballroom, satu per satu urutan acara telah di lewati, dan saatnya sang pengantin untuk berfoto.


Photografer mengarahkan beberapa pose pada Randy dan Dania, salah satunya pose yang saat ini sedang mereka lakukan di mana Randy berada di belakang Dania, tangannya memegang pinggang Dania, sementara Dania tengah memegang buket bunga.


di tengah kegiatannya, mereka pun tak bisa diam.


"Yank, diam, jangan tiup-tiup tengkuk aku, tangan kamu juga tuh, jangan gelitiki pinggang aku, geli, ihh." ucap Dania dengan kesal saat Randy terus meniup tengkuknya dan menggelitik pinggangnya.


"Aku gugup yank, makanya aku lagi tarik nafas dalam-dalam terus aku keluarin ini, huhh." ucap Randy beralasan sambil menyeringai.


Dia senang menjahili Dania, apalagi tengkuk dan punggung Dania terlihat jelas.


Mereka terus bergerak dan sesekali terkekeh sampai akhirnya Photografer menegur mereka.


"Ehheumm, percaya deh pengantin baru sedang hangat-hangatnya, tapi ini selesaiin dulu fotonya, para tamu udah ga sabar menyapa kalian."ucap Photografer.


Randy dan Dania pun akhirnya menurut, dan setelah beberapa menit akhirnya acara foto pun selesai dan di lanjutkan dengan bersalaman dengan para tamu.


Satu jam berlalu..


Dania terduduk lemas di kursi pelaminan, Randy pun menatap cemas pada istrinya itu.


"hey, are you okay?" tanya Randy yang mulai mendudukan dirinya di samping Dania.


Dania pun menggelengkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.


"Pegel, aku capek, kesel banget sih, tamunya ga berhenti-berhenti. Mending kalau aku kenal, ini kebanyakan Ibu-Ibu sama Bapak-Bapak temannya orang tua kita sama rekan-rekan bisnis semua." ucap Dania dengan nada kesal.


Randy berlutut di hadapan Dania dan mengangkat sedikit gaun yang Dania kenakan, dia pun membuka high heels yang Dania kenakan


"Ga usah di pake dulu aja ya, heelsnya, nanti habis acara ini selesai, aku pijitin kamu." ucap Randy sambil memijit kaki Dania dengan posisi masih berlutut.


Randy dan Dania tak sadar para tamu sedang memperhatikan mereka, kebanyakan dari mereka menatap kagum pada pasangan muda ini, benar-benar terlihat penuh cinta.


beberapa jam berlalu, dan selesai lah Dania dan Randy menyalami lima ribu tamu undangan. Benar-benar sangat melelahkan, sampai Dania pun tak sanggup lagi berjalan. Randy yang merasa kasihan pun, akhirnya menggendong Dania menuju kamar Hotel.


Sesampainya di kamar hotel, Randy mendudukan Dania di tepi tempat tidur.


"Ganti dulu baju kamu yank, abis ini aku pijitin kaki kamu." ucap Randy.


Dania mengangguk dan membuka gaunnya di bantu oleh Randy.


Randy menelan saliva melihat kulit putih dan bersih Dania yang hanya mengenakan dalaman saja, dengan santai Dania melangkah menuju kamar mandi dan mencuci wajahnya.


Setelah beberapa menit, Dania keluar dan mendekati tempat tidur, dia pun merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap.


"Ayo, yank, kamu udah janji tadi mau pijitin aku." ucap Dania.


Randy pun membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celana pendeknya saja.


Randy mulai memijat jari-jari kaki Dania, perlahan dia memijat lembut betis Dania, Dania merasakan sesuatu yang aneh saat merasakan tangan lembut Randy menyentuh betisnya. Randy pun sengaja melakukannya, dia ingin membuat Dania merasakan sensasi lain saat dia menyentuhnya.


Perlahan pijatan lembut randy naik ke area paha Dania, Dania memejamkan matanya, tubuhnya mulai terasa panas saat pijatan Randy sampai di area sensitifnya.


Randy pun tersenyum karena rencananya untuk menggoda Dania ternyata berhasil. Terbukti saat Randy menyentuh area sensitif Dania yang mulai terasa lembab.


"Kenapa, yank?" tanya Randy.


Dania masih tetap memejamkan matanya, nafasnya semakin terasa berat


Dania pun membalikkan tubuhnya dan menatap Randy.


"Kenapa?" tanya Randy.


"Aku mau jadi milik kamu sepenuhnya yank, aku mau kamu menjadi pria pertama dalam hidup aku, aku mau jadi Ibu dari anak-anak kamu, aku mau kamu juga menjadikan aku wanita pertama di dalam hidup kamu." ucap Dania.


Randy pun tersenyum mendengar ucapan Dania.


"Kamu yakin akan memberikannya sekarang, yank? Aku ga akan maksa kalau kamu memang belum siap." ucap Randy.


Dania menggeleng dan menanggalkan sesuatu yang masih menempel di tubuhnya.


"Lakukan sekarang, yank." ucap Dania.


Randy tersenyum dan mengecup lembut kening Dania.


"Aku akan melakukanya. Kalau kamu merasa sakit, kamu bisa gigit bahu aku, kamu bisa pegang aku kuat-kuat, kamu bisa peluk aku erat atau apapun yang bisa buat kamu merasa lebih baik. Karena sekali aku memulainya, aku ga akan pernah bisa menghentikannya." ucap Randy.


Dania mengangguk dan tersenyum.


Randy pun memulainya dengan lembut, hingga tanpa Dania sadari, dia telah benar-benar memberikan mahkotanya kepada Randy.


Randy pun tersenyum bangga saat melihat darah segar keluar dari area sensitif Dania, dia bangga menjadi pria pertama bagi Dania. Dia pun tak kalah bangganya karena Dania menjadi wanita pertama dalam hidupnya.

__ADS_1


Meski saat sekolah dulu dia terbilang pria yang nakal, namun dia tak sampai melakukan hubungan intim dengan perempuan.


__ADS_2