
Prank.
Belum sempat Dania mengambil gelas yang Riko berikan, tetapi gelas itu sudah jatuh duluan karena seseorang tiba-tiba menepisnya.
Dania dan Riko melihat ke arah orang itu.
Dania terkejut melihat orang itu tengah menatapnya dengan tatapan mengerikan, seolah ingin memakannya. Orang yang tak lain dan tak bukan adalah Randy, suaminya sendiri.
Randy lanngsung menarik kerah kemeja Riko dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya menarik dania kepelukannya.
"Apa lo, ga, punya kerjaan lain, selain gangguin, istri orang?" tanya Randy dengan geram dan penuh penekanan.
Riko tersenyum sinis dan menepis tangan Randy.
"Lo harusnya bisa bedain, mana yang namanya ganggu, dan bantu." ucap Riko santai.
Randy mengerutkan dahinya.
"Gue cuma bantuin Dania, ngambilin kue yang susah dia jangkau, kalau lo ga percaya, lo tanya aja sama Dania." ucap Riko.
Randy menatap Dania seolah meminta jawaban dari apa yang Riko ucapkan.
Dania pun mengangguk.
"Iya, yank, Riko cuma bantuin aku. Kamu jangan salah paham, gitu." ucap Dania.
Randy melihat piring kue yang Dania pegang.
Randy pun langsung pergi meninggalkan Dania.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Thanks buat kue nya, aku duluan." ucap Dania kemudian pergi meninggalkan Riko.
Riko terus menatap kepergian Dania dengan tangannya yang terkepal.
"Sial .." batin Riko.
Riko kesal karena Randy sudah mengganggu waktu nya dengan Dania.
Di sisi lain, Dania mencoba mengejar Randy menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.
Brak.
Randy menutup pintu mobil dengan keras dan Dania hanya bisa menghela nafas. Dania mengerti, saat ini Randy tengah salah paham dan marah padanya.
Dania masuk ke dalam mobil dan Randy langsung melajukan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan, Randy tetap diam dan fokus menyetir sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Entah apa yang sedang dia cari.
"Jangan marah dong, yank." ucap Dania.
Randy tak menghiraukan ucapan Dania dan masih tetap fokus pada jalanan.
Dania menghembuskan nafas perlahan.
"Uhh ... Baby, kamu lihat, itu? Papa kamu kayanya marah sama Mommy. Masa, Mommy di cuekin, sih." Dania berbicara sambil mengelus perutnya.
Randy masih tetap diam.
Tak lama kemudian, Randy memarkirkan mobilnya di salah satu toko kue.
Belum sempat Dania bertanya, Randy justru langsung turun dari mobil dan bergegas memasuki toko kue tersebut.
Dania hanya melihat dari dalam mobil dan tampak terlihat dari kaca yang Randy tengah berbicara dengan seorang penjaga toko tersebut.
Tak lama Randy keluar dari toko kue tersebut dengan tangannya memegang sebuah paper bag.
Randy pun kembali ke mobil.
"Nih." Randy memberikan paper bag itu pada Dania.
Dania bingung dan menatap paper bag itu.
"Ini, apaan?" tanya Dania.
"Buka, aja." ucap Randy.
Dania membuka paper bag itu dan sesaat kemudian Dania menatap Randy yang tengah menatap ke arah depan.
"Kamu beli ini, buat aku." ucap Dania.
"Hhmmm ..." Randy hanya berdehem tanpa melihat Dania.
Dania pun tersenyum.
Dia pikir Randy marah padanya, tetapi lihat lah yang terjadi justru sebaliknya, Randy justru membelikan kue yang tadi dia makan di acara reuni, kue kesukaannya.
Dania pun langsung memeluk Randy.
"Thanks ya, aku Pikir kamu marah, karena diem aja dari tadi." ucap Dania.
Randy hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengelus lembut kepala Dania.
"Apa mau di makan, sekarang?" tanya Randy.
Dania mengangguk dan Randy langsung membantu menyuapinya.
"Apa, enak?" tanya Randy.
"Emmm .."Dania mengangguk dengan mulutnya yang penuh dengan kue.
"Cobain deh, yank."ucap Dania meminta Randy untuk mencoba kue tersebut.
Randy pun mengangguk.
"Iya, nanti, aku cobain." ucap Randy.
Dania tersenyum dan mengambil alih kue tersebut dari tangan Randy, kemudian memakannya sendiri.
Randy tersenyum sambil terus menatap bibir Dania.
Randy mengambil paper bag dan memindahkannya ke kursi penumpang di belakang.
Randy mendekati Dania dan mengusap lembut pipi Dania kemudian mengarahkannya agar menatapnya.
Dania pun menatap Randy sambil masih memakan kuenya.
"Enak banget, ya?" tanya Randy.
Dania tersenyum dan mengangguk.
"Jadi penasaran, seenak apa, sih?" Tanya Randy.
Randy mengecup bibir Dania dan melumatnya lembut.
Dania yang tengah memakan kue pun sontak menelan kue tersebut.
"manis." batin Randy.
"Iya, enak, manis." ucap Randy sambil tersenyum menatap Dania.
"Dasar." ucap Dania sambil tersenyum.
"Apa mau langsung pulang? Atau mau kemana dulu?" tanya Randy.
Dania berpikir sejenak.
"Iya, deh, kita pulang aja, aku capek." ucap Dania.
__ADS_1
Randy mengangguk dan melajukan mobilnya menuju rumah.
******
Pukul 16.00 wib Randy tengah sibuk di ruang kerjanya.
Meski ini hari libur, tetapi dia tetap mengecek beberapa pekerjaannya. Apalagi besoknya sudah hari senin lagi dan otomatis akan sangat melelahkan.
Sementara Randy tengah sibuk d iruang kerjanya, saat ini Dania justru tengah sibuk memasak untuk makan malam dengan di bantu Bibi.
"Bibi tolong siapin bahan-bahannya, ya, biar aku yang masak " ucap Dania.
"Memang, Non, mau masak apa?" tanya Bibi.
"Aku lagi pengen makan kepiting saus asam manis, Bi, nanti sayurnya mau masak brokoli bawang putih, aja." ucap Dania.
Bibi pun mengangguk dan mulai menyiapkan bahan-bahannya.
Setelah bahan selesai di siapkan, Dania pun mulai memasak.
Waktu pun berlalu dan pukul 17.00 wib Dania sudah selesai memasak makan malam dan bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Dania pun mengambil baju terusan di atas lutut dan memakainya.
"Wow, seksinya, dia jadi tegang, nih, yank." ucap Randy yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Dania hanya tersenyum mendengar ucapan Randy.
"Dasar mesum, udah mandi, sana. Aku udah siapin makan malam."ucap Dania.
Randy mengangguk dan memeluk Dania.
"Ohh, wanginya istriku, ini, bikin pusing kepala, aja." ucap Randy sambil menciumi rambut Dania.
"Ihh, apaan, sih? Masa wangi bikin puyeng kepala, ga, salah, tuh?" tanya Dania.
Randy pun menggelengkan kepalanya dan menggendong Dania kemudian mendudukannya di pangkuannya.
"Bikin pusing yang di sana maksudnya, yank." ucap Randy sambil melihat ke bawah perutnya.
Hahahaha.
Bugh.
Dania pun tertawa keras dan memukul lengan Randy.
"Dasar, konyol." ucap Dania.
Randy pun ikut tertawa.
"Ya udah, sana mandi, ihhh, bau asem, tahu." ucap Dania sambil menutup hidungnya.
"Mandiin .." ucap Randy.
"Ihh, ogah, aku udah mandi, nanti baju ku basah, lagi" ucap Dania.
"Biarin, tinggal ganti, lagi." ucap Randy.
Dania pun menggelengkan kepala dan akan turun dari pangkuan Randy, namun Randy langsung menahannya.
"Sebentar, ih." ucap Randy.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
Cup.
"Aduh ... Udah dong, yank, geli, ih." rengek Dania.
Randy pun berhenti dan membiarkan dania turun dari pangkuannya.
"Mandi, aahh ..."ucap Randy sambil melenggang ke kamar mandi.
Dania hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.
******
Pukul 18.30 wib Randy dan Dania tengah menikmati makan malam.
"Enaknya .. Ini, beneran kamu yang masak, yank?" tanya Randy saat mencoba menu kepiting yang Dania buat.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
"Ini enak banget, yank, kamu jadi pinter masak, ya, sekarang." ucap Randy sambil tersenyum.
"Udah, makan yang fokus, nanti keselek, lagi"ucap Dania.
Randy pun mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Oh ya, yank, ada temenku dari luar kota lagi berkunjung ke Bandung, kebetulan dia tertarik juga bisnis f&b dan ingin membuat kerjasama. Jadi, aku mau ke Bandung hari selasa, ini, sekalian juga cek cabang disana."ucap Randy.
Dania yang tengah menyantap makan malamnya pun langsung menghentikan kegiatan makannya begitu mendengar ucapan Randy.
"Apa kamu ga mau ngajak aku, yank?" tanya Dania.
"Aku cuma nginep sehari aja, kok, yank, di Bandung" ucap Rndy.
"Aku bukannya ga mau ngajak, tapi kamu lagi hamil muda, aku khawatir kamu kecapean." ucap Randy.
Dania menghembuskan nafas kasar dan bangun dari duduknya.
Randy pun menatap bingung pada Dania bergantian dengan piring Dania yang masih terisi banyak makanan.
"Mau, kemana?" tanya Randy.
"Ke kamar." ucap Dania.
"Habisin dulu, makannya."ucap Randy.
"Ga, nafsu."ucap Dania ketus.
Dania pun pergi ke kamarnya. sementara Randy hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Randy mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Semenjak hamil, Dania tak bisa menahan lapar lama-lama, apalagi malam ini Dania baru sedikit memakan makan malamnya. Randy pun membawa makanan itu ke kamar.
Begitu sampai di kamar, di lihatnya Dania yang tengah memainkan ponselnya.
"Aku bawain makanan, ga baik telat makan, dedenya kasihan, nanti kelaperan." ucap Randy.
Randy mendekati Dania dan duduk di samping Dania. Dia menyendokan makanan dan mendekatkannya kemulut Dania.
"Ayo, Aaa.." ucap Randy.
"Ga, laper." ucap Dania dingin.
"Setahu aku, kamu ga tahan nahan laper." ucap Randy.
"Beneran ih, ga, laper."ucap Dania.
Kruyuk.
__ADS_1
Randy tersenyum mendengar suara perut Dania.
"Katanya ga, laper, itu perutnya malah bunyi." ucap Randy.
Dania menatap Randy dengan malas dan mengambil piring makanan yang Randy pegang, kemudian melahapnya.
Randy pun tersenyum dan mengelus lembut kepala Dania.
"Aku bukannya ga mau, ngajak kamu, ke Bandung. Tapi aku khawatir sama kamu dan bayi kita, nanti kalau kamu kecapean terus kenapa-napa, kan, aku bakalan sedih, nanti."ucap Randy.
Randy mencoba memberi pengertian pada istrinya itu. Randy mengerti, Dania pasti tak ingin dia tinggalkan karena ini adalah perjalanan pertama Randy keluar kota yang mengharuskannya menginap karena akan ada pertemuan untuk membahas kerjasama pekerjaannya, dan pertemuan itu akan di lakukan pada jam makan malam. Karena di jam itulah temannya ada waktu. Bagi Randy, ini adalah kesempatan yang baik untuk memperluas jaringan bisnisnya. Kebetulan temannya itu adalah pebisnis sukses yang bahkan lebih dulu sukses dari pada Randy. Randy saja masih sangat muda, dan temannya itu justru sudah sukses di usia yang lebih muda dari usia pencapaian Randy.
"Tapi beneran sehari aja, kan." ucap Dania.
"Iya, sayang, aku janji, balakan terus ngabarin kamu selama aku disana." ucap Randy.
"Ya, udah." ucap Dania.
Randy tersenyum dan menggenggam tangan Dania.
"Makasih, ya, udah jadi istri yang pengertian." ucap Randy.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
******
Dua hari kemudian.
Randy tengah bersiap dengan di bantu oleh Dania.
Hari ini, dia akan melakukan perjalanan bisnis ke Bandung.
"Jangan lupa, kabarin aku terus selama kamu disana ya, yank." ucap Dania.
"Iya, yank"ucap Randy.
Setelah selesai bersiap, Dania mengantar Randy menuju mobilnya.
"Kamu ga bawa, Pak Adi, yank?"tanya Dania.
"Enggak, yank, Pak Adi disini aja, nemenin kamu kalau kamu mau pergi, tapi inget, ya, harus tetap hati-hati, jangan terlalu capek."ucap Randy.
Dania mengangguk dan memeluk randy.
Cup.
Randy mengecup pipi Dania.
"Aku pergi dulu, jangan lupa, susu sama vitaminnya di minum." ucap Randy.
Dania mengangguk dan Randy langsung melajukan mobilnya.
******
Tiga jam kemudian Randy mengabari Dania bahwa dia sudah sampai di Apartemen miliknya di Bandung.
Dania pun merasa lega karena Randy sampai ke tujuan dengan selamat.
Sesuai janjinya, Randy terus mengabari Dania. Bahkan setiap tiga puluh menit Randy menyempatkan memberi kabar pada Dania.
Pukul 15.00 wib Dania tengah menonton tv.
Tak tahu mengapa? Dia ingin menonton sebuah ftv di salah satu statsiun tv swasta. Di ftv itu ada
adegan seorang suami yang berpamitan kepada istrinya untuk melakukan perjalanan bisnis. namun bukannya melakukan perjalanan bisnis, si suami justru bertemu dengan wanita simpanannya.
Seketika Dania teringat pada Randy. Dania mengambil ponselnya dan ternyata sudah tiga jam Randy tak mengabarinya. Dia pun menghubungi nomor Randy dan ternyata ponsel Randy mati. Seketika kepala Dania di penuhi pikiran-pikiran negatif. Apalagi selama menikah, Randy tak pernah meninggalkan Dania. di tambah lagi, semenjak hamil Dania pun menjadi lebih sensitif akibat perubahan hormonnya.
Dania gelisah memikirkan Randy dan terus menghubungi nomor Randy. Namun nomor Randy tetap saja tak bisa di hubungi.
"Kemana ,sih, dia? Awas aja, ya, kalau berani macem-macem."gumam Dania.
Dania kesal karena Randy tak juga dapat di hubungi.
Dania bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya kemudian bersiap. Setelah selesai, Dania mengambil tasnya lalu turun menuju garasi dan mengambil kunci mobilnya.
Pak Adi yang melihat Dania mengambil kunci mobil pun, menjadi penasaran majikannya itu akan pergi kemana?
"Maaf, non, apa non mau pergi?" tanya Pak Adi.
"Hhmmm ... Saya ada urusan, Pak Adi ga usah nganter, saya bisa pergi sendiri." ucap Dania.
"Tapi, non-" belum sempat Pak Adi menyelesaikan ucapannya, Dania sudah menatapnya dengan tapan tajam.
Pak Adi pun mengurungkan untuk melanjutkan ucapannya.
Sedangkan Dania langsung melajukan mobilnya.
Kurang lebih tiga jam perjalanan karena jalanan cukup padat dan Dania sampai di Apartemen Randy.
Dania melihat sekeliling dan tak menemukan Randy di Apartemen.
"Kemana, dia?" gumam Dania.
"Sshhhh .. Aaarrghhhhh .." Dania memekik saat merasakan sakit di perutnya.
"Ohh .. Baby, kamu, kenapa? Kok, perut Mommy jadi sakit." ucap Dania.
perlahan Dania duduk di sofa tetapi perutnya semakin terasa sakit.
Dania mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Randy, dan beruntung lah Randy dapat di hubungi.
"Hallo, yank." ucap Randy.
"Hallo, yank, perut aku." ucap Dania terbata-bata sambil menahan rasa sakit di perutnya.
"Kenapa? Perut kamu, Kenapa?" tanya Randy panik.
"Perut aku, sakit." ucap Dania.
"Apa? Kok bisa, kamu habis ngapain emang? Minta tolong Pak Adi dulu, terus langsung ke rumah sakit, aku balik sekarang juga." ucap Randy.
"Enggak ada, Pak Adi." ucap Dania.
"Ya ampun, gimana, sih? Kemana dia?" tanya Randy dengan nada kesal.
Randy panik mendengar istrinya itu kesakitan.
"Aku ga di rumah, aku di Bandung, di Apartemen." ucap Dania.
Randy terkejut dan langsung mematikan telponnya.
Dia pamit pada temannya.
Saat ini Randy memang tengah membahas tentang kerjasama bisnis f&b bersama temannya di salah satu restauran yang lokasinya tak terlalu jauh dari Apartemennya.
Randy pun bergegas kembali ke apartemen.
Sesampainya di gedung apartemen, Randy langsung berlari menuju apartemennya dan dengan perasaan tak karuan Randy mencari Dania. Begitu sampai di ruang tamu, Randy melihat Dania terduduk di sofa dengan mata terpejam dan wajahnya pucat.
"ASTAGA ..!!" randy terkejut bukan main saat melihat darah yang keluar dari area sensitif Dania.
"Yank, bangun." Randy menepuk pelan pipi Dania namun Dania tak juga membuka matanya.
Randy menjadi semakin panik dan langsung membawa Dania menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Dania langsung mendapatkan penanganan Dokter.
Sedangkan Randy menunggu di luar dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
Randy mengusap wajahkasar.
Dia benar-benar tak habis pikirm Bagaimana bisa istrinya itu berada di Bandung? Padahal terakhir kali mereka berkomunikasi Dania masih berada di rumah.