
Pukul 06.00 wib Randy sampai di rumahnya. Setelah semalaman dia mencari Dania, namun tak juga menemukan Dania.
Randy memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Randy berjalan menuju dapur dan di lihatnya Bibi yang tengah sibuk di dapur.
Randy pun mengambil air minum dan duduk di kursi makan.
"Apa semalem Dania pulang, Bi?" tanya Randy.
"Non dania, ga, pulang semalam, den. Apa aden mau sarapan?" tanya Bibi.
Randy pun menggelengkan kepala dan pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar Randy langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Randy memijit keningnya, kepalanya terasa pusing. Semalaman dia mencari Dania sampai tak sempat makan malam, dan pagi ini dia pun tak berselera sarapan.
Randy mengambil ponselnya dan membuka ponselnya. Dia melihat-lihat foto dirinya dengan Dania.
"kamu dimana, sih, yank? Kamu sengaja, ya, mau bikin aku gila, karena ga bisa nemuin kamu." ucap Randy sambil terus menatap foto Dania.
Setelah melihat-lihat foto, Randy membuka aplikasi Whats*pp nya dan terlihat pesan yang Randy kirimkan pada Dania sudah terkirim namun belum di baca.
Dengan cepat dia mendudukan dirinya dan menghubungi nomor Dania. Randy tersenyum saat mendengar telponnya tersambungn namun sampai nada sambung itu berakhir, Dania tak juga menjawab telponnya. Sekali lagi Randy mencoba menghubungi Dania, namun lagi-lagi Dania tak menjawab telponnya.
"Aaarrrgghhhh ..."
Prank.
Randy membanting ponselnya ke lantai sampai layar ponselnya hancur.
Randy mengacak rambutnya kasar.
"Sialn" umpat Randy.
Randy pun berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.
Setelah beberapa menit berlalu dan Randy sudah selesai mandi.
setelah berpakaian Randy keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Kurang lebih tiga puluh menit dia sampai di salah satu rumah mewah yang tak lain adalah rumah mertuanya.
Randy melihat Bibi dan langsung menanyakan keberadaan mertuanya. Randy pun pergi menuju dapur di mana Mama mertuanya sedang berada di sana.
"Ma."panggil Randy.
Mama mertuanya itu menengok dan tersenyum melihat Randy.
Namun sesaat kemudian dia mengerutkan dahinya menatap sang menantu.
"Hai, Rand, dimana Dania?" tanya Mama.
Randy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Maaf Ma, aku kesini justru mau nanya soal Dania, soalnya Dania semalam ga pulang kerumah, aku pikir Dania mungkin, pulang kesini."ucap Randy.
Mama Dania terkejut.
"Kok bisa, sih? Kemarin siang pas dia dateng kesini, dia bilang sama mama mau pulang ke rumah, kok."ucap Mama.
Randy pun terkejut.
"Dania kemarin kesini, Ma?" tanya Randy.
"Iya, kemarin siang dia main kesini, tapi sorenya Mama ada acara sama Papa, jadi Mama ninggalin dia, dan dia bilang, sih, sebentar lagi juga pulang kerumah, katanya" ucap Mama.
"Randy khawatir, Ma, Dania ga pulang kerumah semalaman." ucap Randy sambil mengusap wajahnya.
Mama Dania pun menjadi ikut cemas.
"Apa aku boleh pinjem hp, Mama? Aku telpon Dania, tapi Dania ga jawab, Ma, mungkin, kalau Mama yang telpon, Dania mau jawab" ucap Randy.
Mama Dania mengangguk dan langsung menghubungi nomor Dania. Benar saja Dania menjawab telpon Mamanya. Mama Dania pun langsung menspeaker ponselnya agar Randy dapat mendengar ucapan Dania.
"Hallo, Mam" ucap Dania di telpon.
"Hallo sayang, kamu lagi apa? Terus kamu lagi dimana sekarang?" tanya Mama.
"Aku lagi sarapan, Ma. Ehh, bentar, ya, Ma, ada bunyi bell." ucap Dania.
"Bi Nah ... Tolong bukain pintu dulu, ya." teriak Dania.
Mama Dania dan Randy mengerutkan dahi mendengar teriakan Dania di telpon.
"Sayang kamu lagi di apartemen bukan, sih?" tanya sang Mama.
"Iya, Ma, aku sekarang lagi di apartemen" ucap Dania.
"Ngapain, di sana? Jadi, semalaman kamu ga pulang kerumah, karena kamu nginep di apartemen?" tanya Mama.
"Kok Mama tahu, aku ga pulang kerumah." ucap Dania.
"Randy nyariin kamu kerumah, nih" ucap Mama.
Tut tut tut.
Dania langsung mengakhiri telpon itu begitu mendengar nama Randy.
"Kalian lagi ada masalah bukan, sih?" tanya Mama menyelidik.
"Maaf, Ma, ini semua salah aku."ucap Randy sambil menundukkan kepala.
Mama Dania menghembuskan nafas kasar. Akhirnya dia pun memberitahu alamat apartemen Dania dan Randy bergegas menuju ke sana.
Kurang lebih empat puluh menit Randy sampai di gedung apartemen Dania, dan kini Randy sudah berada di depan pintu apartemen.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Ting tong.
"Ehh, Mas, Randy." ucap Bi Nah.
Bi Nah adalah asisten rumah tangga yang merawat apartemen Dania selama apartemen itu tak di tinggali. Biasanya dia datang seminggu sekali untuk membersihkan apartemen itu. Dia juga mengenal Randy karena saat Dania dan Randy menikah, mereka yang bekerja pada orang tua Dania turut hadir juga.
"Apa Dania nya ada, Bi?" tanya Randy.
Bibi terlihat kikuk.
"Maaf Mas, tadi non Dania pesan, katanya dia ga mau ketemu siapa, pun."ucap Bibi.
Dania memang berpesan pada Bibi, bahwa dia tak ingin bertemu siapa pun, sekalipun itu Randy. Sejak tadi ditelpon Mamanya mengatakan Randy sedang mencarinya, Dania yakin, Mamanya itu pasti memberitahukan alamat apartemennya pada Randy.
__ADS_1
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskan nafas perlahan.
Randy memegang bahu Bi Nah sambil menatapnya.
"Bi, saya suaminya, saya berhak atas istri saya, jadi saya mau ketemu Dania, saya harus bicara." ucap Randy.
Bibi pun akhirnya mengangguk dan mempersilahkan Randy masuk.
"Yang mana kamar Dania, Bi?" tanya Randy.
"Yang ini, Mas." ucap Bibi sambil menunjuk salah satu kamar.
Randy mengangguk dan membuka pintu kamar perlahan.
Randy melihat ke sekeliling kamar namun tak menemukan Dania.
Randy mendengar suara air dari kamar mandi.
dia pun melangkah menuju pintu kamar mandi dan membukanya perlahan.
Randy menelan air liurnya melihat Dania yang sedang mandi tanpa sehelai benang pun dengan posisi membelakangi nya. Seketika sesuatu di bawah sana mulai menegang.
Dengan cepat Randy menanggalkan seluruh pakaiannya dan kini di tubuhnya tak ada sehelai benang pun.
Dia melangkah mendekati Dania.
"Aarrgghhhh ..." Dania memekik saat Randy memeluknya dari belakang.
dania pun memukul-mukul tangan randy.
Bukannya melepaskan, Randy justru mendorong Dania dan membungkam mulut Dania dengan mulutnya.
Dania mencoba melepaskan diri dari Randy, namun Randy menahan tangannya dengan kuat.
Randy semakin memperjauh kegiatannya hingga dia tak menyadari Dania sudah lemas dan area perut bawahnya terasa sakit.
Pandangan Randy tak sengaja melihat ke arah bawah sana, tepatnya ke arah penyatuan nya dengan Dania.
Randy membulatkan matanya saat melihat darah yang mengalir dari area sensitif Dania.
Randy melihat wajah Dania dan lagi-lagi dia di buat terkejut saat melihat wajah Dania yang sudah memucat.
Dia segera menghentikan kegiatannya dan menepuk pipi Dania, namun Dania hanya diam saja.
Bugh.
Dania tumbang dan Randy langsung menahan tubuhnya.
"Yank bangun, kamu ga apa-apa, kan, yank?" tanya Randy panik.
Dania mengerjapkan matanya dan meringis memegangi perutnya. Dia pun langsung tak sadarkan diri dengan darah yang masih mengalir dari area sensitifnya.
Randy benar-benar panik. Jantungnya berdegup kencang dan dengan cepat dia memakaikan Dania handuk lalu mengangkat tubuh Dania keluar dari kamar mandi.
Dia memakaikan Dania pakaian dan dia pun memakai pakaiannya lalu membawa Dania kerumah sakit.
Bibi yang melihat rmRandy panik membawa Dania yang sudah tak sadarkan diri pun, mencoba menanyakan keadaan Dania namun Randy tak mempedulikannya dan langsung keluar dari apartemen dan membawa Dania ke Rumah Sakit.
Begitu sampai di Rumah Sakit, banyak yang memperhatikan Randy bergantian dengan Dania, karena pakaian yang Dania kenakan kini sudah berwarna merah karena terkena darah.
Tak lama Dania pun langsung mendapatkan penanganan dokter.
"Dasar bego, kenapa lo ga bisa nahan diri lo, sih, Randy? Aaarrgghhhh ... sialan emang lo, Randy." Randy mengumpat kesal.
Bisa-bisanya dia melupakan bahwa seminggu yang lalu istrinya itu mengalami keguguran.
Randy pun menghubungi orang tua dan mertuanya.
Dan tiga puluh menit kemudian kedua keluarga sudah sampai di Rumah Sakit.
"Apa yang terjadi? Kenapa Dania bisa sampe masuk rumah sakit, sih?" tanya Mama Dania panik.
Belum sempat Randy menjawab pertanyaan Mama mertuanya itu, Dokter pun keluar.
"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Randy cemas.
"Pendarahannya sudah berhenti, oh ya, apa sebelumnya pasien pernah mengalami keguguran?" tanya Dokter.
"Iya, Dok, seminggu yang lalu istri saya mengalami keguguran"ucap Randy.
Dokter mengangguk dan memberitahukan bahwa Dania mengalami pendarahan di bagian rahimnya.
"Mohon maaf, sebelum ini terjadi apa kalian sempat berhubungan intim?" tanya Dokter.
Randy menelan air liurnya.
Dengan ragu Randy pun mengangguk.
Semua orang pun terkejut melihat.
"Saya mengerti, jadi, itu lah, penyebabnya, seharusnya kalian tidak berhubungan intim dulu, apalagi baru seminggu yang lalu istri anda mengalami keguguran." ucap Dokter.
Randy hanya diam saja mendengarkan ucapan sang Dokter.
Setelah dokter menjelaskan panjang lebar akhirnya Dokter pun pamit.
Bugh.
Randy tersungkur saat tiba-tiba sang Papa mertua menghantam wajahnya cukup keras, hingga sudut bibirnya menjadi sedikit robek.
"Suami macam apa kamu ini, ha? Istri belum lama keguguran, sudah kamu ajak berhubungan intim." Bentak sang Papa mertua.
"Apa kamu sengaja ingin membunuh anak saya, ha?" Lagi-lagi Papa mertuanya itu membentaknya.
Ramdy terkejut dan menggelengkan kepala.
"Tuan Hamish, tolong , tenangkan diri anda." ucap Papa Randy.
"Tenang and bilang, anda tak mengerti rasanya jadi saya, Anak saya berada di dalam sana, karena ulah anak anda" ucap papa Dania dengan geram.
"Maaf , Pa. Aku ga bisa nahan diri aku." ucap Randy sambil memegang wajahnya yang terkena hantaman sang mertua.
"Kamu benar-benar brengsek, Randy. Saya kecewa sama kamu." ucap Papa Dania dengan geram.
Papa Dania pun terhuyung memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Tuh, kan, Papa, tuh, ga boleh marah-marah terus, jadi pusing, kan, kepala Papa. Ayo kita pulang dulu supaya papa bisa istirahat di rumah, biar Randy yang temenin dania di sini." ucap Mama Dania.
Orang tua Dania pun pamit dan tak lama di susul oleh orang tua Randy yang juga pamit pulang.
Kini hanya ada Randy yang menunggu Dania di Rumah Sakit.
__ADS_1
Randy menggengam tangan Dania dan terus menatap wajah Dania yang sudah terlihat lebih baik dan tak sepucat tadi.
Cup.
Cup.
Cup
Randy terus mengecup punggung tangan Dania.
"Maaf, yank, aku sama sekali ga ada maksud buat kamu celaka, aku kangen kamu, yank, aku mohon bangun, ya, sayang. Aku bener-bener sedih lihat kamu kaya gini." ucap Randy dengan penuh rasa bersalah.
Randy benar-benar merutuki kebodohannya karena tak bisa menahan dirinya untuk tak menyentuh istrinya itu.
******
Satu jam kemudian Dania pun siuman.
Randy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan cepat memeluk Dania.
"Syukur lah, yank, kamu udah sadar." ucap Randy.
"Duhh .. Engap, ih." ucap Dania.
Randy pun melepaskan pelukannya dan menatap Dania.
"Maaf, yank, apa ada yang sakit?" tanya Randy.
Dania mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aku panggilin Dokter dulu, ya."ucap Randy.
Belum sempat Randy memencet bel, Dania pun langsung menahan tangannya.
"Disini, sakitnya." ucap Dania dengan mengarahkan tangan Randy di dadanya.
Randy mengerutkan dahinya menatap Dania.
"Dada kamu sesak, yank?" tanya Randy.
Dania pun menggelengkan kepala.
"Jadi, kenapa dada kamu sakit?" tanya Randy.
"Ga peka, dehm" ucap Dania kesal.
"Aku bukannya ga peka, yank, tapi aku emang ga ngerti maksud kamu." ucap Randy bingung.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Yang sakit, tuh, hati aku. Karena semenjak aku keguguran kamu jadi ga peduli lagi sama aku, aku juga sedih karena harus kehilangan calon anak kita, bukan kamu aja yang sedih."ucap Dania sendu.
Randy pun terkejut dan menggenggam tangan Dania.
"Maaf yank, Aku minta maaf karena aku udah jadi suami yang egois buat kamu, maaf kalau aku ga mikirin perasaan kamu, kamu tahu, yank, waktu kemarin kamu ga pulang kerumah, aku nyariin kamu kesana kemari kayak orang gila, aku, tuh, takut banget kamu kenapa-kenapa? Aku mohon, jangan kabur lagi dari rumah, ya, aku janji aku ga akan diemin kamu lagi, aku minta maaf, ya, aku tau kamu juga pasti sedih karena kehilangan anak kita, waktu itu aku masih ga percaya aja kalau kita harus kehilangan calon anak kita, tapi sekarang aku sadar, kok, kalau apapun yang kita dapatkan, itu , hanyalah titipan dari Tuhan yang kapan pun bisa Tuhan ambil kembali. Aku udah ikhlasin calon anak kita, biarlah dia menjadi tabungan kita kelak di sana, dan kamu juga harus ikhlas, ya. Kita mulai dari awal lagi, ya, yank."ucap Randy.
Dania meneteskan air matanya mendengar ucapan Randy.
"Ssstttt ... Jangan nangis, yank, jangan lagi, oke. Aku ga akan biarin kamu sedih lagi." ucap Randy sambil mengusap lembut pipi Dania.
Dania semakin terisak mendengar ucapan Randy dan membuat Randy bingung harus bagaimana mendiamkan istrinya itu agar tak lagi menangis.
Cup.
Cup.
Cup.
Randy mengecup bibir dania berkali-kali berharap agar dania mau berhenti menangis.
bukannya berhenti menangis dania malah semakin terisak.
Randy pun semakin bingung.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Dengan lembut Randy mengusap pipi Dania.
"Aku mohon, jangan nangis lagi, yank. Kamu tahu, air mata ini terlalu berharga untuk di buang-buang."ucap Randy.
Cup.
Randy mengecup bibir Dania dan memberikan lumatan lembut, benar saja Dania tak lagi terisak.
Cukup lama mereka larut dalam manisnya ciuman itu dan akhirnya ciuman itu pun berakhir.
Randy menatap Dania dengan penuh sayang.
"Kamu tahu, yank, kehilangan anak kita memang membuat aku amat sangat terpukul, tapi aku sadar, itu bukan salah kamu sepenuhnya, Aku yakin, Tuhan ada rencana lain untuk kita. Aku justru takut waktu kamu pergi kemarin kamu ga akan pernah balik lagi ke sisi aku, dan aku akan menyesal seumur hidup aku karna kamu pergi disaat hubungan kita tak baik. karena dari itu, aku minta maaf, ya,kamu mau kan, yank, maafin aku? Dan kita mulai semuanya dari awal lagi." ucap Randy.
Dania pun berfikir sejenak.
"Apa kamu bener-bener udah ga marah lagi sama aku? Aku tahu betul, kamu kecewa banget sama aku karena aku ga bisa menjaga anak kita." ucap Dania.
Randy menggelengkan kepala dan menggenggam tangan Dania.
"Aku ga marah, aku udah ikhlas."ucap Randy.
"Gimana kalau suatu hari nanti, aku melakukan kesalahan yang sama?" tanya Dania.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kita akan belajar memperbaiki segalanya, bersama, kita akan memperbaiki segalanya agar di kemudian hari tidak akan lagi terjadi hal yang sama." ucap Randy.
Dania mengangguk, dia tak mampu mengatakan apapun lagi mendengar ucapan Randy, suaminya itu selalu membuatnya tak mampu berkata-kata bila sudah menyentuh hati terdalamnya.
Cup.
Randy mengecup punggung tangan Dania.
"Makasih sayang, aku sayang banget sama kamu, yank." ucap Randy sambil mengelus lembut pipi Dania.
Dania mengusap lembut tangan Randy.
"Aku juga sayang kamu." ucap Dania sambil tersenyum
Hai, hai, nih Author kasih visualnya tuan Wijaya Hamish, alias Papanya Dania, menurut kalian cocok ga, nih?
Menurut Author, sih, ocok banget. hehe.
__ADS_1