Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 33


__ADS_3

Satu bulan sudah Randy bekerja sebagai pelayan di Restauran milik orang tuanya Dio, dan hari ini adalah hari gajian.


Randy pergi menuju ATM yang masih berada di dalam Mall tersebut untuk mengecek gajinya, karena teman-teman kerja Randy mengatakan, gaji bulan ini sudah masuk ke rekening. dengan senyum lebar Randy melangkah menuju ATM, untuk pertama kalinya dia dapat menghasilkan uang dengan hasil keringatnya sendiri. Uang gaji itu akan dia serahkan kepada istrinya agar istrinya dapat mengelolanya untuk kebutuhan rumah tangga, meski Dania dan randy terbiasa hidup kaya dan mudah mendapatkan apapun, tapi semenjak orang tua mereka menghentikan keuangannya, mereka pun perlahan sudah mulai bisa menerima keadaan, mereka justru merasa lebih nyaman hidup dalam kesederhanaan, yang terpenting asalkan selalu bersama dalam keadaan apapun.


Randy sudah sampai di depan mesin ATM dan mulai memasukan kartu ATM nya, kemudian di lanjutkan dengan mengetik pinnya, Randy tersenyum melihat jumlah saldo yang ada di dalam rekeningnya. Meski tak sebanyak jumlah yang Papanya berikan dulu, bahkan sangat jauh dengan uang jajannya dulu, Randy tetap bersyukur karena itu hasil dari kerja kerasnya selama satu bulan ini.


Randy pun menarik beberapa lembar uang pecahan Rp.100.000 dan menyisakan sedikit saldo di dalam rekeningnya untuk kebutuhan mendadak.


*******


Di Apartemen.


Dania tengah sibuk membersihkan Apartemennya. Sepulang Sekolah tadi, dia merasa bosan karena tak mengerjakan apapun, ingin tidur siang pun tetapi tak bisa.


Dania mulai dengan membersihkan kamarnya dan kamar Randy, di lanjutkan dengan menyapu lantai dan mengepel lantai, mengelap kaca jendela, mencuci piring dan mencuci baju.


Kurang lebih tiga jam Dania pun selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya.


"Huh, capek banget, tapi seger sih, sekalian olah raga." ucap Dania sambil duduk di sofa ruang tamu. Dania melihat sekeliling ruangan yang sudah bersih, Dania pun tersenyum melihat hasil kerjanya yang ternyata cukup memuaskan.


"Menikah memang benar-benar menyenangkan, bisa olah raga gratis tanpa keluar uang, dan yang lebih penting, bisa mesra-mesraan sepuasanya tanpa takut di grebek, kalau gini sih, ga nyesel sama sekali." ucap Dania.


Dania pun tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.


Dania melihat tubuhnya yang benar-benar berkeringat.


Dania menatap jam di dinding dan kini sudah pukul 17.00 wib. Dia mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum dia memutuskan untuk mandi.


Setelah beberapa menit dan di rasa sudah tak berkeringat lagi, Dania pun memutuskan untuk mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, Dania mengambil ponselnya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan membuka album galeri di ponselnya.


Dia pun menscroll foto-foto di dalamnya dan tangannya berhenti menscroll saat dia melihat foto dirinya menggunakan kebaya putih saat akan menikah dengan Randy, Dania pun tersenyum dan teringat akan foto pernikahannya yang sudah tersimpan di bingkai namun belum dipajang di dinding. Sudah satu setengah bulan menikah, tetapi mereka memang belum memajang bingkai foto pernikahan di karenakan dulu, menurut mereka itu bukan lah sesuatu hal yang penting, di tambah mereka saat itu menikah bukan atas dasar cinta, bahkan di foto itu pun tak terlihat senyuman dari bibir kedua mempelai.


Dania pun mengambil bingkai foto itu yang masih terbungkus rapi itu dan membuka bungkusan itu, dia memajang foto itu di dinding tepat di atas kepala tempat tidur.


Setelah itu, Dania membuka laci lemarinya dan melihat kotak cincin pernikahannya dengan Randy yang selama ini tak dia pakai, dania pun mengambil cincin itu dan memakainya di jari manisnya.


Dania menarik nafas dalam dan menghembuskanya perlahan, dia pun tersenyum.


"Selangkah lagi, aku akan jadi istri sepenuhnya untuk Randy." gumam Dania.


Dania berjanji pada dirinya sendiri, dia akan melakukan kewajibannya sebagai istri dan memberikan hak Randy sebagai suami.


Dania berjalan keluar kamar menuju dapur, dia akan membuat makan malam. belum sampai di dapur tiba-tiba bel apartemen berbunyi, dania pun bergegas membuka pintu.


"Papa, Mama." Dania terkejut karena yang datang ternyata adalah orang tuanya.


"Kok,kalian kesini?" tanya Dania bingung.


Lapa dan Mama saling tatap dan tersenyum.


"Kami akan menginap di sini, bolehkan, sayang?" tanya Mama.


"Ya udah, masuk dulu ma, pa." ucap Dania.


Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.


"di mana Randy?" tanya Papa sambil melihat ke sekeliling.


"Randy masih kerja, Pa." ucap Dania.


Dania pergi menuju dapur.


"Papa mau kopi ya, sayang." teriak sang Papa.


"Mama mau yang segar-segar dong, sayang." teriak sang Mama.

__ADS_1


Dania pun tersenyum dan mengambil dua gelas air putih lalu membawanya ke ruang tamu.


Papa dan mama saling tatap dan melihat ke arah gelas.


Dania tersenyum melihat ekspresi kedua orang tuanya itu yang terlihat bingung.


"Disini ga ada kopi Pa, karena kami ga suka kopi, jadi ga kami stok." ucap Dania.


"Untuk minuman segarnya, kebetulan habis ma, aku belum sempat belanja karena sibuk Sekolah" ucap Dania.


Mama dan Papa mengangguk dan tersenyum.


Karena ini sudah masuk jam makan malam, Mama dan papa mengajaknya untuk makan malam.


"Sayang, apa kamu masak? kita harus makan malam, bukan?" tanya Mama


Dania menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, Dania niatnya tadi memang ingin masak, tapi yang biasa ia buat saat ini adalah nasi goreng, karena stok bahan di dapur hanya bisa membuat itu. Papi Papa dan Mamanya pasti tidak akan suka. Karena menurut Papa dan Mamanya, memakan nasi goreng di malam hari resikonya tinggi dan tidak baik untuk kesehatan.


Papa dan Mama dania lagi-lagi saling tatap setelah melihat ekspresi Dania.


"Oke, kita pesan aja." ucap Mama.


Tak lama kemudian, Mama langsung memesan makanan dari Restauran favorit keluarga.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan pun datang dan betapa terkejutnya Dania, saat melihat pesanan yang begitu banyak.


"Kok banyak banget ma pesannya? kan cuma bertiga." ucap Dania.


"Kamu gimana sih sayang, masa suami kamu ga di hitung juga, Mama sekalian juga pesanin untuk Randy" ucap Mama.


Dania mengangguk dan mereka pun memulai makan malam mereka.


Setelah selesai makan, mereka berpindah ke ruang tamu dan mulai menonton tv sekaligus berbincang-bincang.


"Jam berapa biasanya Randy pulang kerja?" tanya Papa.


"Semalam itu?" tanya Mama terkejut.


Dania pun mengangguk.


"Jadi, setiap hari kamu selalu sendiri di Apartemen?" tanya Papa.


"Iya, Randy cuma bisa kerja di jam setelah pulang Sekolah, jadi dia masuk shift tiga, jam dua siang, Pa" ucap Dania.


Papa pun mengangguk.


tak terasa waktu pun berlalu, sebentar lagi jam pulang kerja Randy.


Mama Dania sudah tak sanggup menahan kantuknya lagi, Mama dan Papa pun pamit ke kamar tamu, sedangkan Dania juga masuk ke dalam kamarnya. Dia sebetulnya sudah mengantuk sejak tadi, hanya saja karena sedang ada orang tuanya, jadi mencoba menemani mereka mengobrol. Dania mulai merebahkan tubuhnya dan tak lama dia pun langsung terlelap.


Di kamar tamu, Mama dan Papa Dania masih membahas soal Dania.


"Papa lihat kan? kasian Dania pa, sepertinya dia kesulitan menjalani kehidupannya sekarang." ucap Mama sedih.


"Papa justru lihat Dania senang-senang aja mah." ucap Papa.


"Huh, papa sok tahu." ucal Mama sambil mengerucutkan bibirnya.


Papa pun tersenyum.


"Ya udah, kita tidur aja deh, Pa." ucap Mama.


Papa dan mama pun memejamkan matanya.


Tak lama kemudian, Papa Dania merasa ingin buang air, dia bergegas pergi menuju kamar mandi.


Randy baru saja sampai di Apartemen, dia melihat sekeliling ruangan dan lampu sudah gelap.

__ADS_1


Tidak ada Dania yang menunggu di ruang tamu.


Randy berjalan menuju pintu kamar Dania dan saat akan membuka pintu kamar, dia pun memilih mengurung kan niatnya.


"Mungkin dia lelah." ucap Randy.


Randy pun masuk ke dalam kamarnya, dia melihat kamarnya yang gelap dan ada seorang wanita di sana yang tidur menyamping memunggunginya.


Randy pun tersenyum dan mulai berjalan mendekati tempat tidur. Perlahan dia naik ke atas tempat tidur dan memeluk wanita itu dari belakang. Randy mulai mengelus lembut lengan wanita itu.


Di tengah kegiatannya, tiba-tiba Randy di kejutkan oleh sosok tinggi kekar yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Tatapan orang itu begitu tajam seolah siap untuk menerkamnya.


Randy pun menelan air liurnya dengan susah payah, dia pun bangun.


Orang itu mendekat dan menarik lengan Randy.


Bugh.


Satu pukulan mendarat di wajah Randy, membuat Randy meringis kesakitan.


Kegaduhan itu membuat wanita yang sedang tidur itu pun jadi terbangun dan menyalakan lampu kamar.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak wanita itu.


Randy pun menengok dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa wanita itu.


"Mama?" ucap Randy.


Wanita itu adalah mamanya Dania, randy menganggap dia adalah Dania, karena itu dia berani memeluk mama Dania.


Randy pun menatap Papa mertuanya yang masih dengan ekspresi merah padam.


"Aku bisa jelasin semuanya, Pa." ucap Randy.


Sekarang Randy mengerti, pantas saja Papa mertuanya itu memukulnya, jelas saja yang dia peluk adalah istri dari Papa mertuanya, yaitu Mama mertuanya sendiri.


"Apa yang akan kamu jelaskan, ha?" Bentak Papa Hamish.


Randy pun gemetar ketakutan dan saat Papa Dania akan memukul kembali wajah Randy, tiba-tiba Dania berteriak.


"Stop, Pa ..!" teriak Dania.


Dania segera berlari dan melindungi Randy.


"Papa apa-apaan sih? Kenapa Papa pukul Randy?" tanya Dania.


"Kamu tahu, dia sudah lancang memeluk mama kamu." ucap Papa nada geram.


Dania pun melihat ke arah Randy.


"Aku ga tahu kalau itu mama mertua, aku kira itu kamu yank, sumpah aku ga bohong." ucap Randy mencoba meyakinkan Dania.


Dania pun mengangguk, dia lupa mengabari Randy bahwa orang tuanya sedang menginap di Apartemen mereka.


"Halah, banyak alasan kamu." Papa Dania lagi-lagi akan memukul Randy, namun segera Dania hentikan.


"Pa, tolong, udah cukup. Aku percaya sama Randy" ucap Dania.


"Kamu percaya dia? (menunjuk Randy) Dia bahkan tidak masuk ke kamar kalian, malah masuk ke kamar tamu." ucap Papa.


Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Itu karena kamar tamu ini memang kamar Randy, dari awal menikah, kami memang udah pisah kamar." ucap Dania sambil menunduk.


"Apa ..?" Mama dan Papa pun terkejut.

__ADS_1


Mereka terkejur sekaligus tak percaya dengan apa yang Dania katakan.


__ADS_2