
Seperti yang sudah di janjikan, hari ini Erick datang ke Indonesia untuk memberikan laporan proyek di Bangkok.
Sore ini pukul 15.00 wib Papa Hamish, Dania, dan Erick sedang berada di ruang meeting di kantor Papa Hamish.
Sesuai keinginan Randy satu minggu yang lalu, Randy pun ikut datang ke kantor, namun dia tak masuk ke dalam ruang meeting, melainkan hanya menunggu di ruangan Dania yang tak lain masih satu ruangan dengan Papa Hamish.
Empat puluh lima menit kemudian meeting selesai.
"Oh ya, Rick, datang, lah, ke rumah dan makan malam di rumah, ya." ucap Papa Hamish.
Erick tersenyum dan mengangguk.
"Kamu juga, sayang." ucap Papa Hamish.
Dania menatap Erick sekilas yang tengah tersenyum manis padanya, Dania membalas dengan senyuman tipis.
"Iya, Pa, nanti aku datang sama Randy." ucap Dania.
Papa Dania mengangguk dan masuk ke ruangannya dengan di ikuti oleh Erick dan Dania.
"Loh, kamu masih disini, Rand." ucap Papa Dania heran. Dia pikir menantunya itu sudah pergi dari ruangannya.
"Iya, Pa, aku mau sekalian nunggu Dania pulang kerja aja." ucap Randy.
Papa Hamish mengangguk dan mendudukan dirinya di kursi kebesarannya.
"oh ya, Rand, ini Erick, yang bertanggung jawab atas proyek di Bangkok" ucap Papa.
Randy melihat sekilas kebarah Erick yang tengah mendekatinya dan kemudian menyodorkan tangannya.
"Erick " ucap Erick sambil menyodorkan tangannya.
Hoek.
Belum sempat Randy menyambut tangan Erick, Randy sudah mual terlebih dulu saat mencium bau parfum yang Erick pakai.
Randy berlari menuju toilet yang masih berada di ruangan itu.
Dania pun langsung mengikuti Randy ke dalam toilet.
Sedangkan Erick justru merasa kebingungan.
"Maaf, ya, Rick, sudah satu bulan ini memang dia sering mual tiba-tiba, jadi, kadang ga tahu tempat." ucap Papa Hamish.
"Oh ya, Om, apa ada penyakit serius?" tanya Erick.
Papa Hamish pun menggelengkan kepalanya.
"Itu dia, yang membuat kami bingung, sudah beberapa Rumah Sakit yang di datangi, tapi semua hasil laporannya selalu sama, tak ada penyakit serius dan Randy bahkan sehat." ucap Papa Hamish.
Erick mengangguk dan duduk disofa.
Sedangkan di toilet Randy tengah mengatur nafasnya karena menahan rasa mual yang tiba-tiba datang.
"Kamu baik-baik aja, yank. Kamu mau apa, mau sesuatu ga?" ucap Dania.
Dia sungguh selalu di buat jantungan jika suaminya itu sedang mual, entah sampai kapan Randy akan berhenti merasakan mual, pikir Dania.
Randy menggeleng dan masih terduduk lemas di closet.
"Bau banget, parfumnya si Erick, bikin eneg, yank, aduhhh ... Perut ku, yank, ga enak" ucap Randy lemas.
"Kamu mau minum sesuatu ga, biar aku pesenin." ucap Dania.
"Minum jus nanas enak kayanya, yank." ucpa Randy.
"Ya udah, ayo keluar dulu, nanti aku pesenin jusnya." ucap Dania.
Randy dan Dania keluar dari toilet.
"Gimana, Rand? Udah baikan." ucap Papa Hamish.
Randy hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Aku ga mau duduk di sofa, yank, ada si Erick nanti aku mual lagi." bisik Randy.
"Kamu istirahat aja, di ruang pribadi Papa" ucap Papa Hamish.
"Apa boleh, Pa?" tanya Dania.
"Boleh, aja." ucap Papa hamish dengan santai.
Dania pun mengantar Randy ke ruang pribadi yang biasa di jadikan tempat istirahat Papa Hamish.
"Tiduran dulu, yank" ucap Dania dan di angguki oleh Randy.
Randy merebahkan tubuhnya sedangkan Dania langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Kalian mau minum sesuatu, ga, biar sekalian aku pesenin jus nanas buat Randy" ucap Dania.
"Mau balck coffee, Rick?" tanya Papa Hamish.
"Boleh juga, Om, minum kopi di sore hari." ucap Erick dengan senyum manisnya.
Papa Hamish melihat ke arah Dania.
"Tolong dua balck coffee, ya, sayang." ucap Papa.
Dania mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan Papa Hamish.
Dania pun meminta sekretaris Papanya membuatkan dua balck coffee dan dia juga meminta Office Boy untuk membelikannya jus nanas.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya jus nanas pesanan Randy datang, dania langsung membawa nya pada Randy.
"Nih, jusnya, yank." ucap Dania.
Randy mengambil jus tersebut dan meminumnya sampai tak bersisa.
*******
Waktu pun berlalu dan sudah saatnya pulang kantor. Karena ini hari terakhir Dania bekerja di Kantor Papanya Dania pun berpamitan terlebih dulu pada teman-teman kantornya.
Setelah selesai berpamitan, Randy dan Dania bergegas menuju rumah orang tua Dania di karenakan Papanya sudah mengundangnya makan malam.
Di mobil Randy terus diam dan membuat Dania merasa kebingungan.
"Yank .." Panggil Dania.
"Hhmmm .." Randy hanya berdehem dengan masih fokus mengemudi.
"Kenapa diem aja? Kamu baik-baik aja ." tanya Dania.
"Hhmmm .." lagi-lagi Randy hanya berdehem.
" Pasti ada yang kamu sembunyiin dari aku, deh " ucap Dania.
Randy melihat Dania sekilas dan tersenyum tipis.
"Yank.." lagi-lagi Dania memanggilnya.
"kenapa, yank?" tanya Randy.
"Kamu yang kenapa? Kok diemin aku, sih." ucap Dania dengan agak kesal.
"Aku ga habis pikir, kenapa juga papa ngundang si Erick makan malam, di rumah?" ucap Randy.
"Ya ampun, apa ga salah, yank? Jadi, dari tadi kamu diem karena mikirin si Erick. Makanya jangan terlalu benci, yank, jadi nya kepikiran, kan" ucap Sania sambil terkikik.
Randy menatap malas pada Dania.
"Bukan mikirin orangnya, emang aku cowok apaan?" Randy pun bergidig.
"Kirain gitu, benci jadi-"
__ADS_1
"Benci jadi apa?" tanya Randy sambil menatap tajam pada Dania.
Hahaha.
"Kirian benci jadi cinta, gitu, yank." ejek Dania.
Randy membulatkan matanya dan menghentikan mobilnya.
"Aduuhhhh ... ihhhh ... Yank, apaan, sih?" Dania memberontak saat Randy tiba-tiba mencubiti pipi Dania dengan gemas.
"Kamu, sih, ada-ada aja, amit-amit, suka sama sesama jenis." ucap Randy sambil bergidig ngeri.
Dania terkikik mendengar ucapan Randy.
"Ya, mungkin karena si Erick, itu, ga, sering dateng kesini, yank, makanya Papa ngundang makan malam, lagian kan, dia anaknya temen Papa, juga." ucap Dania.
"Oh." ucap Randy singkat dan kembali melajukan mobilnya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit, mereka pun sampai di kediaman Hamish, dan ternyata sudah ada Erick di sana.
Randy menatap malas pada Erick dan langsung menyalimi Mama mertuanya.
"Duuhh ... senangnya, kalau lagi pada kumpul, gini." ucap Mama Rania.
Dania dan Randy pun tersenyum.
"Iya, Mama, betul, apalagi kalau udah ada cucu, pasti tambah rame dan seru." ucap Papa Hamish.
Randy menggenggam tangan Dania dan tersenyum menatap Dania.
"Doain aja, Pa, biar kami sehat dan bisa kasih cucu yang banyak buat kalian
" ucap Randy.
Mama dan Papa pun mengangguk, namun tidak dengan Erick, karena sudah sejak di kantor tadi, sebetulnya hati Erick terasa sesak melihat Dania dan Randy.
"Ya, sudah, ayo kita langsung makan malam." ucap Mama Rania.
Mereka semua pun pergi menuju meja makan dan mulai menyantap makan malam merema.
"Wah, Tan, ini kayanya enak semua." ucap Erick sambil melihat ke arah meja makan yang di penuhi makanan buatan Mama Rania sendiri.
"Jelas enak, lah, mertua siapa dulu, dong? iya, kan, Ma." ucap Randy sambil tersenyum menatap Mama Rania.
Mama Rania tersenyum mendengar ucapan Randy.
Sedangkan Erick menatap malas pada Randy.
"Ini, yank, kamu harus makan yang banyak" Randy mengambilkan beberapa lauk untuk Dania.
"Udah cukup, yank, ini kebanyakan." ucap Dania.
Randy menggeleng dan menambah lagi lauk untuk Dania.
"Ga apa-ap, yank, biar kamu tambah montok. Jadi, kalau tidur aku tinggal peluk kamu, ga usah peluk guling." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania terkekeh mendengar ucapan Randy.
Papa Hamish dan Mama Rania hanya mesem-mesem melihat tingkah anak dan menantunya itu.
Sedangkan Erick mencoba mengatur nafasnya dan mencoba santai meski sebetulnya dadanya terasa sesak melihat pemandangan menyebalkan di depannya.
"Ini, aaa .. yank." Randy menyendokkan makanan kedepan mulut Dania dan di sambut oleh Dania.
"Makasih, yank." ucap Dania.
"Kok, makasih doang, suapin aku juga dong, yank" pinta Randy.
Dania tersenyum dan menyuapi Randy.
Randy pun tersenyum lebar sambil melihat ke arah Erick dan ternyata Erick tengah melihatnya juga.
Erick menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, dia pun bangun dari duduknya.
Randy tersenyum penuh kemenangan melihat wajah erick memerah karena menahan kesal.
Randy bangun dari duduknya dan pamit ke toilet juga.
Randy melangkahkan kakinya dengan cepat.
Puk.
Randy menepuk bahu Erick dan membuat Erick menengok ke arahnya.
Erick mengerutkan dahinya menatap Randy.
"Ada apa, ya?" tanya Erick bingung.
"Gue tahu, lo cemburu, kan, lihat Dania sama gue. " ucap Randy sambil tersenyum mengejek pada Erick.
"Maksudnya apaan, ya?" tanya Erick.
"udah lah, gue tahu lo suka sama Dania." ucap Randy sambil tersenyum sinis menatap Erick.
"Oh, ya, karena lo udah tahu, jadi, gue ga perlu pura-pura lagi. Gue emang suka sama Dania, bukan suka, lagi, tapi gue cinta sama Dania" ucap Erick menyeringai.
Randy membulatkan matanya dan mengepalkan tangannya.
saat Randy akan melayangkan pukulan pada wajah Erick, Erick langsung menahan tangan Randy.
"Lo mau pukul gue, buat apa?Apa karena gue jatuh cinta sama Dania? Sorry, Bro, gue bisa apa kalau gue jatuh cinta sama Dania? Ini masalah hati, men " ucap Erick.
randy melepaskan tangannya dan menepuk bahu erick dengan senyum manisnya.
"sumpah gue kasian banget sama lo, mendingan lo buruan deh cari cewek biar kaga ngarep mulu sama istri gue, Biar lo juga kaga jadi JO-NES alias Jomblo ngenes" ucap randy.
randy pun melenggang meninggalkan erick dengan tersenyum lebar.
sedangkan erick mengepalkan tangannya.
"Brengsek ..!" batin Erick.
Erick menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
Dia pun masuk ke dalam toilet.
**********
Satu minggu kemudian, tepatnya hari pertunangan Riko.
Dania tengah bersiap di kamarnya, dia dan Randy akan menghadiri acara pertunangan Riko yang akan di gelar di hotel berbintang pada pukul 19.00 wib nanti.
Dania masih sibuk berdandan sementara Randy sudah memakai kemeja putihnya dan tinggal memakai jasnya. Randy tengah sibuk dengan ponselnya sambil menunggu Dania.
"Duhhh ... Anting ku kemana, sih? Kok ga ada, ya?" gumam Dania kesal karena tak bisa menemukan anting yang senada dengan dress yang dia kenakan di dalam kotak aksesorisnya.
"Nyari apaan sih, yank?" tanya Randy bingung.
"Anting aku lupa naronya, bantuin cari dong, yank." pinta Dania.
Randy menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya dan membantu Dania mencari anting yang Dania maksud.
Beberapa menit mencari Randy dan Dania tak juga menemukan anting itu.
"Pake yang lain aja, sih, yank." ucap Randy.
Dania mengerucutkan bibirnya dan duduk di atas tempat tidur.
Randy mengambil sepasang anting berlian kecil dan mendekati Dania.
"Pake yang, ini, aja." ucap Randy sambil memakaikan anting itu di telinga Dania.
Setelah selesai, Dania menatap dirinya di cermin dan tersenyum.
__ADS_1
"Boleh juga pilihan kamu, yank" ucap Dania.
"Enggak juga, itu karena kamunya yang cantik. Jadi, pake apa aja cocok." ucap Randy sambil tersenyum manis.
Dania tersenyum mendengar ucapan Randy.
"Dasar, si raja gombal" ucap Dania.
"Jujur sayang, Bukan gombal." ucap Randy dengan penuh penekanan.
"Iya, iya." Dania melangkah dan mengambil high heelsnya. Dia duduk di sofa dan akan memakai heels nya mebungkukkan tubuhnya.
"Tunggu dulu." Dania menatap Randy saat Randy memintanya untuk menghentikan kegiatannya.
"Bumil jangan kebanyakan nunduk kayak, gitu. Kasian dedenya sayang, biar aku yang pakein." ucap Randy dan langsung berjongkok membantu Dania memakaikan high heelsnya.
"Ngomong-ngomong emang boleh, yank, Ibu hamil pake high heels." ucap Randy.
"Ya, ga apa-apa kali, yank, aku bawa sepatu cadangan, kok. Kalau aku pegel, nanti aku ganti aja." ucap Dania.
Randy mengangguk dan membantu Dania berdiri.
"Yank tolong fotoin aku dulu, dong." ucap Dania.
Randy tersenyum dan mengambil ponsel Dania.
"Oke."
Tiga.
Dua.
Satu.
Cekrek.
"Duh, bumil, makin seksi, aja." ucap Randy sambil tersenyum melihat hasil foto Dania.
Randy pun mengembalikan ponsel Dania.
"Thank you, yank." ucap Dania.
Randy mengangguk dan memakai jasnya.
"Yuk, jalan sekarang." ucap Dania dan di angguki oleh Randy.
Mereka pun bergegas menuju tempat berlangsungnya pertunangan Riko.
Kurang lebih tiga puluh menit Randy dan Dania sampai di hotel tempat berlangsungnya acara pertunangan Riko.
Begitu memasuki Ballroom, wajah Randy langsung di tekuk saat melihat seseorang yang menyebalkan baginya.
Ya, siapa lagi kalau bukan Erick?
Erick tersenyum melihat Dania dan menyapa Dania.
"Hai, Dania." sapa Erick.
"Oh hai, Rick, kamu disini juga ternyata." ucap Dania.
"Iya, Om Bayu, ngundang kami sekeluarga" ucap Erick.
"Oh, Om, Hermawan disini juga." ucap Dania.
Erick mengangguk dan menunjuk ke arah orang tuanya yang tengah berbincang dengan orang tua Riko dan ternyata ada Papa dan Mama Dania juga disana.
Dania pun mengangguk.
"Kami kesana dulu, ya, Rick." ucap Dania dan di angguki oleh Erick.
Dania dan Randy pergi menyapa para orang tua yang tengah bernostalgia itu.
Setelah selesai menyapa, Dania pamit menuju toilet.
Dia pergi menuju toilet tanpa Randy.
Di perjalanan menuju toilet, Dania tak sengaja bertemu Riko. Riko pun menatap Dania dan tersenyum.
Riko dan Dania terus melangkahkan kakinya hingga kini jarak mereka hanya sekitar tiga langkah lebih dekat dan saling berhadapan.
"Hai." sapa Dania gugup.
Riko tersenyum dengan menatap intens pada Dania.
"Apa kabar?" tanya Riko.
"Baik." ucap Dania dengan masih gugup.
Jantung dania berdegup kencang, namun bukan berdegup layanya seseorang yang tengah jatuh cinta. Melainkan karena Dania turut bahagia melihat Riko yang sepertinya juga terlihat bahagia dengan pertunangan itu.
"Aku pikir,.kamu ga akan datang." ucap Riko dengan tersenyum manis.
"Kenapa aku ga dateng?" uap Dania.
"Ya, aku pikir kamu benci sama aku setelah apa yang aku lakuin sama kamu." ucap Riko.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Aku ga benci sama kamu, mana mungkin aku bisa benci sama sahabat kecil aku, yang selalu jagain aku dari kecil." ucap Dania sambil tersenyum tipis.
Riko tertegun mendengar ucapan Dania.
"Aku ga nyangka, ternyata kamu masih anggap aku sahabat kamu." ucap Riko sambil menatap tak percaya pada Dania.
Dania mengangguk da tersenyum.
"Yah, sampai kapan pun kamu adalah sahabat aku, Ko. Jujur aku pernah, sih, kesal sama kamu, mungkin, iya, sih, pernah benci, tapi perlahan rasa itu hilang saat Randy menyembuhkan segalanya " ucap Dania dengan mata berkaca-kaca dan sesaat kemudian air matanya membasahi pipinya.
Seketika Dada Riko terasa nyeri melihat Dania menangis.
Riko memeluk erat tubuh Dania dan Dania semakin terisak.
"Maafin aku, maaf untuk segala rasa sakit yang pernah aku goreskan di hati kamu. Aku nyesel, Dania. Aku mau kamu bahagia dengan kehidupan dan cinta baru kamu, karena itu aku berusaha keras melupakan segala perasaan aku sama kamu dengan menerima perjodohan ini, aku akan belajar mencintai perempuan lain, Dania" ucap Riko.
Dania semakin terisak di pelukan Riko dan bahkan sampai membasahi jas yang Riko kenakan.
Riko pun melepaskan pelukannya dan mengusap lembut Pipi basah Dania.
"Aku mohon jangan nangis lagi, ya, aku ga sengaja peluk kamu, barusan. Aku janji, ini yang terakhir kalinya aku meluk kamu, karena setelah ini aku akan peluk terus calon istri aku, dan biar kamu ga sedih lagi, nanti aku beliin lolipop kesukaan kamu." ucap Riko.
Dania yang tadinya menangis pun menjadi terkekeh mendengar ucapan Riko.
Saat kecil bila Dania menangis, Riko pasti akan menghiburnya dengan mebelikannya permen lolipop kesukaannya.
"Nah, kalau senyum, kan, cantik." ucap Riko dengan tersenyum.
Dania mengusap air matanya dan menatap Riko.
"Selamat ya, semoga kamu dan tunangan kamu bahagia." ucap Dania sambil tersenyum manis.
Riko mengangguk dan tersenyum.
"Kamu, juga." ucap Riko sambil mengusap kepala Dania.
"Aku ke toilet dulu, ya. Pasti riasan aku jadi hancur, deh, gara-gara nangis barusan." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.
Riko tersenyum melihat ekspresi Dania.
"Ya udah gih, aku juga mau balik ke Ballroom, acara udah mau di mulai, juga."ucap Riko.
Riko dan Dania pun berpisah.
Dan tak lama acara pertunangan Riko pun di mulai. Riko mau pun tunangannya tampak bahagia seperti mereka memang sepasang kekasih yang saling mencintai.
__ADS_1