Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 71


__ADS_3

Pukul 18.30 wib Randy dan Dania turun untuk makan malam. di lihatnya sudah ada Mama dan Papanya di meja makan.


Dania dan Randy terlihat canggung melihat sang Mama yang tengah tersenyum padanya. Mereka masih merasa malu karena siang tadi tak sengaja sang Mama memeregoki mereka saat melakukan pemanasan di dalam kamar.


"Loh, ada kalian ternyata." ucap Papa.


Randy dan Dania tersenyum dan menyalimi Papa Hamish.


" Gimana kabar Papa?" tanya Randy.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Oh, ya, gimana kondisi kamu sekarang? Masih suka mual, kah?" tanya Papa.


Randy menggelengkan kepala. Dia tak ingin mertuanya itu mencurigainya dan surprise yang akan di berikannya malah terbongkar.


"Udah enggak, Pa. Aku udah baikan." ucap Randy.


"Syukur lah, kalau gitu, ya , sudah kita makan dulu, Papa, laper." Mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang.


Setelah selesai makan malam, semuanya pindah menuju ruang keluarga. Mereka berbincang sambil menikmati acara di salah satu stasiun tv swasta.


"Oh, ya, sayang, Minggu depan Erick akan datang kesini." ucap Papa.


Dania menatap Randy yang ternyata randy juga tengah menatapnya, namun tatapannya terlihat muram.


"Mau ngapain, pa?" tanya Dania.


"Dia mau bahas proyek di Bangkok, Papa udah bilang, kamu ga bisa ke Bangkok dan Papa juga sibuk banget di kantor, jadi ga bisa kesana. Karena ifu dia yang akan datang kesini." ucap Papa.


"Maaf, Pa, Ma, aku ke kamar dulu." ucap Randy dan bergegas pergi dari ruang keluarga.


"Aku juga ke kamar dulu." ucap Dania dan pergi mengekori Randy menuju kamarnya di lantai dua.


Mama dan Papa pun saling tatap.


"Kayanya Randy langsung muram gitu, deh, Pa, pas denger nama Erick, jangan-jangan dia cemburu." ucap Mama rania.


"Ga apa-apa, cemburu tanda sayang." ucap Papa Hamish sambil tersenyum tipis.


"Papa sengaja, ya, sebut nama Erick di depan Randy' ucap Mama Raniaa menatap menyelidik.


"Enggak juga, Papa cuma bilang yang sebenernya. Memang minggu depan Erick bakalan dateng kesini. Lagian ini kan urusan kerjaan, Dania sama Erick juga profesional kok yang papa lihat." ucap Papa.


Mama Rania pun mengangguk.


Disisi lain Dania terus mengekori Randy.


"Yank .." panggil Dania.


Tak ada sahutan dari Randy, dia mengabaikan Dania dan masuk ke dalam kamar.


"Yank jangan marah, ini cuma urusan pekerjaan, yank." ucap Dania.


Lagi-lagi tak ada sahutan dari Randy, dia masih tetap diam.


Dania menghembuskan nafas perlahan dan mendekati Tandy yang tengah duduk d iatas tempat tidur dengan menyender di kepala tempat tidur.


"Aku janji ini pertemuan terakhir aku sama Erick, karena setelah itu, aku ga akan lagi pergi ke kantor." ucap Dania.


Randy melihat Dania dengan bingung, dia bingung mendengar ucapan Dania.


"Apa mksudnya?" tanya rmRandy.


"Ya, bulan depan aku udah ga kerja di kantor Papa, aku udah resign." ucap Dania.


"Apa? Kamu yakin?" tanya Randy memastikan.


Dania mengangguk dan tersenyum.


"Oke, aku izinin kamu ketemu si Erick buat yang terakhir kalinya, tapi aku ikut, yank." ucap rmEandy.


"Iya, iya." ucap Dania dan membuat Randy tersenyum lebar.


"Ayo turun lagi, masih jam segini, ga enak sama Mama sama Papa, kita ngobrol bentar di bawah" ucap Dania.


Randy mengangguk dan turun menuju ruang keluarga bersama Dania.


"Apa kalian mau dessert?" tanya Mama Rania.


"Boleh, Ma, bawain juga buat anak-anak." ucap Papa.


Mama Rania mengangguk dan pergi menuju dapur.


"Biar aku bantuin." ucap Dania dan di angguki oleh sang Mama.


Mama Rania dan Dania bergegas menuju dapur untuk mengambil dessert.


Sedangkan di ruang keluarga hanya tinggal sang Papa dan Randy.


"Oh ya, Rand, Gimana bisnis f&b kamu? Apa semuanya lancar?" tanya 0lapa hamish.


"Semuanya lancar, Pa, tinggal nunggu grand opening Outlet di Bali"ucap Randy


"Bagus lah, jadi target selanjutnya apa?" tanya Papa hamish.


"Masih banyak, sih, Pa, sebenernya yang belum kesampaian, tapi ya, itu, sebagian dari proses, aku, sih, nikmatin aja prosesnya." ucap Randy.


Papa pun mengangguk.


"Tadaaa dessertnya udah siap." ucap Dania sambil tersenyum dan meletakkan dessert pancake durian di atas meja.


Semua orang mengambil dessert itu tetapi tidak dengan Randy.

__ADS_1


Hoek.


Papa dan Mama menatap Randy terkejut karena tiba-tiba Randy merasa mual, dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi.


"Bentar, ya, Ma, Pa, aku lihat Randy bentar." ucap Dania dan bergegas menyusul Randy menuju kamar mandi.


Randy duduk di closet, matanya memerah dan kepalanya benar-benar pusing mencium aroma durian.


"Kamu baik-baik aja, yank." ucap Dania.


Randy menggelengkan kepalanya dan matanya terpejam.


"Sempah bau banget, eneg, yank, aduhhh ... perutku rasanya kaya di aduk-aduk." Randy pun bergidig terbayang bau durian yang masih terasa menempel di hidungnya.


Hoek.


Lagi-lagi Randy merasa mual, dia terus memegangi perutnya.


"Kalian sembunyiin sesuatu, ya, dari kami?" tanya sang Mama yang tiba-tiba berdiri di depan pintu kamar mandi. Ada Papa Hamish juga berdiri di depan pintu.


Dania dan Randy menatap sang Mama.


"Kenapa, diem?" tanya Mama Rania.


Dania dan Randy saling tatap, mereka ingin memberi surprise nantinya, tetapi Mamanya justru mencurigai mereka.


"Kalau kamu memang sakit, ya ,harus di obatin dong, Rand. Penyakit jangan di sembunyiin, Papa ada kenalan Dokter hebat di amerika, kamu bisa konsultasi sama dia, kita akan atur jadwal ketemu sama dia, nanti." ucap Papa Hamish.


Randy dan Dania menggelengkan kepala.


"Ga perlu, Pa." ucap Randy dan Dania bersamaan.


Papa dan Mama menatap Randy dan Dania dengan tatapan heran.


"Apa kalian yakin?" tanya Papa Hamish.


Randy dan Dania pun mengangguk.


"Ya sudah, kalian sebaiknya istirahat." ucap Mama Rania.


Randy dan Dania pergi menuju kamar, dan Randy langsung merebahkan tubuhnya.


"Mau tidur sambil peluk kamu, yank." ucap Randy dan Dania langsung merebahkan tubuhnya di samping Randy.


Randy memeluk perut Dania dan Dania mengusap lembut kepala Randy.


Tak menunggu lama, Randy langsung terlelap dan di susul dengan Dania yang juga mulai terlelap.


Keesokan paginya..


Randy kembali mual seperti biasa, tubuhnya benar-benar lemas.


"Duh .. Yank, aku ga kuat sumpah, yank." lirih Randy.


Dania merasa prihatin melihat kondisi Randy yang setiap pagi selalu merasa mual sampai-sampai meneteskan air matanya saking tak tahannya merasakan mual di perutnya.


Tok tok tok.


"Ini Bibi, non. Tuan sama nyonya sudah menunggu untuk sarapan di bawah." ucap Bibi.


Randy menatap Dania dan menggeleng.


"Jangan sampe Papa sama Mama lihat kondisi aku, yank, kasihan mereka, nanti khawatir." ucap Randy pelan.


Mereka tak menyahut ucapan Bibi, mereka sengaja agar Bibi mengira mereka masih belum bangun.


Tak lama, tak terdengar lagi suara Bibi, Randy merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ngidam ini luar biasa, ya, yank. Rasanya kaya di aduk-aduk perut ku, bisa gitu? ya, yank. Bikinnya enak, pas hamilnya, ngidamnya nyiksa bener, dah, ah." ucap Randy sambil tersenyum di tengah menahan rasa mual di perutnya.


Dania tersenyum dan mengusap lembut kepala Randy.


"Sabar ya, yank. Semangat, demi anak kitan" ucap Dania.


Randy mengangguk dan mengusap lembut perut Dania.


"Y, demi dia." ucap Randy sambil mengusap lembut perut Dania yang masih terlihat rata.


******


pukul 10.00 wib Randy dan Dania keluar dari kamar di karenakan kondisi Randy yang sudah lebih baik dan tak lagi merasa mual.


Randy dan Dania menuruni anak tangga mencari sang Mama setelah sebelumnya mencari ke kamarnya namun tak ada sang Mama disana.


"Mama di mana, ya, Bi?" tanya Dania pada Bibi yang tengah bersih-bersih.


"Nyonya ada di ruang tamu, Non, sedang ada tamu." ucap Bibi.


Dania mengangguk dan mengahmpiri sang Mama di ruang tamu bersama Randy.


"Kok ada mereka." ucap Randy yang menatap heran pada sepasang orang tua yang tengah duduk di ruang tamu, yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua dari Riko.


Dania menggelengkan kepala.


"Aku juga ga tahu, yank" ucap Dania.


Dania dan Randy mendekati sang Mama yang tengah berbincang dengan orang tua Riko.


Dania tersenyum pada Papa dan Mama Riko kemudian menyalimi mereka.


"Apa kabar, sayang?" tanya Mama Riko.

__ADS_1


"Baik, Tan, Tante sama Om apa kabar?" tanya Dania.


"Kami baik, sayang. Oh, ya, Tante punya kabar baik, loh." ucap Mama Riko dengan tersenyum manis.


"Oh, ya, apa tuh, Tan?" tanya Dania.


"Riko akan bertunangan, sayang." ucap mama Riko.


"Apa ..??" Dania membulatkan matanya terkejut mendengar ucapan mama Riko.


Randy menatap Dania dengan bingung.


"Iya, sayang, dua minggu lagi Riko akan bertunangan" ucap Mama Dania.


"Sama siapa, Tan? Aku ga pernah denger kalau Riko dekat sama cewek." ucap Dania.


"Ya , kami menjodohkan Riko dengan anak dari rekan bisnis kami, sayang." ucap Mama Riko.


"Apa Riko setuju? Maksud aku, apa Riko ga mikir-mikir dulu, Tan?" tanya Dania.


Randy mengerutkan dahi mendengar ucapan Dania.


"Kamu kenapa, sih, yank? dia mau tunangan, ya, bairin aja, sih. Ngapain kamu jadi repot begitu, sih?" ucap Randy sambil menatap Dania dengan penuh tanya.


"Iya, sih, ga apa-apa." ucap Dania sambil tersenyum kikuk.


"Kalau gitu selamat, ya, Tan, buat Riko." ucap Dania.


"Makasih sayang, kalian harus datang, ya."ucap Mama Riko dan di angguki oleh Dania.


Tak lama orang tua Riko pun pergi dari kediaman Hamish.


Puk.


Mama Rania menepuk bahu Randy, membuat Randy menatap Mama mertuanya itu.


"Jangan cemburu, mereka udah kayak adik kakak." ucap Mama dengan tersenyum manis.


Randy tersenyum dan mengangguk.


******


Pukul 15.00 wib Randy dan Dania pamit pulang pada sang Mama.


Randy dan Dania pun melajukan mobilnya setelah menyalimi sang Mama.


"Kita ngegym dulu, yuk, yank, aku udah lama ga ngegym"ucap Randy.


"Ayo yang di dekat rumah aja, yank, ngegym nya" ucap Dania.


"Emang ada, yank." ucap Randy.


"Ada, yang pas masuk pintu komplek, itu, loh, yank, yang lumayan gede juga tempatnya." ucap Dania.


Randy mengangguk dan beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat gym yang masih berada di lingkungan komplek perumahan tempat mereka tinggal.


Randy mengambil baju ganti yang memang sengaja dia siapkan karena dia memang suka pergi ke gym, namun memang semenjak sibuk dengan bisnisnya, Randy menjadi jarang punya waktu untuk ngegym.


Randy dan Dania memasuki tempat gym tersebut dan Randy langsung memasuki ruang ganti dan mengganti pakainnya. Sedangkan Dania menunggunya di dalam ruangan gym.


Tak lama Randy pun masuk dengan sudah berganti pakaian.


Ada beberapa orang di sana termasuk ada pelanggan wanita juga karena ruangan pria dan wanita memang menjadi satu.


Randy mulai melakukan pemanasan dan di lanjutkan dengan bermain barbel.


Dania terus memperhatikan sekeliling dan tak sengaja pandangannya melihat ke arah dua orang pelanggan wanita yang hanya memakai mini set yang menampilkan perut rata dan putih mulusnya, dan celana legging yang menampilkan lekukan panggul dan pahanya. Kedua wanita itu terus melihat ke arah Randy dan tersenyum sambil berbisik-bisik, entah apa yang mereka berdua bicarakan dengan pandangan yang tak lepas dari Randy.


mendadak dada Dania terasa sesak, suhu tubuhnya memanas melihat pemandangan tersebut yang jelas sekali terlihat kedua wanita itu menunjukan ke tertarikannya pada Randy.


Dengan cepat Dania menghampiri Randy dan membawakan mineral water untuk Randy.


"Uhh ... Sayang kamu pasti capek,kan, ini minum dulu yaa." ucad Dania manja sambil memberikan mineral water itu pada Randy.


Randy menatap bingung pada Dania dan mengambil mineral waternya.


"Makasih, yank." ucap Randy sambil tersenyum.


"Kok makasih, doang." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya dan menatap ke arah dua wanita yang masih terus memperhatikan Randy.


Randy semakin bingung dengan tingkah Dania, Randy pun mengikuti arah pandang Dania dan tersenyum.


Cup.


Randy mengecup pipi Dania.


"Makasih untuk mineral waternya, ya, istriku." ucap Randy sambil tersenyum dan menekankan kata istriku, membuat kedua wanita yang terus memperhatikan Randy membulatkan matanya terkejut. Kedua wanita itu pun langsung keluar dari ruang gym.


Dania tersenyum melihat kedua wanita itu tak ada lagi di ruangan gym.


"Seksi banget, sih, kalau lagi cemburu." ucap Randy sambil tersenyum manis.


Dania menatap malas pada Randy.


"Itu juga salah kamu,sampe mereka merhatiin kamu." ucap dania kesal.


"Kenapa jadi salah aku?" tanya Randy bingung.


"Ya, kamu terlalu seksi, sih." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


Randy pun tersenyum.

__ADS_1


"Isshh ..." Dania menepis tangan Randy dan menatap tajam pada Randy saat Randy mencubit bibirnya dengan gemas. Sedangkan Randy hanya terkikik melihat ekspresi kesal istrinya itu.


__ADS_2