Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 121


__ADS_3

Randy masuk ke dalam taksi dan meninggalkan kediaman Hamish.


Dia pun menghubungi orang suruhannya yang bernama Jorgie. Pria bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam, dia adalah Pria keturunan Ambon, wajahnya bahkan terlihat begitu sangar.


"Halo, gimana? Apa dia masih bungkam?"tanya Randy.


"Dia tak ingin mengatakan apapun, Bos. Dia tetap ingin bicara dengan Anda."ucap Jorgie.


Randy pun berpikir sejenak.


Sungguh semua ini begitu melelahkan untuknya. Apa jadinya jika Dania mengurus semuanya sendiri tanpa ada yang membantunya? Dania bahkan tetap tak melupakan kewajibannya sebagai Istri dan Ibu di tengah peliknya masalah yang menimpa keluarganya kini.


Dua hari yang lalu, Jorgie menangkap Pelaku yang membuat rem mobil Randy tak berfungsi . Padahal, Polisi begitu kesulitan mencari bukti tentang pelaku kecelakaan yang menimpa Randy.


Meski begitu, kasus itu tetap berjalan dan Polisi tetap melanjutkan penyelidikannya.


Hanya saja, Randy pun ikut mencari tahu tentang pelaku dengan menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu masalah tersebut.


Dan idenya dengan meminta bantuan pada Jorgie tidak lah sia-sia.


"Maaf, Bos. Anda baik-baik saja?"tanya Jorgie.


Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Dia tak ingin bertemu dengan orang itu, karena dia tak ingin kehilangan akal dan justru membunuh orang itu.


Randy yakin, orang itu bukanlah sengaja melakukan semuanya, melainkan ada orang yang sudah pasti memintanya untuk membunuh Randy.


Hanya saja, apa sebenarnya alasan orang itu sampai mau menyetujui suruhan dalang yang sesungguhnya untuk membuatnya celaka? Apa sebenarnya imbalan yang di tawarkan dalang yang sebenarnya itu pada pelaku yang merusak rem mobilnya? Apa karena dia menghormati atasannya itu?


Entah lah, mungkin memang satu-satunya jalan adalah dengan cara menemui pelaku perusak rem mobilnya itu.


"Oke, gue ke sana sekarang."ucap Randy.


Telpon itu pun berakhir dan Randy meminta sang supir untuk mengantarnya menuju salah satu tempat di mana Jorgie menyekap orang yang sudah membuat rem mobilnya menjadi tak berfungsi.


Randy pun menghubungi Dio, dan meminta Dio untuk mengawasi kediaman Hamish. Karena Randy tak ingin kehilangan jejak Dania sedikit pun.


Randy yakin betul Dania berada di kediaman mertuanya itu. Karena itu, dia tak diizinkan masuk oleh mertuanya.


Sesampainya di tempat penyekapan, yang tak lain adalah sebuah kontrakan kecil milik Jorgie yang berada cukup jauh dari keramaian yang berada di Daerah Cibinong, Bogor. Randy langsung turun dari taksi dan melihat sekeliling.


Tak ada siapa pun di sana, bahkan tak ada orang yang berlalu lalang di sana.


Randy pun membuka pintu kontrakan itu dan terlihat Jorgie yang tengah menyambutnya.


"Dimana dia?"tanya Randy.


"Di kamar, Bos."ucap Jorgie.


Randy mengangguk dan membuka pintu kamar.


Dia melihat wajah pelaku itu yang sudah tak berbentuk seperti wajahnya yang semula. Wajahnya begitu di penuhi lebam.


"Kenapa lo mukulin dia?"tanya Randy dengan menatap tajam ke arah Jorgie.


"Sorry, Bos. Dia coba melawan, makanya saya pukul."ucap Jorgie.


"Keluar lah."ucap Randy pada Jorgie.


Jorgie pun mengangguk dan keluar dari kamar setelah dia menutup pintu kamar itu.


Randy melangkah mendekati orang yang sedang terduduk lemah di atas kursi dengan tangannya yang terikat.


Dia menatap lekat wajah orang itu. Sungguh ironis, orang yang dia kenal selama hampir empat tahun itu dia pikir adalah orang yang baik , karena beberapa kali dia melihat orang itu begitu terlihat balik. Namun, nyatanya justru mengkhianatinya dan ingin membunuhnya.


Sungguh, jika ditanya apa yang paling Randy benci? Maka jawabannya adalah pengkhianat.


Bukan kah Randy suami Dania? Yang artinya Randy pun adalah termasuk bagian dari keluarga Dania? Lalu, kenapa orang itu justru ingin membunuh Randy? Bukankah dia akan menyakiti Dania? Karena semua orang tahu bahwa Dania begitu mencintai Randy.


Orang itu membuka matanya dan menatap sayu ke arah Randy.


Randy tersenyum sinis dan membungkukkan tubuhnya hingga kini kepalanya tepat sejajar dengan kepala orang itu.


"Gimana rasanya? Apa sakit babak belur begini?"tanya Randy.


"Mas Randy, Anda -"


"Ya, ini gue. Gue udah ingat semuanya. Apa lo kaget, hum?"tanya Randy.


Orang itu terdiam, dan sesaat kemudian terkekeh mendengar pertanyaan Randy.


Randy pun mengerutkan dahinya dan menatap bingung ke arah orang itu.


"Lo ga waras."ucap Randy dengan tersenyum sinis.


Orang itu semakin terkekeh mendengar ucapan Randy.


Randy pun emosi melihat orang itu yang terus terkekeh melihatnya dan justru tak menjawab ucapannya.


Randy mencengkram baju orang itu dengan cukup kuat, memaksanya agar mendongak menatap Randy.


"Siapa sebenarnya yang nyuruh lo? Gue tahu lo ga akan setega ini sama gue."ucap Randy.


Orang itu masih tetap terkekeh dan masih saja bungkam tak ingin menjawab pertanyaan Randy.


Randy pun semakin emosi dibuatnya.

__ADS_1


BUGH.


Satu pukulan mendarat diperut orang itu, membuat orang itu sampai meringis merasakan sakit.


"Lo masih ga mau ngomong, ha?"tanya Randy dengan menatap geram orang itu.


Lagi-lagi orang itu hanya bungkam.


"Gue masih berbaik hati, karena ga bikin lo dan keluarga lo ngalamin hal yang sama kaya apa yang gue alami. Asal lo tahu, gara-gara lo, keluarga gue jadi berantakan. Dan lo tahu juga pasti, kalau Dania lah yang lebih banyak menderita dalam kasus ini. Kalau lo ga bisa lihat gue, seenggaknya lo lihat Dania."ucap Randy masih dengan nada geram.


Ingin sekali rasanya dia menghajar habis-habisan wajah orang yang kini ada di hadapannya itu. Sayangnya, wajah orang itu justru sudah dibuat babak belur terlebih dulu oleh Jorgie.


Benar-benar orang itu tak tahu malu, membuat Randy menjadi emosi.


Orang itu pun menatap Randy dan tersenyum tipis.


"Bagus, lah. Itu artinya saya berhasil."ucap orang itu.


Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan orang itu.


"Apa maksud lo?"tanya Randy sambil kembali mencengkram kuat baju orang itu.


"Emang itu yang saya mau, saya mau keluarga anda berantakan dan anda celaka."ucapnya.


Randy mengepalkan kuat-kuat tangannya, rahangnya mengeras, napasnya memburu, dadanya begitu bergemuruh.


BRAK.


Randy menendang kursi yang ada di hadapannya dan akan menonjok wajah orang itu.


"Bukan saya saja yang terlibat." ucap orang itu.


Randy menghentikan tangannya dan tak jadi memukul orang itu.


Dia pun kembali menarik baju orang itu.


"Kalau gitu, kasih tahu siapa orang yang udah nyuruh lo. Dikasih imbalan apa lo sama dia, ha?" tanya Randy dengan geram.


"Karena anda sudah tahu yang sebenarnya, saya ga akan menutupi apapun lagi. Toh, anda pun majikan saya."ucap orang itu sambil tersenyum tipis.


Randy terkekeh mendengar ucapan orang itu.


"Sial, lo masih mikir gue ini majikan lo, sedangkan lo justru mau bunuh gue, ha? Lu emang bawahan kurang ajar, ngelunjak." ucap Randy dengan geram.


Randy pun tertawa dan mengusap wajah kasar.


BUGH.


Randy kembali memukul perut orang itu membuat orang itu sampai tak sadarkan diri.


"Sial, apa gue terlalu kuat mukul dia?" gumam Randy.


Dia pun keluar dari kamar itu dan melihat Jorgie yang tengah berdiri didepan pintu kamar.


"Cari tahu tentang kehidupannya lebih jauh lagi, cari tahu ada masalah apa sebenarnya dia."ucap Randy.


"Oke, Bos."ucap Jorgie.


"Awasi dia terus, gue ga mau sampai dia kenapa-kenapa. Obati lukanya."ucap Randy.


"Oke, Bos."ucap Jorgie.


Randy pun duduk di kursi ruang tamu dan membuka ponselnya.


Dia memesan taksi sekaligus memesan hotel yang berada di sekitaran Bogor.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya taksi pun sampai di kontrakan tersebut.


"Kabarin gue kalau dia udah sadar, gue nginep di hotel sekitaran sini."ucap Randy.


"Oke, Bos."ucap Jorgie.


Randy mengerutkan dahinya dan menatap Jorgie.


Entah mengapa Jorgie seperti tak memiliki jawaban lain selain "oke, Bos".


Jorgie pun menyengir kuda sambil menatap Randy.


Randy hanya menggelengkan kepalanya


dan masuk ke dalam taksi.


Taksi itu pun melaju menuju hotel yang sudah Randy pesan melalui salah satu aplikasi online.


Sesampainya di hotel bernama M-On* itu, Randy pun turun dan masuk ke dalam hotel. Dia meminta kunci pada resepsionis dan meminta resepsionis menyuruh room service untuk membelikannya dua pasang baju yang sesuai dengan ukurannya, karena dia tak membawa baju ganti.


Setelah itu, Randy pun pergi menuju kamar yang sudah dia pesan sebelumnya.


Randy menyegarkan dirinya terlebih dahulu dengan mandi, karena pagi tadi dia tak sempat mandi saking cemasnya saat dia tahu Dania dan anak-anaknya tak ada di apartemen.


Setelah beberapa saat, dia pun selesai mandi dan tak lama baju yang sudah dia pesan pun datang.


Randy pun mengambil baju itu dan memakainya.


Dia duduk di tepi tempat tidur dan tak lama ponselnya berdering.


Ada nama Gio di sana.

__ADS_1


"Halo, Yo."ucap Randy.


"Halo, Rand. Lo lihat berita sekarang, di stasiun tv X."ucap Gio.


Randy mengambil remote tv dan menyalakan tv.


Dia pun mencari stasiun tv yang Gio katakan.


Randy membulatkan matanya melihat berita terkini itu, berita yang tak lain adalah mengabarkan tentang Christ yang ternyata sudah di tangkap oleh polisi dengan dugaan pembakaran sebuah restauran.


"Akhirnya dia ditangkap juga."ucap Randy.


"Iya, gimana kalau kita ketemu, kita rayakan suksesnya terbongkar pelaku pembakaran restauran kita? Sheila juga lagi mau ke Jakarta. Kita udah lama ga ketemu."ucap Gio.


Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Gue ga bisa, Yo. Gue lagi di Bogor sekarang."ucap Randy.


"Oh, ya. Apa ada masalah?"tanya Gio.


"Cuma urusan kecil, semuanya baik-baik aja,kok."ucap Randy.


"Oke, kalau gitu, gue rayakan berdua aja bareng yayang gue."ucap Gio sambil terkekeh.


Randy pun tersenyum tipis.


"Iya, iya. Pacaran deh lo berdua, sana."ucap Randy.


Gio pun terkekeh dan menutup telpon itu.


Randy tersenyum dan menyimpan ponselnya.


Dia merasa senang, karena hubungan teman sekaligus rekan bisnisnya itu baik-baik saja sampai sekarang.


Berbeda dengannya, saat ini dia benar-benar di buat pusing dengan masalah yang datang bertubi-tubi. Sungguh dia berharap bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk dan dia ingin segera bangun dari mimpi buruk itu.


Randy melihat jam dan sudah pukul satu siang, dia pun turun menuju restauran yang masih berada di dalam hotel tersebut.


Hotel itu memang terbilang memiliki fasilitas yang komplit meski tak sebesar hotel-hotel berbintang, bahkan jauh sekali. Namun di sana pun terdapat beberapa fasilitas, seperti restauran, tempat karaoke, gym, dan spa.


Sesampainya di restauran, Randy memesan makan siangnya.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, pesanan makan siangnya pun datang dan dia langsung menyantapnya.


Ditengah kegiatan Randy yang tengah menyantap makan siangnya, ponselnya berbunyi dan ada sebuah notifikasi dari media sosialnya.


Randy membulatkan matanya dan menghentikan kegiatan makannya.


Dia membuka media sosialnya dan menatap lekat sebuah foto seorang wanita yang tengah duduk di kursi sebuah taman. Wanita itu berdiri di pinggir kolam renang dengan senyum indah yang tersungging di bibirnya.


Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Dania.


Senyum Dania begitu indah, namun Randy tetap dapat melihat adanya kesedihan di mata Dania.


Randy membaca caption yang tertulis di foto tersebut.


"Terkadang kita butuh waktu untuk diri kita sendiri, untuk kita dapat menyesuaikan segala sesuatu hal yang baru yang terjadi dalam hidup kita. Ada yang pernah mengatakan: "kita tidak akan pernah menemukan seseorang yang cocok dan memiliki kesamaan dengan kita. Memang benar, tak akan ada dua orang anak manusia yang akan memiliki kesamaan. Akan selalu terdapat perbedaan di dalamnya. Karena itulah, penting untuk saling jujur, terbuka dan saling memahami satu sama lain. Dengan begitu, tak akan ada salah satu pihak yang akan merasa tersakiti. Dan, meski perbedaan itu nyata terlihat, namun jika keduanya dapat saling menghargai perasaan satu sama lain, tentunya perbedaan itu tak akan terasa dan semuanya akan terasa mengalir begitu saja, hingga keduanya akan merasakan sebuah kecocokan satu sama lain."


Seketika Randy merasakan nyeri di dadanya, tiba-tiba saja rasa rindu itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia sungguh merindukan Dania, dia ingin memeluk dan mencium Dania.


Rasa rindunya bahkan tak dapat dia ungkapkan dengan apapun lagi.


Dia pun bangun dari duduknya dan meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, dia menatap dirinya di cermin besar yang berada di dinding samping tempat tidurnya.


Dia menatap lekat dirinya sendiri.


"Gue emang brengsek jadi orang, pantas, kok, Dania marah dan bahkan sampai pergi dari apartemen. Gue emang ga bisa jaga kepercayaan yang udah dia kasih. Gue sendiri benci sama yang namanya pengkhianatan, tapi kenapa gue harus mengkhianati Dania?" ucap Randy dengan masih menatap dirinya di cermin. Seolah dia tengah berbicara pada dirinya sendiri.


Randy terdiam sejenak. Dia tengah memikirkan sesuatu tentang Dania.


"Aku akan berikan kamu waktu sebanyak yang kamu mau, Yank. Aku juga butuh waktu untuk aku agar bisa secepatnya selesaikan masalah ini. Tapi, setelah itu kamu harus kembali sama aku. Kamu ga boleh ninggalin aku, kalau kamu berani tinggalin aku, akuĀ  bersumpah ga akan biarin hidup kamu tenang. Aku akan selalu menghantui kamu sampai kamu benar-benar balik lagi ke tempat kamu yang seharusnya, yaitu aku."batin Randy.


Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Ada perasaan menyesal dalam dirinya karena telah membohongi Dania, dia menyesal karena telah merahasiakan semuanya dari Dania. Namun dia tak memiliki pilihan lain selain melakukan semua ini demi untuk Dania, dia tak ingin Dania terluka ataupun bersedih. Karena itu dia meminta Polisi agar mengatakan pada Dania, bahwa kasus kecelakaan Randy sudah di tutup, dan tak ada campur tangan orang lain, melainkan kecelakaan itu memang real karena kesalahan teknis.


Namun sayangnya, dia justru membuat Dania terluka dan menangis.


Dia sungguh mengutuki kebodohannya.


Seharusnya, apapun yang terjadi dia memang harus memberi tahukan segalanya pada Dania. Sudah hampir empat tahun dia berumah tangga dengan Dania dan dia tahu Dania adalah wanita yang kuat dan tegar.


Tak hanya cantik fisiknya saja, di mata Randy, Dania adalah mahluk Tuhan paling sempurna. Meski tak ada yang sempurna di dunia ini selain dia Sang Maha Pencipta, namun cinta sudah membutakan hatinya.


Dia benar-benar tergila-gila pada Dania. Rasa itu bahkan sudah ada dengan tanpa dia sadari saat Dania masih menyamar menggunakan kacamata dan juga tompel di pipinya. Entah apa yang membuat Dania yang berpenampilan dengan tompel nya itu begitu menarik di mata Randy, rasanya seperti ada magnet kuat yang menarik dirinya untuk masuk kedalam dunia Dania.


Namun, satu hal yang membuatnya ketakutan saat ini.


Bagaimana jika ketakutannya itu menjadi kenyataan dan Dania tahu semua itu?


Bagaimana jika Dania mengetahui rencananya dan kemudian Dania menjadi terluka dan terpuruk? Sungguh dia tak akan sanggup melihat Dania menderita, mungkin dia pun tak akan dapat bertahan jika melihat Dania jatuh dan terluka.


Randy menghembuskan napasnya dan merebahkan tubuhnya.


Rasa kantuk pun mulai menerjangnya. Dia akan mengistirahatkan pikirannya terlebih dulu.

__ADS_1


Setelah ini, dia pasti akan menghadapi masalah yang lebih pelik.


__ADS_2