Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 57


__ADS_3

Cup.


Cup.


Cup.


Randy terus mengecup gemas perut Dania sambil mengelus lembut perut Dania yang sudah mulai terlihat menonjol. Kini usia kehamilan Dania sudah memasuki minggu ke empat belas. namun yang empunya perut masih saja terlelap.


"Morning, baby, kamu baby girl, or baby boy, sih? Kok, udah ga sabar, ya, pengen main sama kamu." Randy berbicara seolah sang baby yang masih di dalam perut itu tengah mendengarnya.


"Kamu sehat-sehat, ya, baby, di perut Mommy. Kami semua nunggu kamu, loh, baby." ucap Randy sambil masih terus mengelus lembut perut Dania dari dalam dress tidur yang Dania kenakan.


Dania membuka matanya karena merasakan usapan lembut Randy.


"Iya, Papa, aku pasti sehat-sehat, kok. Papa maunya, aku, baby boy, or baby girl, hayoo?" Dania berbicara dengan suara cempreng seperti anak kecil dan Randy pun menatap Dania sambil tersenyum.


"Apa aja, baby, yang penting kamu sehat dan Mommy kamu juga sehat. Tapi kalau bisa, Papa, sih, berharap kalian itu kembar. Kalau perlu, langsung kembar sepuluh, ya, baby. Lima baby girl, dan Lima baby boy." ucap Randy dan tersenyum lebar.


Dania menatap Randy dengan tatapan tajam. Sementara, Randy hanya tersenyum polos.


"Biar sakitnya sekali doang, yank." ucap Randy.


Dania menggelengkan kepala dan menatap Randy dengan malas.


"Amit-amit deh, ya, ga kembar sepuluh juga, lah. Ngeri banget, ih, bisa jebol aku, yank." ucap Dania.


"Ga apa-apa, yank, nanti tinggal aku rapetin lagi." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania pun terkekeh mendengar ucapan Randy.


"Dasar mesum, mandi sana, ih, bau banget, deh." ucap Dania sambil mendorong tubuh Randy.


"Aarrgghh ... Aduh, kamu mau ngapain, sih?" Dania tersentak saat Randy menggendongnya.


"Kita mandi bareng." ucap Randy.


Randy menggendong Dania ke kamar mandi dan Randy langsung membuka satu persatu pakaiannya hingga kini polos lah sudah.


"sini aku bukain baju kamu" ucap randy.


dania menggelengkan kepalanya dan tersenyum menggoda Randy.


Randy tersenyum dan langsung menarik Dania kepelukannya.


"Dasar, nakal." ucap Randy.


Dania pun terkekeh mendengar ucapan Randy.


Randy mengecup bibir merah muda Dania. Perlahan kecupan itu pun menjadi sebuah lumatan yang lembut.


Randy begitu menikmati nya dan semakin memperjauh aktivitasnya dan keduanya semakin memanas.


Randy bahkan semakin gencar mempercepat kegiatannya, berharap ingin segera mengeluarkan sesuatu yang sudah berada di bawah perutnya.


Hingga beberapa menit berlalu.


"Aaarrggghhh ... Sakit, sakit."


Belum sempat Randy mencapai kenikmatannya, Dania justru memekik saat merasakan sakit di bagian perut bawahnya.


Randy pun langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Dania dengan cemas.


"Kamu ga apa-apa, yank? Mana yang sakit?" tanya Randy cemas.


"Perut aku, sakit." ucap Dania sambil memegangi perut bawahnya yang terasa sakit.


Randy pun panik dan segera menggendong Dania keluar dari kamar mandi. Randy tak peduli lagi miliknya masih terasa sakit karena gagal mendapatkan kenikmatnnya.


Randy membaringkan tubuh Dania dan memakai pakaiannya. Randy juga memakaikan pakaian Dania dan bergegas membawa Dania ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Dania langsung di bawa ke UGD.


Sedangkan, Randy menunggu di luar ruangan dengan cemas.


Randy langsung menghubungi orang tuanya dan mertuanya.


Beberapa menit berlalu dan dokter masih belum keluar dari ruangan Dania.


"Gimana, keadaan dania?" tanya Mama Dania yang baru saja datang.


Randy mengusap wajah kasar dan menggelengkan kepala.


"Belum tahu, Ma. Dokter belum keluar."ucap Randy.


Mereka semua panik, takut sesuatu terjadi pada Dania dan bayinya.


Tak lama, Dokter keluar dan Randy bergegas menghampiri Dokter.


"Gimana keadaan istri saya, Dok? Istri saya ga apa-apa, kan, Dok? Terus, bayinya juga baik-baik aja, kan?" tanya Randy cemas.


Dokter tersenyum dan mengangguk.


"Tolong ikut saya, sebentar." ucap Dokter.


Randy mengangguk dan ikut masuk ke dalam.


Tetapi belum sampai masuk ke dalam ruangan, Mama Dania meminta ikut masuk karena cemas pada putrinya itu.


"Kalian semua, boleh masuk." ucap Dokter.

__ADS_1


Mereka pun masuk ke dalam ruangan dan melihat Dania yang tengah berbaring dan tersenyum menatap mereka semua.


Randy langsung berhambur memeluk Dania.


"Kamu baik-baik aja, kan, yank? Apa masih sakit?" tanya Randy.


Dania mengangguk dan tersenyum.


"Aku ga apa-apa, kok. Nih, aku baik-baik aja. Iya, kan, Dok." ucap Dania sambil menatap sang dokter.


Dokter pun mengangguk.


Randy dan para orang tua merasa bingung karena Dania terlihat baik-baik saja.


"Apa yang sebetulnya terjadi pada anak saya, Dok?" tanya Mama Dania.


"Pasien baik-baik saja, dan tak perlu di rawat inap. Dia hanya mengalami kram perut, dan itu terjadi di akibatkan hentakan yang terlalu kuat. Saya sarankan, pada saat berhubungan intim, sebaiknya bermain pelan saja, ya, karena kasihan janinnya masih sangat muda." ucap Dokter sambil tersenyum dan menatap Randy.


Randy membulatkan matanya, terkejut. Dia tak menyangka dokter tahu kalau dia dan Dania sempat berhubungan intim.


Setelah Dokter menjelaskan keadaan Dania, Dokter pun pamit.


Randy tersenyum kikuk menatap para orang tua itu. Sedangkan Papa Dania menatapnya malas.


"Kamu ini, benar-benar, sudah tahu istri sedang hamil." ucap Papa Dania dengan kesal.


Randy menggaruk kepalanya yang tak gatal itu dan tersenyum kikuk menatap sang mertua.


"Maaf, Pa, aku kebablasan." ucap Randy.


Mama Dania dan Mama Randy hanya tersenyum melihat Randy.


Mereka sudah sangat panik begitu mendengar kabar Dania masuk ke rumah sakit, mereka takut terjadi sesuatu pada Dania dan bayinya. Namun ternyata itu hanya kram perut karena Randy yang ceroboh dan terlalu bermain kasar.


******


Pukul 15.00 wib Rndy dan Dania sampai di rumah.


Randy langsung menggendong Dania ke kamarnya dan membaringkan Dania di tempat tidur.


Tok tok tok.


"Maaf, Non, ini ada kiriman bunga." ucap Bibi.


Dania mengambil buket bunga mawar itu dan mengambil kartu ucapan yang ada di bunga tersebut.


"Get well soon for you, dania"


Dania mengerutkan dahinya membaca kartu ucapan tersebut.


"Kok ga ada nama pengirimnya, ya." ucap Dania.


"Taadi kurir yang nganter, den." ucap Bibi.


Randy pun mengangguk dan Bibi pamit meninggalkan kamar Randy.


Randy menatap Dania dengan tatapan menyelidik, sedangkan Dania langsung menggidigkan bahunya.


"Aku ga tahu ini dari siapa? Apa mungkin ini dari Mama, ya?" ucap Dania.


Pasalnya, tak ada yang tahu keadaan Dania selain keluarganya.


"Iya, kali." ucap Randy dan langsung masuk ke kamar mandi untuk memebrsihkan tubuhnya karena tadi pagi dia tak sempat mandi. Jadi, badannya terasa lengket.


Sedangkan Dania langsung memejamkan matanya karena merasa lelah dan mengantuk.


*****


Dania terbangun dari tidurnya. Dia melihat sekeliling kamar namun tak ada Randy. Dia pun keluar dari kamar dan mencari Randy ke ruang kerjanya. Benar saja Randy ada di ruang kerjanya dan sedang bicara dengan seseorang di telpon. Randy yang menyadari kehadiran Dania pun langsung mematikan ponselnya dan menghampiri Dania.


"Gimana tidurnya, apa nyenyak?" tanya Randy.


Dania mengangguk dan memeluk Randy.


"Kamu telpon siapa, yank?" tanya Dania.


"Si Dio telpon, katanya minggu depan, mau ada reuni akbar di sekolah SMA kita." ucap Randy.


"Terus gimana? Kita datang ga." tanya Dania.


"Aku terserah kamu aja, tapi, kayaknya kita harus dateng, dehn yank." ucap Randy dan di balas anggukan oleh Dania.


******


*S**eminggu kemudian, tepatnya acara Reuni Akbar di sekolah*.


Pukul 09.00 wib Dania tengah bersiap karena rencananya hari ini akan menghadiri acara reuni akbar yang di adakan sekolah.


Sedangkan Randy sudah siap lebih dulu.


Randy tengah duduk di sofa sambil memperhatikan istrinya itu yang tampak kebingungan memilih baju.


"Duh, pake yang mana, ya, yank? Aku bingung." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Pake dress, aja, kalau pake celana nanti sesak. Perut kamu, kan, udah mulai endut, tuh, yank. Kasihan dedenya, nanti ketekan" ucap Randy.


Dania mengangguk dan memilih memakai dress hitam selutut.


Setelah selesai, mereka pun bergegas menuju acara reuni yang di adakan di sekolah.

__ADS_1


Karena sudah janjian sebelumnya dengan Mia dan Ina. Begitu sampai di sekolah, Dania langsung berbaur dengan Mia dan Ina, juga teman seangkatan lainnya.


Sedangkan Randy juga langsung berbaur dengan Dio dan teman-teman seangkatan lainnya.


Dari kejauhan, tampak seorang pria yang seangkatan dengan Dania terus memperhatikan Dania.


Pria itu pun menghampiri Dania.


"Hai, Dania." sapa pria itu.


Dania melihat dan tersenyum menatap pria itu yang juga tersenyum padanya.


"Oh, hai, baim." ucap Dania.


"Apa, kabar?" tanya Baim.


"Yah, seperti yang kamu lihat, kabar baik. Kamu sendiri, apa kabar?" tanya Dania.


"Aku, baik." ucap Baim.


Dania, Mia, Ina dan Baim pun lanjut berbincang.


Pandangan Dania tak sengaja menatap ke arah Randy, dan seketika wajah Dania memerah menahan emosi, tangannya bahkan terkepal saat melihat Randy dekat dengan seorang wanita yang tak lain adalah Sasha.


"Aku kesana sebentar, ya." ucap Dania pada teman-temannya sambil menunjuk ke arah Randy.


Dania pun bergegas menghampiri Randy dan langsung memeluk lengan Randy sambil *** kuat lengan Randy.


"Auw ... Yank, kenapa?" tanya Randy sambil meringis kesakitan.


Dania melotot menatap Randy.


"Jangan macem-macem, inget, ya, kamu udah mau jadi Bapak." ucap Dania sambil menatap Randy tajam.


Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania, sesaat kemudian Randy pun mengerti saat mengikuti pandangan Dania yang tengah menatap tajam pada Sasha.


"Santai aja, kali, gue bukan pelakor." ucap Sasha sambil.tersenyum sinis pada Dania.


Dania menatap malas pada Sasha dan langsung menarik Randy untuk menjauh dari Sasha.


"Duh, bumil sensitif banget, deh.


Jangan cemberut gitu, dong, orang aku ga ada apa-apa sama, si Sasha. Kami cuma sekedar saling sapa aja." ucap Randy.


"Tetap aja, aku ga suka." ucap Dania.


Randy pun tersenyum dan memeluk pinggang Dania.


"Ayo kita sapa Guru-guru." ucap Randy.


Dania mengangguk dan mereka bergegas menyapa para Guru.


Ramai sekali yang datang ke acara reuni akbar ini, dan suasana menjadi lebih ramai saat para emak-emak sudah berceloteh ria.


Dania pun menyapa Kepala Sekolah, yang tak lain adalah Hans, adik dari Mamanya.


Setelah selesai menyapa Kepala Sekolah dan guru-guru, Dania pun merasa lapar dan ingin memakan sesuatu. Pandangannya menatap ke arah kue-kue yang ada diatas meja. Sementara Randy masih sibuk berbincang dengan teman-temannya.


"Aku ambil kue dulu, ya, yank." ucap Dania.


"Mau aku anterin." ucap Randy.


"Ga, usah, orang deket, kok." ucap Dania.


Randy pun mengangguk dan membiarkan istrinya itu pergi sendiri.


Begitu sampai di meja kue, Dania langsung mengambil piring dan beberapa kue.


Ada kue kesukaannya di sana, dan saat dia akan mengambil kue tersebut, letaknya agak jauh dari pinggir meja, jadi Dania agak kesulitan mengambilnya.


Dania tersentak saat ada seseorang yang meletakan kue yang dia inginkan di piringnya.


Dania melihat kearah orang itu. Orang itu yang tak lain adalah Riko, dia menatap Dania dan tersenyum.


"Masih aja ga berubah, seneng banget makan kue itu." ucap Riko dan tersenyum.


"Eh, iya, nih, habisnya enak." ucap Dania.


Riko pun mengangguk.


"Apa masih mau lagi?" tanya Riko.


Dania mengangguk, mulutnya penuh karena terus mengunyah kue.


Riko pun terkekeh melihat Dania.


"Dasar, udah mau jadi Ibu, tapi masih aja kayak anak kecil." ucap Riko sambil memberikan tissu pada d


Dania.


Dania pun tersenyum dan mengambil tisu tersebut.


Entah mengapa, Dania tak lagi takut pada Riko. Justru yang Dania lihat, Riko kembali seperti dulu lagi saat mereka masih dekat, hangat.


Riko mengambil satu gelas minuman dan akan memberikannya pada Dania,


Prank.


Gelas yang Riko pegang jatuh ke lantai setelah seseorang menepis tangan Riko dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2