
Pukul 01.00 wib Dania terbangun dari tidurnya karena perutnya merasa lapar dan ingin memakan sesuatu.
"Yank." Dania menepuk pelan pipi Randy. Randy pun terbangun dari tidurnya, namun tak membuka matanya.
"Yank, bangun." ucap Dania.
Tetapi Randy tetap tak membuka matanya.
Dania pun menjadi kesal.
Brugh.
"Eugghh ... Duh, ngapain, sih, yank?" Randy terbangun dan setelah dania **** perutnya.
"Bangun, dong, yank, aku laper, nih." rengek Dania.
Randy pun mengangguk dan Dania mendudukan dirinya di tempat tidur.
"Kamu mau makan apa, sih , emang, yank?" tanya Randy.
Randy pun melihat jam di samping tempat tidurnya.
"Mau, makan, egg tart." ucap Dania.
Randy pun mengerutkan dahinya.
"Di jam segini, mana ada yang buka, yank" ucap Randy.
Dania menggelengkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
"Pokoknya, aku mau makan egg tart yang di jual di restauran kita, yank" ucap Dania.
Randy mengusap wajah kasar dan menatap Dania malas.
"Yang bener aja, dong, yank, jam segini restauran udah tutup." ucap Randy.
Bugh.
"Kamu apa-apaan, sih?" tanya Randy dengan nada kesal saat Dania memukul dadanya.
"Kamu yang, apa-apaan? Ini, juga ke inginan anak kamu, yank."ucap Dania dengan nada kesal.
Randy menghembuskan nafas kasar dan turun dari tempat tidur.
"Mau, kemana, kamu? tanya Dania.
"Ke Restauran." ucap Randy.
"Kamu ga ikhlas nurutin kemauan anak kamu? Kalau ga ikhlas, ga, usah pergi sekalian, biarin aja anakmu ngeces, nantinya" ucap Dania dengan nada kesal.
"Kamu maunya, apa, sih?" tanya Randy.
Randy merasa lelah sebetulnya, dia benar-benar mengantuk dan ingin beristirahat. Namun apa daya, istrinya itu malah mengidam di tengah malam seperti ini.
"Habisnya, kamu, jawabnya ketus kaya? gitu, kalau ga ikhlas, bilang, aja." ucap Dania sendu.
Matanya kini memerah.
Dania memegangi perutnya yang terasa lapar.
Randy yang melihat perubahan wajah istrinya itu pun menjadi tak tega dan langsung memeluk nya.
"Maaf, yank, aku bukannya, ga ikhlas, aku ikhlas, kok, makanya, aku mau pergi sekarang buat ngambil egg tart yang kamu mau."ucap Randy sambil mengelus lembut punggung Dania.
Randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania dengan rasa bersalah.
"Yank jangan nangis, please, aku pergi sekarang, deh. Kamu tunggu di sini, ya"ucap Randy.
Dania pun menggelengkan kepala.
"Aku, mau, ikut." rengek Dania.
"Udah malem, yank, ga baik buat Ibu hamil."ucap Randy.
Dania menundukkan kepala dan air matanya malah semakin menetes.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Ya? udah ayo"ucap randy.
dania tersenyum lebar dan mengangguk.
Sesampainya di Restauran, Randy langsung menuju pantry dan beruntunglah masih ada stok egg tart di sana.
Randy langsung menatanya di piring dan membawanya pada Dania.
Dania pun langsung melahapnya.
Randy tersenyum melihat istrinya itu makan dengan lahap. Rasa lelah dan kantuknya hilang seketika melihat istrinya itu bahagia karena mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sederhana saja sebetulnya, tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang Ibu hamil selain mendapatkan apa yang dia inginkan.
******
Kni kehamilan Dania sudah memasuki minggu ke sepulu.
Dania meminta Randy mengantarnya menuju Mall yang berada di Daerah Jakarta Selatan.
Karena ini hari minggu, Randy tak pergi ke kampus atau pun Office.
Dania dan Randy menyusuri Mall dan mata Dania tertuju pada departemen store yang khusus menjual perlengkapan bayi.
"Yank kesini dulu, yuk." ucap Dania.
Randy mengangguk dan mengekori Dania memasuki departemen store tersebut.
Dania melihat baju-baju bayi yang lucu dan dia langsung tersenyum lebar. Dia pun memilih beberapa baju-baju bayi.
"Ini lucu semua, kan, yank? Anak kita pasti lucu pake, ini." ucap Dania sambil menujukkan baju-baju bayi pada Randy.
"Iya lucu, yank, mau, beli." ucap Randy.
Dania mengangguk dan mengambil banyak baju bayi. Randy terkejut melihat belanjaan Dania yang begitu banyak.
"Banyak banget , yaank, belinya. Kita aja belum tau, bayinya cewek, apa, cowok."ucap Randy.
"Ya, makanya, aku belinya warna-warna netral, yang bisa di pake cewek, atau cowok."ucap Dania.
__ADS_1
Randy mengangguk dan membiarkan istrinya itu membeli apa saja yang di inginkannya.
Setelah puas memilih baju bayi, pandangan Dania tertuju pada box bayi berwarna putih.
"Yank beli box bayi itu, yuk." ucap Dania.
"Apa ga nanti aja, yank? Bayi nya, kan, masih lama lahirnya." ucap Randy.
Dania langsung mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya. Dia melangkah meninggalkan Randy, namun baru dua langkah, Randy langsung menahan tangannya.
"Ya, udah, kita beli." ucap Randy.
Dania pun mengangguk dan tersenyum lebar.
Randy tersenyum melihat istrinya itu tersenyum. Dia tahu, istrinya itu terlalu bersemangat karena kehamilannya. Jadi, ingin cepat-cepat membeli segala keperluan bayi. Padahal bayi mereka baru akan lahir kurang lebih tujuh bulan lagi.
Setelah selesai membeli keperluan bayi, Randy dan Dania memilih untuk makan siang. Saat ini Randy dan dania sudah berada di salah satu Restauran yang masih berada di dalam Mall.
"Kamu aja yang pesan, yank, aku ikut, aja." ucap Randy.
Dania mengangguk dan langsung membuka menu dan melihat-lihat menu. Dania pun memesan banyak sekali makanan.
Pelayan itu terkejut melihat pesanan Dania yang begitu banyak.
Randy pun tersenyum melihat ekspresi pelayan itu.
Setelah selesai memesan, dua puluh menit kemudian pesanan datang. Mereka pun menyantap makan saing mereka. Semua pesanan yang Dania pesan pun habis tak tersisa.
Setelah selesai makan siang, mereka memilih berkunjung ke Kediaman Hamish. Sedangkan belanjaan mereka sudah di antar lebih dulu ke rumah mereka.
Sesampainya di Kediaman Hamish, Randy dan Dania memasuki ruang tamu, tak ada siapa pun di sana.
Dania pun pergi menuju kamar orang tuanya dengan Randy yang mengekori di belakangnya.
"Pa, Ma." panggil Dania.
Papa dan Mama Dania melihat ke arah Dania.
"Loh, sayang, kalian kapan dateng?" tanya Mama dan mendekati Dania.
Dania dan Randy menyalimi Mama dan Papa.
"Baru aja, Ma, Mama sama Papa, apa, kabar?" tanya Dania.
"Kami baik, sayang, gimana cucu Mama di dalam perut? Dia sehat, kan?" tanya Mama.
"Iya, sehat, Ma, kami baru aja belanja keperluan bayi." ucap Dania sambil tersenyum lebar.
"Apa? Kenapa beli keperluan bayi sekarang, sayang? Harusnya nanti, saat sudah tujuh bulan, baru, deh, kalian belanja keperluan bayi." ucap Mama.
"Emang apa bedanya sekarang, sama, nanti?" tanya Dania.
"Kalau kata orang tua dulu, itu, pamali sayang. Dulu, waktu mama belanja baju bayi, pas kamu masih usia 4 bulan di perut, Mama, eh, malah ada yang bilang, gini, sama Mama.
"Kalau masih hamil muda, jangan dulu beli perlengkapan bayi, pamali, nantinya, suka ada kejadian." ucap Mama.
Dania mengerutkan dahinya.
"Kejadian apa maksudnya, Ma?" tanya Dania bingung.
Dania dan Randy pun terkejut dan mereka saling tatap. Randy menggenggam tangan Dania dan tersenyum.
"Sekarang, kan, udah jaman apa, Ma? Kami ga percaya kaya begituan." ucap Randy.
Mama Dania pun mengangguk.
"Ya, semoga cucu Mama, sehat selalu, ya, sayang." ucap Mama sambil tersenyum dan mengelus lembut perut Dania.
"Ehheumm ... Karena kalian, ada, di sini. Dania, Papa ingin bicara berdua saja, sama kamu." ucap Papa.
Dania menatap Randy.
Randy pun tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, Pa." ucap Dania.
"kita bicara, di ruangan Papa." ucap Papa.
Dania mengangguk dan mengekori sang Papa pergi ke ruangannya.
Sementara Randy langsung pamit ke kamarnya dan beristirahat.
Menemani istrinya itu belanja, membuatnya agak lelah.
Di ruangan Papanya, Dania kini tengah duduk berhadapan dengan Papanya.
"Jadi, Papa, mau ngomong apa?" tanya Dania.
Papa Dania menghembuskan nafas perlahan dan menatap Dania.
"Apa kamu, ga kepikiran, untuk, kuliah?" tanya Papa.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Untuk saat ini, belum kayaknya, Pa. Aku masih menikmati peran aku sebagai istri, apalagi sebentar lagi, aku jadi Ibu." ucap Dania.
"Tapi kamu pewaris tunggal kerajaan bisnis, Papa, Dania. Kamu akan menggantikan posisi, Papa, suatu saat, nanti. Kalau kamu ga belajar lebih tinggi, bagaimana bisa, kamu memimpin perusahaan?" ucap Papa.
Dania tersenyum dan menggenggam tangan sang Papa.
"Aku ngerti, Pa. Tapi aku belum bisa kuliah sekarang-sekarang, ini. Atau gimana kalau, Papa, kasih aku beberapa berkas perusahaan, aja, biar aku bisa pelajari di rumah? Aku juga agak lenggang, kok, di rumah. Dari pada suntuk juga, kan." ucap Dania.
Papa Dania pun mengangguk.
"Baik lah, sayang, gimana kalau besok kamu datang ke kantor? Untuk mengikuti meeting membahas beberapa proyek baru?" ucap Papa.
Dania mengerutkan dahinya.
"Apa ga terlalu cepat, Pa? tanya Dania.
"Kamu cukup dengarkan saja, sayang, sekalian kamu pelajari poin-poin pentingnya" ucap sang Papa.
"aku bilang dulu, ya, sama, Randy. Gimana pun juga, Randy harus tahu, kan, Pa?" ucap Dania.
"Baik, lah."ucap Papa.
Setelah selesai bicara, Dania pun pamit ke kamarnya.
__ADS_1
Di lhatnya Randy yang sedang tiduran sambil memainkan ponselnya.
"Udah selesai, yank." ucap Randy.
Dania mengangguk dan mendudukkan dirinya di samping Randy.
Randy pun bangun dan mendudukkan dirinya.
"Papa bilang, apa?" tanya Randy.
"Papa mau aku datang ke kantor besok, buat ikut meeting membahas proyek baru." ucap Dania.
"Terus." ucap Randy.
"Ya, kamu ngizinin aku, ga? Aku, sih, gimana kamu, aja." ucap Dania.
Randy pun berpikir sejenak.
"Papa minta kamu ikut meeting di kantor, bukan berarti kamu di suruh, kerja di perusahaannya, kan? Kamu lagi hamil, loh, yank, ga boleh terlalu capek, apalagi stres." ucap Randy.
"Enggak kok, Papa cuma minta aku dengerin aja, sambil mencatat poin pentingnya, Papa juga mau kasih aku beberapa berkas perusahaan, untuk aku pelajari. Sebenernya, Papa maunya aku kuliah, dulu. Tapi aku belum kepikiran, aku terlalu menikmati peran aku sebagai istri kamu, yank. Jadi, aku ga tega ninggalin kamu. Kalau aku kuliah, otomatis aku bakalan sibuk." ucap Dania.
Randy tersenyum dan menggenggam tangan Dania.
"Papa benar, kamu masih muda, yank, masa depan kamu masih panjang, loh. Kamu harusnya mulai kuliah, tahun, ini." ucap Randy.
Dania pun menggelengkan kepala.
"Aku belum kepikiran buat sekarang, mungkin nanti aku akan masuk kuliah, tapi, ga, sekarang. Lagi pula, Papa mau aku kuliah, karena Papa kahwatir aku ga bisa menggantikan posisi dia, makanya, tadi aku minta beberapa berkas perusahaan untuk aku pelajari di rumah, dan Papa setuju, kok. Biar aku ga suntuk juga, sih, dirumah." ucap Dania.
Randy mengangguk dan mengelus lembut kepala Dania.
"Aku izinin, kok, kamu ikut meeting besok, tapi, ga boleh terlalu stress, ya." ucap Randy.
Dania mengangguk dan memeluk Randy.
"Makasih, yank." ucap Dania.
"Eemmm .. Sama-sama, yank." ucap Randy.
******
keesokan harinya.
Seesuai janjinya, hari ini Dania datang ke kantor untuk menghadiri meeting.
Pukul 09.00 wib Dania sudah berada di ruang meeting bersama Papanya.
Dania duduk di kursi yang sudah di siapkan dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok yang tengah duduk di hadapannya, sosok itu tak lain dan tak bukan adalah Riko, sedangkan di samping Riko ada Papanya Riko.
Riko tak menatap Dania sama sekali, bahkan ketika Dania melihat ke arahnya, pandangan Riko tetap fokus menatap layar besar itu.
Dania mengerutkan dahinya melihat Riko yang tampak acuh.
Dia merasa ada yang aneh dengan Riko, tak seperti biasanya. Riko biasanya akan tersenyum pada Dania atau mengganggunya, tetapi berbeda dengan kali ini, Riko terlihat dingin dan acuh.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
"Bodo amat, ah." batin Dania.
Tak lama meeting pun di mulai.
Dania langsung sibuk mencatat setiap poin pentingnya.
Tanpa Dania sadari, Riko sesekali memperhatikan Dania dan menyunggingkan senyum tipis.
"Beda ya, aura ibu hamil, makin cantik aja kamu, babe." batin Riko.
Riko memang mengetahui kabar kehamilan Dania dari Mamanya, dan Mamanya tentu saja tahu dari Mamanya Dania.
Yah, meski mereka gagal menjodohkan Riko dan Dania, tetapi hubungan keluarga Dania dan keluarga Riko tetap lah baik, itu terbukti dengan masihnya mereka melakukan beberapa kerja sama pekerjaan dan masih sering bertemu untuk sekedar berbincang-bincang santai.
Waktu pun berlalu, dan meeting telah selesai.
Dania keluar dari ruang meeting dan langsung menuju toilet.
Setelah beberapa menit, Dania keluar dari toilet.
Dugh.
"Aauuwwww ..." Dania meringis saat tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
Dania melihat ke arah orang itu.
"Riko." gumam Dania.
"maaf, ga, sengaja."ucap Riko dingin.
Riko akan meninggalkan Dania, tetapi Dania langsung memanggilnya.
"Riko ..!" Panggil Dania.
Riko melihat ke arah Dania.
"Kenapa?" tanya Riko.
"Kamu, kenapa? Kenapa dari tadi diem aja? Ga kaya biasanya, mamu baik-baik aja, kan?" tanya Dania.
Riko pun tersenyum dan mengangguk.
"Ga apa-apa, kok, aku duluan, ya." ucap Riko.
Riko pun meninggalkan Dania yang masih merasa kebingungan.
"Dia kenapa sih, sebenernya?" gumam Dania.
Dania pun langsung menggelengkan kepala.
"Duh, apaan, sih? Ngapain juga mikirin anak itu." ucap Dania.
Dania pun pergi dari toilet dan kembali ke ruangan Papanya.
Sedangkan tanpa Dania sadari, Riko masih ada di sana dan berdiri di balik dinding. Riko pun tersenyum saat mendengar ucapan Dania yang menurutnya Dania masih peduli padanya.
"Termrnyata harus pake cara kaya gini, biar kamu sadar, kalau kamu masih cinta, sama aku" batin Riko.
Riko pun tersenyum dan pergi dari toilet.
__ADS_1