Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 115


__ADS_3

BRAK.


Dania tersentak saat ada yang menarik tangannya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


BUGH.


Alex tersungkur saat ada seseorang yang tiba-tiba saja memukul wajahnya, hingga membuat hidungnya sampai mengeluarkan darah.


Semua orang yang ada di dalam bus pun semakin dibuat terkejut.


"Sial, lo ngapain mukul gue?" tanya Alex sambil memegang wajahnya yang terasa ngilu akibat hantaman oleh orang tersebut yang tak lain adalah Randy.


Ya, yang memukul Alex adalah Randy, suami Dania.


Dania bangun dan terdiam, dia sungguh syok dengan apa yang baru saja Randy lakukan.


"Gue ingetin lo, jangan lancang dan jangan pernah coba-coba deketin Is-"


Dania menelan air liurnya, jantungnya berdegup kencang. Dia mencoba menunggu Randy menyelesaikan ucapannya.


"Apa, ha? Jangan lancang apa maksud lo?" tanya Alex penasaran.


Dia sungguh tak mengerti mengapa Randy justru memukul wajahnya saat dia mencoba menyatakan perasaannya pada Dania.


Zia pun bergegas menghampiri Alex dan mencoba menarik tangan Alex.


"Apa, sih? Jangan ikut campur deh, lo." ucap Alex dengan nada kesal.


"Lo mendingan duduk sama gue, deh." ucap Zia.


Zia tahu Randy dan Dania adalah sepasang suami istri, karena itu Zia berpikir Randy marah karena istrinya itu di goda oleh pria lain.


"Oke, tapi gue mau dengar jawaban dari Dania dulu." ucap Alex.


Randy mengepalkan tangannya. Dia bahkan sudah memukul wajah Alex, namun nyatanya Alex tetap keras kepala untuk mendekati Dania.


Sekali lagi Randy akan memukul wajah Alex.


"Masih mau ribut, ha? Kalau kalian ada masalah, selesaikan diluar, jangan di dalam bus. Sempit juga disini tempatnya, kalian ga akan leluasa buat berantem." ucap salah satu panitia.


Randy mengepalkan tangannya dan kembali duduk di kursinya. Sedangkan Alex mendengus kesal dan duduk satu tempat dengan Zia.


"Dania ! Masih mau berdiri disitu? Busnya udah mah jalan, cepet duduk." ucap Panitia.


Dania pun tersentak dan menghampiri tempat duduknya.


Dia melihat ke arah Randy yang tengah melihat ke arah luar.


Dia pun duduk disebelah Randy, dan kini di kursi itu hanya ada dirinya dan Randy.


Tak lama bus pun kembali melaju.


Di sepenjang perjalanan Dania terdiam, dia larut dalam pikirannya sendiri. Dia memikirkan sikap Randy yang menurutnya aneh.


Baru siang tadi Randy memintanya agar bersikap layaknya tak saling kenal, namun sikap Randy barusan seolah tak ada masalah apapun yang terjadi di antara mereka. Sikap Randy bahkan tak berubah dan sama seperti saat dulu ketika Randy sedang cemburu melihat Dania dekat dengan pria lain.


"Apa mungkin Randy udah mulai jatuh cinta lagi sama aku? Apa dia cemburu?" batin Dania.


Dia melihat ke arah Randy yang kini tengah memejamkan matanya.


Tangan Dania tak sengaja menyentuh kulit tangan Randy dan Dia pun terkejut.


Dia memegang dahi Randy dan ternyata tubuh Randy demam.


Tubuh Randy bahkan mulai menggigil dan membuat Dania semakin cemas.


Dania memeriksa tasnya, mungkin ada sesuatu yang bisa meredakan demam Randy di dalam tasnya.


"Duh, ga ada obat lagi." gumam Dania.


Dania bangun dari duduknya dan melihat ke arah teman-temannya yang ternyata tengah beristrahat dan memejamkan matanya.


"Duh, gimana ini?" gumam Dania dengan gelisah.


Tubuh Randy bahkan masih menggigil.


Dania melihat sekeliling dan memastikan lagi agar temannya tak ada yang terbangun.


Dia membuka jaketnya dan memeluk Randy dengan hanya memakai tangtop nya saja.


Dia menarik Randy kepelukannya dan menempelkan wajah Randy tepat di kulit dadanya.


Tak ada penolakan dari Randy, Randy justru memeluk Dania dengan erat dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Dania.


Dania mengerutkan dahinya saat mendengar gumaman Randy yang tak terdengar dengan jelas.


Tak terasa waktu pun berlalu dan tak lama lagi bus akan sampai di Kampus.


Dania mengambil ponselnya dan meminta Pak Adi untuk menjemputnya dan Randy di Kampus.


Meski saat ini Dania dan Randy tak tinggal lagi di rumah besar milik mereka, namun Pak Adi masih tetap bekerja menjaga rumah dan begitu pun juga Bibi yang ikut menjaga rumah.


Randy pun terbangun dan memeluk Dania dengan besikap begitu manja. Dia malas jika harus melepaskan diri dari Dania.

__ADS_1


"Udah mau nyampe." ucap Dania.


Randy tersentak dan melepaskan diri dari Dania.


"Kenapa kita- ?


Ucapan Randy terhenti saat tak sengaja dia melihat ke arah dada Dania yang terlihat ada suatu celah di sana karena kini Dania hanya mengenakan tangtop saja, sehingga bagian belahan dadanya jelas terlihat.


"Kamu demam tadi, dan aku ga tahu harus apa, jadi aku buka jaket aja dan peluk kamu supaya demam kamu berkurang. Tapi sekarang kamu udah enakan, kan? Demam kamu juga udah turun." ucap Dania.


Randy mengangguk dan melihat sekeliling dan ada beberapa orang yang sudah terbangun.


"Cepetan pake jaket lo, nanti ada yang lihat lo, lagi." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan memakai jaketnya.


Beruntungnya mereka duduk di kursi paling belakang dan teman yang duduk di kursi sebelahnya masih belum terbangun, jadi tak ada yang melihat mereka berdua sepenjang perjalanan saling memeluk satu sama lain.


Tak lama bus pun sampai di Kampus dan ternyata sudah ada mobil Pak Adi di sana.


"Kita pulang naik apa, nih?" tanya Randy bingung.


Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan ternyata sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


"Tuh, jemputan kita udah ada." ucap Dania sambil menunjuk ke arah luar tepat ke arah Pak Adi.


"Siapa dia?" tanya Randy.


"Itu Pak Adi, supir yang kerja sama kita. Aku yang minta tolong dia buat jemput tadi." ucap Dania.


Randy mengangguk dan melihat sekeliling dan satu persatu Mahasiswa/Mahasiswi sudah mulai turun dari bus.


"Ladies first. Lo turun dan masuk ke mobil duluan, nanti gue nyusul." ucap Randy.


Dania mengangguk dan turun dari mobil.


Randy terus memperhatikan Dania dari dalam bus hingga Dania benar-benar sudah masuk ke dalam mobilnya baru lah dia turun dari dalam bus dan masuk ke dalam mobil.


Tak lama mobil pun melaju menuju apartemen.


******


Pukul 04.00 wib Dania terbangun dari tidurnya. Rencananya dia akan pergi ke Bandung karena kemarin Polisi memintanya untuk datang dan akan membicarakan tentang kasus kecelakaan yang Randy alami.


Sebetulnya dia masih lelah karena acara outbound kemarin.


Dia bahkan hanya tidur satu jam dan kini sudah harus terbangun dan bersiap.


Kalau saja bukan karena ingin mendapatkan keadilan untuk Randy, dia mungkin tak akan mau melakukan semua itu. Dia harus melakukan semua itu sendiri karena Randy memang tak mengingat siapa dirinya, karena itu Polisi pun tak bisa meminta keterangan dari Randy tentang kasus kecelakaan yang menimpa dirinya beberapa Minggu yang lalu.


Sepertinya cara yang di lakukan nya dengan memeluk Randy dan menempelkan tubuh Randy ke pada tubuhnya memang lah ampuh. Karena pada akhirnya Randy pun tak lagi demam dan sudah jauh lebih baik.


Dia pun turun dari tempat tidur dan pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.


Akhir-akhir ini, karena masalah yang terjadi begitu beruntun Dania sampai mengabaikan buah hatinya itu. Sebetulnya tak ada maksud untuk mengabaikan mereka, tentu saja Dania pun sedih karena akhir-akhir ini tak bisa memiliki banyak waktu untuk kedua buah hatinya itu.


Dania membuka pintu kamar itu dan ternyata baby Raydan tengah menyusu dengan di bantu oleh Ajeng.


"Pagi, Mbak." sapa Dania.


"Non, udah bangun?" ucap Ajeng.


Dania mengangguk dan melihat baby Raydan yang tengah menyusu di dalam box bayinya.


Dania pun tersenyum dan memberikan morning kiss di pipi chubby kedua bayi nya itu.


"Mereka baik kan, Mbak? Ga rewel, kan?" tanya Dania.


"Mereka baik, Non. Mereka ga pernah rewel." ucap Ajeng.


Dania mengangguk dan mengusap lembut pipi kedua bayi menggemaskan itu.


Ada perasaan bersalah dihatinya begitu melihat wajah pulas sang bayi.


Dia sedih karena harus meninggalkan kedua bayi itu untuk beberapa waktu.


Tentunya Dania pun melakukan semua itu agar sang Papa dari kedua bayi itu dapat kembali ke kehidupannya yang sudah dia lewati bersama keluarga kecilnya selama 4 tahun ini.


Sungguh dia terluka, hatinya begitu sakit saat harus menerima kenyataan tinggal bersama suami yang bahkan tak mengingatnya dan tak tahu bahwa mereka pernah saling mencintai, bahkan saling berjuang bersama demi berada di titik saat ini.


"Hari ini saya ada urusan di luar, Mbak. Mungkin malam baru sampai dirumah. Tolong jaga anak-anak, ya. Kabari saya sesering mungkin agar saya ga terlalu khawatir." ucap Dania.


"Iya, Non. Apa Mas Randy juga ikut?" tanya Ajeng.


"Nggak, dia di rumah. Oh, ya, tolong juga kabari saya kalau ada apa-apa sama Papanya anak-anak. Kemarin malam dia demam soalnya. Saya harus pergi karena ada masalah penting yang mengharuskan saya untuk pergi." ucap Dania.


"Iya, Non. Non ga perlu khawatir." ucap Ajeng.


Dania mengangguk dan kembali ke kamarnya.


Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum dia pergi ke Bandung.


Sementara Dania mandi, Randy pun terbangun dari tidurnya karena merasakan ingin buang air kecil.

__ADS_1


Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membuka closet.


"Huh." Randy pun menghelas napas lega begitu dia selesai membuang air kecil.


Dia terkejut saat tiba-tiba terdengar suara air dari dalam kamar mandi transparannya. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Dania yang tengah mandi. Tubuh bagian belakang Dania begitu terlihat jelas dari kaca transparan itu.


Randy menelan air liurnya dengan pandangan tak lepas menatap tubuh polos belakang Dania.


Dia meringis ngilu saat melihat ke arah bawah perutnya yang ternyata sudah berdiri tegak menantang.


"Ah gila, udah mah setiap pagi dia emang bangun, sekarang di tambah lihat beginian, ya makin melek dia." gumam Randy.


Memang sudah dari dulu Randy tak bisa menghindari godaan saat melihat tubuh mulus Istrinya itu. Baginya tubuh istrinya itu sudah menjadi candu dan dia tak akan sanggup menahannya lebih lama jika sampai sesuatu dibawah perutnya itu sudah berdiri menantang.


"Ahh, sial." Randy pun keluar dari kamar mandi dengan perasaan kesal.


Sungguh dia kesal sendiri di buatnya, dia menginginkannya namun enggan memintanya pada Dania.


Randy pun merebahkan tubuhnya kembali dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sial, sakit banget." gumam Randy.


Dia ingin segera menuntaskannya, dia pun akan merubah posisinya namun langsung menghentikannya saat terdengar suara pintu kamar mandi. Randy pun memejamkan matanya dan berpura-pura tidur kembali.


Tak lama Dania keluar dari kamar mandi dan melihat Randy yang masih tertidur dengan posisi memunggunginya.


Dania pun bergegas memakai pakaiannya dan setelah selesai dia menulis sesuatu di selembar kertas yang dia ambil dari buku catatan miliknya dan menyimpannya di atas lemari laci di samping tempat tidur yang berada tepat di samping Randy. Dia juga meletakan obat penurun demam di sana.


Dania menatap lekat wajah pulas Randy.


Cup.


Dia mengecup pipi Randy dan mengusap lembut kepala Randy.


"Aku akan berikan keadilan buat kamu, aku akan kasih pelajaran untuk orang yang udah membuat kita jadi seperti ini." batin Dania.


Dania mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Dia pamit pada Ajeng terlebih dulu dan sekalian melihat anak-anak yang masih tertidur pulas.


Setelah itu dia pun pergi dengan ditemani Pak Adi.


Sesampainya di Bandung.


Dania pergi menuju apartemennya terlebih dulu sebelum nanti siang dia akan datang ke Kantor Polisi.


Kebetulan ini masih pagi dan dia akan memanfaatkan waktu untuk beristirahat sebentar.


Dia pun mengatur alarm nya dan merebahkan tubuhnya.


Dia benar-benar lelah dan tanpa menunggu lama dia pun terlelap.


Sementara di tempat lain, Randy membuka matanya dan melihat ke sampingnya namun tak menemukan Dania di sana.


Dia pun teringat Dania yang shubuh tadi tengah mandi.


Dia bergegas bangun dan pandangannya tak sengaja melihat ke arah selembar kertas yang ada di atas lemari laci disampingnya.


Good morning Papanya anak-anak.


Aku ada urusan sebentar hari ini, dan mungkin aku akan pulang terlambat.


Maaf karena aku ga sempat bilang langsung karena kamu masih tidur dan aku ga berani bangunkan kamu.


Maaf juga karena aku ga siapin sarapan nasi goreng kesukaan kamu, jadi kamu sarapan roti aja, ya. Di meja udah siap, kok.


Maaf juga karena kamu harus jagain anak-anak dulu selama aku pergi.


Kalau tubuh kamu demam lagi, minum aja obat penurun demam yang udah aku siapin di atas laci.


Aku akan usahakan pulang cepat.


By. Mommy anak-anak 🤗


Randy tersenyum membaca catatan dari Dania dan tak lama terdengar suara ponselnya. Dia pun mengambil ponselnya dan ada panggilan masuk dari seseorang.


"Halo." ucap Randy.


" ............. "


"Ya, awasi terus. Jangan sampai dia terluka sedikit pun, bahkan jangan sampai kulitnya tergores sedikit pun." ucap Randy.


" ............. "


Randy pun menutup telpon itu dan turun dari tempat tidur. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi.


******


Pukul 10.30 wib di Kantor Polisi.


"Jadi, bagaimana perkembangan masalah kecelakaan suami saya?" tanya Dania pada seorang petinggi Polisi di kantor Polisi tersebut.


Dania memang tak main-main ingin memberikan keadilan untuk suaminya itu dan pihak kepolisian pun tentunya sudah melakukan yang terbaik demi mengungkap masalah tersebut. Bahkan petinggi di Kantor Polisi tersebut pun turut andil menangani kasus tersebut.


"Ini hasil laporan akhirnya setelah selama beberapa Minggu ini kami, pihak kepolisian menangani kasus kecelakaan suami anda." ucap Polisi sambil memberikan sebuah berkas pada Dania.

__ADS_1


Dania membuka berkas tersebut dan membacanya dengan seksama.


Dia sungguh terkejut membaca laporan akhir dari berkas tersebut dan menatap Polisi itu dengan tatapan tak percaya.


__ADS_2