
Papa Hamish duduk di sofa, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ya Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa rasanya dadaku bergemuruh saat mendengar putriku sedang mengandung? Rasanya aku ingin teriak sekencang mungkin, mengeluarkan semua yang aku rasakan.
Rasa ini sama seperti apa yang aku rasakan saat mendengar Rania mengandung dulu." ucap Papa Hamish dalam hati.
Di balik wajahnya yang tertutup kedua telapak tangannya, Papa Hamish menyunggingkan senyumnya, ada rasa yang tak biasa begitu dia mendengar dia akan menjadi seorang kakek, walaupun bibirnya pernah mengatakan dia tak ingin Dania mengandung lebih cepat, namun hatinya tak bisa berbohong, saat dia mendengar kabar kehamilan Dania, dia benar-benar bahagia. Namun Papa Hamish tetap lah orang yang tak bisa di mengerti, raut wajahnya bahkan terlihat datar.
Papa Dania menghembuskan nafasnya perlahan, dia menatap anak dan menantunya yang masih terdiam di hadapannya.
"Baik lah, karena Dania sedang hamil, Papa akan menarik ucapan Papa kembali, kalian tidak akan bercerai." ucap Papa Hamish.
Dania dan Randy saling tatap, Dania pun tersenyum senang, namun berbeda dengan Randy yang masih terlihat bingung mendengar kabar kehamilan Dania. Pasalnya, yang dia tahu sampai saat ini istrinya itu masih seorang gadis dan belum pernah dia sentuh.
"Sekarang siapkan pakaian kamu, kita akan pulang ke Rumah." ucap Papa Hamish sambil melihat ke arah Dania.
Dania pun terkejut mendengar ucapan Papanya.
"Papa ini gimana? Katanya ga akan minta aku bercerai dari Randy, terus kenapa Papa mau bawa aku pulang?" tanya Dania bingung.
"Mulai sekarang kamu akan tinggal di Rumah Papa, Papa ga mau ambil resiko, ini demi keselamatan cucu Papa. Kamu juga akan ikut tinggal di Rumah saya, Randy." ucap Papa Hamish sambil melihat anak dan menantunya itu.
Randy masih tetap diam, dia mencoba mencerna ucapan Dania tadi.
"Gimana Dania bisa hamil? Apa tanpa sadar aku udah melakukannya sama dania? tapi kapan? Aku ga ingat sama sekali." ucap Randy dalam hati.
Papa Hamish. memperhatikan Randy yang masih saja bengong.
"Ehheumm ... Kamu mau ikut istri kamu atau tidak, ha?" tanya Papa Hamish.
Randy pun mengangguk.
"Ya sudah, kalian siap-siap sana, kita akan pergi malam ini juga." ucap Papa Hamish.
Randy dan Dania pergi menuju kamar, Randy langsung menutup dan mengunci pintu kamar. Dia menahan tangan Dania dan membuat Dania menengok ke arahnya.
"Siapa ayah bayi itu?" tanya Randy sambil menatap Dania dengan tatapan tajam.
Dania pun terkekeh melihat ekspresi serius Randy.
"Menurut kamu anak siapa?" tanya Dania sambil tersenyum menggoda.
"Anak siapa? Aku ga pernah ya nyentuh kamu, jangan bilang kamu- ... Oh astaga Dania." Randy menarik tangan Dania dan mendorongnya ke atas tempat tidur hingga Dania jatuh terlentang.
"Kamu mau apa, sih?" tanya Dania bingung.
Randy tak menjawab ucapan Dania, Dia memasukan tangannya ke dalam dress tidur Dania.
"Aargghhh ... Kamu ngapain?" Dania memekik saat Randy mencoba menyentuh area sensitifnya.
"Ahh, syukur lah." Randy bernafas lega begitu tahu bahwa Dania masih lah seorang gadis.
Randy pun menatap Dania penuh tanya.
"Kamu bohong, ya? Kamu sebenarnya ga hamil kan?" tanya Randy sambil menatap Dania dengan tatapan menyelidik.
Dania bangun dan duduk.
"Ya engga, lah, gimana mau hamil? orang kamu selalu abaikan aku." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.
Randy mengerutkan dahinya menatap Dania.
"Tapi kenapa kamu bilang sama Papa kalau kamu hamil?" tanya Randy.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya agak kasar.
"Itu alasan aku supaya Papa ga terus maksa kita buat pisah, itu juga aku terpaksa karena tadi kamu ga mau bantu aku." ucap Dania dengan nada kesal.
Randy menarik Dania ke pelukannya.
"Maafin aku, aku benar-benar nyesel udah marah sama kamu, aku mohon jangan lakukan apapun sendiri, apalagi ini juga melibatkan aku." ucap Randy.
Dania tersenyum dan membalas pelukan Randy.
"Aku ngerti kok, aku juga minta maaf, aku ga ada maksud mau kembali lagi sama Riko, aku lakuin itu supaya bisa dapetin flashdisk itu, tapi ternyata sebelum aku dapetin flashdisk itu, Riko udah kasih tahu Papa duluan." ucap Dania.
Randy melepaskan pelukannya dan memegang bahu Dania.
"Kamu percaya kan sama aku, Aku akui video itu emang asli, tapi aku bersumpah kalau itu terjadi sebelum kita menikah, sekarang aku udah ga gitu lagi yank, aku beneran cinta sama kamu." ucap Randy meyakinkan Dania.
Dania pun tersenyum dan mengecup bibir Randy sekilas.
"Aku percaya, kok. Ya udah, kita siap-siap, nanti Papa curiga." ucap Dania.
"Tapi gimana soal kehamilan bohongan kamu, yank?" tanya Randy cemas.
Dia takut mertuanya itu akan murka saat tahu bahwa kehamilan Dania adalah palsu.
"Kita pikirin nanti aja ya, yang penting sekarang Papa ga desak kita buat pisah lagi." ucap Dania.
Randy pun mengangguk dan mulai mengemasi beberapa pakaiannya.
******
__ADS_1
Pukul 06.00 wib Dania terbangun saat mendengar Bibi mengetuk pintu kamarnya dan memberitahukan bahwa Papanya sedang menunggunya dan Randy untuk sarapan di bawah.
Dania melihat ke samping, di lihatnya Randy yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu polos dan manis, dia seperti bayi, begitu menggemaskan.
"Yank bangun, kita udah ditunggu sarapan di bawah." ucap Dania sambil menepuk pelan pipi Randy.
Randy membuka matanya sejenak dan tertidur kembali.
"Ihh, yank, bangun. Nanti Papa marah loh kalau kita ga cepetan turun." ucap Dania sambil mengguncangkan tubuh Randy.
Randy tetap tak membuka matanya dan membuat Dania jengkel.
Brugh.
Randy terkejut dan sontak membulatkan matanya saat tiba-tiba Dania duduk di atas tubuhnya.
"Kamu ngapain, yank?" tanya Randy sambil mengusap wajahnya, dia pun mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Kamu di bilangin ga bangun-bangun, giliran di bangunin pake cara kaya gini, baru bangun." ucap Dania kesal sambil menggoyangkan tubuhnya dan tanpa sengaja menyentuh area sensitif Randy.
Dengan cepat Randy membalikkan tubuh Dania, Dan kini Randy berada di atas tubuh Dania.
"Nakal banget sih, jangan mancing-mancing dong, di bawah sana jadi sesak." ucap Randy.
Dania terkekeh dan mengusap lembut pipi Randy.
"Mau aku bantuin ga, yank?" tanya Dania sambil tersenyum menggoda.
Randy mengerutkan dahinya.
"Kamu serius?" tanya Randy memastikan.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
Randy pun tersenyum dan menelentangkan tubuhnya di samping Dania.
"Ya udah yank, cepat bantu aku supaya ga sesak lagi." ucap Randy
Dania menyeringai.
"Aaarrrggghhhh ..."Randy memekik saat dengan sengaja Dania memegang gemas area sensitifnya.
Hahahaha.
Dania pun tertawa dan turun dari tempat tidur.
"Rasain tuh, habisnya pagi-pagu udah mesum." ucap Dania.
"Ayo, yank, tangkap aku kalau bisa." ucap Dania sambil terus berlari.
"Yank, awas ya, ga aku kasih ampun kamu kalau sampe ke tangkap." ucap Randy sambil terus mengejar Dania.
Dania berlari menuruni anak tangga, belum sempat menuruni semua anak tangga tiba-tiba.
"Stop ..!" Papa Hamish berteriak, membuat Dania dan Randy menghentikan larinya.
Dengan cepat Papa Hamish melangkahkan kakinya dan menaiki anak tangga melewati Dania.
Randy menelan saliva dengan susah payah saat melihat Papa mertuanya itu mendekatinya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Mati lah, pasti kena marah mertua lagi." ucap Randy dalam hati.
"Apa kamu tidak waras? Kenapa kamu membiarkan istri kamu yang sedang hamil berlarian seperti itu?" Bentak Papa Hamish.
Dania terkejut mendengar ucapan Papanya, dia lupa bahwa dia sedang berpura-pura hamil.
"Pah, jangan marah-marah, aku ga apa-apa kok" ucap Dania.
"Ada apa ini?" tanya Mama Rania yang tiba-tiba datang.
"Ini mah, anak kita malah lari-larian dan parahnya lagi si Randy malah ngebiarin aja, gimana kalau ada apa-apa sama cucu kita?" ucap Papa Hamish dengan geram.
"sayang, kamu ga boleh lari-larian dong, kamu lagi hamil muda dan di masa-masa itu sangat rawan, sayang." ucap Mama Rania.
Dania pun tersenyum.
"Iya ma, aku lupa, soalnya ga berasa lagi hamil, kan perutku belum buncit." ucap Dania.
"Ya udah, ga apa-apa, tapi lain kali jangan di ulangi ya" ucap Mama Rania.
Dania pun mengangguk.
"Ya udah, kita sarapan." ajak Mama Rania.
Mereka pun pergi menuju meja makan dan memulai sarapan.
Di tengah kegiatan sarapannya, Mama Rania membuka pembicaraan.
"Oh ya, nanti malam kamu sama Randy siap-siap ya." ucap Mama sambil melihat ke arah Dania dan Randy.
Randy dan Dania pun saling tatap.
"Emang ada apa, Mah?" tanya Dania.
__ADS_1
"Mama udah kasih tahu mertua kamu tentang kehamilan kamu, jadi nanti malem mereka Mama undang makan malam di Rumah kita." ucap Mama.
Uhuk uhuk uhuk.
Randy pun terkejut dan tersedak saat mendengar ucapan Mama mertuanya itu, dengan cepat Dania memberikannya segelas air minum.
"Pelan-pelan dong, yank." ucap Dania.
"Makasih, yank." ucap Randy.
Mama dan Papa Dania hanya memperhatikan anak dan menantunya itu.
"Kok Mama kasih tau orang tua aku?" tanya Randy sambil menatap Mama mertuanya itu.
Mama Rania pun mengerutkan dahinya.
"Memangnya salah Mama ngasih tahu besan Mama? Kan mereka juga berhak tahu tentang cucunya yang sebentar lagi akan hadir." ucap Mama sambil tersenyum.
Entah apa yang akan orang tua mereka rasakan jika tahu bahwa anak dan menantunya itu telah berbohong.
Randy dan Dania tak menyangka, ternyata berita kehamilan Dania dengan cepat tersebar. Sudah di pastikan semuanya akan menjadi lebih runyam.
Mereka pun kembali larut dalam kegiatan sarapan mereka.
******
Pukul 18.00 wib orang tua Randy sudah sampai di Kediaman Hamish,
terlihat raut wajah bahagia di wajah kedua orang tua Randy, Mama Randy pun memeluk Dania dengan penuh sayang.
"Selamat sayang, akhirnya kamu akan jadi seorang ibu, kami akan mempunyai cucu." ucap Mama Randy sambil tersenyum.
Dania pun tersenyum canggung,
jantungnya berdegup kencang saat melihat rona bahagia dari raut wajah orang tua dan mertuanya itu.
Seketika Dania merasa bersalah karena telah berbohong, Dania benar-benar bingung, bagaimana nantinya akan menjelaskan semuanya pada keluarganya? Pasti mereka akan kecewa. Pikir Dania.
Sedangkan Papa Randy memeluk erat tubuh Randy.
"Selamat nak, kamu akan menjadi seorang Ayah, jadilah Ayah yang baik dan bertanggung jawab." ucap Papa sambil tersenyum.
Randy hanya diam, dia tak mampu mengatakan apapun, dia juga merasa bersalah pada orang tua dan mertuanya itu karena telah berbohong hanya karena ingin mempertahankan rumah tangganya dari ancaman perceraian sang Papa mertua.
Mama Rania dan Mama Randy pun larut dalam kebahagiaan. Mereka mulai berdiskusi tentang nama yang akan mereka berikan nanti pada cucu mereka, sementara Papa Hamish dan Papa Randy pun ikut larut dalam kebahagiaan.
Setelah selesai berbincang, mereka pergi menuju meja makan dan memulai acara makan malam.
"Wah, ini makanan kesukaan aku nih, mama tahu aja aku udah lama ga makan ini." ucap Dania sambil tersenyum saat melihat menu pedas kesukaannya.
"Iya, tapi jangan banyak-banyak makannya, nanti magh kamu kambuh lagi karena kebanyakan makan pedas." ucap Mama.
Memang Dania ini memiliki riwayat sakit magh, dia tidak bisa terlalu banyak makan pedas.
Dania mengangguk dan mulai melahap makanan kesukaannya itu, tanpa terasa dia sudah melahapnya terlalu banyak.
"Aaarrgghhh ..." Dania memekik sambil memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
Semua orang yang ada di meja makan pun menjadi panik.
"Kamu kenapa, yank?" tanya Randy cemas.
"perut ku sakit." ucap Dania sambil meringis kesakitan memegang perutnya.
Semua orang menjadi semakin panik, Papa Dania langsung menghubungi Dokter keluarga, terlihat jelas raut wajahnya yang begitu cemas saat melihat Dania kesakitan memegang perutnya.
Randy menggendong Dania ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur.
Beberapa menit kemudian.
Dania masih saja kesakitan memegang perutnya, tak lama Dokter pun datang.
"Cepat, Dok, periksa keadaan Dania, saya khawatir karena dia sedang mengandung." ucap Papa Hamish.
Dokter pun mengangguk dan mulai memeriksa perut rata Dania, Dokter mengerutkan dahinya saat merasakan tak ada apapun yang dia rasakan di perut Dania, selain suara lambungnya yang terdengar tak normal.
"Apa Dania habis makan pedas?" tanya Dokter sambil melihat ke arah Mama Rania.
Mama Rania pun mengangguk.
"Iya, Dok." ucap Mama Rania.
"Asam lambungnya naik, saya akan berikan obat untuk meredakan asam lambungnya." ucap Dokter.
"Lalu, bagaimana keadaan kandungan Dania, Dok?" tanya Papa Hamish cemas.
Dokter pun mengerutkan dahinya menatap Papa Hamish.
"Apa? Kandungan apa maksudnya? Dania tidak hamil." ucap Dokter.
"Apa ...?" semua orang terkejut mendengar ucapan Dokter.
Sedangkan Randy dan Dania kini benar-benar merasakan jantung mereka seperti sedang berlari marathon, jantungnya berdegup kencang karena kebohongan mereka telah terbongkar.
__ADS_1