Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 48


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak Randy memberikan kejutan sebuah Rumah dan mobil pada Dania, dan nantu malam Randy dan Dania mengundang orang tua mereka untuk makan malam bersama di Rumah baru mereka.


Dania tengah sibuk menata makan malam di meja makan, makanan itu sebelumnya sudah mereka pesan karena tak sempat memasak.


Randy pun ikut membantu Dania menyiapkan makan malamnya.


"Kamu ganti baju aja dulu gih, ini biar aku yang siapin, orang tinggal nata aja kan?" ucap Randy.


"Kamu kan juga harus ganti baju, yank." ucap Dania.


"Aku gampang, kamu kan suka labil kalau pilih baju." ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


"Ya udah, tolong ya sayang, sekalian di beresin bekas tempat makanannya dan buang ketempat sampah." ucap Dania sambil mengecup pipi Randy dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Randy pun terkekeh melihat tingkah lucu Dania.


"Dasar, gemesin banget." Randy gemas sendiri melihat tingkah istrinya itu.


Randy pun melanjutkan menata makan malamnya di meja.


Sedangkan di kamar, Dania kebingungan memilih baju yang akan dia kenakan.


"Aduh, pake yang mana ya?" gumam Dania.


"Ini baju-baju lama semua, udah lama juga aku ga shopping." gumam Dania sambil memilih baju mana yang akan dia kenakan.


Tak lama Randy pun datang dan terkejut melihat baju-baju Dania yang berantakan di atas tempat tidur.


"Wow, udah kaya kapal pecah." ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun kesal sendiri dan mengerucutkan bibirnya, dia mendudukan dirinya di atas tempat tidur.


"Loh, kenapa jadi cemberut gitu sih, yank?" tanya Randy.


Randy pun mendekati Dania.


"Ga ada baju yang cocok buat acara malam ini." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


Randy pun melihat satu per satu baju yang berantakan di tempat tidur dan pandangannya tertuju pada satu dress berwarna putih.


"Pake yang ini aja, yank" ucap Randy sambil menyodorkan dress itu.


Dania pun menggeleng.


"Itu baju lama." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Randy memegang bahu Dania dan menatap Dania penuh cinta.


"Dengerin aku, kamu pake apapun tetap cantik yank, kalau kamu emang udah ga mau pake baju-baju ini ga masalah, nanti kamu bisa beli baju-baju yang kamu suka, tapi ini sebentar lagi kan orang tua kita mau datang, jadi kita harus cepetan siap-siap, ga enak kan kalau nanti mereka nunggu kita karena belum siap." ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan memakai baju pilihan Randy.


Randy pun memakai kemeja dengan warna yang sama dengan warna baju Dania.


******


Tin tin.


Randy bergegas keluar rumah saat terdengar suara clakson mobil.


Dia membukakan pintu pagar, sementara Dania menunggunya di depan pintu utama.


Mobil mertua dan orang tuanya pun sudah masuk dan terparkir di garasi rumah.


Garasi rumah Randy dan Dania ini lumayan luas, jadi cukup untuk sekedar memarkirkan tiga unit mobil saja.


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah setelah Randy dan Dania menyalami orang tua mereka.


Begitu sampai diruang tamu, pertama kali Papa Hamish melihat ke sekeliling ruang tamu.


"Siapa yang punya ide memilih rumah dengan gaya klasik modern seperti ini?" tanya Papa Hamish dengan masih melihat sekeliling ruangan.


"Idenya Randy, Pa." ucap Dania.


Papa Hamish mengangguk dan masih melihat sekeliling ruang tamu.


"Kalian mertua dan menantu benar-benar klop, sama-sama suka yang klasik." ucap Mama Rania sambil tersenyum.


"Emang iya, Pa?" tanya Randy menatap sang mertua.


"Hhmmm ..." Papa Hamish pun hanya berdehem.


Randy tersenyum canggung mendengar deheman Papa mertuanya itu.


Mereka pun pergi menuju ruang makan dan langsung memulai acara makan malam mereka.


Di tengah kegiatan makan malam, Mama Rania pun membuka pembicaraan.


"Kamu hebat Rand, hanya dalam waktu satu tahun kamu bisa membeli rumah yang cukup mewah seperti ini." ucap Mama Rania sambil tersenyum bangga menatap menantunya itu.


Randy pun tersenyum.


"Makasih, Ma." ucap Randy.

__ADS_1


"Apa jeung tahu? Randy ini mirip sekali dengan Papanya, sama-sama pekerja keras dan bertanggung jawab." ucap Mama Randy sambil tersenyum bangga melihat putranya itu.


"Ya, beruntungnya Dania mendapatkan suami pekerja keras dan bertanggung jawab." ucap Mama Rania.


"Randy pun beruntung mendapatkan istri secantik Dania." ucap Mama Randy sambil tersenyum menatap sang menantu.


Randy dan Dania hanya tersenyum dan saling tatap.


Mereka pun larut dalam acara makan malam mereka.


Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga dan mulai berbincang-bincang.


Sedangkan dania sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan penutup.


"Tadaaaa ... dessert nya udah siap." ucap Dania sambil membawa 6 mangkuk kecil dessert pudding alpukat dengan es krim cokelat.


"Thank you, sayang" ucap Mama Rania.


Dania pun mengangguk dan meletakan dessertnya di meja.


"Ehheumm ... Papa mau melihat isi rumah kalian." ucap Papa Hamish yang tiba-tiba bangun dari duduknya.


Randy dan Dania pun saling tatap.


"Tentu aja Pa, Papa mau aku temenin?" tanya Dania.


"Randy aja yang temenin Papa." ucap Papa Hamish.


Randy pun mengangguk dan menemani sang mertua berkeliling melihat-lihat seisi rumah.


"Kapan kamu membeli rumah ini?" tanya Papa Hamish tanpa melihat Randy.


"Beberapa bulan lalu, Pa."ucap Randy.


"Apa kamu membelinya iCash?" tanya Papa Hamish sambil menatap Randy.


Randy pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Papa Hamish mengerutkan dahinya menatap Randy.


"Sebetulnya aku beli rumah ini nggak sekali bayar pa, ya, di cicil gitu deh. Tapi sekarang cicilannya udah beres kok, makanya aku juga berani beli mobil biar Dania nyaman pergi kemana-mana dan ga kepanasan lagi." ucap Randy sambil tersenyum.


Papa Hamish pun mengangguk dan masih memperhatikan sekeliling ruangan.


Papa Hamish berjalan menuju balkon dan Randy pun mengikuti sang mertua.


"Kamu tahu Rand, dulu saya pun sama seperti kamu." ucap Papa Hamish tanpa menatap Randy.


"Maksud nya, Pa?" tanya Randy bingung.


"Dulu pun saya menikah muda dengan Rania, tapi lebih tepatnya kawin lari karena tak mendapatkan restu dari orang tua kami. Sebetulnya dulu orang tua Rania merestui hubungan kami, namun saat orang tua Rania tahu saya memiliki hubungan dengan beberapa wanita, orang tua Rania tak merestui hubungan kami.


Tapi saya begitu mencintai Rania dan itu membuat saya tak ingin lagi mempermainkan wanita, saya justru ingin menikahinya. Yah, meski saya bilang saya sudah berubah tetapi mertua saya tetap tak merestui hubungan kami, alasannya karena mereka takut saya tak bisa membahagiakan Rania.


Di mata mereka, saya tetap lah pria brengsek.(papa dania menghembuskan nafas kasar) Yah wajar saja sih, karena Rania anak satu-satunya jadi mereka ingin yang terbaik untuk Rania." ucap Papa Hamish sambil tersenyum mengingat kejadian 19th lalu.


Randy hanya mendengarkan dengan seksama ucapan Papa mertuanya itu.


"Kami hidup tanpa bantuan orang tua kami, padahal orang tua kami orang berada, bahkan apa yang mereka tak punya? Mereka memiliki segalanya, tapi kami benar-benar menjalani kehidupan pernikahan kami di mulai dari titik terendah. Saya melakukan pekerjaan apapun selagi itu halal untuk keluarga saya, dan Rania lah yang selalu mendukung saya sampai saya berada di titik sekarang ini.


Sejujurnya saya tak menyangka karena saya akan mengalami hal yang sama dengan apa yang mungkin orang tua Rania rasakan dulu, saya pun takut putri kesayangan saya satu-satunya terluka karena menikah dengan pria brengsek seperti kamu. Jujur saja, malam itu saya tak ingin menikahkan Dania dengan kamu, tetapi saya seperti tidak punya pilihan lain selain menikahkan Dania dengan kamu." ucap Papa Dania sambil tersenyum sinis menatap Randy.


Randy pun menelan saliva dengan susah payah mendengar ucapan sang mertua, perasaannya menjadi tidak enak.


"Tapi Pa, aku bersumpah aku udah berubah, aku beneran cinta sama Dania." ucap Randy.


Papa Dania pun tersenyum dan menepuk bahu Randy agak kencang.


"Saya tahu, saya percaya kamu pria bertanggung jawab dan sudah berubah karena saya melihat itu di diri kamu. Saya pun memperhatikan kamu selama setahun ini, kamu memang bekerja keras membahagiakan Dania. tapi saya harap bukan hanya sekarang-sekarang saja kamu bisa membahagiakan Dania, saya ingin kamu selalu membuat anak kesayangan saya satu-satunya itu selalu bahagia dan tersenyum, karena saya tahu Dania pun mencintai kamu.


Jadi, (menarik nafas dalam dan mengembuskannya perlahan) jangan pernah membuatnya kecewa, karena jika itu sampai terjadi, saya tidak akan tinggal diam dan akan saya pastikan kamu tidak akan bisa hidup tenang." ucap Papa Hamish.


Randy pun mengangguk dan menatap Papa mertuanya itu.


"Papa bisa pegang kata-kata aku ini, selama aku masih hidup, aku akan selalu mencintai Dania dan aku akan berusaha membuat Dania selalu bahagia." ucap Randy mantap.


Papa Hamish pun mengangguk dan menarik Randy ke pelukannya.


"Saya percaya, saya serahkan sepenuhnya putri saya kepada kamu." ucap Papa Hamish.


Randy pun tersenyum dan membalas pelukan sang mertua.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Dania terus memperhatikan mereka dari pintu balkon, tak terasa air mata Dania pun menetes.


"Aku menyayangi kalian berdua, pria-pria hebat ku." gumam Dania.


Dania mengusap air matanya dan memilih kembali ke ruang keluarga.


******


keesokan harinya.


Pukul 15.00 wib Randy dan Dania tengah bersiap, rencananya mereka akan berkencan di luar.


Mereka akan menonton bioskop, makan di luar atau apapun itu dan yang jelas berkencan di luar.


Kebetulan juga hari ini adalah hari minggu.

__ADS_1


Beberapa menit Randy mempersiapkan dirinya dan dia pun sudah siap, dia menunggu Dania di ruang keluarga sambil memainkan ponselnya.


Sedangkan Dania masih bersiap-siap di kamar.


Seperti biasa Dania kebingungan memilih outfit yang cocok untuk dirinya, dia ingin menyesuaikan dengan outfit yang Randy kenakan.


Dania pun memilih-milih bajunya dan butuh beberapa menit untuk itu.


Sedangkan di ruang keluarga, Randy benar-benar sudah kesal karena Dania lama sekali berdandan, Randy pun menghampiri Dania ke kamar.


"Masih lama ga sih, yank?" tanya Randy dengan nada kesal.


"Bentar lagi, kamu jangan ngeburu-buruin gitu dong, nanti kalau aku ga cantik kan kamu bakalan malu sendiri jalan sama aku." ucap Dania.


Randy menatap Dania dengan malas, istrinya itu selalu saja berpikiran negatif dan terlalu jauh berpikir.


"Ya udah, aku tunggu di mobil aja deh sambil manasin mobil." ucap Randy.


Dania pun mengangguk, dan Randy turun menuju garasi.


Beberapa menit berlalu.


Dania sudah selesai bersiap, dia pun turun menuju garasi.


Dania tersenyum melihat Randy yang sudah berada di dalam mobil dan tengah duduk di kursi pengemudi.


Dania pun masuk ke dalam mobil dan Randy langsung melajukan mobilnya.


Beberapa menit kemudian Randy dan Dania sampai di Mall yang berada di daerah Jakarta Selatan, mereka memilih untuk menonton Bioskop terlebih dulu.


"Mau nonton film apa, yank?" tanya Dania.


"Horor aja, yank." ucap Randy sambil menyeringai.


Dania pun menggelengkan kepalanya.


"Enggak, ah, aku ga suka. Kita nonton film yang romantis aja deh, yank." ucap Dania sambil tersenyum.


Randy menatap dania dengan malas.


"Ngapain nanya kalau gitu? Dasar perempuan suka seenaknya sendiri." ucap Randy dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah memebeli tiket Bioskop, mereka pun membeli popcorn dan beberapa camilan lainnya juga minuman terlebih dulu kemudian memasuki Bioskop.


Tak berapa lama film pun dimulai, Dania dan Randy duduk di kursi paling belakang yang letaknya dua kursi sebelum kursi pojok sebelah kiri.


Film pun sudah di mulai dan mereka fokus menonton.


Ditengah berlangsungnya film, Randy menjadi gelisah saat melihat adegan panas yang sedang berlangsung. Randy melihat Dania yang duduk di sebelah kirinya dan masih saja fokus menonton film.


Randy pun semakin gelish dan


dengan cepat dia menarik tengkuk Dania kemudian melumat bibir Dania. Dania yang merasa terkejut pun langsung memberontak.


"Apaan si, yank? Ini di tempat umum." ucap Dania di sela ciumannya.


Randy tak mempedulikan ucapan Dania dan semakin memperdalam kegiatannya.


Plak.


Ditengah kegiatannya tiba-tiba Randy tersentak dan menghentikan kegiatannya saat ada yang memukul kepalanya agak keras.


Randy melihat ke arah samping kanannya dan terkejut saat melihat ternyata seorang wanita paruh baya yang kira-kria berusia 50th atau mungkin lebih, terlihat dari rambutnya sudah di tumbuhi uban.


"Dasar, anak kurang ajar. Kamu berani melecehkan anak gadis di tempat seperti ini."ucap wanita itu sambil menatap Randy dengan tajam dan agak berteriak geram.


Untung saja suara film bisa mengalihkan suara wanita itu sehingga tak ada yang mendengarnya.


Randy dan Dania terkejut mendengar ucapan wanita itu.


"Apa aku ga salah lihat? Kenapa ada nenek-nenek di sini?" ucap Randy dalam hati.


Randy pun tersenyum.


"Maaf, Nek, Saya kebablasan, lagi pula dia ini istri saya, Nek."ucap Randy sambil merangkul bahu Dania.


"Halah, anak muda jaman sekarang banyak yang mengaku pasangan suami istri agar bisa berbuat mesum seenaknya."ucapnya dengan nada kesal.


Saat Dania akan mencoba menjelaskan pada Nenek itu bahwa dia memang istri Randy, tiba-tiba seorang Kakek yang duduk di samping kanan Nenek itu pun bersuara.


"Sudah, namanya juga anak muda." ucap sang Kakek.


"Tetap saja itu ga sopan, masa ciuman di tempat umum." ucap Nenek itu masih dengan nada kesal.


Randy tersenyum kikuk menatap sang Nenek.


Akhirnya Nenek itu pun diam sendiri dan fokus kembali menonton filmnya.


Beberapa menit berlalu dan Randy tersentak saat mendengar suara lenguhan seorang wanita. Randy pun melihat ke arah datangnya suara tersebut dan dia pun terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Randy menepuk lengan Dania dan Dania pun melihat ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Dania sambil menatap Randy.


Randy pun mengarahkan telunjuknya ke sebelah samping kanannya dan Dania pun terkejut bukan main saat melihat sepasang kakek dan nenek yang tadi memarahi Randy sedang melakukan apa yang dia dan Randy lakukan sebelumnya. Bahkan Nenek itu sampai mengeluarkan suara.


Randy pun memegang perutnya dan menahan tawanya, sementara Dania pun ikut menahan tawanya melihat tingkah sepasang Kakek dan Nenek itu.

__ADS_1


__ADS_2