Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 112


__ADS_3

Randy terus mengepalkan tangannya. Sungguh sesak sekali rasanya melihat orang yang dia sukai bersama Pria lain.


Tidak ..!


Randy segera menepis pikiran itu. Dia berpikir mungkin saja perasaannya ini karena dia tak ingin Ibu dari anak-anaknya berbuat macam-macam yang bisa saja membuat anak-anaknya menjadi terabaikan.


Dia pun bergegas bangun dan Dino langsung menahan tangannya.


"Mau kemana? Kita masih harus nyiapin makanan untuk malam ini." ucap Dino.


Yah, para mahasiswa dan mahasiswi lainnya ada yang sedang menyalakan api unggun, namun karena ini sudah melewati jam makan malam, dan tak ada persiapan makan malam yang disediakan oleh Pihak Villa, mahasiswa yang lainnya juga ada yang mulai membuat makanan, atau lebih tepatnya membuat nasi liwet, ayam bakar dan ikan bakar. Mereka pun tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Randy melihat ke arah teman-temannya itu. Memang seharusnya dia membantu teman-temannya yang lain, namun saat ini ada suatu hal yang lebih penting yang harus dia lakukan dibanding dengan ikut membantu teman-temannya. Dia begitu penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya hubungan Dania dengan Alex.


"Mau ke kamar dulu, mau ngambil handphone." ucap Randy beralasan.


"Ya udah, jangan lama-lama." ucap Dino.


Randy pun bergegas menuju kamar Villa yang bertuliskan kamar mawar, atau tepatnya kamar yang khusus untuk perempuan. Dia membuka satu per satu pintu kamar, ini adalah kesempatan bagus untuknya mencari Dania. Karena semua mahasiswi sedang sibuk di luar bersama mahasiswa lainnya.


Randy sudah membuka seluruh pintu kamar mawar dari A hingga seterusnya, hingga dia berhenti di kamar terakhir dan langsung membuka pintu itu.


"Aaarrgghh .." Seseorang berteriak membuat Randy terkejut melihat siapa yang ada di dalam kamar itu.


"Astaga, Randy..! Lancang sekali kamu." ucap seorang wanita yang ada di dalam kamar tersebut.


"Maaf, Bu, saya ga sengaja." ucap Randy.


Ternyata yang ada didalam kamar itu adalah seorang dosen perempuan yang akan mengganti pakaiannya. Untung saja dosen itu belum sampai membuka pakaiannya.


Dosen itu bergegas keluar dan menghampiri Randy.


"Lancang sekali kamu ..!" bentak dosen yang bernama Anggi itu.


Dosen berusia kepala empat itu pun mengepalkan tangannya.


Tak lama keluarlah Dania dari kamar yang berada disebelah kamar sang dosen.


"Ada apa ini?" tanya Dania melihat bingung ke arah Randy dan Dosen Anggi.


Dosen Anggi pun merasa canggung dan menatap tajam ke arah Randy.


"Urusan kita belum selesai, kita akan bahas ini nanti." ucap Dosen Anggi. Dia pun bergegas meninggalkan Randy dan Dania.


Dania dan Randy terus melihat ke arah Dosen Anggi sampai dia benar-benar tak terlihat lagi.


Dania pun menatap menyelidik ke arah Randy.


"Kamu ngapain barusan?" tanya Dania.


"Ga ngapa-ngapain." ucap Randy dan berlalu meninggalkan Dania.


Dania pun merasa heran dan mengikuti Randy yang akan pergi menuju mahasiswa yang tengah berkumpul.


"Bodohnya, Lo kan sengaja nyari dia, terus kenapa lo malah balik lagi?" batin Randy.


Randy pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Dania.


Cup.


"Duh, kenapa berhenti mendadak, sih?" ucap Dania sambil memegang keningnya yang tak sengaja tercium oleh Randy.


"Sorry, ga sengaja." ucap Randy sambil mengusap kening Dania.


Dania membulatkan matanya dan menepis tangan Randy.


"Jangan kayak gitu." ucap Dania.


Randy mengerutkan dahinya.


"Kenapa emang?" tanya Randy bingung.


"Kamu udah lama ga cium kening aku, dan ini pertama kalinya kamu cium kening aku lagi, aku rindu." ucap Dania dengan pelan.


Meski pelan, namun Randy masih bisa mendengarnya.


Randy memegang wajah Dania dan tanpa basa-basi dia langsung mencium bibir Dania hingga membuat Dania terkejut dan Jantungnya langsung terasa berhenti berdetak.


Dia terdiam tanpa membalas ciuman Randy, dia pun tak mencoba menolak ciuman itu. Matanya masih tetap menatap Randy yang juga tengah menatapnya.


Untuk sesaat Randy menghentikan ciumannya dan berbisik ditelinga Dania.


"Balas ciuman gue." bisik Randy.


Jantung Dania menjadi berdegup kencang saat Randy kembali melumat bibirnya dengan memejamkan matanya.


Entah mengapa rasanya semua ini seperti mimpi namun terasa nyata. Untuk pertama kalinya semenjak Randy kehilangan memori ingatannya, akhirnya dia bisa kembali sedekat itu dengan Randy. Rasanya seperti ada bom yang ingin meledak di dalam dadanya karena dia terlalu bahagia dengan semua ini.


Dia memejamkan matanya mencoba menikmati setiap sentuhan lembut bibir Randy, bibir yang sudah sangat dia rindukan.


Bukan berpikir mesum, hanya saja istri mana pun tentu akan merindukan sentuhan dari suaminya, apalagi suami yang sangat di cintai nya.


Dania memejamkan matanya dan membalas ciuman Randy.


Keduanya begitu menikmati ciuman manis itu. Meski Randy belum mengingat semuanya, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk bisa sedekat itu dengan Dania. Dia pun tak mengerti, dia memiliki keberanian dari mana sehingga sampai menyentuh bagian tubuh istrinya yang sama sekali belum dia ingat itu.


Setelah beberapa saat ciuman itu berakhir dan kedua pasangan suami istri itu pun saling tatap.


Dania tersenyum, sedangkan Randy langsung melihat ke arah lain.


"Sorry, yang tadi ga sengaja, gue khilaf." ucap Randy dan berlalu meninggalkan Dania.

__ADS_1


Dania tersenyum lebar, meski Randy mengatakan dia khilaf, namun dia tetap bahagia karena dia melakukannya dengan suami yang amat sangat dia cintai. Jangan kan memberikan bibirnya, dia bahkan sudah memberikan segalanya untuk Randy. Dania pun bergegas menuju perkumpulan mahasiswa dengan senyum yang tak lepas tersungging dari bibirnya.


Tanpa Randy dan Dania sadari, sejak tadi ada seseorang yang melihat mereka berdua tengah berciuman . Orang itu mengepalkan tangannya.


"Astaga, anak muda jaman sekarang benar-benar ga tahu tempat." ucap orang itu sambil mencoba mengatur napasnya dan bergegas berkumpul dengan yang lainnya.


******


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan pun siap. Dan semuanya berkumpul untuk menikmati makanan tersebut.


Dania mengambil posisinya tempat duduknya, dan tiba-tiba saja ada yang mendekatinya dan duduk di sebelahnya.


Dania menatap orang itu yang ternyata adalah Alex yang juga tengah menatapnya dan tersenyum.


Dania pun tersenyum tipis dan semua orang pun mulai menyantap makanan mereka. Karena mereka makan dengan alas yang dibuat berderet sehingga semuanya tampak makan dengan saling berhadapan dan Randy lah yang berada di hadapan Dania.


Randy melihat tak suka ke arah Alex, apalagi saat Alex memberikan ikan bakar pada Dania.


Dengan cepat Randy mengambil ikan bakar itu dan melahapnya.


"Astaga, itu bukan buat lo. Itu buat Dania." ucap Alex sambil menatap Randy dengan tatapan kesal.


"Oh, gue pikir buat gue. Sorry ya, Dania. Nih ikan bakar lo gue balikin. Udah gue pisahkan tulang sama dagingnya." ucap Randy sambil memberikan daging ikan yang sudah tak bertulang itu.


Dania pun tersenyum dan memakan ikan itu. Sedangkan Alex mendengus kesal dan memilih melahap makanannya.


Setelah acara makan selesai, semua orang berkumpul mengelilingi api unggun.


Mereka bersuka ria dengan memainkan gitar dan bernyanyi bersama, sementara mata Dania sudah mulai mengantuk. Jujur saja dia tak terbiasa begadang. Dania pun pamit pada teman sekamarnya yang masih menikmati acara api unggun itu untuk pergi ke kamar terlebih dulu.


Randy yang melihat Dania meninggalkan acara pun bergegas mengikuti Dania.


"Dania ..!" panggil Randy.


Dania pun menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Randy.


"ada apa? " tanya Dania.


"Mau kemana?" tanya Randy.


"Mau ke kamar, aku ngantuk." ucap Dania.


"Oh, ya udah." ucap Randy dan pergi meninggalkan Dania.


Dania melihat bingung ke arah Randy.


Entah apa yang dipikirkan suaminya itu.


Dania pun pergi menuju kamarnya.


Sesampainya dikamar Dania mencuci wajahnya terlebih dulu, berada diluar dan terkena asap tentunya membuat wajahnya menjadi kotor.


Puncak memang terkenal memiliki udara yang dingin, dan malam ini pun benar-benar sangat dingin membuatnya jadi tak bisa memejamkan matanya. Meski dia terbiasa tidur menggunakan AC saat dirumah, namun cuaca puncak malam ini benar-benar berbeda dengan kamarnya yang terbiasa memakai AC.


Dia pun memilih memainkan ponselnya dan membuka galeri fotonya, dia melihat-lihat fotonya bersama kedua bayi kesayangannya.


Hingga tak terasa waktu pun berlalu dan sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Teman sekamarnya pun sudah masuk ke dalam kamar.


"Kok belum tidur?" tanya mahasiswi bernama Zia sambil melihat ke arah Dania.


"Udaranya dingin banget, bikin aku ga bisa tidur." ucap Dania.


"Ah, aku malah ngantuk banget. Besok adalah hari yang panjang, pasti bakalan seru." ucap Zia Sambil menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Ya udah, tidur aja." ucap Dania.


Zia mengangguk dan benar saja tanpa menunggu lama Zia pun langsung terlelap.


Ting, ting.


Dania mengerutkan dahinya saat mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Dia pun membuka ponselnya dan ada pesan masuk dari Randy.


Hubby: Udah tidur?


Dania: Belum, aku ga bisa tidur. Kamu kenapa belum tidur?


Hubby: Sama, ga bisa tidur juga. Mau jalan-jalan keluar sebentar ga?


Dania berpikir sejenak begitu membaca pesan terbaru dari Randy. sebetulnya dia ingin sekali keluar, namun dia takut ada yang melihatnya dengan Randy dan membuat keributan nantinya.


Ting, ting.


Lagi-lagi satu pesan dari Randy masuk kedalam ponsel Dania.


Hubby: Ga mau, ya?


Dania pun kembali berpikir. Dia ingin memanfaatkan waktunya bersama Randy dengan sebaik mungkin agar Randy bisa dengan cepat mengingatnya kembali. Dania berpikir, mungkin Randy akan dengan cepat mengembalikan ingatannya jika mereka sering bersama.


Dania: Mau, kok. Kamu tunggu aja di dekat aula Villa.


Hubby: Oke.


Dania bergegas memakai jaketnya dan perlahan membuka pintu kamarnya. Dia membukanya dengan begitu hati-hati karena tak ingin ada orang lain yang sampai melihatnya keluar dari kamar.


Dia melihat sekeliling, sepertinya semua orang memang sudah terlelap karena kelelahan. Dania pun bergegas menghampiri Randy yang sudah berada di dekat aula Villa lebih dulu.


"Maaf, nunggu lama." ucap Dania.


"Ga masalah." ucap Randy.


"Terus kita mau ngapain?" tanya Dania bingung sambil melihat sekeliling yang tampak sepi dan hanya terlihat pohon-pohon besar dan tinggi.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan lihat sekeliling Villa, nggak?" tanya Randy.


Dania tersenyum dan mengangguk.


Randy menggenggam tangan Dania dan menuntun Dania melangkah dengan langkah yang santai.


"Lucu ga, sih? Kita kaya gini udah kaya orang yang lagi pacaran diam-diam." ucap Randy sambil tersenyum melihat sekilas ke arah Dania.


Dania tersenyum dan mengangguk.


"Iya, aku aja sampai harus pelan-pelan buka pintu kamar, karena takut ketahuan orang." ucap Dania sambil tersenyum dan melihat ke arah Randy.


"Sepertinya banyak waktu yang terbuang sia-sia selama gue kehilangan ingatan gue." ucap Randy.


"Ga ada waktu yang terbuang sia-sia. Meski kamu belum mengingat aku dan anak-anak, tapi aku senang kok, kamu masih mau bertanggung jawab menjaga aku dan anak-anak." ucap Dania.


Randy pun tersenyum dan mengangguk.


"Yah." Randy dan Dania terkejut saat tiba-tiba saja hujan turun dengan tanpa gerimis terlebih dulu. Hujan itu bahkan langsung deras membuat Randy dan Dania sampai kelabakan melihat sekeliling untuk mencari tempat berteduh.


"Kita terlalu jauh pergi dari Villa, kalau balik ke sana percuma, karena baju kita bakalan basah." ucap Randy.


Tatapan Randy melihat ke arah saung kecil dan menarik Dania untuk ikut bersamanya.


Randy dan Dania pun masuk ke dalam saung dengan khas rumah makan Sunda tersebut yang terlihat tampak bersih dan sepertinya memang selalu dirawat dengan baik.


"Sorry, gara-gara gue ngajak lo keluar, lo jadi kehujanan." ucap Randy.


Baju keduanya terlihat basah karena hujan yang tiba-tiba saja turun.


Dania menggeleng dan tersenyum.


"Ga apa-apa, kok. Aku justru senang." ucap Dania.


"Lo senang di ajak menderita kaya gini?" tanya Randy sambil menatap Dania.


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" tanya Dania bingung.


"Ya, lihat aja, lo jadi harus kebasahan dan jadi kedinginan." ucap Randy.


Dania mengangguk dan meniup telapak tangannya.


"Aku emang kedinginan, tapi aku ga peduli selama itu sama kamu, aku akan tetap suka dan bahagia." ucap Dania.


Jelas sekali Dania terlihat menggigil kedinginan. Randy menarik Dania masuk lebih dalam menuju saung itu dan Randy pun duduk.


"Sini, biar gue peluk." ucap Randy sambil menepuk pahanya agar Dania mau duduk di pangkuannya.


Dania tertegun melihat tingkah Randy, entah mengapa semakin hari sikap Randy semakin jelas terlihat perubahannya. Dania semakin tak melihat rasa benci di mata Randy. Dia justru kembali merasakan kehangatan dari sikap Randy yang perlahan sama seperti sikap Randy dulu.


Dania pun duduk dipangkuan Randy dengan posisi duduk menyamping dan Randy langsung memeluknya.


"Gue juga kedinginan." ucap Randy.


Dia menempelkan wajahnya di bahu Dania.


Dania melepaskan pelukan Randy dan Randy pun menatap Dania dengan bingung.


"Kenapa? Tanya Randy.


Dania tersenyum dan merubah posisi duduknya. Dia pun kembali duduk dipangkuan Randy namun kini duduk menghadap Randy.


"Biar aku peluk kamu juga." ucap Dania sambil memeluk Randy. Dania memeluk Randy dengan cukup erat, seolah dia sedang menumpahkan segala kerinduannya pada Randy dan tak ingin melepaskan Randy walau hanya sedetik saja. Dia merindukan candaan Randy, rayuan Randy, kata-kata manis Randy, sentuhan Randy, dan segalanya yang ada pada diri Randy.


Dania semakin mengeratkan pelukannya saat terdengar suara petir yang cukup keras dan hujan pun semakin deras membuat udara semakin terasa dingin.


Randy pun terkekeh dan memeluk Dania dengan erat.


Hangat.


Itulah yang keduanya rasakan.


Pelukan yang awalnya untuk saling menghangatkan itu perlahan menjadi pelukan tak biasa, bukan kehangatan yang biasa yang keduanya rasakan, melainkan suhu tubuh keduanya semakin menghangat karena gairah yang tiba-tiba saja muncul.


Randy pun melepaskan pelukannya dan menatap Dania.


"Apa lo mau melakukannya sama gue sekarang? Di sini." ucap Randy.


Dania tertegun mendengar permintaan Randy. Tanpa berpikir panjang, dia pun langsung menganggukkan kepalanya.


******


Hai, hai, readers manisnya author πŸ€—


terimakasih untuk yang masih setia mengikuti kisah Istri Jelekku ini, tolong bantu vote novel istri Jelekku ini, ya.


Love you allπŸ€—πŸ€—


Tolong bantu jawab pertanyaan author, ya.


Apa kalian bosan dengan cerita ini?


Kalau iya, apa alasan kalian?


Dan kalau tidak, apa alasan kalian?


Karena jika kalian merasa bosan, author akan segera menamatkan novel Istri Jelekku ini. Dan author tak yakin, sih, akan ada kelanjutan dari cerita ini atau bisa dibilang tak yakin akan menulis sekuel dari cerita ini.


Kalau kalian tak merasa bosan dengan cerita ini, author akan lanjutkan menulis kisah Istri Jelekku ini 😊


Ngomong-ngomong, ada yang rindu visual Randy dan Dania kah? πŸ˜ŠπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2