
Malam hari.
Dania tengah menyiapkan makan malam di dapur. Ini adalah pertama kalinya semenjak Randy kehilangan ingatannya dia menyiapkan makan malam untuk Randy.
Ditengah kegiatannya, terdengar suara dering dari ponselnya. Dia pun bergegas mengambil ponsel itu.
Dia mengerutkan dahinya melihat satu nama yang ada di ponselnya itu.
"Gio." gumam Dania.
Ya, Gio lah yang menghubunginya.
"Halo, Yo." ucap Dania.
"Halo, Dania. Kamu dimana?" tanya Gio.
"Di rumah, kenapa Yo?" tanya Dania.
"Polisi menemukan titik terang tentang pelaku pembakaran restauran." ucap Gio.
"Apa? Kamu serius? Jadi, gimana sekarang perkembangannya?" tanya Dania antusias.
"Apa besok kamu sibuk? Sebaiknya kita bicarakan langsung saja, ga enak kalau bicara lewat telpon." ucap Gio.
"Besok, ya. Gimana, ya." ucap Dania bingung.
Dia tak mungkin meninggalkan anak-anak pergi jauh meski anak-anak ada baby sitter yang mengurus mereka.
"Biar aku yang ke Jakarta." ucap Gio.
"Apa? Serius, Yo?" tanya Dania.
"Iya, besok aku kabarin kalau udah di Jakarta." ucap Gio.
"Ya udah, nanti kamu kabarin aja lokasi untuk kita ketemu." ucap Dania.
"Iya, ngomong-ngomong gimana keadaan Randy? Apa dia udah lebih baik?" tanya Gio.
"Ya, begitulah. Kami sudah tinggal bersama lagi." ucap Dania.
"Sungguh? Apa ingatannya sudah kembali?" tanya Gio.
"Belum, Yo. Butuh waktu sepertinya." ucap Dania.
"Aku ngerti, kamu ga usah sungkan sama aku, kalau kamu butuh apa-apa bilang aja, siapa tahu aku bisa bantu." ucap Gio.
"Makasih, ya, Yo." ucap Dania.
"Ya, sama-sama. Kalau gitu, sampai ketemu nanti." ucap Gio.
Gio pun mematikan telponnya dan Dania terdiam sejenak.
Entah bagaimana caranya dia beralasan untuk pergi besok pada Randy. Sedangkan dia sudah memutuskan tak akan memberitahukan dulu tentang masalah restauran. Tentunya dia memikirkan keadaan Randy dan tak ingin Randy berpikir terlalu berat selama Randy belum benar-benar pulih.
"Mana makan malam gue?" tanya Randy yang tiba-tiba duduk di kursi makan.
Dania melihat ke arah wajan berisikan menu makanan yang sedang dia masak.
"Ya ampun ..! ucap Dania dengan ekspresi terkejutnya saat membuka tutup wajan tersebut dan langsung mematikan kompornya.
Randy pun terkejut dan bergegas mendekati Dania.
"Ada apa?" tanya Randy.
"Gosong." ucap Dania dengan memelas.
Lemas rasanya saat kita sudah capek-capek memasak, namun hasilnya makanan tersebut justru menjadi gosong dan tak bisa di makan.
"Apa?" ucap Randy terkejut sambil menatap wajan yang memang terlihat makanan gosong di sana. Dia terdiam sejenak, sepertinya kejadian ini pernah dia alami sebelumnya, tapi kapan itu, entah lah. Dia pun tak tahu dan tak ingin mempedulikannya.
"Ngapain aja emang dari tadi? Kenapa bisa sampai gosong begini, sih?" ucap Randy.
"Aku angkat telpon bentar barusan, aku ga tahu kalau masakan ku bakalan gosong." ucap Dania.
"Astaga, mana ponsel lo?" tanya Randy.
Dania menunjukkan ponselnya dan Randy langsung merebut ponsel itu dari tangan Dania.
"Ga ada main ponsel selama lo lagi ngerjain sesuatu. Ponsel lo gue sita." ucap Randy. Dia memasukkan ponsel Dania ke dalam saku celananya dan mengangkat wajan yang berisikan makanan gosong tersebut.
"Kamu mau apa?" tanya Dania bingung melihat Randy mengambil teplon dan meletakkannya di atas kompor. Dia pun memberikan sedikit margarin pada wajan tersebut.
"Gue lapar, mau makan." ucap Randy.
Dia mengambil beberapa butir telur, dan bahan-bahan lainnya.
"Kamu mau masak?" tanya Dania.
"Iya, lah. Kelamaan kalau gue harus nungguin lo masak masakan yang baru. Kalau lo ga bisa masak, mendingan ga usah sok-sokan buat masak." ucap Randy.
Dania pun terdiam, memang salahnya karena sudah ceroboh hingga membuat masakannya menjadi gosong dan tak termakan. Tetapi jika di bilang tak bisa masak, dia pun tak terima. Pasalnya, Randy bahkan sangat menyukai masakannya.
Setelah beberapa menit, jadilah omelet buatan Randy. Dia meletakkannya di piring dan mulai menyantapnya tanpa mau membaginya pada Dania.
Dania pun menghela napas, dia pikir Randy akan membagi masakan yang dibuatnya.
"Sabar, lihat aja kalau ingatan lo balik. Kalau mau makan, lo masak sendiri." Batin Dania.
Dengan perasaan kesal dia pun membuat makan malamnya sendiri sementara Randy hanya tersenyum melihat Dania yang tampak kesal karena dia tak mau membagi makanan yang sudah dibuatnya.
Setelah beberapa menit jadilah masakan yang Dania buat. Dia membuat makan malam mie instan karena sudah tak tahan menahan lapar . Bayangkan saja, harus menyusui dua bayi sekaligus tentunya dia selalu merasa lapar.
Randy yang melihat Dania akan memakan mie instan itu pun langsung merebut mangkuk mie itu, membuat Dania menjadi kesal dibuatnya.
"Apa-apaan, sih?" tanya Dania dengan nada kesal. Bagai singa kelaparan yang marah saat diganggu, begitulah Dania saat ini, dia kesal karena Randy mengganggu makan malamnya.
__ADS_1
Randy langsung membuang mie instan itu ke dalam tong sampah.
Dania pun membulatkan matanya.
"Kenapa dibuang, sih?" tanya Dania dengan nada kesal. Sungguh Randy menjadi menyebalkan semenjak kehilangan ingatannya. Dia jadi harus punya kesabaran yang ekstra untuk menghadapi sikap Randy.
Randy diam saja, dia tak merespon ucapan Dania. Dia mengambil piring dan membuka tutup teplon yang dia pakai untuk membuat omelet tadi. Ternyata masih tersisa satu omelet di dalam teplon tersebut. Rupanya Randy sengaja menyisakan untuk Dania. Randy meletakkan omelet itu di piring dan memberikannya pada Dania.
"Makan itu." ucap Randy.
Dania melihat bingung ke arah omelet itu dan menatap Randy.
"Ini -"
"Lain kali, kalau gue lihat lo makan mie instan lagi, bukan cuma mienya yang gue buang, tapi gue blokir semua toko mie instan itu." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya mendengar ucapan Randy. Dia tak mengerti apa maksud dari ucapan Randy.
"Lo itu lagi menyusui, harusnya lo makan makanan yang sehat dan bergizi, bukannya makan mie instan. Lo pikir gue ga bisa ngasih lo makanan bergizi apa?" ucap Randy tanpa melihat Dania dan masih terus menyantap makan malamnya.
Dania pun terdiam, dia tak menyangka Randy akan sebegitu perhatiannya padanya sampai-sampai nyatanya mau menyisakan makanan yang dia buat sendiri.
"Jangan kepedean, gue lakuin semua ini demi anak-anak. Gue ga mau anak-anak dapat ASI yang ga bagus." ucap Randy. Dia pun meninggalkan meja makan.
Dania pun tersenyum. Ada rasa senang di hatinya. Meski alasan Randy adalah demi anak-anak, tetapi ternyata Randy masih punya rasa peduli disaat keadaannya seperti saat ini.
Dania pun menyantap makan malamnya.
Di suapan pertama dia terdiam sejenak, dia menatap lekat omelet itu dan tanpa terasa air matanya pun menetas.
"Aku rindu kamu, yank." ucap Dania. Entah mengapa dia menjadi sedih namun sekaligus senang mendapatkan perhatian kecil itu dari Randy. Dia sungguh merindukan kebersamaannya bersama Randy.
Sementara di balkon kamar.
Randy duduk di kursi sambil menikmati angin sepoi-sepoi malam. Terasa sejuk sekali, sungguh suasana yang begitu menenangkan.
Randy teringat akan ponsel Dania dan dia pun mengambil ponsel Dania yang masih berada di dalam saku celananya itu.
Dia mengusap layar ponsel yang tak terkunci itu.
"Ceroboh banget, sih. Pake ga di kunci segala. Gimana kalau orang lain yang buka-buka dan nyuri sesuatu yang penting didalamnya?" ucap Randy.
Dania memang tak pernah mengunci ponselnya sejak masih bersama Randy dulu.
Mereka memang sepakat untuk saling terbuka dan tak menyembunyikan apapun dari satu sama lain. Karena itu Dania tak pernah mengunci ponselnya.
Pertama kali terlihat foto baby Raydan dan baby Rayna. Kedua bayi itu tampak terlihat menggemaskan. Mereka benar-benar bayi yang manis. Randy terus menatap foto kedua bayi itu. Dia pun tersenyum.
Sungguh sebuah mukjizat mendapatkan buah hati yang benar-benar manis dan menggemaskan seperti baby Raydan dan baby Rayna, mengingat Ibu kedua bayi itu Randy justru berpikir tentu saja semua itu karena darahnya begitu kuat mengalir ditubuh kedua bayi itu, karena itu baby Rayna tampak begitu cantik dan menggemaskan, sedangkan baby Raydan begitu tampan dan sama menggemaskannya seperti baby Rayna.
Randy akan membuka galeri foto di ponsel Dania, namun tiba-tiba saja ponsel Dania berbunyi dan ada satu pesan masuk ke dalam ponsel itu.
Randy pun penasaran dan membuka pesan dari yang tertulis dengan nama "Gio, Partner Bisnis"
Gio: Besok kita bertemu di Outlet restauran yang ada di Jakarta Pusat saja. Kebetulan aku udah lama ga datang ke Outlet.
Apa iya istrinya yang cupu dan terlihat norak itu adalah seorang pebisnis? Pikir Randy.
Randy mengklik foto profil WA Gio dan terlihat foto Gio yang tengah memakai stelan jasnya dan tengah berpose bak model. Dia terlihat gagah. Yah, tentu saja karena dia adalah seorang pebisnis sukses.
Randy menatap lekat foto Gio.
"Kaya pernah ketemu ini orang, tapi dimana?" gumam Randy.
"Rand ..!" panggil Dania yang baru saja memasuki kamar.
Dengan cepat Randy menutup ponsel Dania dan dia pun kembali ke dalam kamar.
"Apaan?" tanya Randy.
"Aku mau ambil ponsel aku." ucap Dania.
"Anak-anak udah tidur belum? Sebelum anak-anak tidur, lo dilarang main ponsel." ucap Randy.
Dania menghembuskan napas perlahan.
"Udah, Rand." ucap Dania sambil tersenyum semanis mungkin.
Randy tertegun melihat senyum Dania. Entah mengapa senyumnya terlihat begitu manis di mata Randy.
Jantung Randy pun tiba-tiba saja berdegup kencang.
"Ya udah, nih." Randy memberikan ponsel itu pada Dania dan bergegas keluar dari kamar.
Dia pergi menuju dapur dan mengambil minuman dingin didalam lemari es. Dia pun langsung menenggak minuman itu.
"Sial, dada gue." ucap Randy sambil memegang dadanya yang terasa sesak karena jantungnya yang masih saja berdegup kencang.
Dia kembali menenggak minuman itu sampai tak tersisa dan membuang botol itu kedalam tong sampah.
Dia pun pergi menuju kamar baby Raydan dan baby Rayna.
dilihatnya baby Raydan baby Rayna yang tengah tertidur pulas.
Randy pun tersenyum dan mengecup pipi chubby kedua bayi itu.
"Selamat bobo, sayang." ucap Randy sambil mengusap lembut pipi kedua bayi itu.
Entah mengapa perasaan itu begitu kuat sejak pertama kali melihat kedua bayi menggemaskan itu. Karena itulah Randy yakin bahwa kedua bayi itu memang lah darah dagingnya. Karena tak mungkin perasaannya sekuat itu jika kedua bayi itu bukan lah darah dagingnya.
"Tolong jaga mereka, ya, Mbak." ucap Randy pada Ajeng dan Dita.
"Iya, Mas." ucap Ajeng dan Dita bersamaan.
Randy pun keluar dari kamar itu dan akan masuk kedalam kamarnya. Dia menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu kamarnya. Dia ragu untuk masuk kedalam.
__ADS_1
Akhirnya dia pun pergi menuju ruang tamu dan memilih menonton tv sebentar.
Setelah beberapa saat.
Randy mulai mengantuk dan mematikan tv nya. Dia pun pergi menuju kamarnya.
Dengan menahan kantuk Randy mulai memasuki kamarnya. Dia membulatkan matanya begitu melihat Dania yang tertidur dengan posisi memunggunginya dan dress tidurnya naik sedikit hingga paha putih mulusnya terlihat.
Randy menelan air liurnya dengan susah payah. Suhu tubuhnya terasa memanas melihat pemandangan tersebut. Dibawah sana bahkan sudah terasa sesak.
"Ada apa sama gue? Kenapa gue kayak gini?" gumam Randy. Randy mengusap wajah kasar dan bergegas menghampiri Dania.
Dia menarik selimut yang tertindih oleh tubuh Dania.
"Ya ampun, selimut itu di pakai buat nutupin tubuh, bukan malah begini." gumam Randy.
Randy kesulitan menarik selimut itu karena selimut itu berada dibawah tubuh Dania.
"Astaga, nyusahin aja ini orang." gumam Randy dengan nada kesal.
Randy menarik napas dalam dan menatap intens tubuh Dania.
Dia pun mengangkat tubuh Dania.
"Aaarggghhh .."
Brugh ..
Dania menjerit dan Randy pun menjadi terkejut hingga keduanya terjatuh ke atas tempat tidur.
"Aduhhh .. Sakit." ucap Dania saat Randy **** tubuhnya hingga tubuh keduanya begitu sangat dekat dan saling bersentuhan.
Randy pun bergegas bangun namun tiba-tiba dia terkejut saat resleting celana jeans nya tersangkut dengan dress tidur yang Dania kenakan.
"Ya ampun, apa lagi, sih?" gumam Randy dengan kesal sambil melihat kearah resleting celananya
"Ayo dong bangun, sesak, nih." ucap Dania.
"Astaga, sabar kenapa, sih." ucap Randy sambil mencoba melepaskan resleting yang tersangkut ke dress tidur Dania.
Dania benar-benar merasa tak nyaman hingga dia pun menjadi tak bisa diam.
"Diem kenapa, sih? Ini ga akan selesai kalau lo ga bisa diem." ucap Randy dengan nada kesal.
Dia sungguh kesal melihat Dania yang tak bisa diam. tengkuknya bahkan terasa pegal karena terus menunduk melihat kearah resleting celananya sambil mencoba melepaskan resleting itu dari dress tidur Dania.
"Lagian kamu mau ngapain, sih? Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini?" ucap Dania bingung.
Dia tak mengerti apa yang sebenarnya akan dilakukan suaminya itu.
"Ini semua gara-gara lo." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya dan mengangkat kepalanya kemudian melihat kearah celana Randy.
"Kenapa jadi nyalahin aku?" ucap Dania bingung.
"Karena tidur lo ga bener, gue cuma mau ambil selimut yang lo tiduri, tapi gue kesusahan, makanya gue angkat tubuh lo, lo malah teriak, bikin orang jantungan aja." ucap Randy dengan nada kesal.
Dania semakin dibuat bingung mendengar ucapan Randy. Lagi pula bagaimana dia tak teriak jika tiba-tiba ada wajah seseorang di hadapannya. Tentu saja dia pun menjadi terkejut.
"Aaahh .. Sial, susah banget, sih." ucap Randy dengan nada kesal.
Dania terkejut saat Randy menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhnya dan posisi kepala Randy berada tepat diatas dadanya.
"Please sebentar aja, sumpah tengkuk gue pegel banget. Sakit banget kepala gue, benerin resleting nyangkut ga selesai-selesai." ucap Randy.
Dania tersentak saat merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.
Dia pun menepuk lengan Randy dan Randy pun mendongak menatap Dania.
"Kenapa?" tanya Randy.
"Itu keras." ucap Dania.
Randy mengerutkan dahinya.
"Itu apaan?" tanya Randy.
"Itu dibawah keras banget." ucap Dania.
Randy semakin dibuat bingung.
"Apaan, sih? Ngomong yang jelas" ucap Randy.
"Astaga, Adik kamu keras banget." ucap Dania.
Randy terkejut mendengar ucapan Dania.
Dia pun bergegas bangun dan melihat kearah celananya yang memang sudah sejak tadi terasa sesak.
"Kan udah gue bilang, ini semua gara-gara lo, gara-gara tidur lo posisinya yang ga bener, makanya dia jadi bangun." ucap Randy dengan nada kesal. Dia pun menarik paksa resletingnya hingga membuatnya terlepas.
"Huh, akhirnya lepas juga." ucap Randy.
"Lain kali kalau tidur pakai celana aja, jangan pake baju begituan." ucap Randy sambil berlalu ke kamar mandi.
Dania terdiam sejenak. Dia pun tersenyum lebar. Dia tak menyangka ternyata suaminya itu menelan ucapannya sendiri yang mengatakan dia tak akan pernah bernafsu melihat wajah jeleknya itu.
Lihat lah kenyataannya Randy pun tetap tergoda meski penampilan Dania seperti itu. Milik Randy bahkan tetap keras meski sudah melihat wajah tompel Dania.
******
Hai, hai readers.
Makasih, ya untuk yang sudah bantu vote untuk novel Istri Jelekku ini.
__ADS_1
Tolong dukung terus Novel Istri Jelekku ini dengan bantu vote author, ya, readers manisnya author 🤗🤗🤗
Love you all 🥰🥰😘😘