
Dania mendengus kesal karena ternyata Dio justru mengerjainya.
"Dasar, dua anak itu emang cocok, sama-sama ngeselin." Gumam Dania.
Dania pun teringat ponselnya.
"Ya Tuhan, ketinggalan di mobil lagi." ucap Dania.
Dania pun semakin gelisah karena telah meninggalkan baby Raydan dan baby Rayna.
Meski kini kedua buah hatinya itu bersama sang baby sitter, namun Dania tetap Khawatir meninggalkan mereka.
Dania melihat sekeliling kamar dan duduk di tepi tempat tidur.
Dia mengusap lembut tempat tidur yang berbalut sprei itu.
Tempat tidur miliknya bersama Randy, ditempat itulah mereka selalu berbagi cerita dan cinta.
Sejujurnya Dania pun tersiksa berada jauh dari Randy, bagaimana pun juga hidupnya benar-benar sudah bergantung pada Randy.
Hanya saja, dia masih kesal dengan Randy karena sudah berani membohonginya.
Apa gunanya menjalin sebuah hubungan, berbagi ranjang, namun tak ingin berbagi setiap masalah yang ada.
Seharusnya apapun yang terjadi, semuanya haruslah dihadapi bersama. Mau itu suka atau pun duka.
Dania melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Dia pun semakin di buat kesal, entah apa maksud Randy menyuruh Dio untuk mengurungnya di apartemen.
Kenapa juga suaminya itu tak berpikir, bahwa saat ini dia tengah meninggalkan baby Raydan dan baby Rayna dirumah.
Dania menguap, dan matanya memerah serta berair.
Rasa kantuk pun mulai dia rasakan.
Namun sebisa mungkin dia tak ingin tertidur, dia ingin segera keluar dari kamar itu dan secepatnya keluar dari apartemen.
Dania melihat lagi jam di tangannya dan ternyata waktu berlalu dengan cepat. Bahkan kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Dania pun semakin kesal dan tak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba saja Dania teringat sesuatu dan bergegas mencarinya.
"Duh, dimana kunci cadangannya?" gumam Dania.
Dania mencari kunci cadangan kamar itu di laci-laci samping tidurnya.
Dania pun tersenyum begitu menemukan kunci cadangan tersebut.
Dengan cepat dia memasukan kunci itu dan membuka pintu kamar.
Dia terkejut begitu melihat Randy yang kini ada di hadapannya.
Randy pun langsung memeluk Dania dengan erat. Dia sungguh merindukan Dania, merindukan kekasih hatinya itu.
"Lepas." ucap Dania.
Randy menggelengkan kepala dan semakin memeluk Dania dengan erat.
"Aku kangen kamu, sayang. Aku kangen anak-anak. Kenapa kalian pergi ga bilang-bilang? Aku cemas, yank." ucap Randy.
Dania tersenyum tipis dan mendorong tubuh Randy hingga pelukan itu pun terlepas.
"Benarkah? Kalau kamu kangen aku dan anak-anak, kamu ga akan diem aja dan malah nyuruh orang lain buat bohongin aku, supaya aku datang kesini. Harusnya kamu jemput aku dirumah orang tua aku, tapi apa? Kamu diem aja, kamu bahkan ga mau jemput aku." ucap Dania dengan nada kesal.
Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania.
"Aku ke rumah Papa, yank. Aku mau jemput kamu, tapi aku ga di bolehin masuk ke sana." ucap Randy.
"Konyol, siapa juga yang mau ngelarang kamu masuk ke rumah." ucap Dania.
"Aku serius." ucap Randy.
"Emang security ga bilang ke kamu, kalau aku datang ke rumah, tadi pagi?" tanya Randy.
"Udah, deh, ga usah banyak alasan. Basi." ucap Dania.
Dania pun memaksa melewati Randy dan keluar dari kamar.
Begitu akan membuka pintu keluar apartemen, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorongnya.
Brugh.
"Duhh .."
Dania meringis saat tubuhnya menabrak pintu apartemen.
Dania tersentak saat Randy membalikkan tubuhnya dan langsung menghimpit tubuhnya.
Dania menelan air liurnya melihat Randy tengah menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.
Tatapan itu terlihat seperti ada rasa kesakitan di dalamnya.
Entah lah, Dania pun tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Randy.
"Lepasin, dong." ucap Dania dengan nada kesal.
"Nggak." ucap Randy dengan santai.
Dania menatap Randy dengan tatapan tajam, namun Randy justru mencium bibir Dania sekilas.
"Kangen, yank." ucap Randy dengan wajah sedihnya.
Seketika mata Dania memerah menatap wajah sedih Randy.
Dia pun sama sedihnya karena harus berada jauh dari Randy.
"Tolong jangan pergi diam-diam lagi, jangan siksa diri kamu sendiri, Yank. Aku tahu kamu juga kangen aku, kan?" ucap Randy.
Dania tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya.
"Udah lah, aku harus pergi. Kasihan anak-anak aku tinggal dirumah." ucap Dania.
Bukannya menyingkir, Randy justru mengangkat tubuh Dania ke atas dan menggendongnya masuk menuju kamar.
Randy mendorong pintu kamar dengan cukup keras dan menghempaskan tubuh Dania ke atas tempat tidur.
Dia pun langsung mendindi tubuh Dania dan menatap Dania.
"Jangan kayak gini, dong. Aku lagi ga mau." ucap Dania.
Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania.
__ADS_1
"Ga mau apa?" tanya Randy bingung.
"Ya, ga mau. Aku masih kesal sama kamu, jadi ga ada jatah buat kamu." ucap Dania dengan nada kesal.
Randy pun terkekeh dan mencium gemas leher Dania, membuat Dania merasakan kegelian dan menyunggingkan senyumnya walau sekilas.
"Minggir, ih." ucap Dania dengan nada jutek.
"Kalau aku ga mau lepas, gimana?" tanya Randy sambil tersenyum.
"Aku ga mau ngomong lagi sama kamu." ucap Dania dengan nada kesal.
"Aku rela kamu ga ngomong lagi sama aku, asalkan kamu selalu ada di sisi aku untuk selamanya. Aku bisa lihat kamu setiap hari, aku bisa lihat senyum kamu." ucap Randy.
Dania pun tersenyum tipis dan mendorong tubuh Randy hingga terjengkang ke belakang.
Dengan cepat Dania akan bangun, namun Randy langsung menarik tangannya hingga kini posisi Dania berada di atas tubuh Randy.
Randy mengeratkan pinggang Dania, sementara Dania mencoba menahan tubuhnya dan menjauhkan wajahnya agar tak terlalu dekat dengan Randy.
"Jangan siksa aku karena kesalahan aku, yank. Kamu boleh hukum aku dengan cara apapun. Tapi, tolong jangan hukum aku dengan cara menghilang dari pandangan aku. Aku sungguh sedih yank, aku ga bisa jauh dari kamu. Dan, kamu tahu itu, yank." ucap Randy dengan tatapan memelas.
"Kamu tahu, Yank. Aku menyesali kesalahan aku, tapi aku akan lebih menyesali pernah hidup di dunia ini, kalau kamu dan anak-anak sampai pergi ninggalin aku. Aku ga bisa, yank. Aku ga bisa kehilangan kalian. Aku akan ngelakuin apapun supaya kamu mau maafin aku." ucap Randy sambil menatap dalam ke arah mata Dania.
Dania dapat merasakan kesedihan di mata Randy, ingin sekali rasanya dia berteriak dan mengatakan "aku pun merindukanmu" namun, sayangnya itu begitu sulit untuk di ucapkan.
Dania hanya diam dan tak berani memandang wajah Randy. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya yang beku bagaikan es pun seketika menjadi mencair saat mendengar ucapan Randy.
Randy selalu bisa mendingkan hatinya yang memanas.
"Aku harus balik ke rumah Papa, aku udah ninggalin anak-anak terlalu lama." ucap Dania.
Randy berpikir sejenak.
"Mungkin ini saatnya membuktikan, bahwa apapun dan bagaimana pun orang lain akan memisahkan aku dengan Dania, kami tak akan pernah terpisahkan. Karena cinta kami akan selalu membawa kami untuk kembali bersama." batin Randy.
Randy mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Dia menghubungi nomor telpon Papa mertuanya itu.
"Halo, dimana Dania?" tanya Papa Hamish dengan nada tak suka.
Dia bahkan tanpa basa-basi langsung menanyakan keberadaan Dania.
"Dania sama aku, Pa. Kami akan menghabiskan malam bersama dengan hanya berdua saja. Jadi, tolong titip anak-anak dulu. Sampaikan pada anak-anak, kalau Mommy dan Papanya akan membuatkan adik untuk mereka." ucap Randy sambil menyunggingkan seringai sinis nya.
Terdengar hembusan napas berat yang Papa Hamish keluarkan.
Randy pun langsung mematikan telponnya dan memanggil nomor Ajeng.
Dania hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Halo, Mbak. Ini saya, Papanya anak-anak." ucap Randy.
"Oh, iya, Mas." ucap Ajeng.
"Tolong titip anak sebentar, saya dan Dania ada urusan untuk malam ini." ucap Randy.
Telpon pun berakhir setelah Ajeng mengiyakan ucapan Randy.
Dania menatap Randy tak suka dan memaksa melepaskan diri dari Randy. Sehingga kini posisi Dania tak lagi berada di atas tubuh Randy.
Randy pun mendudukkan dirinya dan terus menatap Dania.
"Lain kali jangan kayak gitu, kamu juga seharusnya bersikap sebagai pria sejati. Bukannya jemput istri, malah nyulik istri." ucap Dania sambil berjalan menuju dapur.
"Emang salah kalau aku mau berdua aja sama kamu? Lagi pula, kita udah lama ga punya waktu untuk berduaan." ucap Randy sambil memeluk Dania dari belakang.
Tangannya pun melingkar di perut Dania, dan mengusap lembut perut Dania.
"Ayo kita bikin adik yang banyak untuk Abang dan ade, dengan begitu, kedepannya hubungan kita akan semakin kuat, meski banyak rintangan yang akan mencoba memisahkan kita.
Dania mengerutkan dahinya dan meletakkan gelas di meja.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Randy yang juga tengah menatapnya dan tersenyum.
"Aku ga mau." ucap Dania sambil berlalu menuju kamar.
"Kenapa?" tanya Randy.
"Ya, ga mau aja." ucap Dania.
Randy pun menghembuskan napas agak kasar.
"Aarrgghh .." Dania menjerit terkejut saat Randy menggendong tubuhnya dan sekali lagi Randy menghempaskan nya ke atas tempat tidur.
"Ya Tuhan, kasar banget, sih." ucap Dania dengan nada kesal.
"Maaf, ga sengaja. Kamu tambah berat kayaknya sekarang, yank." ucap Randy sambil tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Dania. Dia akan mencium bibir Dania namun Dania langsung mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga hingga Randy pun terhempas ke belakang.
Entah mengapa, malam ini Randy tak sekuat biasanya.
Randy hanya menatap Dania yang tengah mengganti dress nya dengan dress tidurnya.
Meski rasanya ingin sekali dia melakukannya pada Dania, namun dia tak ingin memaksa Dania dan membuat Dania semakin marah padanya.
Jika ditanya, apa yang paling menyedihkan untuknya? Maka, marahnya Dania lah yang membuatnya sedih.
Randy pun melangkah menuju lemari pakaiannya dan mengambil baju ganti untuknya.
Sementara Dania pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Setelah itu, dia pergi menuju dapur dan berniat ingin membuatkan cokelat hangat kesukaan Dania.
Mungkin setelah itu, Dania akan sedikit memaafkannya.
Setelah selesai membuat segelas cokelat hangat dan segelas latte untuknya, Randy pun kembali ke kamar.
Dia menghela napas saat melihat Dania yang sudah memejamkan matanya.
Dia pun meletakkan cokelat hangat itu di atas lemari kecil di samping tempat tidur.
Dia mencium pipi Dania dan mengusap lembut rambut Dania.
Setelah itu dia pergi menuju balkon dengan membawa segelas latte yang sudah dia buat.
Sejuk.
Udara malam ini terasa sejuk dan menenangkan.
Hatinya yang beberapa jam lalu merasa gelisah pun seolah tenang seketika saat melihat Dania.
Dia melihat langit gelap yang tampak di hiasi beberapa bintang.
Dia terpikirkan sesuatu tentang Papa mertuanya.
__ADS_1
Apa sebetulnya yang membuat Papa mertuanya itu sampai tega ingin mencelakainya? Bukankah itu sama saja dengan menghancurkan hidup anaknya?
Entahlah, dia akan mencari waktu yang tepat untuk menemui Papa mertuanya itu dan meminta penjelasan padanya.
Dalam hatinya, dia berharap bahwa semua itu hanyalah ke salah pahaman.
Semoga apa yang di katakan orang itu tentang mertuanya itu bukanlah kebenaran.
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan napas berat.
Dia menyenderkan punggungnya di kursi dan menyesap latte miliknya.
Setelah merasa cukup, dia pun bangun dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Dia mengambil gitar kesayangannya dan membawanya menuju balkon.
Dia pun duduk di kursi dan melihat bintang-bintang di langit gelap itu, kemudian mulai memetik gitarnya.
******
Dulu memang aku pernah salah,
Dan semuanya telah ku lakukan.
Namun bukan berarti hidup dan cintaku,
Tak tertuju padamu.
Saat ini sejenak dengarkanlah, sayang.
Semua itu hanya perjalanan,
Dan mungkin aku akan terjatuh lagi,
Di kesalahan yang sama.
Oo ...
Hanya satu inginnya hatiku,
Hanya satu inginnya cintaku,
Terima sebagai mana adanya diriku,
Dan ku akan tetap mencinta.
Kau yang buatku mengerti,
Dimana harus ku kembali,
Saat ku hancur dan terhempas,
Di kesalahan yang sama.
Oo ...
Hanya satu inginnya hatiku,
Hanya satu inginnya cintaku,
Terima sebagai mana adanya diriku,
Dan ku akan tetap mencinta ..
Kau yang buatku mengerti,
Dimana harus ku kembali,
Saat ku hancur dan terhempas,
Di kesalahan yang sama....
******
Randy menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan terkejut melihat Dania sudah berdiri di sampingnya dengan memegang gelas cokelat hangat yang sudah dia buat.
"Kenapa kamu bangun lagi, yank?" tanya Randy.
Bukannya menjawab, Dania justru duduk di samping Randy dan menyenderkan punggungnya.
Dia pun menyesap cokelat hangat miliknya dan menatap ke langit malam yang di hiasi beberapa bintang itu.
"Ga bisa tidur." ucap Dania.
"Kamu lapar? Mau aku buatin sesuatu?" tanya Randy.
Dania menggelengkan kepalanya.
"Temani aku di sini." ucap Dania.
Randy tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa kamu bohongin aku?" tanya Dania sambil menatap dalam ke arah mata Randy.
"Apa?" tanya Randy balik.
"Kenapa kamu bohongin aku? Kenapa kamu pura-pura hilang ingatan? Apa ada sesuatu yang ga aku tahu?" tanya Dania.
Randy mengalihkan pandangannya dan menghembuskan napas perlahan.
"Udah aku bilang, ga ada alasan untuk itu." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya dan meletakkan gelas cokelatnya di atas meja.
Dia memaksa mengalihkan wajah Randy agar berhadapan dengannya.
"Jujur sama aku, apa yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Dania.
Bukannya menjawab, Randy justru menarik tengkuk Dania dan melumat bibir Dania.
Dania tak menolak namun tak membalas ciuman Randy.
Dia pun hanya diam saja, sementara Randy mencoba memaksakan lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Dania.
Sadar tak mendapatkan respon dari Dania, dia pun mengusap lembut titik sensitif Dania, membuat Dania melenguh dan tanpa sadar mulai membalas ciuman Randy.
Entah bagaimana caranya, tanpa keduanya sadari kini Dania pun sudah berada di pangkuan Randy.
Mereka masih saling menyesap manisnya bibir masing-masing, menyalurkan kerinduan yang sudah memuncak dan jika di ibaratkan dengan gunung berapi, mungkin sudah siap untuk meledak.
Setelah keduanya merasa kekurangan oksigen, ciuman itu pun berakhir.
Randy menatap Dania dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan.
__ADS_1
"Karena aku mencintaimu, itulah alasannya aku membohongimu." ucap Randy.