
Hai, hai, author kembali🤗
Terimakasih untuk yang sudah support novel Istri Jelekku dengan vote kalian, sehingga novel Istri Jelekku masuk dalam ranking 20 besar dan berada di ranking 11.
Semoga kalian tetap suka dengan isi cerita yang author tulis setiap harinya. Dan maaf karena author telat update.
Author harap kalian tetap setia mengikuti kisah novel Istri Jelekku ini dan mau membantu support dengan memberikan vote kalian 🤗🤗🤗
******
Semua orang tengah bersiap karena acara outbound akan segera dimulai.
Dania mencari Randy diantara perkumpulan Mahasiswa yang tengah bersiap-siap namun tak menemukan Randy di sana.
"Nyari siapa?" tanya Zia.
"Randy. Dia kemana, ya? Kok ga kelihatan?" ucap Dania.
Zia melihat sekeliling namun memang benar Randy tak ada di sana.
"Apa dia masih di kamarnya, ya?" ucap Dania.
"Ga tau juga, deh. Coba tanya sama si Dino." ucap Zia.
Dania mencari keberadaan Dino dan beruntunglah dia dapat menemukan Dino.
"Gue ga mungkin nanya ke dia, tolong Lo aja deh yang nanyain Randy." ucap Dania.
Zia mengangguk dan menghampiri Dino.
"Din, lo lihat Randy, ga?" tanya Zia.
"Dia, ya. Tadi, sih, dia bilang mau ke kamar bentar." ucap Dino.
Zia mengangguk dan menghampiri Dania. Dia pun memberitahukan apa yang di katakan oleh Dino.
"Ya udah, gue samperin Randy dulu, ya. Takut ada apa-apa soalnya." ucap Dania.
Zia mengangguk dan Dania pun bergegas menuju kamar Randy.
Begitu sampai di kamar, Dania melihat Randy yang tengah berbicara di telpon.
Dania pun mulai mendekat ke arah Randy.
Randy pun melihat ke arah Dania.
"Nanti kita bicarakan masalah ini lagi, saya masih ada urusan." ucap Randy.
Randy pun menutup telpon itu.
"Ngapain kesini?" tanya Randy.
"Aku khawatir sama kamu, takutnya kamu kenapa-napa." ucap Dania.
"Jangan kayak gini di depan banyak orang, sebaiknya kita bersikap layaknya kita ga saling kenal." ucap Randy dan berlalu meninggalkan Dania.
Dania mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti apa maksud dari ucapan Randy. Bukankah semuanya baik-baik saja? Semalam mereka bahkan begitu dekat, bahkan terakhir kali saat sarapan pun Randy masih bersikap biasa saja.
Dania bergegas mengejar Randy dan menahan tangan Randy.
Dania terkejut saat Randy menepis tangannya.
"Udah gue bilang jangan dekat-dekat gue ..! Sebaiknya lo pikirin diri lo sendiri dan anak-anak, ga usah peduliin gue." bentak Randy.
Randy pun pergi meninggalkan Dania yang terdiam. Dia sungguh syok karena Randy membentaknya.
Dania pun meneteskan air matanya. Hati istri mana yang tak terluka jika dibentak oleh suami sendiri. Meski Dania tahu Randy sedang kehilangan ingatannya, namun dia pikir Randy sudah mulai menerimanya, karena itu beberapa hari ini Randy bersikap berbeda dan terasa mulai menghangat.
Tring .. Tring ..
Dania mengambil ponselnya saat terdengar suara dering. Terlihat nomor kantor Polisi daerah Bandung yang menangani kasus kecelekaan Randy di layar ponselnya.
"Halo." ucap Dania.
"Halo, dengan Ibu Dania?" tanya Polisi.
"Iya betul, apa sudah ada kabar terbaru tentang masalah kecelakaan suami saya.?" tanya Dania.
"Apa anda bisa datang ke kantor Polisi besok? Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan." ucap Polisi.
"Apa ada masalah?" tanya Dania.
"Sebaiknya kita bicarakan saat anda sudah berada di kantor Polisi saja." ucap Polisi.
"Baik lah, saya usahakan datang." ucap Dania.
Telpon itu pun berakhir.
Dania terdiam sejenak, dia berharap semoga sudah ada titik terang tentang masalah kecelakaan Randy. Untuk masalah restauran, dia tak begitu ambil pusing karena dia sudah menyerahkan sepenuhnya masalah itu pada Gio dan Sheila.
Dia menghela napas sejenak dan kembali berkumpul dengan teman-teman Mahasiswa yang lain.
"Lo habis ngapain, sih? Si Randy udah balik dari tadi." ucap Zia.
"Habis terima telpon dulu." ucap Dania.
Zia pun mengangguk.
Tak lama acara pun dimulai, semua begitu antusias ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 wib. Semua orang berpindah menuju kolam renang untuk memainkan sebuah games di sana. Games yang dibagi kedalam beberapa kelompok, yang mana mereka harus memasukkan air ke dalam sebuah tabung yang berlubang sementara anggota kelompok yang lainnya mencoba menutupi lubang tersebut.
Setiap orang dari kelompok masing-masing bergantian mengambil air dari kolam renang menggunakan ember dan memasukannya kedalam tabung.
"Aarrggghhh .."
Byurrr..
Dania menjerit saat terpeleset dan tercebur kedalam kolam renang.
Alex yang melihat Dania tercebur pun tanpa pikir panjang langsung melompat ke dalam kolam renang.
Alex menggendong Dania.
Dania langsung mendorong tubuh sehingga keduanya kembali tercebur kedalam kolam.
Alex pun kembali menggendong tubuh Dania.
__ADS_1
"Udah diem, Lo peluk gue, tompel lo lepas." ucap Alex.
Dania memegang pipinya dan benar saja tompel nya memang terlepas.
"Tapi, Lex, ga enak dilihat semua orang." ucap Dania.
"Lo lebih mikir ga enak atau lo mau semua orang tahu siapa lo yang sebenarnya, ha?" bisik Alex.
Dania menundukkan kepalanya dan menutup pipinya dengan rambut basah juga telapak tangannya.
Dia tak mendengarkan ucapan Alex dan tak ingin memeluk Alex.
"Terserah, deh." ucap Alex dan menggendong Dania menuju pinggir kolam.
Begitu sampai di pinggir kolam, Zia langsung memberikan handuk pada Dania.
"Zi, kaca mata gue hilang, dan tompel gue lepas, tolong cariin dong." bisik Dania.
"Apa? Lo gila, ya. Gimana gue nyarinya?" ucap Zia.
Zia melihat ke arah kolam namun dia kesulitan mencari tompel Dania karena semuanya sudah mulai melanjutkan games itu dan air kolam pun menjadi tak tenang.
"Astaga, gue ga tahu dimana tompel lo." ucap Zia.
"Duh, Zi, gimana dong?" tanya Dania cemas.
Zia pun menjadi ikut cemas dan menarik Dania menuju kamar mereka.
Dania begitu cemas memikirkan identitasnya yang takut akan terbongkar di depan teman-teman lainnya, sementara Randy justru tengah mengatur napasnya yang terasa sesak karena melihat istrinya itu di sentuh Pria lain.
Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sabar, Rand. Setelah semua ini, lo bisa habisin siapa aja yang udah berani nyentuh Dania." batin Randy dengan geram.
Dadanya benar-benar sesak melihat Dania dekat dengan pria lain. Dia benar-benar kesal melihat Dania di sentuh Pria lain, namun dia pun tak ada pilihan lain selain diam saja. Dia tak ingin semua orang tahu kalau Dania adalah istrinya.
Di kamar.
Dania tengah membersihkan tubuhnya di kamar mandi, sedangkan Zia membantu menyiapkan pakaian untuk Dania.
Setelah beberapa saat Dania keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya.
"Gue ga bisa balik ke sana, Zi . Tompel gue hilang." ucap Dania.
Dia sungguh gelisah, entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia bahkan tak memiliki tompel cadangan.
"Duh, gue juga ga tahu harus ngapain. Lagian ada-ada aja, sih, pake jatuh ke kolam segala." ucap Zia.
Entah mengapa dia menjadi ikut gelisah.
Tok, tok, tok.
Dania dan Zia saling tatap.
"Siapa, ya, Zi?" tanya Dania cemas.
Zia menggeleng dan mengambil sesuatu di dalam tasnya.
"Pakai ini." ucap Zia sambil memberikan masker pada Dania.
Dania pun mengambil masker itu dan memakainya. Sedangkan Zia langsung membuka pintu kamar.
"Siapa, Zi?" tanya Dania sambil mendekati Zia.
Dania mengerutkan dahinya saat melihat Alex yang ternyata ada didepan pintu kamarnya.
"Gue ada urusan sama Dania sebentar, bisa tinggalin kita berdua, ga?" ucap Alex.
Zia menatap Dania.
"Lo jangan macem-macem, ya. Dania tuh cewek baik-baik, dia ga bakalan kemakan gombalan lo." ucap Zia.
"Astaga, apa, sih, Zi? Gue cuman mau ngomong berdua, ada hal penting yang mau gue omongin sama Dania." ucap Alex.
"Ga apa-apa, Zi." ucap Dania.
"Lo yakin?" tanya Zia.
Dania pun mengangguk.
"Ya udah, gue balik ke anak-anak lagi, deh." ucap Zia dan pergi meninggalkan Dania bersama Alex.
Alex melihat sekeliling dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya yang basah kuyup.
"Ini." Alex memberikan sesuatu pada Dania.
Dania membulatkan matanya dan segera mengambilnya.
Ternyata itu adalah kacamata dan tompel palsu miliknya.
"Akhirnya, aku udah cemas karena ga ada ini." ucap Dania.
Alex tersenyum dan menarik masker Dania.
"Alex ..!" ucap Dania dengan setengah membentak.
Dia tak menyangka Alex akan begitu lancang menarik masker yang menutup wajahnya itu.
"Gimana kalau ada orang yang lihat?" tanya Dania.
Dia menatap Alex dengan tatapan tajam.
Alex hanya terkekeh melihat ekspresi kesal Dania.
"Cuman ada kita berdua aja, sih." ucap Alex.
Dania pun melihat Alex dengan malas dan bergegas masuk, meninggalkan Alex yang juga mulai meninggalkan kamar Dania.
Dania kebingungan saat menempelkan tompel itu namun ternyata tak dapat menempel di pipinya.
"Ya Tuhan, ini yang bikin kesal kalau lagi nyamar. Ga tenang hidup aku." ucap Dania dengan nada kesal. Dia muak karena harus melakukan hal konyol yang membuatnya kesusahan sendiri.
"Kalau bukan karena Randy, aku ga mau kaya gini." ucap Dania.
Dia pun memakai maskernya dan kembali berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
******
__ADS_1
Waktu pun berlalu dan jam sudah menunjukkan pukul 19.00 wib. Semuanya berkumpul di aula Villa dan menyantap makan malam mereka. Setelah selesai makan malam, panitia mengumumkan pemenang dari games tadi siang dan memberikan bingkisan untuk semua Mahasiswa.
"Setelah ini kalian siap-siap, kita akan pulang ke Jakarta malam ini." ucap Panitia.
Setelah selesai makan malam, semua mahasiswa pun pergi menuju kamar masing-masing dan membereskan barang-barang mereka.
Pukul 21.30 wib semuanya tengah bersiap masuk kedalam bus.
Ting, ting.
Dania membuka pesan masuk di ponselnya, dan ternyata pesan itu dari Randy.
Hubby: Jangan sampai ketinggalan lagi, jangan nyusahin orang.
Dania melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan Randy, ternyata Randy sudah berada dalam bus.
Dania pun masuk ke dalam bus dan kursi yang tersisa adalah kursi kosong milik Randy.
"Dania ..!" panggil Alex yang tiba-tiba masuk ke dalam bus.
Dania pun melihat ke arah Alex dan mengerutkan dahinya saat Alex mulai mendekat.
"Lo bareng gue aja baliknya, gue anterin sampai rumah. Jadi, lo ga harus ke Kampus dulu." ucap Alex
Dania menatap Randy yang juga tengah melotot menatapnya.
Dania pun menggelengkan kepalanya.
"Aku di bus aja, ga enak sama yang lain." ucap Dania.
Alex pun melihat ke arah teman-temannya.
"Ya udah, gue juga disini aja, deh." ucap Alex.
Dia memberikan kunci mobil pada temannya, dia meminta temannya agar membawa mobilnya. Sedangkan dia akan naik bus saja.
Dania pun duduk di sebelah Randy yang tengah duduk di sebelah pojok dekat jendela. Dan Alex duduk di sebelah Dania. Hingga kini Dania duduk di antara Randy dan Alex, karena memang satu kursi untuk tiga orang.
"Lo ngapain, sih?" tanya Randy sambil menatap Alex.
"Duduk, lah." ucap Alex dengan santai.
"Kenapa disini? Kan ada tempat lain." ucap Randy.
Dia sungguh malas melihat Alex.
"Gue maunya disini." ucap Alex Sambil tersenyum menatap Dania.
Dania mengabaikan kedua pria itu dan memilih memakai headset di telinganya dan mendengarkan musik.
Randy pun mendengus kesal dan memilih melihat ke arah luar jendela.
Tak lama bus mulai melaju, meninggalkan Villa.
Diperjalanan mereka memainkan gitar dan saling bernyanyi.
Alex menarik headset Dania dan tersenyum.
"Apa, sih, Lex?" tanya Dania dengan menatap malas pada Alex.
Entah mengapa, Alex selalu mengganggunya.
"Gue mau maju ke depan sana, lo lihatin gue, ya." ucap Alex.
Dania melihat ke arah Randy, ternyata Randy tengah mendengarkan headset sambil memejamkan matanya.
Dania pun mengangguk dengan malas.
Entah apa yang akan dilakukan Alex.
Alex pun tersenyum dan maju ke depan, dan kini posisinya berada di belakang sang sopir.
Alex mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu.
Setelah selesai, dia pun mengambil mic.
"Hai, Guys !! Malam ini, untuk pertama kalinya, di hadapan kalian gue bakalan menyatakan perasaan gue sama seseorang." ucap Alex sambil tersenyum.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Alex. Selama ini Alex memang terkenal populer dan playboy, namun dia tak pernah menyatakan cinta pada seorang wanita dihadapan banyak orang.
"Orang ini spesial banget. Gue rasa, cuman dia wanita yang paling spesial. Dia unik, beda dari yang lain. Dan gue benar-benar jatuh cinta sama dia." ucap Alex dengan masih menyunggingkan senyum manisnya.
"Gue rasa, orang seperti dia hanya ada satu di dunia ini." ucap Alex.
Semua orang pun semakin di buat penasaran dan tak sabar ingin segera mengetahui pada siapa sebenarnya Alex akan menyatakan perasaannya.
Mereka pun begitu berisik dan begitu riuh.
Alex tersenyum dan mendekati Dania.
"Dania, jujur gue suka sama lo. Entah kenapa, sih, tapi gue rasa gue jatuh cinta sama lo." ucap Alex.
Semua orang membulatkan matanya. Mereka begitu terkejut melihat Alex menyatakan perasaannya pada Dania. Perempuan yang bahkan di mata mereka tak terlihat cantik sama sekali.
Dania bahkan tak kalah terkejut karena Alex berani menyatakan perasaannya.
Dania berdiri dan menatap Alex.
Alex pun menatap Dania dan menggenggam tangan Dania.
"Saat ini, di dalam bus ini, disaksikan semua orang yang ada di dalam sini, gue mau lo jawab satu pertanyaan gue." ucap Alex.
Alex menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Apa lo mau jadi pacar gue?" tanya Alex.
Lagi-Lagi Dania membulatkan matanya dan kembali dibuat terkejut.
"Gue - "
BRAK.
Ucapan Dania terhenti saat ada seseorang yang menarik tangannya sehingga dia pun tak bisa menjaga keseimbangan dan terjatuh.
BUGH.
Orang itu pun menonjok wajah Alex hingga membuat hidung Alex mengeluarkan darah dan Alex pun tersungkur karena tak siap menerima serangan yang dia terima secara tiba-tiba.
__ADS_1
Sedangkan semua orang pun semakin dibuat terkejut melihat adegan yang terjadi dihadapan mereka.
Malam ini mereka semua mendapatkan banyak kejutan di dalam bus.