
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Papa Hamish, membuat Papa Hamish terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Keterlaluan !" ucap Mama Rania ditengah tangisnya.
"Aku bisa jelasin semuanya." ucap Papa Hamish.
"Semuanya udah jelas, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu Papa yang ga punya hati, aku ga akan biarkan kamu nyakitin anak aku satu-satunya. Anak yang aku kandung sembilan bulan sepuluh hari di dalam rahimku, dan anak yang aku lahir kan." ucap Mama Rania dengan penuh penekanan.
Hatinya sungguh sakit, bahkan sangat sakit mendengar kenyataan bahwa suami yang selama ini dia banggakan justru ingin menghancurkan kehidupan anaknya.
"Sayang, aku bisa jelasin semuanya. Tolong jangan seperti ini." ucap Papa Hamish sambil memegang bahu Mama Rania dan mencoba menenangkannya.
Mama Rania masih terisak, dirinya bagaikan tertampar oleh kenyataan pahit karena kebenaran tentang suaminya itu.
"Aku ga ada maksud mau menghancurkan hidup Dania, Sayang. Aku -"
"Aku apa, ha?" tanya Mama Rania saat Papa Hamish tak berani menyelesaikan ucapannya.
"JAWAB AKU !" bentak Mama Rania.
"Sayang, sungguh aku akan menjelaskan semuanya." ucap Papa Hamish.
Mama Rania masih terisak, hatinya sungguh sesak. Bagaimana bisa suaminya itu justru ingin menyakiti suami dari putrinya itu? Sedangkan dia tahu, Dania begitu mencintai Randy.
"Aku cuma ingin memberi pelajaran pada Randy." ucap Papa Hamish.
"Pelajaran apa yang bahkan bisa membunuh menantu mu, ha?" tanya Mama Rania.
"Aku melakukan semua ini karena aku peduli pada Dania." ucap Papa Hamish.
Plak.
"Rania !" Papa Hamish membentak Mama Rania saat tamparan kembali Mama Rania darat kan di pipi Papa Hamish.
"Istri macam apa kamu, ha? Lancang sekali kamu berani menamparku lagi!" ucap Papa Hamish dengan nada tinggi.
"Aku? Kamu tanya, aku istri macam apa, ha? Lalu, kamu ? Suami macam apa kamu? Papa macam apa kamu, ha?" ucap Mama Rania.
Dia benar-benar sesak dan kecewa pada suaminya itu. Dia tak menyangka, suami yang begitu dia cintai dan dia percaya justru tega berbuat jahat.
Mereka bertengkar hebat, hingga tanpa mereka sadari Dania terus memperhatikan mereka dengan air matanya yang sudah membasahi pipinya.
Kediaman Hamish begitu besar, namun pertengkaran keduanya sampai terdengar ke dalam rumah, hingga mengundang perhatian Dania.
Dania yang sedari tadi berdiri menyaksikan pertengkaran antara kedua orang tuanya itu pun tak mengerti, mengapa mereka sampai bertengkar? Bukankah mereka selalu terlihat baik-baik saja? Ini bahkan kali pertamanya Dania melihat pertengkaran antara kedua orang tuanya itu.
"Yank." panggil Randy.
Randy mengerutkan dahinya melihat Dania yang tengah diam mematung, Dania bahkan tak mendengar Randy telah memanggilnya.
Randy pun mendekati Dania, dia terkejut melihat Dania menangis tersedu-sedu. Randy mencoba mengikuti arah pandang Dania.
Randy pun semakin dibuat terkejut, karena kini mertuanya itu tengah bertengkar.
Dengan cepat Randy menarik Dania menuju kamar mereka di lantai dua.
"Duduk dulu, Yank. Aku ambil air dulu." ucap Randy.
Dania pun duduk di pinggir tempat tidur dengan masih terisak.
Sungguh sakit sekali dadanya melihat pertengkaran antara orang tuanya itu.
Apa sebenarnya yang membuat mereka sampai bertengkar hebat? Batin Dania.
Randy kembali ke kamar dan duduk di sebelah Dania. Dia pun memberikan air minum pada Dania, dan Dania langsung meminumnya.
Randy memeluk Dania dengan prihatin, dia tahu Dania pasti sangat sedih melihat orang tuanya bertengkar.
"Tenang, Yank. Mereka pasti cuma salah paham. Jangan nangis, Yank. Aku sedih kalau kamu sedih." ucap Randy.
Randy mengusap lembut punggung Dania, mencoba menenangkan Dania agar tak bersedih lagi.
"Mereka kenapa? Kenapa mereka bertengkar?" ucap Dania.
"Sayang, lihat aku." Randy memegang wajah Dania dan mengarahkan Dania agar mau menatapnya.
"Yang namanya rumah tangga, akan selalu ada masalah di dalamnya. Sama halnya seperti kita, terkadang kita pun berselisih, kan? Memang kita sebagai anak pasti sedih melihat orang tua kita berselisih. Karena itu, Yank. Kita juga harus mengakhiri masalah kita demi Abang dan Ade. Mereka pun akan sedih kalau tahu Papa dan Mommy nya bertengkar." ucap Randy.
Dania menatap Randy dan mengusap air matanya.
"Aku harus cari tahu kenapa Papa sama Mama sampai bertengkar, mereka bahkan ga pernah seperti ini sebelumnya." ucap Dania.
Randy menahan tangan Dania saat Dania akan beranjak menuju pintu kamar.
"Kenapa?" tanya Dania.
"Itu urusan mereka, Yank. Kita ga bisa ikut campur." ucap Randy.
"Tapi, aku ga bisa biarin mereka kayak gitu." ucap Dania.
"Aku ngerti, tapi lebih baik kita kasih mereka waktu, oke." ucap Randy.
Dania berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya.
Randy pun tersenyum dan memeluk Dania.
"Lebih baik kita perbaiki hubungan kita, Yank. Demi Abang dan Ade. Karena sama halnya seperti apa yang kamu rasakan, Abang dan Ade pun pasti akan merasakan hal yang sama kalau sampai tahu hubungan orang tuanya tak baik." ucap Randy.
Randy pun melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Dania.
"Kamu mau, kan, maafin aku?" tanya Randy.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
__ADS_1
"Aku mau maafin kamu, tapi, dengan satu syarat." ucap Dania.
"Apa syaratnya?" tanya Randy.
"Jangan pernah bohongi aku lagi. Setelah ini, apapun yang terjadi aku mohon jangan sembunyikan apapun lagi dari aku. " ucap Dania.
Randy tersenyum dan mengangguk.
Dia pun emeluk Dania.
Setelah Dania cukup tenang, mereka pun turun menuju ruang keluarga.
Tak ada siapapun di sana.
"Mama sama Papa dimana, Bi?" tanya Dania pada salah satu asisten rumah tangga.
"Tuan dan Nyonya ada di kamar, Non." ucap Bibi.
Dania mengangguk dan menatap Randy.
"Kita pulang aja, ya. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Kita ga usah ikut campur, Yank." ucap Randy.
Dania pun mengangguk dan meminta Ajeng, juga Dita untuk bersiap dan akan kembali ke apartemen.
Di perjalanan menuju apartemen.
Dania terdiam dengan pandangan mengarah menuju luar jalanan, sementara Randy masih fokus menyetir dengan sesekali tangan kirinya menggenggam tangan Dania, mencoba memberikan support untuk Dania.
Ajeng dan Dita hanya diam dan memperhatikan kedua majikannya itu dengan sesekali tersenyum tipis.
Pasangan yang begitu muda dan penuh cinta.
Ajeng dan Dita bahkan bisa melihat, Randy begitu menyayangi Dania.
Sesampainya di apartemen, Ajeng dan Dita langsung membawa baby Raydan dan baby Rayna menuju kamar mereka.
Sedangkan Dania dan Randy langsung pergi menuju kamar.
Ting ting.
Randy membuka ponselnya saat terdengar suara pesan masuk.
Dia mengerutkan dahinya saat melihat sebuah pesan dari Papa Hamish.
Papa Hamish: Kamu senang, bukan, melihat saya dan Rania bertengkar? Baca ini baik-baik, SAYA AKAN MENGAMBIL DANIA KEMBALI, BAGAIMANA PUN CARANYA !
Randy tersenyum kecut membaca pesan dari mertuanya itu.
Randy mengepalkan tangannya, dia meremas kuat ponsel di tangannya.
Dadanya bergemuruh, dan wajahnya
memerah.
"Apa aku salah, meminta Polisi untuk menghentikan penyelidikan terhadap kasus kecelakaan itu?" batin Randy.
Sejak dia tahu bahwa Papa Dania lah dalang di balik kecelakaannya, tanpa pikir panjang dia pun langsung menghubungi Lisa dan meminta Lisa untuk menyiapkan berkas tentang pernyataan bahwa dia tak ingin melanjutkan kasus penyelidikan kecelakaannya.
Dia tak bisa membayangkan, Dania akan hancur jika tahu Papanya lah yang justru mencelakai suaminya.
Dia tak ingin Dania merasa sedih, karena itu dia harus berbesar hati untuk tak melanjutkan kasus itu.
Randy melihat ke arah Dania yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Yank." panggil Randy.
"Ya." Sahut Dania.
"Ayo kita liburan." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya dan menatap bingung ke arah Randy.
"Tumben, ngajak liburan. Dalam rangka apa?" tanya Dania.
Randy tersenyum dan memeluk pinggang Dania.
"Aku cuma ga mau kamu terlalu stress dirumah. Lagi pula, kita udah lama ga liburan. Kita ajak juga Abang sama Ade untuk liburan bersama." ucap Randy.
"Mau liburan kemana?" tanya Dania.
"Kemana pun, yang kamu mau." ucap Randy.
Dania pun tersenyum dan mengangguk.
Randy tersenyum dan memeluk Dania.
"Jika Papa memiliki banyak cara untuk mengambil kamu, maka aku pun akan mencari banyak cara untuk menghalanginya." batin Randy.
Randy pun melepaskan pelukannya.
"Aku keluar dulu." ucap Randy.
Dania mengangguk dan Randy pun keluar dari kamar.
Randy keluar dari apartemen dan menghubungi Lisa. Dia meminta Lisa untuk menyiapkan segala keperluan untuk keberangkatannya menuju luar negeri.
Dia pun menghubungi Gio dan Sheila. Meminta waktu pada kedua teman sekaligus rekan bisnisnya itu untuk bisa bertemu dengannya.
Dua hari kemudian.
Randy memasuki restauran, terlihat Gio dan Sheila yang sudah duduk lebih dulu menunggunya.
"Sorry, gue lama." ucap Randy.
"Hai, Rand." sapa Sheila.
__ADS_1
"Hai." ucap Randy sambil menjabat tangan Sheila dan Gio.
"Ada apa? Kok, lo ngajakin ketemu mendadak? Perasaan ga ada masalah di office." ucap Gio.
"Iya, aku sampe izin dari jadwal pemotretan ku hari ini." ucap Sheila.
"Maaf, ya, jadi ganggu waktu kalian." ucap Randy.
"Ga masalah, sih. Emang ada apa? Lo bilang ada masalah penting."ucap Gio.
Randy mengangguk dan memanggil pelayan.
Dia pun memesan minum terlebih dulu.
"Gue mau liburan keluar negeri bersama Dania." ucap Randy.
"So? Apa hubungannya sama pertemuan kita malam ini?" tanya Sheila.
"Not just a vacation, but i will stay there." ucap Randy.
Gio dan Sheila saling tatap dengan dahinya yang berkerut.
"Maksudnya?" tanya Gio dengan bingung.
"Ada suatu hal yang membuat gue sampai harus melakukan itu. Ini tentang masa depan anak-anak gue." ucap Randy.
"Apa separah itu, Rand?" tanya Sheila.
Randy pun mengangguk dan tersenyum.
Kembali Sheila dan Gio saling tatap, mereka pun menggelengkan kepala.
Mereka masih belum mengerti dengan apa yang Randy katakan.
Randy pun menjelaskan segalanya dan mereka pun lanjut berbincang.
Satu minggu kemudian.
Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, Randy dan Dania pun akhirnya akan melakukan liburan bersama kedua buah hati mereka.
Tak hanya mereka, Ajeng dan Dita pun ikut bersama mereka karena akan menjaga baby Raydan dan baby Rayna.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini orang tua Randy, bahkan Mama Rania pun justru mengantar ke Bandara. Namun, tidak dengan Papa Hamish, karena memang semenjak hari itu, hubungan Randy dan Papa mertuanya itu menjadi tak baik.
Sebisa mungkin Randy mencoba melupakan kenangan pahit itu.
Sungguh kecelakaan itu membuatnya trauma.
"Bersenang-senanglah kalian, titip Abang dan ade. Kami pasti akan merindukan mereka." ucap Mama Rania sambil tersenyum.
Randy dan Dania pun mengangguk dan pamit.
Mereka pun bergegas masuk saat terdengar pemberitahuan bahwa pesawat mereka sudah akan berangkat.
Begitu memasuki pesawat, dan tinggal tiga puluh menit lagi pesawat akan berangkat.
Randy terus menatap Dania dengan tangannya terus menggenggam tangan Dania, seolah takut Dania menjauh darinya.
"Kenapa?" tanya Dania.
Randy tersenyum dan mencium bibir Dania. Ciuman yang lembut dan penuh kehangatan.
Ciuman yang manis yang berbeda dari sebelumnya. Dania pun dapat merasakan adanya perbedaan dalam ciuman yang Randy berikan.
Ciuman yang begitu manis dan dia sangat menikmatinya.
Cukup lama mereka berciuman, keduanya seolah tak rela untuk mengakhiri manisnya ciuman yang kini mereka rasakan.
Randy pun melepaskan ciuman itu saat Dania menepuk lengannya.
"Ya Tuhan, Yank. Aku juga butuh bernapas." ucap Dania.
Randy terkekeh dan mengusap lembut bibir Dania.
"I love you." ucap Randy.
"I love you too." ucap Dania.
Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat dan pesawat pun mulai berangkat.
Dania memejamkan matanya, sementara tangannya terus berada di genggaman Randy.
Randy pun menatap lekat wajah pulas Dania.
"Aku ga akan pernah melepaskan tangan ini, begitu pun pemiliknya." batin Randy.
Randy mengecup punggung tangan Dania dan ikut memejamkan matanya.
Waktu pun berlalu.
Randy dan Dania sampai di Bandara International Canberra, Australia.
Begitu keluar dari Bandara, Randy melihat sekeliling luar Bandara yang tampak ramai.
Randy melihat ke arah Dania bergantian dengan baby Raydan dan baby Rayna.
Dia kembali menatap Dania dengan lekat.
Begitu banyak yang sudah terjadi dalam rumah tangganya bersama Dania. Susah, senang, tangis , tawa, sakit, bahagia, semua itu telah mereka rasakan selama 4 tahun hidup bersama.
Randy rela melakukan apapun demi membuat wanita sekaligus Ibu dari anak-anaknya itu bahagia.
"Jika orang lain memiliki cara untuk menghancurkan keluargaku, maka aku akan melakukan cara apapun untuk mempertahankan keluargaku." batin Randy.
Tamat.
__ADS_1