
Saat ini Randy tengah gelisah di ruang tamu dan terus mondar-mandir tak karuan sambil melihat jam di ponselnya.
Sudah pukul 19.00 waktu setempat tetapi Dania belum juga pulang ke apartemen.
Setelah tadi siang dia mengikuti Dania dan Erick ke restauran, hingga membuat Dania sampai marah karena Dania berpikir Randy tak mempercayainya.
Setelah pergi dari restauran, Dania pun langsung kembali ke lokasi proyek dan tentu saja Randy mengikuti Dania sampai ke lokasi proyek. Namun sesampainya di lokasi, Randy justru tak di perbolehkan masuk oleh anggota keamanan di sana di karenakan Randy bukan lah karyawan di sana dan tak berkepentingan dengan urusan pekerjaan. Randy pun tak bisa berbuat apa-apa di karenakan Dania sudah masuk ke lokasi terlebih dulu.
Randy melihat ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka.
Di lihatnya ada Dania yang memasuki apartemen.
Dania mengabaikan kehadiran Randy dan memilih pergi menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di dalam lemari es.
"Kita harus bicara." ucap Randy sambil memegang tangan Dania.
Dania pun menengok ke arah Randy.
"Bicara, aja." ucap Dania santai.
"Aku ga suka, kamu terlalu dekat sama cowok lain." ucap Randy dengan penuh penekanan.
Dania pun mengangguk.
Randy mengerutkan dahi melihat Dania.
"Ada, lagi?" tanya Dania tanpa menatap Randy.
Randy pun semakin di buat bingung.
"Aku serius, yank. Aku mau kamu, jaga jarak sama cowok yang tadi siang." ucap Randy tegas.
"Erick, maksud kamu." ucap Dania sambil menatap Randy sekilas.
"Siapa pun namanya, aku ga peduli. Pokoknya, aku ga suka." ucap Randy.
Dania menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Apa ada lagi, yang mau kamu omongin? Kalau ga ada, sekarang aku yang mau ngomong." ucap Dania.
Randy hanya diam dan masih terus menatap Dania.
"Pertama, aku ga ada hubungan apapun sama Erick dan hubungan kami hanya sebatas rekan kerja. Kedua, yang kamu lihat tadi siang, itu, aku juga ga ngerti, kenapa dia bisa lakuin itu ke aku? Lagi pula, saat dia usap saus di bibir aku, tanganku langsung nepis tangan dia, kok. Ketiga, Aku udah serahin segalanya buat kamu, dan kamu masih ngeraguin perasaan aku, sama kamu? Kamu bahkan sampai nguntitin aku, kaya tadi siang. Aku ga habis pikir sama kamu." ucap Dania.
Randy mengusap wajah kasar.
"Bukannya gitu, aku cuma takut kamu tertarik sama cowok lain. Aku, tuh, ga bisa pokonya, lihat kamu dekat sama cowok manapun, yank. Kamu tahu, (memegang bahu dania sambil menatap mata dania) Hati aku sakit banget, yank, lihat kamu di pegang-pegang kayak, tadi. Dada aku sesak, yank, sumpah." ucap Randy sendu.
Dania menghembuskan nafas perlahan dan mengecup pipi kanan Randy.
"Maaf ya, aku ga ada maksud bikin kamu sakit hati, yank. Aku janji, kejadian tadi ga akan terulang lagi" ucap Dania sambil mengelus lembut Dada Randy.
Randy pun menarik Dania ke pelukannya.
"Aku juga minta maaf, karena sempat ngeraguin kamu. Aku sayang banget sama kamu." ucap Randy.
Cup.
Randy mengecup kening Dania dan kembali memeluk Dania.
"Aku juga sayang kamu, yank." ucap Dania.
Setelah cukup lama saling memeluk, Dania pamit untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Randy menunggu di ruang tamu sambil menonton tv.
Setelah selesai, Dania keluar menghampiri Randy yang masih menonton tv dan duduk di samping Randy.
Cup.
Randy mengecup pipi Dania dan tersenyum.
"Wangi." ucap Randy.
Dania pun tersenyum.
Cukup lama mereka menonton tv, tak ada acara yang seru di tv, membuat keduanya merasa bosan.
"Yank bosan, ya." ucap Dania.
Randy pun mengangguk.
"Mau main sesuatu, yank?" tanya Randy.
"Main apa?" tanya Dania.
"Ayok kita main, TOD." ucap Randy sambil tersenyum nakal menatap Dania.
"TOD, emm ..." dmDania berpikir sejenak.
"Oke." ucap Dania.
Randy tersenyum lebar.
Dengan cepat dia mengambil pulpen dari dalam tasnya
"Oke, ayo kita mulai." ucap Randy sambil menyeringai menatap Dania.
__ADS_1
Dania hanya tersenyum tipis.
"Ladies, first. Kamu duluan yang puter pulpennya." ucap Randy sambil menyeringai.
Dania mengangguk dan Randy memutar pulpen yang sudah berada di atas meja. Ternyata pulpen itu berhenti mengarah pada Dania.
"Oke, truth or dare." ucap Randy sambil tersenyum.
"Truth." ucap Dania.
"Kamu pernah pacaran berapa kali?" tanya Randy.
"Sekali, sama Riko," ucap Dania santai.
Randy pun mengangguk.
"Ya, udah, sekarang giliran kamu." ucap Dania.
Randy mengangguk dan langsung memutar pulpen nya dan kini giliran pulpen itu berhenti tepat di hadapan nya.
"dare." ucap Randy langsung. Dania belum menanyakan padanya akan memilih truth or dare.
Dania menatap menyelidik pada Randy, sedangkan Randy hanya tersenyum polos.
"Aku lebih suka yang menantang, yank. Kayak aku dapetin hati, Papa, kamu, supaya restuin hubungan kita, penuh tantangan." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania terkekeh mendengar ucapan randy.
"Kalau gitu, tunggu sebentar." ucap Dania.
Dania pergi ke kamar dan mengambil sesuatu.
Tak lama Dania kembali ke ruang tamu dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Kamu pilih dare, kan? Kalau gitu, pake, ini." Dania memberikan sesuatu pada Randy.
Randy terkejut melihat sesuatu yang Dania berikan.
"Apa kamu yakin, mau aku pake ini? Kamu sehat, yank. (menyentuh kening Dania) Masa suami sendiri di suruh pakai, beginian." ucap Randy tak percaya dengan permintaan istrinya itu.
Dania mengangguk cepat sambil tersenyum.
"Katanya suka tantangan, masa begitu doang, ga, mau." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
Dengan terpaksa dia memakai sesuatu yang Dania berikan.
Hahahaha.
"Tega bener, sih. Masa, suami sendiri di suruh pake wig kayak, begini, gue berasa jadi lekong " ucap Randy dengan nada kesal.
dania masih tertawa geli sambil menahan perutnya, bahkan dari matanya sampai keluar cairan bening.
"Duhhh .. Senyum, dong, jangan cemberut, gitu. Masa, baru segitu doang udah kesel." ucap Dania.
Randy menatap malas pada Dania.
Randy pun tersenyum dengan terpaksa.
"ya udah cepetan putar lagi pulpennya" ucap Randy.
Dania memutar pulpennya, dan pulpen itu kembali berhenti di depan Randy.
Randy pun mendengus kesal.
"Truth." ucap Randy.
Dania berpikir sejenak.
"Emmm ... Selain aku, berapa banyak cewek yang udah bikin kamu jatuh hati?" tanya Dania.
"Cuma, kamu." ucap Randy mantap.
"Masa, sih. Gimana sama Kiara?" tanya Dania penasaran.
Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kalau si kiara itu apa, ya? Emmmm ... Mungkin tepatnya cimon kali, ya, alias cinta monyet, gitu. Yah, suka-sukaan , gitu, lah. Namanya juga masih SMP waktu, itu. Tapi beda sama kamu, sih.
Kalau kamu bisa bikin aku tergila-gila, yank" ucap Randy sambil tersenyum lebar.
"Lebay." ucap Dania sambil tersenyum mengejek.
"Biarin." ucap Randy sambil memasang wajah so cute.
Tak lama mereka pun mengakhiri permainan itu dan terlelap dalam mimpi.
******
Keesokan harinya.
Hoek.
Randy terbangun dari tidurnya karena merasakan mual yang amat sangat. Dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Hoek.
Lagi-lagi dia merasakan mual. Rasanya akan ada yang keluar dari mulutnya, namun nyatanya tak ada apapun yang keluar. Perutnya terasa bergejolak dan rasanya benar-benar tak nyaman.
Dania pun terbang dan melihat sekeliling mencari Randy namun tak ada Randy di kamar.
Pandanga dia tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka.
Hoek.
Dania terkejut saat mendengar suara Randy dari dalam kamar mandi dan Dengan cepat Dania menghampiri randy.
"Kamu kenapa, yank?" tanya Dania cemas.
Randy menggelengkan kepala. Tubuhnya lemas meski isi perutnya tak ada yang keluar. Matanya memerah dan berair saking tak tahannya dengan rasa mual yang dia rasakan.
Dania memapah Randy menuju tempat tidur dan Randy langsung merebahkan tubuhnya.
"Kamu makan apa, sih, yank? Kenapa bisa sampe kayak gini?" tanya Dania cemas.
"Aku masuk angin, kayanya." ucap Randy dengan lemas.
Dania pun langsung membuatkan minuman hangat untuk Randy.
"Ini diminum dulu." ucap Dania sambil memberikan segelas minuman hangat pada Randy.
Randy mengambil minuman itu dan langsung meminumnya.
"Gimana? udah enakan, yank." tanya dania.
Randy mengangguk lemah dan memejamkan matanya.
"Aku beliin kamu obat dulu, ya. Kayanya, hari ini aku ga ke lokasi proyek dulu, deh, aku ga bisa ninggalin kamu kayak gini."ucap Dania.
Randy hanya mengangguk dengan masih memejamkan matanya.
Dania membersihkan tubuhnya terlebih dulu dan setelah selesai, dia langsung pergi membeli makanan juga obat untuk Randy. Dania pergi menuju salah satu restauran dan membeli makanan kesukaannya dan juga kesukaan Randy.
Setelah selesai, dia kembali ke apartemen.
kembali keapartemen dan di lihatnya Randy yang tengah duduk diruang tamu.
"Gimana, yank? udah enakan, kan." ucap Dania.
Randy mengangguk dan mengikuti Dania menuju meja makan.
Dania menyiapkan makanan yang tadi dia beli di piring.
"Makan dulu, nih. Habis itu, minum obatnya." Dania memberikan makanan itu pada Randy.
Hoek.
Lagi-lagi Randy merasakan mual dan dengan cepat dia berlari menuju kamar mandi.
Dania pun mengikuti Randy, Dia benar-benar cemas melihat keadaan Randy seperti itu.
"Kamu kenapa, sih, yank? Jangan bikin aku panik dong, yank" ucap dania.
"Makanan yang kamu beli baunya ga enak, bikin aku mual, yank." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahi nya mendengar ucapa Randy.
"Itu makanan kesukaan kamu, loh, yank. Aku sengaja beliin buat kamu, loh." ucap Dania.
Randy menggelengkan kepala sambil memegang perutnya yang terasa mual.
"Baunya ga enak, yank. Sumpah aku ga tahan nyium baunya, perut aku langsung mual, pas tadi cium aroma makanan cuma itu."ucap Randy.
Dania merasa bingung sendiri, apa yang sebenernya terjadi pada suaminya itu? pikirnya.
"Kita ke Dokter aja, deh, yank. Aku khawatir, yank." ucap Dania.
Randy pun mengangguk dan mereka bergegas pmenuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di Rumah Sakit, Randy langsung di tangani oleh Dokter.
"Apa yang anda rasakan?" tanya sang Dokter.
"Sejak pagi saya merasakan mual,dan rasanya benar-benar membuat tak nyaman."ucap Randy.
"Sudah berapa lama ini terjadi?" tanya Dokter.
" Baru pagi tadi kayaknya, sebelumnya sih saya baik-baik aja" ucap Randy.
Dokter mengangguk dan langsung memeriksa keadaan Randy.
Setelah melewati beberapa pemeriksaan, termasuk pemeriksaan darah juga, hasilnya pun sudah keluar setelah menunggu lumayan lama.
Dokter pun membacakan isi laporan kesehatan Randy.
"Semuanya normal dan baik-baik saja, disini. Tak ada penyakit yang mengkhawatirkan, anda juga tidak mengalami keracunan makanan, anda sehat" ucap sang Dokter.
Randy dan Dania saling tatap sejenak.
Dania bingung, bagaimana bisa suaminya itu baik-baik saja? Bahkan yang terlihat, suaminya tidak Baik-baik saja.
__ADS_1