
"Lo harus percaya sama gue, karena sebenernya gue--"
Ting tong!
"Loh, siapa yang dateng ya, Rand?" tanya Dania.
"Ga tahu, lo diem di sini, biar gue yang buka pintu," ucap Randy.
Dania mengangguk dan Randy keluar dari kamar untuk membuka pintu.
"Papa?" ucap Randy.
"Ya, Nak, ini Papa," ucap Papa Randy.
"Kok, Papa tumben ke sini?" tanya Randy bingung.
"Kenapa? Apa kamu ga suka Papa datang? Dan ya, apa kamu ga mau nyuruh Papa masuk?"
Randy menggaruk kepalanya, dia pun tersenyum.
"Masuk, Pa," ucap Randy.
Papa Randy masuk ke dalam apartemen, dia pun duduk di ruang tamu. Tak lama disusul oleh Randy yang juga mulai duduk.
"Ada apa sama tangan kamu?" tanya papa cemas.
"Biasa, Pa. Cedera sedikit," ucap Randy sambil tersenyum.
"Kok bisa?" tanya papa.
"Namanya juga laki-laki," ucap Randy dan diangguki oleh Papa.
"Di mana Dania? Kok, ga kelihatan?"
"Ada di kamar, Pa. Baru aja kita pulang sekolah," ucap Randy.
Papa pun mengangguk.
"Papa tumben ke sini, ada urusan penting apa yang bikin Papa sampai datang ke sini?" tanya Randy sambil menatap sang papa dengan tatapan menyelidik. Pasalnya, papanya jarang sekali datang ke apartemennya, bahkan hampir tak pernah di karenakan sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Papa Randy menghela napas.
"Ada yang mau Papa bicarakan. Mulai bulan depan, Papa tidak akan memberikan kamu uang jajan bulanan lagi," ucap papa.
__ADS_1
Randy membulatkan matanya, dia sungguh terkejut mendengar ucapan papanya.
"Apa maksud Papa? Kalau Papa ga kirimin aku uang bulanan, terus gimana sama aku? Aku ini 'kan anak Papa," ucap Randy.
"Ya, tentu saja kamu memang anak Papa, tapi kamu sudah menikah, dan sudah seharusnya kamu menafkahi istri kamu dengan hasil kerja keras kamu sendiri!" tegas sang papa.
Randy pun lagi-lagi terkejut mendengar ucapan papanya.
"Tapi, Pa. Aku ga mungkin cari kerja, aku ini masih pelajar, Pa. Aku bahkan ga punya ijazah," ucap Randy.
"Kamu bisa kerja part time, dengan begitu sekolah kamu tidak akan terganggu."
"Tapi Pa, aku sebentar lagi ujian, aku bisa ga fokus belajar kalau sampai aku kerja part time," ucap Randy sambil mengusap wajahnya agak kasar.
"Setahu Papa, bukannya kamu itu paling malas belajar? sudahlah, Rand. Ini sudah menjadi keputusan terakhir Papa, belajarlah bertanggung jawab pada dirimu sendiri, dan keluarga barumu. Istrimu adalah tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab Papa!" tegas sang papa seraya bangun dari duduknya.
"Tapi, Pa..." rengek Randy.
"Belajarlah jadi seorang kepala keluarga yang baik," ucap Papa sambil menepuk bahu Randy kemudian meninggalkan apartemen Randy.
Randy mengacak rambutnya.
"Aarrgghh... Papa gimana, sih? Mau kerja apa gue? Gue ga ada pengalaman gini!" kesal Randy.
'Kasihan banget Randy ga dapet uang bulanan lagi, tenang aja, Rand. Gue masih punya uang, uang bulanan gue dari papa, gue rasa cukup kalau gue ga sering-sering shopping,' gumam Dania.
Dania pergi menuju dapur dan mengambil segelas air dingin, dia pun menghampiri Randy.
"Nih, minum dulu!" ucap Dania sambil menyodorkan itu pada Randy. Randy pun mengambil air itu dan meminumnya, setelah itu dia menyenderkan kepalanya di sofa.
"Lo denger apa yang tadi gue sama papa omongin?" tanya Randy.
"Iya, Lo tenang aja, uang bulanan gue cukup, kok, untuk kita berduay" ucap Dania mencoba menenangkan Randy.
Randy pun menatap Dania dingin.
"Ga perlu, papa benar. Sekarang gue punya tanggung jawab buat nafkahin lo, jadi gue akan coba cari pekerjaan part time," ucap Randy.
"Gue ga masalah, kok. Lagian 'kan gue istri lo, jadi uang gue uang lo juga," ucap Dania.
Randy bangun dan pergi menuju kamarnya, dia mengambil ponselnya dan mengecek saldo rekeningnya. Randy terkejut melihat jumlah saldo yang ada di dalam Rekeningnya.
"Parah, mana cukup sampe bulan depan. Kalau gue sendiri mungkin cukup untuk dua minggu ke depan, tapi 'kan gue juga harus hidupin Dania, masa iya gue dihidupin sama cewek? Laki-laki macem apa gue? Aarrghhh... Kesal banget gue!" ucap Randy frustasi dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Randy pun menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Aaaarrggghhhh..." Randy memekik saat tak sengaja tangannya yang cedera tertekan.
Dania yang mendengar teriakan Randy pun bergegas menuju kamar Randy.
"Ada apa? Kenapa? Apa ada yang sakit? Yang mana yang sakit? Apa kita perlu ke Dokter lagi? Ah, ya, lo belum minum obat siang ini. Tunggu di sini, biar gue siapain makanan buat lo, lo harus makan sebelum minum obat," ucap Dania.
Randy memijat kepalanya yang terasa pusing karena istrinya itu terlalu banyak bicara, Randy bergegas menarik tangan Dania.
"Sshhh..." Randy meringis saat Dania menindi tubuhnya dan tanpa sengaja menyenggol tangannya yang cedera.
Dania mencoba melepaskan diri. Namun, Randy dengan cepat membalik tubuhnya dengan satu tangannya, sehingga kini Dania berada di bawah tubuh Randy.
Randy mengecup bibir Dania sekilas, sementara Dania hanya terdiam.
"Lo cerewet banget," ucap Randy kemudian terkekeh.
Randy kembali
mengecup bibir Dania, dia pun bangun dan merebahkan tubuhnya di samping Dania.
"Gue ngantuk, pengen tidur," ucap Randy sambil menusuk-nusuk pipi Dania.
Dania tersentak dan akan bangun, tetapi Randy menahannya.
"Please, temenin gue tidur di sini. Gue janji cuma tidur aja, gue ga akan macem-macem," ucap Randy sambil menatap Dania.
"Em... Oke gue temenin," ucap Dania.
Randy pun tersenyum senang dan bangun, dia menarik tangan Dania agar bangun dan memperbaiki posisi tidurnya.
"Sini, kepala lo di sini. Gue mau peluk lo," ucap Randy seraya merentangkan tangan kirinya.
Dania pun tersenyum dan mulai meletakan kepalanya dengan berbantalkan lengan Randy.
"Ayo, kita tidur!" ucap Randy dan diangguki oleh Dania.
Randy mulai memejamkan matanya, setelah beberapa menit, Dania menatap Randy yang sudah mulai terlelap.
Dania mengecup pipi Randy sekilas dan memeluk erat perut Randy. Randy yang belum sepenuhnya tertidur pun akhirnya tersenyum melihat tingkah Dania. Randy pun mengecup puncuk kepala Dania dan memejamkan matanya kembali.
'Gue cinta sama lo,' Dania,' batin Randy.
__ADS_1