
Randy memasuki rumah, baru saja dia pulang dari Kampus.
Dia pun melangkah menuju tangga dan mendengar suara orang sedang berbincang di ruang keluarga.
"Mama, Papa, kalian disini."ucap Randy begitu melihat Papa dan Mama mertuanya tengah bermain bersama baby Raydan dan baby Rayna di ruang keluarga, namun tak ada Dania disana.
"Hai, Rand." ucap Mama.
Randy mendekati sang Mama dan menyaliminya bergantian dengan menyalimi sang Papa mertua juga.
"Kalian kapan datang?" tanya Randy.
"Belum lama, apa kamu baru pulang dari kampus?" tanya Mama.
Randy mengangguk dan melihat sekeliling ruangan.
"Dimana Dania, Ma?"tanya Randy.
"Dia lagi mandi, di atas." ucap Mama.
Randy mengangguk dan pamit ke kamar.
Sesampainya di kamar, Randy tak melihat Dania. sepertinya Dania masih berada di dalam kamar mandi.
Randy pun membuka pintu kamar Mandi dan terlihat lah Dania yang masih mandi.
Randy membuka seluruh pakaiannya dan memeluk Dania dari belakang.
Awalnya Dania terkejut saat melihat ada tangan yang memeluk perutnya.
Namun seketika dia tahu saat mencium aroma tubuhnya pasti lah orang itu adalah Randy, suaminya sendiri.
"Kapan kamu pulang?"tanya Dania.
"Baru, aja." ucap Randy.
Randy membalikkan tubuh Dania dan mendorongnya ke dinding kamar mandi.
"Aduh .. Mau apa, sih, yank?" tanya Dania.
"Mau bikin adik, buat abang sama ade." ucap Randy sambil tersenyum penuh arti.
Dania tersenyum dan mendorong tubuh Randy.
"Ga enak sama Mama dan Papa, nanti mereka kelamaan nunggu kita." ucap Dania.
"Sebentar aja, lima menit." ucap Randy.
"Mana mungkin kamu bisa selesai dalam lima menit."ucap Dania.
"Bisa kok, ayo kita coba, aku akan pake gaya express, aku usahakan selesai cepat."ucap Randy sambil tersenyum nakal.
Dania terkekeh mendengar ucapan Randy.
"Apaan, sih? Pake express segala, udah kaya jasa antar barang aja." ucap Dania.
Randy pun tersenyum lebar. Dia geli sendiri dan juga tak yakin bisa selesai dengan cepat.
Randy mengambil ponselnya yang masih ada di dalam saku celananya dan memasang timer selama lima menit.
Randy mendekat kan wajahnya dan mengecup bibir Dania sekilas.
"Apa kamu siap?" tanya Randy.
Dania tersenyum dan mengangguk.
Randy menekan timer tersebut dan membalikkan tubuh Dania.
Dia pun memulainya dari posisi belakang.
Dania terhentak saat Randy memulainya dengan keras.
"Pelan-pelan, dong." ucap Dania.
"Kalau pelan bukan express namanya." bisik Randy di tengah kegiatannya.
Bukannya bergairah, Dania justru merasa geli sendiri setiap Randy mengatakan kata express. Menurutnya kata itu terasa aneh di telinganya.
Dania pun tersenyum dan mengikuti saja permainan Randy, meskipun dia sendiri sedang tak menginginkannya.
Lagi pula melayani suami pun sama hal nya dengan ibadah.
Waktu pun berlalu.
Tit tit tit.
Dania mengambil ponsel Randy saat terdengar suara timer.
"Sepuluh detik lagi waktu kamu habis, yank." ucap Dania.
Sungguh dalam hatinya dia ingin sekali tertawa. Mungkin hanya dia dan Randy lah yang bertingkah konyol seperti ini.
"Sebentar lagi, yank." ucap Randy dengan napas terengah.
Randy pun semakin mempercepat kegiatannya.
Brak.
Saking kencangnya gerakan Randy, Dania pun tak sengaja menjatuhkan ponsel Randy. Layar ponsel itu pecah dan bahkan menjadi hancur.
"Ponsel kamu jatuh, yank." ucap Dania.
"Biarin aja." ucap Randy dengan napasnya yang masih terengah.
Tak menunggu lama Randy pun mencapai pelepasannya.
"Ahh .. Lega nya .." ucap Randy.
Dania tersenyum dan mengambil ponsel Randy.
"Yah, ponsel kamu mati." ucap Dania.
Randy segera mengambil ponselnya.
"Uhh .. Sial, disini ada beberapa file penting." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya menatap Randy.
"Katanya ga apa-apa rusak." ucap Dania.
"Lagi kaya gitu, mana mikirin ponsel, sih, yank." ucap Randy.
Dania pun terkekeh.
"Apa ga ada copyannya, yank?" tanya Dania.
"Ada sih, ya udah, lah, biarin aja." ucap Randy.
Randy dan Dania pun melanjutkan acara mandi mereka.
Setelah beberapa saat, Randy dan Dania selesai mandi juga berpakaian.
Mereka pun turun menuju ruang keluarga.
"Apa abang sama ade rewel, Ma?" tanya Dania yang baru saja menuruni anak tangga.
"Sssttt .. Mereka lagi tidur." ucap Mama Rania sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
Dania tersenyum dan mendekati baby Raydan dan baby Rayna.
"Uhh .. Manisnya kesayangan Mommy." ucap Dania saat melihat kedua bayi itu sedang tertidur pulas.
"Iya, mereka bayi yang manis. Papa jadi pengen punya anak lagi." ucap Papa Hamish.
__ADS_1
Mama Rania membulatkan matanya.
Dia pun mencubit gemas perut Papa Hamish.
"Udah jadi opa, masih aja mau punya bayi. Malu sama cucu." ucap Mama Rania.
Papa Hamish pun terkekeh.
"Ga apa-apa, Ma. Biar Dania punya adik." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
"Kalian aja yang masih muda, kasih kami para orang tua ini, cucu yang banyak." ucap Mama Rania.
"Tenang aja, Ma. Adik buat abang sama ade lagi on the way." ucap Randy sambil tersenyum lebar.
Dania terkekeh mendengar ucapan Randy.
Mama Rania dan Papa Hamish pun ikut tersenyum mendengar ucapan sang menantu.
"Ya udah, yank, pindahin abang sama ade dulu."ucap Dania dan di angguki oleh Randy.
Dania dan Randy membawa baby Raydan dan baby Rayna ke kamar dan menidurkan kedua bayi itu di box bayinya.
Setelah selesai mereka pun turun dan di lanjutkan dengan makan malam bersama.
"Mama sama Papa, menginap aja." ucap Dania.
"Ya, kami memang mau menginap. Apa besok kamu sibuk , Rand?" ucap Papa Hamish.
"Enggak, kenapa, Pa?" ucap Randy.
"Temenin Papa, begadang." ucap Papa Hamish.
Randy mengerutkan dahi mendengar ucapan Papa mertuanya itu.
"Papa ngajakin Mama nginap di sini, karena biar kamu nemenin Papa nonton bola."ucap Mama Rania.
Papa Hamish pun tersenyum dan menatap Randy.
Sementara Randy menatap tak yakin pada Papa mertuanya itu. Pasalnya, dia tak pernah begadang dan tak kuat tidur terlalu malam.
"Temenin Papa, Rand." ucap Papa Hamish.
Randy pun terpaksa mengangguk.
Setelah selesai makan malam, semua orang beralih menuju ruang keluarga dan berbincang-bincang.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Randy pun mulai merasakan kantuk, sementara Dania dan Mama Rania sudah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Kini tinggal lah Randy dan Papa Hamish yang berada di ruang keluarga.
"Emang jam berapa mulainya, Pa." tanya Randy.
"Jam sebelas." ucap Papa Hamish.
Randy menghembuskan nafas lelah.
Masih dua jam lagi menuju jam sebelas malam.
Dia sungguh lelah sebetulnya.
Bayangkan saja, setelah pulang dari Bandung, tak lama dia pergi ke Kampus, dan setelah itu dia pun harus begadang.
"Aku ke kamar bentar, Pa." ucap Randy.
"Iya." ucap Papa Hamish.
Randy pun pergi menuju kamarnya.
Begitu memasuki kamar, Randy langsung menghempaskan tubuhnya dengan posisi tengkurap dan memeluk perut Dania.
"Kenapa, yank?" tanya Dania.
"Ya udah, tidur." ucap Dania.
"Tapi Papa ngajakin nonton bola." ucap Randy.
"Ya udah, aku bilangin sama Papa."ucap Dania.
Dania akan turun dari tempat tidur, namun Randy menahan tangannya.
"Ga usah, yank. Ga enak."ucap Randy.
"Katanya kamu ngantuk." ucap Dania.
Randy mengangguk dan duduk menyender di kepala tempat tidur.
"Ga enak, Papa udah belain nginap, buat nonton bola." ucap Randy.
Randy turun dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi.
Dia pun membasuh wajahnya.
Setelah selesai, dia kembal ke ruang keluarga.
"Apa Papa mau sesuatu?" tanya Randy.
"Kopi, boleh." ucap Papa Hamish.
Randy mengangguk dan pergi ke dapur.
Dia membuat dua cangkir black coffee.
Tak terasa waktu pun berlalu, dan acara bola sudah di mulai.
"Kamu dukung yang mana Rand? tim A atau B." tanya Papa.
"Aku dua-duanya, Pa." ucap Randy.
Papa Hamish menatap Randy sekilas dan kembali fokus menonton bola.
"Satu aja, yang pasti. Kamu aja ga suka kan di duain." ucap Papa Hamish.
Randy membulatkan matanya mendengar ucapan sang mertua.
Entah apa hubungannya ucapan mertuanya itu dengan bola.
"Yang mana, ya? Sama kaya Papa, deh." ucap Randy.
"Mana bisa begitu, harus beda lah biar seru. Jadi, Papa ada lawan buat taruhan." ucap Papa Hamish.
Randy memijat kepalanya yang terasa pusing.
Sungguh dia tak biasa begadang, meski sudah meminum kopi namun sepertinya itu tak mempan baginya, tetap saja dia merasa mengantuk.
"Ya udah, Papa yang mana?" tanya Randy.
"Yang A." ucap Papa Hamish.
"Ya udah, aku yang B." ucap Randy.
Papa Hamish pun mengangguk.
Kepala Randy terasa pusing dan kepalanya sesekali manggut-manggut saking mengantuknya.
"Aarrgghhh .. Kacau, peluang bagus begitu malah ga di manfaatin." ucap Papa Hamish dengan setengah berteriak membuat Randy terkejut dan membuka matanya kembali.
Tak lama kemudian, Randy benar-benar tak bisa lagi menahan kantuknya.
Dugh.
Papa Hamish terkejut saat merasakan ada sesuatu di pundaknya. Dia pun melihat ke arah pundaknya dan ternyata Randy tertidur di pundaknya.
__ADS_1
"Auww .."
Randy meringis saat Papa Hamish mendorong kepalanya.
"Ngapain tidur di sini? Tidur di kamar." ucap Papa Hamish.
Randy terlonjak dan menatap sang mertua.
"Apa aku boleh pergi ke kamar, Pa?" tanya Randy.
"Boleh, lah. Kalau ngantuk, tidur aja." ucap Papa Hamish.
Randy pun tersenyum tipis.
Sudah sejak tadi dia memaksa tak tidur demi menemani sang mertua karena merasa tak enak, ternyata Papa mertuanya itu tak masalah jika dia tidur lebih dulu.
"Ya udah, aku ke kamar dulu, Pa." ucap Randy dan di angguki oleh Papa Hamish.
Randy pun bergegas menuju kamarnya, rasa kantuknya benar-benar tak dapat dia tahan lagi.
******
Keesokan harinya.
Dania terbangun saat mendengar suara tangisan baby Rayna.
Dengan cepat dia pun menghampiri baby Rayna.
"Ya Tuhan." Dania terkejut saat menyentuh kulit baby Rayna yang terasa panas.
"Ade demam." gumam Dania.
Dania pun bergegas menggendong baby Rayna dan membangunkan Randy.
"Kenapa, sih, yank? Aku masih ngantuk, semalam tidur malem banget." ucap Randy dengan malas.
"Badan ade panas, ade demam." ucap Dania.
Randy terlonjak dan bergegas melihat baby Rayna.
"Ya Tuhan, panas banget." ucap Randy begitu dia menyentuh kening baby Rayna.
Baby Rayna masih terus menangis dan membuat Dania semakin cemas. Untuk pertama kalinya baby Rayna mengalami demam tinggi, biasanya dia hanya suang saja dan itu pun setelah suntik imunisasi. Namun kali ini baby Rayna tak melakukan imunisasi dan suhu tubuhnya justru tinggi.
Tangisan baby Rayna mengundang perhatian Mama dan Papa Dania. Mereka pun bergegas menghampiri Dania.
"Ada apa, sih? Ada apa sama ade?" tanya Mama Rania.
"Ade demam, Ma." ucap Dania.
Mama Rania menyentuh kening baby Rayna dan memang lah benar tubuhnya panas sekali.
"Ya udah, kita bawa ke Rumah sakit aja." ucap Papa Hamish.
"Aku siapin mobil dulu." ucap Randy dan bergegas menuju garasi.
Mama Rania pun membantu menyiapkan segala keperluan baby Rayna.
Setelah itu, dia menggendong baby Raydan yang sudah mulai terbangun.
"Mama ga ikut, ya. Abang ga ada yang jagain." ucap Mama Rania.
Dania mengangguk dan beregas menuju mobil.
Randy pun langsung melajukan mobilnya menuju Rumah sakit terdekat.
Sesampainya di Rumah Sakit.
Randy bergegas mengurus administrasi, sementara Dania masuk menuju UGD agar baby Rayna mendapatkan penanganan dari dokter.
Tak lama dokter datang dan memeriksa keadaan baby Rayna.
"Sejak kapan anak anda demam?" tanya Dokter.
"Sejak pagi tadi, Dok. Semalam dia baik-baik aja." ucap Dania.
Sungguh Dania merasa cemas melihat baby Rayna.
Dokter mengangguk dan mengambil sempel darah baby Rayna.
Dania menangis melihat baby Rayna menangis saat Dokter mengambil sedikit darahnya.
"Mommy harus kuat, biar anaknya juga kuat." ucap Dokter sambil tersenyum.
Dokter bername tag Riska itu begitu tenang menangani baby Rayna.
"Berikan ASI sesering mungkin, ya." ucap Dokter sambil menatap Dania.
"Silahkan bawa sempel darah ini ke Lab, tapi sebelum itu urus administrasinya dulu sebelum ke Lab." ucap Dokter.
Randy pun mengambil sempel darah itu.
"Makasih, Dok." ucap Randy.
Dokter Riska mengangguk dan pergi.
Sementara Randy langsung mengurus administrasi pergi menuju lab.
Setelah selesai, Randy kembali menemui Dania.
Di lihatnya Dania yang tak hentinya menangis.
Dania sungguh sedih, hatinya sakit sekali melihat keadaan baby Rayna.
Randy pun merangkul bahu Dania, dia mencoba menenangkan Dania.
"Tenang, sayang. Ade pasti baik-baik aja." ucap Randy.
Tak lama datang lah dua orang suster dengan membawa botol infus.
"Mau di apain anak saya, sust?" tanya Dania.
"Kami mau memasangkan jarum infus, Bu." ucap suster.
"Apa? Anak saya di tusuk jarum lagi, sust." ucap Dania.
"Maaf, Bu. Dokter menyuruh untuk memberikan infus untuk baby Rayna." ucap suster.
"Iya, sust, silahkan." ucap Randy.
Dania semakin kencang menangis saat melihat baby Rayna menjerit kesakitan.
Tangan baby Rayna di pegangi oleh suster lainnya, sementara suster yang satunya mencari pembuluh darah baby Rayna dan memasukkan jarum infus.
"Hei, yank. Kamu baik-baik aja?" Randy terkejut saat Dania akan jatuh ke lantai.
"Aku lemas, aku ga tahan lihat ade kesakitan." ucap Dania di tengah isak tangisnya.
Sungguh hatinya hancur melihat bayi gadisnya itu kesakitan.
Semakin Dania terisak, baby Rayna pun semakin kencang menangis.
"Mommy nya jangan nangis, harus kuat. Tuh lihat, baby Rayna jadi ikutan sedih." ucap suster.
Dania menggelengkan kepala.
Hanya dia lah yang tahu apa yang saat ini dia rasakan.
"Iya, yank, kamu tenang dulu, ade akan baik-baik aja." ucap Randy.
Randy terus menguatkan Dania, meskipun sebetulnya dia pun sama sedihnya karena harus melihat buah hatinya kesakitan.
Dania tetap tak dapat menghentikan air matanya.
__ADS_1
Hatinya sebagai seorang Ibu benar-benar terluka melihat sang buah hati terbaring lemah di atas brankar Rumah sakit.