Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 73


__ADS_3

Kandungan dania sudah memasuki minggu ke-13 dan sore ini Randy juga Dania tengah berada di salah satu rumah sakit untuk mengecek kandungan Dania.


Randy dan Dania tengah menunggu giliran untuk di panggil.


Randy melihat sekeliling banyak juga Ibu hamil yang akan di periksa.


kebanyakan dari mereka sudah hamil besar.


Randy menatap Dania dan mengusap lembut perut Dania.


"Yank ..!" panggil Randy.


"Ya." ucap Dania sambil menatap randy.


"Perut kamu udah keliatan menonjol, ya, yank. Pasti kamu lucu deh kalau udah hamil besar, nanti kaya Ibu-ibu, itu." ucap Randy sambil mengarahkan pandangannya pada salah satu ibu yang kehamilannya sangat besar, sepertinya ibu itu tengah mengandung bayi kembar.


Dania pun mengikuti arah pandang Randy.


"Lucu, emang badut, lucu." ucap Dania sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iya, lucu kayak badut, apalagi kalau perut kamu udah segede itu, pasti tambah gemesin kamu, yank." ucap Randy.


"Kamu kok kayak gitu, sih? Aku, tuh, lagi hamil anak kamu, ya, masa aku di bilang kayak badut." ucap Dania dengan nada kesal.


"Dengerin dulu, maksud aku badut cantik." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania menatap malas pada Randy.


"Ibu Sebastian" Panggil salah satu suster.


"Yank kamu masuk duluan, aku ke toilet dulu, bentar, nanti aku nyusul." ucap Randy.


Dania mengangguk dan masuk ke dalam ruang periksa.


Dania tersenyum melihat Dokter yang juga tengah tersenyum padanya, dokter tampan berkulit putih yang terlihat sudah cukup dewasa, sepertinya usianya sekitar 30 tahunan.


"Selamat sore, Ibu. Eh, Ibu atau Mbak? atau Kakak?" tanya sang Dokter sambil tersenyum Manis.


Sang dokter terlihat sangat ramah dengan senyuman tak lepas tersungging dari bibirnya yang pink memerah.


"Ibu muda, Dok." ucap Dania sambil tersenyum manis.


"Benar, kah, berapa usia anda?" tanya Dokter.


"20 tahun, Dok" ucap Dania.


Dokter terkejut.


Dania terlihat seperti anak orang berada, terlihat dari style nya yang berkelas, dan rapi. Bagaimana bisa di zaman modern seperti ini masih ada wanita yang menikah muda? Di saat biasanya seorang wanita maupun pria akan mementingkan karir terlebih dulu di bandingkan urusan percintaan, pikir sang Dokter yang terlihat dari name tag nya bernama Frans.


"Baik, lah." Frans memeriksa hasil laporan kehamilan Dania sebelumnya dan Frans lebih terkejut lagi saat melihat yang tertulis di buku kehamilannya bahwa ini adalah kehamilan kedua Dania.


Frans menatap Dania dan tersenyum.


"Ini kehamilan kedua anda, betul." ucap Frans.


"Iya, betul, Dok. Di kehamilan pertama saya dulu, saya mengalami keguguran, dan ini kehamilan kedua saya." ucap Dania.


Frans mengangguk.


"Di usia muda sudah hamil, ya, tentu saja resiko keguguran mungkin terjadi." batin Frans.


Pemeriksaan pun di mulai dengan pertama kali Dania melakukan timbang berat badan dan di lanjutkan dengan cek tekanan darah.


Setelah itu Dania berbaring di atas brankar.


Ada suster perempuan juga di sana yang menjadi asisten sang Dokter, Suster meminta Dania membuka atasan yang dia kenakan agar perutnya terlihat karena akan mengoleskan gel di perutnya sebelum melakukan USG.


Setelah suster selesai mengoleskan gel itu di perut Dania, Dokter pun mendekati Dania dan tersenyum.


"Maaf, ya." ucap Frans dan di angguki oleh Dania.


Dania tak mempermasalahkan dia di periksa oleh Dokter pria, karena dia mengerti bahwa di dunia kedokteran memang tak ada istilah pria maupun wanita.


Frans mulai memasang alat USG dan menggerakannya di perut Dania.


"Janinnya terlihat sehat, ya, Moms." ucap Frans.


Dania tersenyum dan mengangguk, sedangkan Frans masih terus menggunakan alat itu di perut Dania.


Bugh.


Dania membulatkan matanya, dia terkejut dan dengan cepat dia langsung merapikan pakaiannya.


"BRENGSEK ..!" bentak seseorang yang tak lain adalah Randy.


Bugh.


Sekali lagi Randy menghajar wajah Dokter Frans dan membuatnya tersungkur ke lantai.


"Yank udah, yank" Dania mencoba menahan Randy saat Randy akan mendaratkan pukulan ke tiga di wajah Dokter Frans.


"Ga, bisa, dia lancang beraninya nyentuh perut polos kamu." ucap Randy dengan nada geram.


"Kamu salah paham, yank." ucap Dania.


"Ahh .. Dok, apa anda baik-baik saja?" tanya sang suster yang baru saja memasuki ruang Dokter dan membantu dokter Frans untuk bangun. Entah sebelumnya suster itu pergi kemana sampai meninggalkan Dania dan Frans hanya berdua di dalam ruang periksa.


"Maaf, Mas, kenapa anda membuat keributan di rumah sakit?" tanya suster.


"Kenapa lo, bilang? Tanya, tuh, sama nih, lelaki bejat (menunjuk dokter Frans) Beraninya dia nyentuh istri gue." ucap Randy dengan nada geram.


Suster terkejut dan menatap dokter Frans.


Dokter Frans menggelengkan kepala sambil meringis merasakan lumayan ngilu di wajahnya akibat pukulan Randy yang cukup keras.


"Kamu salah paham, yank, Dokter ini ga apa-apain aku." ucap Dania.


Randy menatap Dania.


"Ga apa-apain kamu? Terus yang tadi ,itu, apa, ha? Dia lihat perut kamu, loh, yank, dia juga megang-megang perut kamu dan kamu bilang dia ga ngapa-ngapain? Astaga jangan bilang kamu nikmatin perlakuan dia, barusan." ucap Randy dengan nada kesal.


Dania dan Frans terkejut mendengar ucapan Randy.


"Anda salah Paham, sebaiknya kita bicarakan baik-baik agar tak ada lagi kesalah pahaman." ucap Dokter Frans.


Randy semakin geram dan menarik baju dokter Frans memakasanya untuk berdiri.


Lagi-lagi Randy akan menghajar wajah Dokter Frans.


"CUKUP ..!!" Dania berterik dan menarik tangan Randy. Dia langsung memeluk tubuh Randy.


"Kamu salah paham, yank, Dokter itu lagi periksa bayi kita, aku lagi di USG, yank, makanya dia lihat perut aku." ucap Dania mencoba menengkan Randy.


Randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania.


"Tapi kenapa harus Dokter laki? Kenapa, ga, Dokter cewek, yank? Enak aja dia lihat-lihat perut kamu, cuman aku yank, suami kamu ini yang berhak lihat tubuh kamu." ucap Randy geram.

__ADS_1


Dania mengangguk dan kembali memeluk Randy.


"Iya, ini, salah aku, aku yang izinin dokter periksa aku karena yang aku tahu, di dunia medis ga ada istilah wanita maupun pria, yank, semuanya sama." ucap Dania.


Randy hanya diam, dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, berharap dapat mengurangi amarah yang memuncak diubun-ubunnya.


"Aku udah pernah bilang kan, yank, aku ga suka kamu di sentuh-sentuh sama cowok lain, aku ga ikhlas, sumpah" ucap Randy.


Dania mengangguk dan melepaskan pelukan Randy.


Cup.


Perlahan amarah Randy mulai berkurang setelah Dania mengecup pipi Randy. Dania tak peduli dengan Dokter Frans dan juga suster yang tengah memperhatikan keduanya, yang Dania pikirkan adalah dia ingin suaminya itu tak lagi emosi.


"Aku janji, lain kali aku cuman akan di periksa sama dokter perempuan, kamu jangan marah lagi, ya, yank. Dede nya jadi sedih lihat Papanya marah-marah." ucap Dania sendu.


Randy menghembuskan nafas perlahan dan menundukkan kepalanya hingga kini tepat berada di depan perut Dania.


Cup.


Randy mengecup perut Dania yang sudah terlihat menonjol itu.


"Maaf ya, baby, Papa ga akan marah-marah lagi." ucap Randy sambil mengelus perut Dania.


"Ehheumm ... Jadi semua sudah selesau, ya. Tidak ada lagi ke salah pahaman sekarang. Sungguh saya merasa citra saya ternodai saat anda mengatakan saya Dokter bejat, tadi." ucap Dokter Frans.


Randy berdiri dan menatap Dokter Frans.


"Saya emosi, tadi." ucap Randy dingin.


Dania melihat Dokter Frans yang tengah tersenyum tipis. Dania pun menjadi tak enak hati, karena suaminya itu wajah Dokter Frans menjadi agak lebam.


Dania sedikit berjinjit dan berbisik di telinga Randy.


"Minta maaf sana, yank." ucap Dania.


Randy membulatkan matanya dan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Please, yank, kamu pria sejati, kan, kamu harus akui kalau kamu emang salah, dan lagi kamu emang keterlaluan tadi udah nuduh Dokter Frans bejat." ucap Dania.


Randy mengerutkan dahi mendengar Dania mengetahui nama Dokter Frans.


"Kamu kok, tahu nama dokter, itu." ucap Randy menyelidik.


"Kan, dia pake name tag." ucap Dania.


Randy melihat ke arah name tag Dokter Frans dan mengangguk, Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Maaf kan saya, karena sudah salah paham terhadap anda." ucap Randy sambil menyodorkan tangannya.


Dokter Frans tersenyum dan menyambut tangan Randy.


"Yah, namanya juga anak muda." batin Frans.


"Baik lah, saya akan menjelaskan hasil USG tadi."ucap Frans.


Dania dan Randy duduk berhadapan dengan Dokter Frans dan Dokter Frans pun menjelaskan hasil pemeriksaan tadi.


Setelah selesai, Randy dan Dania keluar dari ruangan Dokter Frans dan pergi kembali ke rumah setelah sebelumnya menebus vitamin Ibu hamil yang sudah Dokter Frans resepkan.


Di perjalanan menuju ke rumah..


Dania tengah memasang headset di telinganya, dia tengah mendengarkan sebuah lagu yang membuatnya sampai memejamkan mata.


"Yank ..!" panggil Randy sambil mengusap lembut kepala Dania.


"Ya." Dania melepas headset nya dan melihat ke arah Randy yang tengah fokus menyetir.


Dania mengangguk dan tersenyum.


"Iya, aku maafin. Tapi lain kali jangan kayak tadi lagi, yank" ucap Dania.


Randy menatap Dania sekilas.


"Kamu pasti kesel, ya, yank, punya suami yang nyebelin kaya aku, yang cemburuan kaya aku?" ucap Randy.


Dania menggeleng dan tersenyum.


"Enggak, kok." ucap Dania.


"Masa, sih, Apa kamu ga risih, gitu, yank, di cemburuin mulu sama aku?" tanya Randy memastikan.


"Enggak, yank, mana mungkin aku risih orang aku sayang kamu " ucap Dania.


"Yang bener." ucap Randy dengan nada meledek.


"Bener, lah." ucap Dania dengan nada kesal dan memakai kembali headsetnya.


Randy terkikik melihat ekspresi Dania.


"Kamu lagi dengerin apaan, sih, yank?" tanya randy penasaran.


"Lagi dengerin lagu enak." ucap Dania.


"Aku mau denger, dong, yank, se enak apa, sih , sampe segitunya?" ucap Randy.


Dania tersenyum dan menyambungkan lagu itu ke tape di mobilnya.


"Nih, dengerin baik-baik. Ini isi hati aku ke kamu." ucap Dania sambil tersenyum manis.


Randy mengangguk dan mencoba mendengarkan lagu itu.


Di bait pertama Randy langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan dia pun memutar ulang lagu tersebut.


***


Ku tak mau tahu baik atau tidak.


Aku sama kamu i love you.


Ku tak mau lihat siapa kamu.


Apapun terjadi i love you.


Cinta memang buta.


Tapi hatiku yang lihat ...


Hidup tanpa mu tak bisa.


Sndirian pun tak bisa.


Ku harus dengan mu.


Biar terluka biar tersiksa aku cuma bisa.


Mencintaimu ...

__ADS_1


Aku hanya ingin kamu dengar.


Satu kata saja i love you.


Cinta memang buta.


Tapi hati ku yang lihat..


Hidup tanpa mu tak bisa.


Sendirian pun tak bisa.


Ku harus dengan mu.


Hidup tanpa mu tak bisa.


Sendirian pun tak bisa.


Ku harus dengan mu.


Biar terluka biar tersiksa.


Aku cuma bisa mencintai mu ...


Ku cuma mau mencintai mu ...


Ku cuma mau mencintai mu...


***


Begitu lagu itu berhenti, Randy menatap Dania dan langsung menarik Dania ke pelukannya.


"Makasih ya, udah mau nerima aku yang penuh kekurangan ini, aku beruntung dapetin istri sebaik kamu, yank, bukan cuma cantik, tapi bagi aku kamu sempurna, yank, aku sayang banget sama kamu." ucap Randy.


Dania tersenyum dan membalas pelukan Randy.


"Aku juga sayang sama kamu, yank" ucap Dania.


Randy melepaskan pelukannya dan menatap Dania dengan penuh sayang.


Cup.


Randy mengecup kening Dania dan melajukan kembali mobilnya.


******


Keesokan harinya..


seperti biasa setiap pagi sudah menjadi rutinitas Randy selama satu bulan lebih ini merasakan mual saat pagi hari atau yang biasa di sebut Morning sickness. lucu memang, istri yang hamil tetapi suami yang harus merasakan mengidam. tapi ya, seharusnya memang begitu, agar sama-sama adil merasakan hasil dari prosesnya yang bisa membuat siapa saja yang merasakannya melayang-layang akan kenikmatannya. Agar adil suami yang merasakan tak enaknya mengidam dan istri yang akan merasakan luar biasa sakitnya bertaruh nyawa saat akan melahirkan nyawa baru kelak.


Randy memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.


Sedangkan Dania tengah memeriksa kembali barang-barang yang akan Randy bawa sebelum pergi ke Bali agar tak ada yang tertinggal. karena rencananya sore ini Randy akan terbang bersama Lisa sekretarisnya ke Bali untuk mengecek Outlet baru yang masih dalam tahap pembangunan.


"Mamu yakin, yank, mau pergi ke Bali di saat keadaan kamu kayak gini?" tanya Dania.


Dania khawatir sebetulnya melihat keadaan Randy yang mana setiap pagi masih harus mengalami morning sick. Sejujurnya dalam hati, Dania ingin sekali ikut bersama Randy ke Bali, bagaimana pun dia tengah hamil dan dia ingin selalu berdekatan dengan Randy. Namun dia tak berani mengungkapkan keinginannya, mengingat saat di kehamilan pertamanya dulu dia pernah keguguran akibat kelelahan karena terlalu memaksakan diri bepergian jauh. Jadi Dania tak ingin lagi mengambil resiko yang akan membahayakan janin di kandungannya.


Randy mengangguk lemah dengan matanya yang masih terpejam.


Dania ingin mencegah kepergian Randy, namun apa daya dia tak mampu juga mengatakan ke inginannya.


******


Waktu pun berlalu dan kini menunjukan pukul 18.00 wib, sedangkan Randy sudah berangkat menuju Bandara pukul 12.00 wib tadi dikarenakan pesawatnya terbang pukul 15.00 wib.


Dania tengah menyantap makan malam nya di meja makan, dan tak lama terdengar suara Clakson mobil dengan kemudian di susul terdengar suara bel rumah. Pak Adi membukakan pintu pagar rumah dan ternyata orang tua Randy yang datang.


Setelah membukakan pintu pagar, Pak Adi memberitahukan bahwa ada mertuanya yang datang. Dania terkejut dan segera bangkit dari duduknya.


"Duduk aja, nak" ucap Papa Sebastian.


Dania menengok ke arah sang mertua dan menyalimi mereka.Papa Sebastian tersenyum menyambut tangan Dania tetapi tidak dengan Mama mertuanya itu. Wajahnya terlihat dingin, dia bahkan ogah-ogahan menyambut tangan Dania saat akan menyaliminya.


Dania menghela nafas sejenak. mungkin Mama mertuanya masih marah karena kejadian waktu itu di kediaman Sebastian.


"Duduk, Pa, Ma, kalian mau makan malam sekalian?" tanya Dania.


"Boleh." ucap Papa Sebastian.


Papa dan Mama mendudukkan dirinya di kursi.


Dania pun meminta Bibi menyiapkan peralatan makan untuk kedua mertuanya itu.


"Di mana, Randy? Apa dia belum pulang dari restauran?" tanya Papa.


"Randy lagi ga ada di rumah, Pa" ucap Dania.


"Oh, ya, kemana dia?" tanya Papa.


"Randy lagi ada kerjaan di Bali Pa, dia lagi cek Outlet baru yang masih dalam tahap pembangunan" ucap Dania.


Papa dan Mama terkejut mendengar ucapan dania.


Brak.


Dania dan Papa Sebastian terkejut saat tiba-tiba Mama Sebastian menggebrak meja makan. Mama sebastian bangun dari duduknya.


"Papa lihat, ini, kan, anak kita sendiri lupa kalau dia masih punya orang tua, dia bahkan ga kasih tahu kita, kalau dia akan buka cabang baru di Bali, dia sudah tidak menghargai kita sebagai orang tuanya lagi, Pa, dan ini semua gara-gara kamu (menunjuk dania) Kamu sudah membuat anak saya sampai melupakan orang tuanya, istri macam apa kamu ini, ha? Saya ga sangka kamu itu terlihat manis di luarnya saja, tetapi hati kamu benar-benar busuk. Tega sekali kamu menjauhkan seorang Ibu dari putranya." ucap Mama dengan nada geram dan matanya bahkan sampai memerah menahan tangis.


Dania diam mematung, dia sungguh terkejut mendengar ucapan Mama mertuanya itu.


"Mama tenang dulu, kita kesini, kan, mau menanyakan kabar kehamilan Dania, Ma." ucap Papa.


Dania terkejut mendengar ucapan Papa mertuanya itu.


"Papa tahu, aku hamil."ucap Dania.


"Ya, temannya Mama memberitahu kami katanya melihat kamu dan Randy keluar dari ruang pemeriksaan khusus Ibu hamil di Rumah sakit. Kenapa kalian tidak memberitahu kabar baik, ini, pada kami, Dania?" ucap Papa.


"Aku"


"Aku apa, ha? Apa kamu sengaja tak ingin memberitahu kami, begitu? Kamu sengaja kan, ingin menjauhkan cucu saya setelah kamu berhasil menjauhkan saya dari anak saya." ucap Mama dengan kesal.


Dania menggelengkan kepalanya dan menahan isak tangisnya.


"Mama tenang dulu, jangan marah-marah dulu, Ma, dengerin dulu penjelasan Dania." ucap Papa.


"Apa lagi, Pa? Randy dan istrinya benar-benar keterlaluan, mereka tidak menganggap kita sebagai orang tuanya lagi, Pa."ucap Mama dengan mulai menteskan air matanya.


Dania pun semakin terisak melihat mertuanya itu menangis. Sungguh bukan maksud Dania dan Randy untuk tak ingin memberitahukannya kepada orang tua mereka, tetapi Randy dan Dania memang berencana akan memberikan kejutan untuk keluarganya.


"Aku minta maaf, Ma." ucap Dania lirih.


"Saya kecewa sama kamu, Dania. Kamu sudah sangat keterlaluan, melukai hati saya." ucap Mama kemudian berlalu meninggalkan Dania dan papa sebastian.


"Aku ga ada maksud bikin Mama marah, Pa, aku sama Randy-" belum selesai Dania menyelesaikan ucapannya Papa sebastian langsung menyela ucapannya.

__ADS_1


"Papa pergi dulu." ucap Papa.


Dania menatap sendu pada Papa mertuanya itu, dia pun terduduk lemas di kursi.


__ADS_2