
Bugh ..
Randy yang setengah tak sadar akibat mabuk pun langsung tak sadarkan diri di atas tubuh Dania.
Dania terkejut melihat Dita dan Ajeng sedang memegang tongkat base ball. Ternyata kedua baby sitter anaknya itu yang sudah memukul Randy.
"Non ga apa-apa?" tanya Dita.
Dita dan Ajeng menarik tubuh Randy dan menghempaskan dengan kasar tubuh Randy ke atas lantai.
Dania semakin di buat terkejut.
"Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian mukul suami saya?" ucap Dania sambil mencoba membantu mengangkat tubuh Randy. Dia sungguh cemas melihat Randy tak sadarkan diri.
"Apa?" ucap Dita dan Ajeng bersamaan.
Mereka membulatkan matanya mendengar ucapan Dania.
"Maaf, Non. Jadi, laki-laki ini suami Non?" tanya Dita.
Dania pun mengangguk.
"Iya, dia suami saya, dia Papanya Abang sama ade. Apa kalian tahu? Suami saya ini habis mengalami cedera di kepalanya, kalian malah nambahin cederanya pake mukul kepala dia segala." ucap Dania.
"Ehh, enggak kok, Non. Saya pukul punggungnya, bukan kepalanya, Non. Itu pun karena saya panik saat mendengar suara berisik dari kamar Non, akhirnya kami beranikan diri masuk ke kamar Non, Kami pikir pria ini mau berbuat jahat sama Non." ucap Dita.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia memaklumi kedua baby sitter buah hatinya itu pasti merasa cemas melihat apa yang baru saja di alami oleh majikan mereka. Karena dari awal pun Dita dan Ajeng memang tak pernah tahu siapa suami Dania.
"Ya udah, tolong bantu angkat suami saya." ucap Dania.
Dita dan Ajeng pun membantu mengangkat tubuh Randy ke atas tempat tidur.
"Astaga, sebulan ga ketemu kamu, badan kamu kayaknya makin berisi, yank. beratnya badan kamu, ihh." ucap Dania dengan napas ter engah akibat mengangkat tubuh Randy yang berat.
Setelah dengan susah payah, akhirnya ketiga wanita itu pun berhasil mengangkat tubuh Randy dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Loh, Non, Ini kan mas yang tadi siang, yang datang sama ibu-ibu itu, kan?" ucap Ajeng.
Dania pun mengangguk.
"Iya, ibu-ibu yang tadi siang itu mertua saya, Mbak. Dan dia suami saya, Papanya Abang sama ade." ucap Dania sambil menatap ke arah Randy yang masih tak sadarkan diri.
Matanya memerah, dia teringat kembali dengan ucapan Randy beberapa menit lalu.
"Maaf, Non, dia- "
Ucapan Ajeng terhenti saat Dania langsung menyela ucapannya.
"Dia lagi sakit, Mbak. Karena itu, untuk sementara waktu kami harus tinggal terpisah." ucap Dania sambil mencoba tersenyum semanis mungkin. Namun berbeda dengan hatinya, sebetulnya dia sungguh sedih dengan keadaan ini.
Dita dan Ajeng pun saling tatap.
"Ya udah, Non. Apa masih ada yang bisa kami bantu?" tanya Dita.
"Nggak ada, Mbak. Kalian istirahat aja, udah malam." ucap Dania.
Dita dan Ajeng pun keluar dari kamar Dania dan kembali ke kamar baby Raydan dan baby Rayna.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Dia membuka sepatu yang Randy kenakan dan menyelimuti tubuh Randy yang hanya memakai celana jeans nya.
Cup.
Dania mengecup kepala Randy dan mengusap lembut kepala Randy.
"Gimana pun perlakuan kamu, gimana pun keadaan kamu, aku akan tetap dampingi kamu, yank. Aku tahu rasa cinta itu masih ada di hati kamu, aku akan berusaha jadi istri yang baik, aku akan berusaha semampu aku untuk membantu mengembalikan semua ingatan kamu. Aku kangen kamu, yank. Aku kangen semua candaan kamu, aku kangen jahilnya kamu, aku kangen semua yang ada di diri kamu, yank. Abang sama ade juga kangen kamu, yank. Mereka kangen Papanya." ucap Dania.
Tak terasa air matanya pun mengalir membasahi pipinya.
Dengan segera dia mengusap pipi basahnya.
Dia mengambil dress tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai memakai dress tidurnya, dia pun kembali ke kamar.
Dia menatap dirinya di cermin, menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
Entah mimpi apa dia, sampai sejarah 4 tahun lalu harus terulang lagi. Lelah sebetulnya karena tak bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya. Tapi apapun itu, tentu saja rasa lelah itu tak sebanding dengan rasa semangat dia untuk mengembalikan ingatan Randy. Mengembalikan semua ingatan yang pernah mereka lalui bersama.
Dania merebahkan tubuhnya di samping Randy dan menatap intens wajah Randy.
Dia pun tersenyum. Ada rasa bahagia karena bisa kembali dekat dengan Randy.
__ADS_1
"I love you." ucap Dania.
Dania pun memejamkan matanya dan mulai terlelap.
******
Keesokan harinya.
Randy terbangun dari tidurnya dan merasakan sakit di punggungnya.
Dia melihat sekeliling kamar yang tampak asing baginya.
Dia pun mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Ya Tuhan." Randy terperanjat saat sekilas teringat kejadian tadi malam.
Dia turun dari tempat tidur dan memakai bajunya.
Setelah selesai dia pun bergegas keluar dari kamar.
Begitu keluar dari kamar dia mendengar suara celotehan bayi. Dia pun memilih tak mempedulikan bayi yang sedang mengucapkan celotehan sang bayi itu dan mencoba melangkah lebih jauh. Namun belum jauh sepenuhnya, dia justru menghentikan langkahnya dan berbalik.
Dia pun melangkah menuju kamar dimana bayi itu berada.
Perlahan dia membuka pintu kamar, dan melihat sekeliling kamar yang ternyata tak ada siapapun di dalamnya selain seorang bayi perempuan yang tak lain adalah baby Rayna.
Dia pun masuk ke dalam kamar dan mendekati box bayi berwarna putih itu.
Di lihatnya baby Rayna yang tengah tersenyum manis padanya. Seketika jantungnya berdegup kencang, untuk pertama kalinya dia melihat baby Rayna setelah selama sebulan dia tak mengingat apapun.
Dia pun menggendong baby Rayna.
"Hai, little girl, siapa namu kamu?" tanya Randy sambil menatap bayi menggemaskan itu.
"Apa kamu ingat siapa aku? Aku dengar Ibumu dan Nenekmu mengatakan aku adalah Papamu, maaf karena aku tak mengingat siapa kamu, tapi aku yakin kamu mengingatku, karena itu kamu tersenyum saat kita bertemu." ucap Randy.
********
Flashback.
Sepuluh menit berlalu dari kepergian sang Mama ke kamar kedua bayi itu, namun kedua bayi itu masih tetap menangis. Entah mengapa Randy pun menjadi gelisah mendengar tangisan kedua bayi itu. Dia pun pergi menuju lantai dua menuju kamar kedua bayi itu. Begitu sampai di depan pintu, seketika jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar saat akan membuka lebih lebar pintu kamar yang tak tertutup rapat itu.
Belum sempat dia membuka pintu kamar, Randy pun mengurungkan niatnya saat tiba-tiba terdengar percakapan antara sang Mama dan Dania.
"Abang sama ade rewel terus dari tadi, Ma. Aku sama Mbak udah coba nenangin mereka, tapi mereka masih tetap rewel." ucap Dania.
"Abang kenapa rewel terus? Abang kangen Papa, ya? Papanya Abang ada di bawah sekarang, ayo kita ke Papa." ucap Mama sambil melangkah menuju pintu keluar namun Dania langsung menahan sang Mama.
"Mama yakin mau bawa Abang ketemu Randy? Gimana kalau Randy syok dan ga mau ketemu Abang?" ucap Dania.
"Kamu ga usah khawatir. Mama yakin, meski Randy kehilangan sebagian ingatannya, tapi pasti ada ikatan batin antara seorang ayah terhadap anaknya. Mama yakin, perlahan Randy akan terima Abang sama ade. Bagaimana pun juga mereka anaknya Randy, darah daging Randy. Cepat atau lambat mereka harus kita pertemukan." ucap Mama.
Dania pun mengangguk.
Sementara di luar kamar, Randy begitu terkejut mendengar ucapan sang Mama. Jantungnya berdegup kencang dan kepalanya kembali terasa sakit.
"Sial." gumam Randy.
Randy bergegas keluar dari apartemen dengan masih menahan rasa sakit di kepalanya. Dia tak mempedulikan sang Mama yang masih berada di apartemen itu.
Flashback end.
********
Baby Rayna tersenyum lebar dan membuat Randy semakin gemas melihat tingkah menggemaskan bayi kecil itu.
"Ya Tuhan, kamu sungguh manis, sayang. Untung lah kamu ga mirip sama Mamamu yang tompelan itu." ucap Randy sambil mencium gemas pipi chubby baby Rayna. Bayi itu semakin terkekeh geli merasakan ciuman gemas dari sang Papa.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu sendirian aja? Kemana Mama dan suster yang jaga kamu?" tanya Randy. Randy berbicara seolah baby Rayna dapat merespon ucapannya.
Baby Rayna hanya tersenyum sambil menatap sang Papa.
Randy pun membawa baby Rayna bersamanya keluar dari kamar dan menuruni satu per satu anak tangga menuju ruang tamu. Dia melihat sekeliling namun tak menemukan siapa pun.
Randy menatap ke arah pintu kaca menuju taman kecil dekat ruang makan. Terlihat di sana kedua baby sitter itu tengah sibuk mengajak bermain baby Raydan. Randy pun menghampiri kedua baby sitter itu.
Sementara Dania yang melihat Randy dari dapur pun mencoba mengikuti Randy.
"Eh, Mas. Selamat pagi." ucap Dita begitu Randy sampai di taman kecil apartemen tersebut.
Randy menatap tajam ke arah Dita bergantian dengan Ajeng.
"Apa mengurus satu bayi saja tak bisa hanya dengan satu baby sitter? Kenapa kalian berdua disini sementara anak saya yang lainnya berada di atas hanya sendirian?" ucap Randy dengan nada marah.
__ADS_1
Dita dan Ajeng terkejut mendengar ucapan Randy. Mereka hanya terdiam.
Sementara Dania yang diam-diam mendengar pun tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Randy. Dia tak menyangka ternyata Randy bisa begitu mudah menerima buah hatinya.
Dania pun tersenyum. Ada perasaan yang sepertinya ingin meledak dari dalam dadanya. Rasanya ingin sekali saat ini juga dia memeluk Randy, namun dia pun sadar, saat ini bukan lah waktu yang tepat untuk melakukan semua itu. Masih banyak yang harus dia perjuangkan untuk mencapai tahap semua itu.
Dania pun kembali ke dapur dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Dia sungguh bahagia. Meski jika mengingat kejadian semalam, sepertinya Randy belum bisa menerimanya kembali, namun yang terpenting saat ini, karena Randy mau menerima keberadaan buah hatinya.
Tak lama baby Rayna pun menangis.
"Maaf, Mas. Ade belum minum Asi pagi ini, sebaiknya ade diberi ASI dulu." ucap Ajeng.
"Gimana caranya? Saya ga ngerti." ucap Randy bingung.
Ajeng dan Dita saling tatap dan mereka pun tersenyum.
"Mommy nya yang akan memberikan ASI, Mas. Jadi, Mas bisa bawa ade ke Mommy nya." ucap Ajeng.
Randy mengerutkan dahinya dan menatap baby Rayna yang masih menangis.
"Gitu, ya. Tapi saya ga mau ketemu Mommy nya, kamu aja yang bawa dia ke Mommy nya." ucap Randy sambil memberikan baby Rayna pada Dita namun baby Rayna menolak di gendong oleh Dita. Baby Rayna justru memeluk erat sang Papa dan semakin menangis kencang.
"Cup, cup, sayang. Oke, ayo kita ke Mommy kamu." ucap Randy.
"Dimana Mommy nya?" tanya Randy pada Ajeng.
"Ada di dapur, Mas." ucap Ajeng.
Randy pun mengangguk dan pergi menuju dapur.
Dia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Sebetulnya dia malas bertemu Dania, karena sejujurnya dia masih belum bisa menerima kenyataan yang menurutnya terlalu pahit karena ternyata dia dan Dania sudah menikah, bahkan sudah memiliki dua buah hati sekaligus. Berbeda dengan kedua buah hatinya, entah mengapa Randy justru merasa senang dan sayang terhadap kedua bayi itu. Meski dia baru pertama kali melihat kedua buah hatinya setelah dia mengalami hilang ingatan.
Randy mendekati Dania yang tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
"Ehheumm .. Jangan ngerjain itu dulu, mendingan kasih dia ASI dulu." ucap Randy tanpa menatap Dania.
Dania pun menghentikan kegiatannya dan tersenyum tipis. Dia pun berbalik dan mengambil alih menggendong baby Rayna.
Dania duduk di kursi dan akan menurunkan tali dress tidurnya, membuat Randy sampai membulatkan matanya dan menahan tangan Dania.
"Jangan disini, di kamar aja." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya dan mengikuti arah pandang Randy yang tengah melihat ke arah dadanya yang belum terlihat sepenuhnya.
Dania tersenyum dan sengaja menurunkan tali dress tidurnya sehingga dadanya terlihat dengan jelas.
Randy pun menelan air liurnya.
"Uhh .. Sial, udah gue bilang jangan disini." ucap Randy sambil berlalu menuju kamar Dania.
Dania pun terkekeh melihat tingkah Randy.
Meski Randy kehilangan ingatannya, namun ternyata tak ada yang berubah darinya. Randy masih tetap menggemaskan dan gampang tergoda. Pikir Dania.
Dania pun mulai menyusui baby Rayna dan setelah selesai dia membawa baby Rayna pada Dita dan menyerahkannya.
"Tolong jagain Abang sama ade dulu, saya mau ke atas dulu, mau manggil Papanya anak-anak buat sarapan." ucap Dania.
Ajeng dan Dita pun mengangguk dan membawa kedua bayi menggemaskan itu menuju kamarnya.
Sedangkan Dania pergi ke kamarnya dan melihat Randy yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit di pinggangnya. Dia tampak kebingungan dan mencari sesuatu di lemari pakaian Dania.
"Nyari apa?" tanya Dania.
"Baju." ucap Randy tanpa melihat ke arah Dania.
"Biar aku ambilkan." ucap Dania.
Dania pun mendekati lemari pakaiannya dan mengambil baju serta celana baru yang sudah dia siapkan tadi pagi karena di apartemen Dania memang tak ada baju Randy.
" Ini aku sengaja siapin baju buat kamu, karena kamu ga bawa baju ganti." ucap Dania sambil memberikan baju itu pada Randy.
Randy hanya diam dan mengambil baju itu, dia pun langsung memakainya. Dia sengaja membuka handuknya didepan Dania, dan membuat Dania terkejut melihat tubuh bawah Randy yang tak terbungkus sehelai benang pun.
"Kenapa? Lo nafsu lihat dia?" ucap Randy. sambil melihat ke area bawah tubuhnya.
Dania menelan air liurnya. Bagaimana pun juga dia wanita normal dan pernah merasakannya, bohong jika dia tak merindukan sentuhan dari Randy.
Randy tersenyum sinis dan memakai celananya.
Jantung Dania berdegup kencang saat Randy tiba-tiba mendekati Dania dan mendekatkan bibirnya ke telinga Dania.
"Sayangnya gue ga nafsu lihat cewek jelek kayak lo." ucap Randy.
__ADS_1
Dania terdiam, dia sungguh terkejut mendengar ucapan Randy.
Sedangkan Randy langsung keluar dari kamar dan meninggalkan Dania yang masih terdiam.