Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 47


__ADS_3

Dania terbangun dari tidurnya, dia pun melihat kesamping dan tersenyum melihat Randy tertidur pulas dengan tangan memeluk perut ratanya.


Randy begitu polos seperti bayi, wajahnya begitu manis dan menggemaskan bahkan saat tidur sekali pun.


Dania pun mengelus lembut pipi Randy dan mengecupnya.


Dania membuka selimut dan perlahan turun dari tempat tidur.


"Aaarrghhh ..." Dania memekik saat merasakan area intimnya terasa perih.


Randy pun terbangun dari tidurnya.


"Eemmmm ... kenapa, yank?"tanya Randy dengan suara khas bangun tidurnya. Randy pun mendudukan dirinya dan mencoba mengumpulkan nyawanya.


"** *** aku perih banget, yank" ucap Dania sambil meringis kesakitan.


Randy pun tersenyum dan turun dari tempat tidur


"Ahh ... Kamu mau apa, yank?" tanya Dania terkejut saat Randy mengangkat tubuhnya.


"Biar aku bantu mandiin." ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


Randy menggendong tubuh polos Dania ke dalam kamar mandi dan mulai memandikan Dania.


"Masih sakit ga, yank?" tanya Randy di tengah kegiatan mandinya.


"Masih, perih banget ihh." ucap Dania.


Randy pun tersenyum melihat Dania.


"Kenapa sih, kok malah senyum-senyum kaya gitu? Senang banget lihat istri sendiri kesakitan." ucap Dania.


"Tapi semalem kamu nikmatin, yank." ucap Randy sambil tersenyum dan mengingat apa yang semalam dia lakukan dengan Dania.


Dania menatap Randy dengan malas dan mereka pun melanjutkan acara mandi mereka tanpa adegan panas.


Setelah selesai, Randy memakaikan Dania handuk dan menggendongnya, dia membaringkan Dania di tempat tidur.


"Aaarrgghh ... Mau apa kamu, yank? Jangan macem-macem, yank." Dania terkejut saat Randy menyingkap handuknya.


Randy tak menjawab ucapan Dania, dia justru menunduk melihat lebih dekat ke area sensitif Dania.


Dania menelan saliva dengan susah payah, dia sungguh malu saat Randy terus memperhatikan area sensitifnya.


"ada luka robek yank, kamu tunggu sebentar." ucap Randy.


Dania langsung merapatkan kakinya..


Randy mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Dia kembali mendekati Dania dan membuka kaki Dania.


"Yank, please, aku masih sakit." ucap Dania sambil memelas.


"Kamu mikir apa sih, yank? Aku cuma mau pakaikan salep pereda perih ini." ucap Randy sambil menunjukan sebuah salep.


Dania pun membulatkan matanya, seketika wajahnya memerah.


Sungguh pikirannya terlalu jauh, dia pikir Randy akan melakukan apa yang tadi malam mereka lakukan.


Setelah selesai memakaikan salep pada area sensitif Dania, Randy pun membantu Dania memakai pakaiannya. Layaknya anak kecil, Dania hanya diam dan menurut.


Randy tersenyum melihat leher Dania.


"Kamu kenapa, yank?" tanya Dania bingung.


Randy hanya tersenyum dan terus menatap leher Dania.


Dania pun menatap malas pada Randy.


Saat Dania akan berjalan menuju cermin, dengan cepat Randy menghalanginya dengan merentangkan kedua tangannya.


Dania pun mengerutkan dahinya menatap Randy.


"Mau peluk." ucap Randy dengan manja.


Dania pun terkekeh dan memeluk Randy.


"Uuhhh ... Suamiku ini manis banget." ucap Dania sambil mengelus lembut punggung Randy.


"Aarrgghh ..."


Dania menjerit saat Randy menggendong depan tubuhnya dan melingkarkan kakinya di pinggang Randy.


Dania pun memukul bahu Randy.


"Arrgghh ... turunin aku." Dania memekik karena rasa perih di area intimnya masih terasa.


Randy pun menurunkan Dania dan menatap Dania dengan cemas.


"Maaf yank, aku ga sengaja." ucap Randy sambil menggenggam tangan Dania.


Dania pun mengangguk dan tersenyum tipis.


Tak lama terdengar lah suara ketukan pintu.


Randy pun membuka pintu kamar dan ternyata Mama Rania.


"Masuk, Ma." ucap Randy.


Mama pun tersenyum dan memasuki kamar.


"Astaga ..." Mama Rania terkejut dan menutup mulutnya melihat Dania, tepatnya saat melihat di area leher Dania.


"Kenapa, Ma?" tanya Dania bingung dan menghampiri Mamanya.

__ADS_1


Mama Dania pun tersenyum menatap Dania bergantian dengan Randy.


"Ehheumm, ga apa-apa." ucap Mama sambil tersenyum manis.


Dania pun mengangguk, namun berbeda dengan Randy yang mengerti saat mengikuti pandangan Mama mertuanya itu. Randy pun tersenyum puas melihat leher Dania yang di penuhi tanda merah hasil dari ulahnya tadi malam.


"Oh, ya, Mama sama Papa mau pulang duluan, Papa mau pergi ke Bangkok karena ada urusan pekerjaan yang mendadak, Papa ga sempat kesini karena ada rekan bisnisnya, jadi Papa titip salam aja sama kalian, kalian baik-baik ya." ucap Mama Rania sambil menatap anak dan menantunya itu.


Randy dan Dania pun mengangguk.


Setelah mamanya pergi, Dania dan Randy pun memesan sarapan. Bukan sarapan lagi sebetulnya, karena ini sudah terlalu siang.


Setelah pesanan datang mereka pun memakan makanannya dengan tenang.


Setelah selesai, mereka memilih untuk pergi dari Hotel tersebut.


Begitu memasuki lift, ada sepasang pasangan suami istri yang memperhatikan Dania. Perempuan itu tersenyum melihat leher Dania dan menyenggol lengan suaminya.


"Pengantin baru." bisik perempuan itu.


Pria itu pun tersenyum dan mengangguk.


Meski berbisik, sebetulnya tak sengaja Dania mendengarnya dan menengok ke arah perempuan itu karena posisi Dania bersampingan dengannya.


Dania pun tersenyum.


Randy terus memeluk pinggang Dania dengan tangan kanannya dan tangan kirinya dia masukan kedalam saku jaket yang dia kenakan.


"Ehheumm ... Pengantin baru ya, Mbak?" tanya perempuan itu pada Dania.


Dania pun tersenyum dan menggeleng.


"Bukan mbak, kami sudah menikah setahun lebih." ucap Dania sambil ersenyum.


Perempuan itu tersenyum dan mengangguk.


"Emang kenapa, mbak?" tanya Dania bingung.


Perempuan itu pun mendekatkan bibirnya pada telinga Dania.


"Mbak, maaf ya, lain kali tanda merah di lehernya di tutupin aja ya, soalnya ga enak di lihatnya." ucapnya sambil tersenyum.


Dania pun membulatkan matanya dan buru-buru mengambil cermin kecil dari dalam tas kecil nya.


"Aaarrgghhhhh ... Ya ampun." Dania menjerit, dia terkejut karena di lehernya banyak tanda merah, tanda itu begitu kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Dania pun menatap tajam ke arah Randy.


Bugh.


"Aauw ..." Randy memekik saat dania menyikut perutnya.


"Siniin jaket kamu" ucap Dania pelan pada Randy.


"buat apa?" tanya Randy bingung.


Randy pun tersenyum lebar dan menundukan sedikit kepalanya hingga bibirnya kini tepat di telinga Dania.


"Emang iya, sengaja, biar semua orang lihat tanda kepemilikan yang aku buat. Biar mereka juga tahu kalau kamu cuma milik aku." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


"Ya ampun, Randy Sebastian.!" bentak Dania.


Dia tak habis pikir pada suaminya itu, apa tidak ada cara lain untuk menunjukan pada semua orang bahwa dia adalah istri dari Randy sebastian?.


Tentu saja dia hanya milik Randy seorang.


Randy pun hanya tersenyum polos tanpa merasa bersalah, dia membuka jaketnya kemudian memakaikannya pada Dania.


******


Di motor Dania hanya diam, dia masih kesal pada Randy yang sudah membuatnya malu karena tanda merah di lehernya.


"Jangan marah dong, yank." ucap Randy sambil memelas.


Dia meraih tangan Dania dan terus mengecupnya.


Dania pun menghempaskan tangannya.


"Fokus lihat jalanan, nabrak aja baru tahu rasa, aku masih mau hidup." ucap Dania dengan nada kesal.


Randy pun menghembuskan nafas kasar dan memilih fokus mengendarai motornya.


Dania tersentak saat Randy membelokkan motornya ke arah lain dan bukannya lurus menuju Apartemennya.


"Kenapa ke sini? ini kan bukan jalan ke Apartemen." ucap Dania.


Randy pun tersenyum dan mengangguk.


"Emang kita ga pulang ke Apartemen." ucap Randy.


Dania pun mengerutkan dahinya.


"Terus kita mau kemana?" tanya Dania.


"Ada deh, rahasia." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania pun memilih diam dan tak mau bersuara lagi.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah Komplek Perumahan elit.


Dania mengerutkan dahinya saat melihat rumah-rumah mewah berjejer.


"Kita mau kemana sih, sebenarnya?" tanya Dania bingung.


"Nanti juga tahu" ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun mendengus kesal. pasalnya, sejak tadi suaminya itu terus bermain rahasia.

__ADS_1


Tak lama sampai lah mereka di salah satu Rumah mewah, Rumah itu bergaya klasik modern dan terdapat satu unit mobil di garasi Rumah tersebut.



Dania pun turun dari motor dan di susul oleh Randy yang juga turun daru motor.


Randy membuka kunci pintu pagar Rumah itu dan membuka pintu pagar.


Dania masih saja malihat Rumah itu dengan bingung.


"Ayo, masuk." ucap Randy yang sedang memasukkan motornya ke dalam garasi.


"Ini rumah siapa?" tanya Dania bingung.


"Rumah kita." ucap Randy.


"Apa?" Dania membulatkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan Randy.


"Apa kamu bilang, Rumah kita?" tanya Dania memastikan.


Randy pun mengangguk.


"Terus mobil ini?" tanya Dania sambil menunjuk ke arah mobil yang terparkir di garasi.


"Punya kita juga, sayang." ucap Randy.


Randy menggendong Dania dan mulai menaiki anak tangga depan rumah, begitu sampai di depan pintu utama, Randy menurunkan Dania dan menuntunnya masuk ke dalam Rumah.


"Kamu jangan bercanda deh, ini Rumah siapa sebenernya?" tanya Dania memastikan.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Randy pun memegang bahu Dania.


"Ini Rumah kita sayang, aku beli rumah ini buat kita." ucap Randy meyakinkan.


"Kamu ga bercanda kan?" tanya Dania.


"Iya sayang ku, cintaku, istri ku, uuhhhh ..."Randy mencubit gemas pipi Dania.


"Ayo masuk, kita lihat dalam Rumah ini. Kalau ada yang ga kamu suka, kamu boleh mendesign ulang sesuai yang kamu suka."ucap Randy.


Dania pun mengangguk dan mengikuti Randy masuk ke dalam Rumah.


Randy pun menuntunnya menuju ruang tamu.



Dania menatap kagum ke sekeliling ruangan tersebut.


"Kamu suka ruang tamu nya, yank?" tanya Randy.


Dania mengangguk, Dia tak bisa berkata apapun.


Setelah melihat ruang tamu, Randy menuntunnya menuju ruang keluarga yang terhubung dengan ruang makan dan dapur.



"Kamu suka? Atau ada yang mau kamu design ulang, yank?" tanya Randy.


Dania menggelengkan kepalanya.


"Aku suka." ucap Dania.


"Yaudah, sekarang kita lihat kamar kita di atas." ucap Randy.


Randy pun menuntun Dania menaiki satu per satu anak tangga dan terus berjalan menuju kamar yang di maksud.


Tak lama sampailah di salah satu pintu kamar.


Randy pun membuka pintu kamar itu dan menuntun Dania masuk ke dalam kamar.




"Ini kamar kita?" tanya Dania sambil menatap ke sekeliling ruangan.


randy pun mengangguk dan tersenyum.


"Iya, kamu suka?" tanya Randy.


Dania mengangguk dan meneteskan air matanya, membuat Randy melihat terkejut ke arahnya.


"hey, kenapa kamu nangis?" tanya Randy sambil memegang bahu Dania.


"Aku terharu." ucap Dania.


Dania tak sanggup lagi menahan rasa harunya, tumpah lah sudah air mata bahagianya.


Dia tak menyangka Randy akan memberikannya kejutan sebesar ini. Bahkan selama ini Randy tak pernah membahas soal membeli Rumah dan juga mobil di depannya.


Randy pun tersenyum dan memeluk Dania.


"Maaf yank, aku rahasiain ini dari kamu karena aku mau bikin kejutan buat kamu." ucap Randy sambil mengusap lembut punggung Dania.


Dania pun mengangguk dan memeluk erat tubuh Randy.


"Ya, kamu berhasil bikin aku terkejut, aku bahagia, bahagia banget, yank." ucap Dania.


Randy pun melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Dania.


"Tentu aja kamu harus bahagia, aku akan berusaha untuk selalu bahagiain kamu, Aku cinta kamu, yank." ucap Randy sambil tersenyum.


Dania pun semakin terisak dan memeluk erat tubuh Randy.


"Aku juga cinta kamu, aku cinta banget sama kamu." ucap Dania.

__ADS_1


__ADS_2