Istri Jelekku

Istri Jelekku
Bab 64


__ADS_3

Pagi ini Dania tengah bersiap, karena ini hari terakhir dia di Bangkok.


Hari ini dia akan datang ke lokasi Proyek hotel yang sedang berjalan. Papanya memang memintanya untuk ikut andil mengawasi proyek yang saat ini sedang berjalan. Mungkin setelah ini, Dania pun akan jadi sering bolak balik melakukan perjalanan Indonesia-Bangkok.


Karena proyek ini adalah proyek kerja sama antara Perusahaan Papanya dengan PT. X, yang tak lain adalah perusahaan milik Pak Hermawan.


Pak Hermawan mempercayakannya kepada Erick, putranya. Jadi,Dania akan sering bertemu dengan Erick untuk sama-sama mengontrol perkembangan proyek tersebut.


Pagi ini mereka sudah janjian bertemu untuk pergi bersama menuju proyek. Karena semalam Erick mengatakan bahwa dia akan menjemput Dania ke hotel dengan menggunakan motornya, Erick meminta Dania untuk tak lupa memakai jaket.


Dania memilih memakai outfit yang tak terlalu ribet. Karena dia akan datang langsung ke lokasi proyek jadi dia memilih memakai celana jeans hitam dengan jaket kulit hitam.


Tak lama, Erick mengirimkan pesan kalau dia sudah sampai di sebrang hotel karena sebelumnya Dania sudah meminta Erick menunggunya di sebrang hotel.


Dania pun mengambil tasnya dan bergegas turun menemui Erick.


Dari kejauhan Dania sudah melihat Erick yang tengah duduk di motor dan tersenyum padanya. Dania pun membalas tersenyum melihat Erick.


Erick memberikan Dania helm dan Dania langsung memakainya kemudian naik ke motor.


"Kita jalan, sekarang." ucap Erick.


"Iya." ucap Dania sambil mengangguk.


"Pegangan aja, takutnya jatoh , nanti"ucap Erick sambil tersenyum.


"Ehh, ga usah, deh, kayanya, aku juga biasa naik motor, kok. Jadi, udah biasa, ga, akan, jatoh" ucap Dania.


Erick pun mengangguk dan melajukan motornya menuju proyek.


Di perjalanan, Dania merasa risih dengan duduknya yang tak nyaman. Jujur saja, Dania sebetulnya merasa takut naik motor dengan tak memegangi yang memboncengnya. Karena dulu, di saat Dania dan Randy kemana-mana menggunakan motor, Dania sudah terbiasa memeluk Randy.


Erick pun menghentikan motornya di pinggir jalan.


"Kenapa? Kok, berhenti?" tanya Dania bingung.


"Kamu kayanya, ga nyaman, ya , naik motor?" tanya Erick.


"Ehh, enggak, kok"ucap Dania.


"Terus kenapa duduknya gelisah, gitu?" tanya Erick.


Dania pun diam, dia sudah terlanjur mengatakan bahwa dia tak perlu memegang Erick, tadi. Akan sangat malu jika sekarang dia justru mengatakan sebaliknya.


Erick menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


"Arghh ..." Dania memekik saat Erick menarik tangannya dan melingkarkannya ke perutnya.


"Maaf , kali ini aja, bakalan ribet nanti, kalau sampe kamu jatoh. Bukannya nyampe proyek, nanti, malah nyampe rumah sakit, lagi."ucap Erick


"Maaf, ya."ucap Dania.


Erick mengangguk dan kembali melajukan motornya dengan Dania yang kini memeluknya.


******


Sedangkan di tempat lain, Randy baru saja menuruni anak tangga menuju meja makan.


Begitu dia duduk, tak lama kemudian terdengar suara clakson mobil dan tak lama di susul dengan suara bel rumah.


Bibi membuka pintu pagar dan ternyata Mamanya Randy yang datang berkunjung.


"Rand ..!" panggil sang Mama begitu dia berjalan mendekati Randy di meja makan.


Randy bangun dari duduknya dan menyalimi Mamanya.


"Mama, dateng."ucap Randy.


Mama Randy pun duduk dan melihat ke sekililing ruangan.


"Kok, sarapan sendiri, kemana Dania?" tanya Mama.


"Dania lagi ada kerjaan di Bangkok sama Papanya." ucap Randy.


"Apa? Udah berapa hari?" tanya Mama.


"Udah tiga hari, besok dia balik." ucap Randy.


Sang Mama menghembuskan nafas perlahan dan menatap Randy.

__ADS_1


"Apa kalian ga bosen, terus seperti ini?" tanya sang Mama.


Randy yang tengah menyantap sarapannya pun menghentikan kegiatannya dan menatap sang Mama.


"maksud, Mama?" tanya Randy.


"Kalian sudah 2 tahun menikah, tetapi sampai sekarang masih belum punya anak, juga, lagi pula, ini sudah lebih dari tiga bulan semenjak Dania keguguran, seharusnya dia sudah hamil, bukan." ucap sang Mama.


"Kami bisa apa, Ma? Tuhan memang belum ngasih kepercayaan Dania buat hamil lagi." ucap Randy.


"Kalian bisa berusaha, terutama Dania"ucap Mama.


"Maksud Mama?" tanya Randy yang lagi-lagi bingung dengan ucapan sang Mama.


"Ya mpun, Rand, apa kamu ga sadar? Beberapa bulan ini Dania terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri, kenapa juga dia mesti kerja, ha? Kaya kamu ga bisa hidupin dia aja."ucap Mama dengan nada kesal.


"Ya ampun, Ma, aku ga keberatan, kok, Dania kerja. Lagi pula, itu buat masa depan dia. Gimana pun juga, dia yang akan menggantikan posisi Papanya, nanti." ucap Randy.


"Tapi Rand, ga baik seorang wanita yang sudah menikah itu terlalu kecapekan, kamu lihat sendiri kan, hasilnya. Sampe sekarang Dania belum hamil juga." ucap Mama.


Randy menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku ga masalah Dania ga hamil cepet-cepet, aku belajar dari kejadian kemarin, saat Dania keguguran. Mungkin, Tuhan belum mempercayai kami untuk menjadi orang tua." ucap Randy.


"Ya ampun, Rand. Setiap manusia, itu, harus berusaha, jangan menerima takdir begitu aja, toh , takdir itu masih bisa di rubah kalau kita mau berusaha.


Oke lah, Mama ga nyalahin soal keguguran Dania kemarin, karena Mama pun pernah merasakan hal yang sama. Tapi, apa kamu ga mikirin perasaan kami, para orang tua? Terutama Mama, Rand, Mama juga pengen nimang cucu. Kalau istri kamu terus sibuk sama dunia nya sendiri, lama kelamaan, keluarga bukan lagi prioritas utamanya, dan otomatis kamu juga akan ikut terabaikan. Mama ga rela, ya, kalau sampai itu terjadi. Kamu pikir, kenapa Mama diem aja, waktu Mama lihat dengan mata kepala Mama sendiri saat Papa mertua kamu, itu, terus menekan kamu? Mama diam, karena Mama tahu kamu mencintai Dania, tapi tetap aja Mama ga rela kalau sampai istri kamu itu, ga bisa hargai kerja keras kamu, selama ini. Lama-lama Mama jadi kesal sama istri kamu, ga ada pengertiannya jadi istri." ucap sang Mama dengan ekspresi kesalnya.


Entah mengapa? Randy menjadi kesal juga mendengar ucapan sang Mama. Bukan kesal apa-apa, tetapi Randy merasa Mamanya itu menjadi ikut campur urusan rumah tangganya. Sedangkan Randy paling tidak suka ada orang yang ikut campur dalam urusan rumah tangganya.


"Tolong, Ma, ini masih pagi, jangan bikin mood aku hancur, Ma. Aku tahu maksud Mama baik, tapi kami akan berjalan mengalir saja kalau urusan momongan, se dikasihnya Tuhan aja, lah, Ma. Toh, kami pun selama ini selalu berusaha, kok. Berdoa juga iya, Dania juga ga pakai alat kontrasepsi apapun, jadi tolong, lebih baik Mama mendo'akan kami yang terbaik." ucap Randy.


Sang Mama menghembuskan nafas kasar dan bangun dari duduknya.


"Mama ngingetin kamu, karena kamu anak Mama, Mama peduli sama kamu. Mama cuma mau yang terbaik buat kamu, itu aja. Jangan sampai kamu menyesal, nanti." ucap sang Mama kemudian berlalu meninggalkan Randy.


Randy mengusap wajah kasar dan teringat Dania.


Randy pun bergegas mengambil ponselnya yang berada di kamarnya dan menghubungi nomor Dania lewat video call.


Satu kali menghubungi, Dania tak menjawab video callnya.


Randy pun mengetik pesan pada Dania.


Randy: Kalau kamu udah ga sibuk, tolong, hubungin aku, yank.


Setelah selesai mengirim pesan, Randy memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Rencananya hari ini dia akan pergi ke kampus, setelah dari kampus, dia akan pergi berkunjung sekaligus mengecek perkembangan restauran miliknya yang berada di Daerah Jakarta Selatan.


******


Waktu pun berlalu dan kini sudah menunjukan pukul 17.00 waktu setempat.


Erick dan Dania telah menyelesaikan urusannya di lokasi proyek.


Kini Erick sedang di perjalanan untuk mengantar Dania pulang ke hotel.


"Apa masu sekalian makan malam? Kamu pasti capek, kan, seharian, ini." ucap Erick dengan masih fokus menatap ke arah depan jalanan.


"Boleh juga, sih, sekalian aja, deh, biar sampe hotel nanti, aku langsung istirahat." ucap Dania.


Erick mengangguk dan menuju salah satu restauran.


mereka pun masuk ke dalam restauran dan langsung memesan makanan setelah memilih meja terlebih dulu.


Sambil menunggu pesanan, Dania melihat ke sebrang jalanan yang terlihat dari kaca jendela restauran. pandangannya tertuju pada salah satu toko jam tangan, di sebrang sana.


Dia jdi teringat pada Randy. Saat anniversarry pernikahan mereka Dania belum sempat memberikan hadiah pernikahan untuk Randy.


"Habis makan kesana bentar, yuk, Rick." ucap Dania sambil menujuk ke toko jam tersebut.


Erick mengangguk dan tersenyum.


Beberapa menit kemudian makanan pun datang dan mereka makan dengan tenang.


Setelah selesai makan, sesuai janjinya Erick pun mengantar Dania ketoko jam tersebut.


Begitu memasuki toko jam tersebut, Dania langsung sibuk memilih beberapa jam tangan.


Beberapa menit dDnia sibuk memilih-milih dan pandangannya terhenti pada jam tangan bermerk Burberry bergaya casual berwarna hitam yang terbandrol lebih dari $1000. Dania tersenyum dan mengambil jam tangan tersebut. Dania melihat ke arah Erick yang tengah berada di kasir, Dania menghampiri Erick menuju kasir.

__ADS_1


"Kamu beli jam tangan, juga?" tanya Dania.


Erick hanya tersenyum tanpa menjawab.


Dania pun memilih tak ambil pusing dan langsung membayar jam tangan yang sudah dia pilih tadi dengan debit cardnya.


Setelah selesai membayar, Erick mengantar Dania ke hotel.


Tak lama, Dania pun sampai di hotel.


"Makasih ya, Rick, udah repot-repot mau nganterin aku." ucap Dania sambil tersenyum.


Erick tersenyum dan mengangguk.


"Aku masuk dulu." saat Dania akan melangkah, Erick menahan tangan Dania.


"kenapa?" tanya Dania sambil menatap Erick.


"Ini." Erick memberikan sebuah kotak kado tak terlalu besar dan tak terlalu kecil yang di bungkus kertas kado dan ada sebuah pita di sana.


"Apa ini, buat aku?" tanya Dania.


"Iya, besok kan, kamu balik ke Indonesia, jadi ini hadiah kecil dari aku,anggap aja hadiah pertemuan kita setelah sekian lama" ucap Erick sambil tersenyum.


Dania mengangguk dan mengambil kado tersebut.


"Jangan di buka sebelum sampe di Jakarta, ya." ucap Erick.


Dania mengerutkan Dahinya dan menatap Erick. Namun dia pun langsung mengangguk dan masuk ke dalam hotel setelah Erick meninggalkan hotel terlebih dulu.


******


Pukul 15.00 wib Dania sampai di Bandara Soekarno Hatta. Dari kejauhan, dia melihat seseorang yang sudah sangat dia rindukan, yang tak lain adalah Randy.


Randy merentangkan tangannya dan tersenyum lebar.


Dania pun bergegas mendekati Randy dan memeluk erat tubuh Randy.


"Kangennya ..." ucap Randy.


Dania mengangguk dan masih terus memeluk Randy.


"Ehheumm ... baru tiga hari, udah kaya tiga bulan." ejek Papa Dania sambil tersenyum melihat anak dan menantunya itu.


Randy pun tersenyum dan menyalimi Papa mertuanya.


"Papa salah, bagi aku tiga hari berasa tiga abad." ucap Randy sambil tersenyum lebar.


Dania terkekeh mendengar ucapan Randy. Sedangkan Papa Dania menatap malas pada Randy.


"Dasar, lebay." ucap Papa Dania.


Tak lama mereka pun berpisah setelah Papa Dania di jemput oleh supirnya. Sedangkan Randy bergegas menuntun Dania masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya.


"Ke hotel dulu, ya, yank." ucap Randy sambip tersenyum lebar.


"Mau ngapain?" tanya Dania bingung.


"Mau nagih janji kamu." ucap Randy sambil menyeringai.


Dania pun membulatkan matanya.


"Ya ampun, yank, baru juga nyampe, aku capek, tahu." ucap Dania sambil cemberut.


Randy terkekeh dan mengelus lembut kepala Dania.


"Bercanda, yank." ucap Randy.


Dania pun tersenyum tipis.


"Tapi, nanti malem aku bakalan tagih janji kamu, yank." ucap Randy sambil menyeringai menatap Dania sekilas.


"Janji apaan?" tanya Dania dengan memasang wajah sok bingung.


"Janji kamu mau service aku, lah." ucap Randy dengan tersenyum lebar.


Dania pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Inget aja kalau yang begitu." ucap Dania.

__ADS_1


Randy pun tersenyum sambil memasang wajah so cute.


__ADS_2