
PLAK ..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Randy membuat Randy terdiam dengan menatap Dania dengan matanya yang membulat karena terkejut mendapatkan tamparan tiba-tiba.
Pipinya terasa amat perih akibat terkena tamparan keras tangan lembut Dania yang tiba-tiba saja berubah layaknya kuku macan yang tajam yang sekali mencakar saja sudah membuat korbannya merasakan sakit dan perih yang amat sangat.
"Mungkin kah ini yang Dania rasakan? Apa Dania juga kesakitan seperti ini, hatinya?" Pikir Randy.
Kedua pasangan suami istri itu masih tetap diam tak bergeming dari posisi masing-masing. Pandangan mereka saling bertemu dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Lo baik-baik aja, Rand?" tanya Dio yang baru saja hadir di tempat acara. Jika saja Dio tak datang terlambat, sudah pasti keadaan itu tak akan terjadi. Dio pasti akan menahan Randy agar tak membuat keributan di tengah hari bahagia kedua pasangan yang saat ini akan melakukan pertunangan.
Randy masih diam dengan sesekali meringis merasakan ngilu di pipinya.
Dia pun tak menjawab ucapan Dio.
Terdengar beberapa orang berbisik membicarakan Randy, Dania, juga korban dari bogem mentahnya Randy.
Siapa lagi jika bukan Aldo? Pria yang beberapa menit lalu akan berbuat jahat pada Dania sehingga membuat Randy kehilangan akal dan langsung memukul Aldo dengan membabi buta dan bahkan tak memberikan Aldo kesempatan untuk bisa melawannya.
Dania yang sadar tengah dibicarakan pun akhirnya keluar dari ballroom dan meninggalkan Randy yang masih terdiam dan tak mengatakan apapun.
Randy tersentak saat Dio menepuk bahunya sehingga dia pun tersadar dari lamunannya.
"Lo baik-baik aja, Rand?"tanya Dio.
"Yank !" Randy mencari Dania ke sekeliling dan mencoba memanggilnya namun Dania sudah tak berada di dalam ballroom.
"Dania kemana?" tanya Randy.
Dio mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Randy.
"Udah balik, barusan." ucap Dio sambil menunjuk ke arah pintu ballroom.
"Oh, sial." umpat Randy sambil memegangi pipinya yang masih terasa ngilu dan perih.
Randy bergegas keluar dari ballroom dan mencoba mengejar Dania, dia ingin memberikan penjelasan pada Dania mengapa dia sampai pemukul Aldo saat di dalam ballroom tadi. Randy melihat ke sekeliling lobby namun tak menemukan Dania di sana dia pun bergegas keluar dari hotel dan mencari Dania di depan hotel, namun lagi-lagi dia tak menemukan Dania disana.
Dia bergegas menghampiri Valet dan meminta untuk membawakan mobilnya kepada Valet itu. Setelah menunggu beberapa saat, mobil itu pun kini sampai dihadapan Randy. Dengan cepat Randy pun masuk ke dalam mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang. Jalanan pun terlihat ramai namun tak menyurutkan niatnya untuk cepat sampai di apartemen dan menemui Dania.
Sesampainya di apartemen.
Randy bergegas memarkirkan mobilnya dan berlari menuju lift.
Setelah menunggu beberapa saat, lift pun terbuka dan dia pun masuk ke dalam lift.
Sesampainya di pintu apartemen, dengan gelisah dia membuka pintu apartemennya.
"Yank !" panggil Randy.
Ajeng yang tengah berada di dapur pun melihat ke arah Randy yang langsung berlari menuju kamarnya.
"Yank !" panggil Randy begitu dia sampai di kamar.
Tak ada Dania di sana, pandangannya melihat ke arah pintu balkon yang terbuka dan bergegas menuju balkon.
Terlihat di sana Dania yang tengah duduk memperhatikan jalanan Ibukota di malam hari dan gedung-gedung yang menjulang tinggi disekitarnya.
"Yank !" panggil Randy.
"Kenapa?" tanya Dania tanpa melihat ke arah Randy.
"Yank, aku -"
"Kamu mempermainkan aku, iya?" ucap Dania dengan pandangan yang lagi-lagi tak tertuju ke arah Randy.
Randy mengerutkan dahinya mendengar ucapan Dania.
"Aku ada alasan kenapa aku mukul cowok brengsek tadi." ucap Randy dengan nada kesal.
Dia sungguh kesal mengingat wajah Aldo, apalagi melihat Aldo memasukan bubuk perangsang pada minuman Dania.
Randy tahu betul yang Aldo masukan itu adalah bubuk perangsang, karena dia pun pernah memasukkan bubuk itu kedalam minuman Dania saat di Klub 4 tahun lalu.
"Oh, ya? Siapa yang kamu bilang brengsek?" tanya Dania dengan menatap Randy.
"Pria tadi, dia kasih bubuk perangsang di minuman kamu, yank. Makanya aku kesal tadi, dan ga bisa kontrol emosi aku." ucap Randy masih dengan nada kesal. Tangannya terkepal kuat.
Dania pun terkekeh dan bangun dari duduknya. Dia mendekati Randy dan kini jarak diantara dia dan Randy hanyalah berjarak 3 langkah saja.
"Benarkah? Gimana kamu bisa tahu?" tanya Dania dengan menatap Randy dan tersenyum mengejek ke arah Randy.
"Aku tahu karena- "
Ucapan Randy terhenti saat Dania menempelkan jarinya telunjuknya di bibir Randy.
"Karena kamu pernah melakukan hal yang sama, sama aku dulu." ucap Dania dengan tersenyum penuh kesakitan.
Dania tak mengerti, kenapa banyak pria yang ingin berbuat jahat padanya. Padahal dia sendiri selalu menahan diri agar tak sampai menyakiti siapa pun.
"Ya, karena itu, aku ga mau sesuatu yang dulu terjadi sama kamu sampai terulang lagi. Aku bersumpah, aku akan bunuh si brengsek itu dengan tangan aku sendiri kalau sampai dia berani macam-macam sama kamu." ucap Randy.
__ADS_1
Dania pun terkekeh geli mendengar ucapan Randy.
"Apa katanya? Si brengsek? Bukankah dia sama brengseknya? dia bahkan berani mempermainkan Istrinya sampai sejauh ini." batin Dania.
"Kamu kok ketawa, sih? Apanya yang lucu?" tanya Randy dengan bingung.
Randy masih tak menyadari kesalahannya. Dia tak menyadari bahwa rahasianya tentang berpura-pura amnesia sudah lah terbongkar dan bahkan membuat Dania menjadi kesal.
Dania menatap Randy dengan matanya yang mulai memerah.
Sungguh dadanya terasa sesak. Begitu banyak pengorbanannya, begitu lelah dia memikirkan masalah Randy. Dia bahkan sampai rela melakukan apapun demi untuk mengembalikan ingatan Randy, dia sudah lelah hati dan pikiran namun nyatanya orang yang dia khawatirkan justru mempermainkannya dan membohonginya.
"Apa kamu senang?" tanya Dania.
Randy mengerutkan dahinya, dia tak mengerti apa maksud dari pertanyaan Randy.
"Apa maksud kamu?" tanya Randy bingung.
"Kamu ga ngerti maksud aku?" tanya Dania.
Sungguh suaminya itu benar-benar konyol, apa sekarang Randy benar-benar kehilangan ingatannya? Hingga tak menyadari kesalahannya?
Dania memajukan kakinya satu langkah, dan kini jarak keduanya begitu dekat.
Dia menjinjitkan kakinya sedikit dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Randy.
"Lihat wajah aku baik-baik, sedang jadi siapa aku sekarang?" tanya Dania dengan penuh penekanan dan tangannya terkepal.
Randy menatap lekat wajah Dania, seketika dia menyadari bahwa orang yang kini ada di hadapannya bukanlah Dania yang tengah memakai tompel dan kacamata tebalnya.
"Yank, aku -"
PLAK.
Lagi-lagi satu tamparan keras mendarat di pipi Randy, membuat Randy terdiam dan menundukkan kepalanya.
Inilah yang dia takutkan saat Dania tahu kebohongannya. Sudah pasti Dania akan marah padanya, namun dia tak memiliki pilihan lain selain terus berpura-pura amnesia dan menyembunyikan dari semua orang bahwa dia kini sudah mengingat segalanya.
Ingatannya bahkan sudah pulih secara perlahan sejak dia kembali tinggal bersama Dania, apalagi di saat dia melihat Dania bertemu dengan Gio di restauran beberapa waktu lalu.
Ya, dia mengikut Dania karena awalnya penasaran dan ingin tahu siapa orang yang Dania temui, dan bisnis apa yang sebenarnya Dania jalani.
Saat itu dia merasa mulai mengingat sesuatu. Dia teringat wanita yang ada di rumah sakit saat dia sadar dari pasca operasi. Saat itu Dania tanpa tompel lah yang ada di hadapannya, namun sayangnya saat itu dia tak mengingat Dania dengan wajah aslinya. Dia justru mengingat wajah tompel Dania.
Karena itu juga, saat Dania selesai bertemu Gio dan kembali ke apartemen, jantungnya menjadi tak bisa di kontrol karena saat itu dia sudah mengetahui wajah asli Dania. Wajah yang bertempelkan tompel itu justru memiliki wajah yang begitu cantik. Saat itulah dia meminta Dania agar membantunya mengembalikan ingatannya. Itu semua dia lakukan agar dapat dekat dengan Dania, dengan begitu dia akan mudah mengingat segalanya tentang Dania.
Dan, ya, semua itu berhasil.
Semua usaha Dania selama ini tak sia-sia, Dania yang begitu baik dan sabar menghadapi Randy pun berhasil membawa Randy kembali kekenyataan bahwa dia memang mencintai Dania.
"Selamat, karena kamu berhasil membuat aku gila selama beberapa minggu ini." ucap Dania dengan air mata yang tak dapat dia bendung lagi. Air mata itu meluncur dengan sendirinya dan membasahi pipi Dania.
"Aku minta maaf." ucap Randy dengan terus menundukkan kepalanya. Dia tak berani menatap Dania.
Dadanya terasa sesak melihat Dania yang tengah menangis karena ulahnya.
"Maaf? Hanya itu?" tanya Dania.
Randy menganggukkan kepalanya.
"Kamu ga mau jelasin apapun kenapa kamu sampai melakukan semua ini? Kenapa kamu tega banget bohongi aku?" tanya Dania dengan penasaran.
Meski dia kesal, namun dia tetap akan memberikan Randy kesempatan untuk menjelaskan segalanya. Dia ingin tahu, apa sebenarnya alasan Randy hingga sampai hati tega membohonginya selama ini.
"Nggak ada penjelasan apapun untuk semua ini." ucap Randy.
Dania mengerutkan dahinya, dia tak mengerti apa maksud ucap Randy.
Jika tak ada alasan, lalu kenapa Randy sampai membohongi Dania ? Apa dia menganggap semua ini lucu? Dania bahkan sudah di buat gila memikirkan masalah Randy. Dia rela melakukan apapun demi mendapatkan keadilan untuk Randy, dia pun bahkan sampai harus tega meninggalkan baby Raydan dan baby Rayna hanya untuk mengurus masalah Randy.
"Benarkah? Jadi kamu kurang kerjaan, karena itu kamu menganggap aku sebagai bahan lelucon kamu?" tanya Dania.
Randy mengalihkan pandangannya ke arah gedung-gedung tinggi itu dan tak menjawab ucapan Dania.
"Apa aku selucu itu? Hingga kamu menjadikan aku bahan lelucon kamu, ha?" tanya Dania dengan penuh penekanan.
"Kenapa diem? Apa aku selucu itu hingga kamu menjadikan aku bahan lelucon aku, ha?" tanya Dania dengan nada kesal.
"JAWAB AKU !" Dania membentak Randy, membuat Randy terkejut dan memeluk Dania dengan erat.
"Aku mohon, jangan marah." ucap Randy lirih ditelinga Dania. Randy sungguh sedih melihat Dania menangis dan marah padanya.
Dada Dania pun semakin terasa sesak mendapatkan pelukan dari Randy.
Dia rindu sekaligus kesal pada Randy.
"Oke, untuk sesaat aja." batin Dania.
Dania ingin melepaskan kerinduannya pada Randy, namun setelah itu dia tak akan memberikan ampun dengan mudah pada suaminya itu karena sudah berani mempermainkannya.
Dania tak menolak namun tak membalas pelukan Randy. Dia hanya diam dengan air mata yang perlahan mulai mereda.
__ADS_1
"Aku rindu kamu, yank. Maaf, aku ga ada maksud bohongi kamu. Aku mohon jangan marah sama aku." ucap Randy.
Randy tak melepaskan pelukan Dania sama sekali, dia justru memeluk Dania dengan semakin erat.
Cukup lama Randy memeluk Dania, dia pun perlahan mulai melepaskan pelukannya dan menatap mata Dania.
Dia sungguh mengutuki dirinya karena sudah membuat wanita yang begitu dia cintai sampai menangis karena ulahnya.
Dia pun tak ada pilihan lain selain merahasiakan ingatannya yang sudah pulih karena alasan tertentu, dia sedang mencari tahu tentang kebenaran seorang pelaku yang berniat ingin membunuhnya dengan cara membuat rem mobilnya menjadi tak berfungsi.
Sebetulnya, dia lah yang meminta polisi untuk mengatakan pada Dania bahwa kasus kecelakaannya ditutup karena tak ada bukti yang cukup menguatkan dugaan Polisi tentang pelaku yang terlibat dengan kecelakaan yang Randy alami.
Randy tak ingin membuat Dania lelah dengan mengurusi masalahnya, karena itu dia mengambil alih mengurus segalanya. Karena sebetulnya kasus kecelakaan itu tidaklah ditutup, pelakunya justru sudah mulai terendus.
Tanpa mengatakan apapun Dania masuk kedalam kamar. Randy pun mengikuti Dania dari belakang dan memeluk Dania dari belakang.
"Aku rindu kamu, yank. Aku hampir gila karena selama beberapa minggu ini ga bisa dekat sama kamu." ucap Randy tepat ditelinga Dania.
Dia sungguh merindukan Dania, dia merindukan segalanya tentang Dania.
Dia rela menahan segalanya hanya untuk mengungkap kebenaran tentang pelaku kecelakaannya. Karena dia mengetahui, orang itu terus memperhatikan gerak-geriknya selama ini. Itulah sebabnya dia terus bersikap layaknya masih kehilangan ingatannya agar tak membuat si pelaku curiga terhadap nya.
Dania tersenyum sinis, sungguh suaminya itu tak tahu malu.
Randy bersikap seolah sedang tak terjadi masalah apapun di antara mereka, bahkan bisa-bisanya di saat seperti ini Randy justru bersikap sok mesra padanya.
Dania pun melepaskan tangan Randy yang melingkar diperutnya.
"Yank." panggil Randy.
Dania tak menjawab ucapan Randy, dia melangkah menuju lemari pakaiannya dan mengambil dress tidurnya.
Dia pun mengganti pakaiannya di kamar mandi.
Randy menghela napas lelah dan mengusap wajah kasar.
"Sial, semuanya jadi kacau, kan." umpat Randy.
Pandangan Randy tak sengaja melihat ke arah laptopnya.
Dia pun bergegas mengambil laptopnya dan membukanya.
Dia membuka email dan ada email masuk dari orang suruhannya.
Orang itu mau membuka suara, tetapi dia hanya ingin bicara langsung dengan anda.
Itulah isi email dari orang suruhannya.
Jantung Randy berdegup kencang, dia berharap apa yang dia takutkan tentang pelaku bukan lah kebenarannya.
Karena sejujurnya, dia mencurigai seseorang saat dia teringat beberapa minggu lalu mendengar percakapan orang itu ditelpon.
Randy segera menutup laptopnya saat terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Keluarlah Dania dengan sudah memakai dress tidurnya.
Dia menelan air liurnya dengan pandangan yang tak lepas dari Dania. Dania terlihat begitu seksi hingga membuat sesuatu dibawah sana menjadi bereaksi dan menegang.
Randy menyimpan laptopnya dan menghampiri Dania.
Dia memeluk Dania dari belakang dan mengusap lembut lengan Dania.
Dania pun menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Aku Rindu kamu, yank. Malam ini boleh, kan?" tanya Randy tepat ditelinga Dania.
Dania melepaskan pelukan Randy dan berbalik menatap Randy.
"Oke." ucap Dania.
Randy pun tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya akan mencium bibir Dania.
Dania pun menahan wajah Randy dengan tangannya.
"Aku haus, mau minum dulu." ucap Dania.
"Oke tunggu, biar aku ambil." ucap Randy.
Dengan senyum dan langkah lebar dia pergi menuju dapur dan mengambil air minum.
Setelah selesai mengambil air minum, dia pun bergegas kembali ke kamar.
Sesampainya di pintu kamar, Randy terkejut saat melihat bantal didepan pintu kamar.
Dia pun membuka pintu kamar dan membulatkan matanya.
"Yank !" panggil Randy sambil mengetuk pintu kamarnya yang terkunci itu.
"Yank buka, dong, pintunya. Kok dikunci, sih?" teriak Randy.
"Kamu tidur diluar, aku ga mau tidur sama kamu." teriak Dania dari dalam kamar.
__ADS_1
Randy terkejut mendengar ucapan Dania.
Dia tak menyangka ternyata Dania justru mengerjainya dan menyuruhnya tidur diluar.