
Hai, hai, readers manisnya Istri Jelekku🤗
Maaf untuk Bab 123 ke update dua kali karena ada kesalahan.
Maafkan atas ketidak nyamanannya 🤗🤗
Oh, ya. Author mau ucapkan terimakasih untuk yang sudah setia membaca Istri Jelekku dari awal novel ini publish hingga saat ini. Author akan memberikan apreasiasi untuk kalian para readers yang memberikan vote terbanyak selama tahun 2019 novel Istri Jelekku ini rillis.
Karena itu, yuk gaes, berikan vote kalian untuk Istri Jelekku. Siapa yang memberikan vote terbanyak, maka dia akan mendapatkan gift dari author.
Terakhir penghitungan, adalah akhir tahun 2019 ini, pemenangnya akan di umumkan di bulan Januari 🤗🤗
*******
Dania terdiam saat mendengar ungkapan cinta dari Randy.
Itu bukanlah ungkapan cinta pertama dari Randy, namun yang membuatnya bingung adalah, mengapa alasannya begitu tak masuk akal? Bukankah jika cinta, seharusnya bisa saling terbuka satu sama lain?
"Aku ga ngerti apa maksud kamu, cinta kok mainin perasaan orang." ucap Dania dengan nada kesal.
"Apapun itu, aku minta maaf, Sayang. Aku tahu aku salah, tapi kalau kamu minta penjelasan untuk semua itu, aku ga punya alasan apapun selain ingin melihat seberapa besar kamu cinta sama aku." ucap Randy.
Sungguh dia tak ingin dan tak berniat untuk mengatakan semuanya pada Dania. Dia ingin memastikan langsung pada Papa mertuanya itu agar tak ada ke salah pahaman. Jujur saja, dia sulit untuk mempercayai bahwa Papa mertuanya lah yang sudah mencelakainya.
Dania membulatkan matanya, dan menatap Randy dengan tatapan tajam.
Dia pun akan turun dari pangkuan Randy, namun Randy langsung menahan pinggangnya agar tak turun dari pangkuan Randy.
"Apa segitu ragu nya kamu sama aku? Kita menikah 4 tahun dan kita juga udah punya anak. Apa masih kurang semua itu, ha?" tanya Dania.
Dia berpikir selama 4 tahun ini hidup bersama sudah cukup untuk mengerti bagaimana watak Randy yang sebenarnya, namun nyatanya dia sungguh dibuat tak mengerti dengan pemikiran Randy.
"Bukannya gitu, Yank. Intinya ga ada alasan apapun, Yank." ucap Randy.
"Terserah, deh." ucap Dania.
Dania pun turun dari pangkuan Randy dan masuk ke dalam kamar dengan Randy yang juga mengikutinya dari belakang.
Randy menutup pintu balkon dan memeluk Dania dari belakang.
"Jangan marah lagi, Yank. Aku sedih kalau kamu marah." ucap Randy.
Dania menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Dia melepaskan tangan Randy dan berbalik menatap Randy.
"Kamu sendiri yang bikin sedih diri sendiri. Jadi, nikmatin aja apa yang kamu tuai dari apa yang sebelumnya kamu tanam." ucap Dania.
Dia pun merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
Randy mengusap wajah agak kasar dan mendengus kesal.
Entah harus dengan cara apa harus membujuk istrinya yang tengah marah padanya itu.
Randy pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Dania dan memiringkan tubuhnya dengan tatapan tak lepas dari wajah Dania.
"Cantik." batin Randy.
Randy tak bisa memungkiri bahwa meski sedang marah sekalipun, dan dalam keadaan apapun istrinya benar-benar masih lah terlihat cantik.
Pandangannya beralih menatap bibir merah muda Dania dan selanjutnya beralih pada dada Dania yang terlihat ada ruang membelah di sana
Randy menelan air liurnya. Ingin sekali rasanya dia menuntaskan segala hasrat dan kerinduannya yang sudah dia tahan selama beberapa minggu ini.
Dania benar-benar terlihat menggoda dan membuat sesuatu di bawah perutnya menjadi menegang dan terasa ngilu.
Dia memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Dania dan menempelkan bibirnya di bibir Dania.
Dania yang belum sepenuhnya tertidur pun menjadi terkejut dan berusaha mendorong tubuh Randy, namun Randy justru langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh Dania dan melumat kasar bibir Dania.
Sungguh dia tak bisa menahannya lagi dan ingin segera menuntaskan hasratnya yang sudah memuncak dan tertahan selama beberapa minggu ini.
"Minggir, ih, aku lagi ga mood." ucap Dania.
Randy menghiraukan ucapan Dania, sementara Dania terus memberontak , dia benar-benar sedang tak ingin di sentuh suaminya itu.
Namun tenaganya melemah saat Randy terus mencoba memperjauh kegiatannya.
Dia pun pasrah dan membiarkan Randy melakukan apa yang diinginkannya.
Cukup lama mereka bergulat, berolah raga malam, dan saling mengeluarkan keringat. Meski Dania terlihat pasif kali ini dan terkesan menolak keinginan Randy, namun dia pun mendapatkan puncaknya dengan Randy yang juga akhirnya dapat menuntaskan hasratnya yang sempat dia tahan beberapa minggu ini.
Randy mengakhiri kegiatannya dan mengecup dahi Dania dengan tangannya yang juga mengusap lembut perut Dania.
Dia sungguh berharap akan tumbuh benih baru di dalam rahim Dania.
Dia ingin memiliki banyak keturunan dari wanita yang amat sangat dia cintai itu.
Setelah itu, keduanya pun terlelap.
Keesokan harinya.
Dania membuka matanya saat merasakan hangatnya pantulan sinar matahari dari kaca jendel kamarnya.
Dia melihat sekeliling namun tak menemukan Randy di dalam kamar.
Dia melihat jam yang berada di samping tempat tidurnya dan ternyata sudah pukul delapan pagi.
Dia pun turun dari tempat tidur dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bekas pergulatannya semalam dengan Randy.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya dan memakai pakaiannya, dia pun keluar dari kamar dan mencari keberadaan Randy.
Dari pintu kamar dia mendengar suara berisik dari dapur dan melangkah menuju dapur. Terlihat di sana Randy yang tengah menyiapkan makanan di meja.
__ADS_1
Dania pun melangkah mendekati Randy dan mengambil air putih lalu menenggaknya.
"Morning, Yank." sapa Rendy sambil menicum pelipis Dania.
Dania pun tersenyum tipis dan duduk di kursi makan.
Dia melihat roti bakar dengan segelas coklat hangat yang sudah tersedia diatas meja makan, tanpa mengatakan apapun dia langsung melahap roti bakar itu. Sementara Randy hanya tersenyum melihat roti bakar buatannya dimakan oleh istri tercintanya itu.
Dia sengaja menyiapkan sarapan untuk Dania karena ingin memperbaiki hubungannya dengan Dania, dia pun berharap setelah ini ini Dania akan mau memaafkannya dan mau kembali tinggal bersamanya.
"Oh ya, hari ini, ayo kita jemput anak-anak di rumah Papa." ucap Rendy.
Randy terkejut saat melihat Dania mengangguk dengan masih menikmati sarapannya.
Dia pikir, istrinya itu akan menolaknya. Namun ternyata, Dania justru mengiyakan ucapannya.
Randy pun tersenyum dan melanjutkan sarapan.
Setelah selesai sarapan, mereka bersiap untuk pergi menuju kediaman Hamish.
Di perjalanan menuju kediaman Hamish.
Tak ada satupun yang membuka suara, Dania sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Randy tetap fokus menyetir.
Sesampainya di depan kediaman Hamish, Randy dan Dania memasuki rumah. Saat melewati ruang keluarga, terlihat di sana Papa Hamish dan Mama Rania sedang bermain dengan baby raydan dan baby Rayna. Seolah tak terjadi apapun Randy pun menyalami sang Papa mertua juga Mama mertuanya itu. Meski sejujurnya, jika dia teringat akan apa yang mertuanya lakukan padanya itu, hantinya benar-benar terasa sakit.
Dalam hatinya, dia ingin sekali segera menanyakan kebenarannya pada mertuanya itu.
Apakah benar, mertuanya ingin mencelakainya atau memang semua ini hanyalah ke salah pahaman.
"Gimana kabar kamu, Rand?" tanya Mama Rania.
"Baik, Ma. Mama sama Papa, gimana kabar kalian? apa Papa sehat?" tanya Randy sambil menatap Papa mertuanya itu
Papa Hamish pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Seperti yang kamu lihat, Papa sehat." ucap Papa Hamish.
Randy mengangguk Dan tersenyum penuh arti menatap Papa mertuanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Papa Hamish yang merasa di perhatikan pun menatap bingung ke arah Randy.
" Syukurlah, kalau Papa sehat. Aku berharap, semoga Papa selalu sehat, agar bisa menyaksikan kehadiran cucu baru Papa, nanti." ucap Randy.
Papa Hamish hanya tersenyum tipis dan tak menjawab ucapan Randy.
Sedangkan Mama Rania terlihat terkejut mendengar ucapan Randy.
"Apa Dania sedang hamil, sekarang?" tanya Mama Rania sambil nelihat ke arah Randy bergantian dengan Dania.
Randy pun tersenyum dan tangan kirinya memeluk pinggang Dania, sementara tangan kanannya mengusap lembut perut Dania dari luar baju yang Dania kenakan.
Mama pun tersenyum dan mengangguk.
Dia senang melihat hubungan anak dan menantunya itu ternyata baik-baik saja. Dia bahkan sudah khawatir saat melihat Dania datang kemarin pagi dengan membawa tas pakaian yang cukup besar. Meski itu tas baby Raydan dan baby Rayna, namun dia pikir Dania dan Randy sedang mengalami masalah atau sedang bertengkar, karena tak mungkin berkunjung saja sampai membawa baju sebanyak itu.
Namun, jika melihat menantu dan anaknya itu saat ini, dia yakin bahwa hubungan keduanya baik-baik saja. Dan dia pun merasa senang untuk itu.
Saat tengah berbincang, tiba-tiba baby Raydan menangis dan Dania langsung mengambil alih baby Raydan yang berada di pangkuan sang Mama.
"Aku mau kasih Abang ASI dulu, ya, di atas." ucap Dania.
Semua orang mengangguk dan Dania pun pergi menuju kamarnya di lantai dua.
Akibat meninggalkan baby Raydan dan babu Rayna terlalu lama, dadanya pun terasa nyeri karena ASI nya tak tersalurkan.
"Mama bawa ade ke kamar juga, deh." ucap Mama Rania.
Randy dan Papa Hamish pun mengangguk.
Mama Rania langsung mengambil alih baby Rayna yang kini berada di pangkuan sang suami dan pergi menuju kamar Dania.
Sehingga kini di ruang tamu hanya ada Randy dan Papa Hamish.
Keduanya masih tetap diam, ruangan itu terasa hening sampai Dania dan mama Rania benar-benar tak terlihat dari pandangan mereka, Randy pun mulai memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan sang Papa mertua.
"Menikmati matahari pagi, sepertinya menyenangkan, Pa." ucap Randy sambil tersenyum tipis menatap Papa mertuanya itu.
"Ya, ayo kita ke taman belakang." ucap Papa Hamish sambil bangun dari duduknya.
Randy pun terdiam sejenak.
Dia terus memperhatikan punggung Papa mertuanya itu.
Mungkin inilah saat yang tepat untuk membicarakan segalanya. Menanyakan segala rasa penasarannya terhadap Papa mertuanya itu. Pikir Randy.
Randy pun mengikuti Papa mertuanya itu menuju taman belakang rumah.
Mereka pun duduk di kursi tepi kolam renang sambil menikmati hangatnya matahari pagi yang masih termasuk matahari menyehatkan.
"Gimana perasaan Papa?" tanya Randy yang tiba-tiba saja memulai pembicaraan.
"Maksud kamu?" tanya Papa Hamish.
Dia menatap Randy dengan tatapan bingung.
Randy tersenyum tipis dan bangun dari duduknya.
"Bagaimana rasanya saat anda gagal dalam mencapai sesuatu?" tanya Randy.
"Ada apa denganmu? Kenapa bersikap seperti ini?" tanya Papa Hamish.
__ADS_1
Dia merasa bingung mendengar ucapan Randy yang tiba-tiba saja berubah memanggilnya dengan sebutan formal. Randy bahkan tak lagi memanggilnya Papa seperti sebelumnya.
Sedangkan Randy mengepalkan tangannya.
Sungguh dia benar-benar kesal melihat wajah Papa mertuanya itu yang tampak sok polos dan seolah tak mengetahui apapun.
"Pencapaian apa maksud kamu? Memangnya apa yang gagal? Saya bahkan tak pernah gagal dalam hal apapun." ucap Papa Hamish dengan bangga.
Randy terkekeh dengan pandangan yang tak lepas dari sang Papa mertua.
"Kenapa denganmu? Kenapa seperti orang ga waras, begini?" tanya Papa Hamish.
Brak.
Papa Hamish membulatkan matanya saat Randy tiba-tiba saja menggebrak meja.
"Jangan pura-pura lagi, wajah anda benar-benar memuakkan. Saya bahkan kasihan karena Dania memiliki Papa seperti anda." ucap Randy sambil menatap tajam ke arah Papa Hamish.
Dia sudah berusaha menahan amarahnya, namun nyatanya dia tak bisa menahannya dan lepaslah sudah emosinya.
"Lancang sekali kamu, apa maksud kamu bicara seperti itu terhadap saya? Saya ini mertua kamu, harusnya kamu menghormati saya." ucap Papa Hamish yang mulai meninggikan nada bicaranya.
Dia tak terima mendengar ucapan Randy yang menurutnya sangat lancang padanya.
Randy pun tertawa geli mendengar ucapan sang Papa mertua.
Tangannya terkepal, mata memerah.
Dengan segala kekuatannya dia mencoba menahan air matanya agar tak lolos dari sudut matanya.
"Mertua macam apa yang ingin membunuh menantunya sendiri, ha? Mertua macam apa yang ingin menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri?" tanya Randy.
Dadanya terasa sesak, bahkan sangat sesak. Dia sungguh sakit hati terhadap Papa mertuanya itu.
Apa yang tak dia lakukan selama ini untuk Dania? Dia bahkan melakukan apapun demi membahagiakan Dania.
Dulu, saat Papanya Dania menuntutnya agar membawa Dania kembali ke kehidupan mudahnya, Randy berusaha dengan sekuat tenaga mencoba memenuhi permintaan Papa mertuanya itu. Dia bahkan sudah tak lagi memikirkan dirinya sendiri, yang dia pikirkan saat itu adalah, bagaimana caranya dia dapat mendapatkan kepercayaan Papa Hamish agar mau menerimanya dan juga merestui pernikahannya dengan Dania.
Plak.
Satu tamparan sangat keras mendarat di pipi Randy, hingga membuat sudut bibir Randy mengeluarkan darah akibat luka robek.
"Jangan lancang kamu, Randy !" Bentak Papa Hamish.
Randy mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Papa Hamish.
"Saya lancang? Anda yang lancang! Beraninya anda ingin menghancurkan hati wanita yang sangat saya cintai. Beraninya anda ingin membuat anak-anak saya menjadi seorang yatim." ucap Randy dengan nada geram.
"Kamu ga waras." ucap Papa Hamish.
"Anda yang ga waras, anda ****, anda psychopath." ucap Randy dengan nada mengejek.
"Brengsek kamu ! Anak kurang ajar." ucap Papa Hamish.
Dia akan memukul wajah Randy namun Randy langsung menahan tangan Papa Hamish yang besar dan kekar itu.
"Ga lagi, jangan harap anda bisa menyakiti saya atau pun keluarga saya lagi." ucap Randy.
Papa Hamish pun terkekeh mendengar ucapan Randy. Sementara Randy mengerutkan dahinya.
Dia tak mengerti dengan sikap Papa mertuanya itu.
Papa Hamish mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Randy.
Randy menatap layar ponsel itu dengan tatapan yang tiba-tiba saja berubah menjadi kosong.
"Kamu mau tahu, kan, alasan kenapa saya memberikan pelajaran terhadap kamu?" tanya Papa Hamish dengan nada menantang.
"Ini alasan saya, kamu lihat baik-baik semua ini." tanya Papa Hamish.
Randy menelan air liurnya dengan susah payah.
"Jangan berlagak sok dengan bicara tak akan menyakiti anak saya, jika kamu saja berani menyakitinya tanpa sepengetahuannya." ucap Papa Hamish.
"Karena kamu sudah tahu, saya tidak akan menutupinya lagi. Asal kamu, tahu, Randy. Saya sudah memaafkan kamu dulu dan sudah bisa terima kamu. Bahkan saya percaya bahwa kamu laki-laki bertanggung jawab dan saya pun sudah mulai menyayangi kamu. Tapi, dengan semua ini, saya akan katakan pada kamu, bahwa saya membenci kamu, dan saya tak akan pernah membiarkan anak saya hidup bersama pria seperti kamu." ucap Papa Hamish dengan penuh penekanan.
Randy mengepalkan tangannya dengan kuat.
Air mata yang sudah sejak tadi dia tahan pun akhirnya lolos sudah dari sudut matanya.
"Aku bersumpah, sebelum Papa memisahkan aku dari Dania, aku yang akan lebih dulu memisahkan kalian." ucap Randy dengan penuh penekanan.
"Apa maksud kamu, ha?" tanya Papa Hamish.
Randy menghiraukan ucapan Papa Hamish dan meninggalkan Papa Hamish yang tampak kesal.
Papa Hamish pun terduduk lemas di kursi.
Dia mengusap wajahnya agak kasar.
"Ya Tuhan, kenapa semua jadi begini?" gumam Papa Hamish.
Dia berbalik dan akan masuk ke dalam rumah. Namun dia dibuat terkejut saat melihat Mama Rania sedang berdiri dihadapannya dengan air mata yang berderai.
"Sayang." ucap Papa Hamish.
Mama Rania terisak dan mendekati Papa Hamish.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat di pipi Papa Hamish, membuat Papa Hamish terdiam dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1